Andaliman – 191 Khotbah 19 Agustus 2012 Minggu-XI Setelah Trinitatis

Masih Adakah yang Bodoh? Arif dan Berhikmatlah!

Nas Epistel:  Efesus 5:15-20

5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,

5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,

5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita

Nas Evangelium: Amsal 9:1-6 (bahasa Batak: Poda)

9:1 Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya,

9:2 memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya.

9:3 Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota:

9:4 “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya:

9:5 “Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur;

9:6 buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”   

Dengan segala hormat, aku terkejut ketika mendengar dan melihat khotbah yang disampaikan oleh kawanku penatua pada Minggu lalu di Bandung. Tentang nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini, beliau mengatakan bahwa ini mengisahkan tentang kebodohan yang dilakukan orang yang melakukan pesta ketika rumahnya masih belum siap dibangun (baru ada tujuh tiangnya, katanya …).

Waktu sermon di Jakarta aku memberikan tanggapan dan pandangan bahwa karena masih Minggu Trinitatis maka kita jangan lupa untuk selalu dalam koridor tentang penjelasan ketritunggalan yang ingin disampaikan oleh perikop ini. Lalu aku menyampaikan bahwa sebaiknya pengkhotbah membawa umat untuk merenungkan tentang mabuk yang dimaksud dalam perikop Minggu ini. Yang satu adalah mabuk karena anggur, dan satunya lagi mabuk karena Roh Kudus. Ada kemiripan antara keduanya, yakni sama-sama bisa melakukan “hal-hal di atas kewajaran”. Bedanya, yang mabuk anggur membuahkan hal yang jahat (misalnya korupsi karena mabuk harta dan kekuasaan, pembunuhan, dan tindakan kriminalitas lainnya); sedangkan mabuk Roh Kudus membuahkan hasil yang baik (misalnya mukjizat, kesembuhan, penyembahan yang luar biasa, dan lain-lain).

Demikianlah nas perikop Ep yang mengajak agar menjadi orang yang arif, bukan bebal dan bodoh. Dari mana datangnya? Dengan hidup yang lebih berhikmat, hal-hal yang buruk itu pasti terhindarkan. Siapa yang bisa mengubah orang bodoh dan bebal menjadi orang yang arif? Tentu saja dengan pertolongan Roh Kudus yang punya kuasa untuk melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.

Itulah yang disampaikan oleh nas perikop Ev Minggu ini, yakni bicara tentang hikmat. Hikmat sudah mendirikan tujuh tiang (menurut pemahamanku angka tujuh tiang menunjukkan hal yang positif, misalnya kekokohan karena secara logika dengan empat tiang saja suatu bangunan sudah bisa berdiri dengan cukup baik, juga tujuh dapat juga berarti kemegahan …). Lalu pemilik rumah (orang yang berhikmat tersebut, maksudnya …) bersyukur untuk itu semua, yakni dengan melakukan pesta (minum anggur dan makan hidangan yang lezat) dan mengundang semua orang untuk hadir dan mengiktui langkahnya yaitu jalan pengertian.   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak ada seorang pun di antara kita yang mau jadi orang bodoh (makanya kita mau dan rela bersusah payah bersekolah setinggi-tingginya mengejar ilmu pengetahuan). Bahkan kita pasti akan tersinggung jika dikatakan sebagai orang yang bodoh (berapa banyak orang yang menjadi korban manakala dalam suatu pertemuan dikatan sebagai orang bodoh?). Itu semua hanaylah “sekadar” untuk tidak menjadi bodoh. Bukan jaminan – meskipun dapat dijadikan sebagai bekal – untuk menjadi orang arif.

Hikmat dibutuhkan untuk menjadi orang arif. Dari mana datangnya hikmat? Menurutku, dari Tuhan. Dengan pengetahuan yang kita miliki ditambah pengalaman hidup, Tuhan menjadikannya satu tingkat lebih tinggi, yakni berhikmat. Orang yang berhikmatlah yang bisa menjadi orang yang arif. Dan Roh Tuhan yang ada pada diri kitalah yang menjadi oknum yang selalu siap sedia membisikkan dan mengarahkan tindakan dan hidup kita untuk selalu berada di jalan pengertian, yakni di jalan-Nya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s