Beta-I: Sungguh Ajaib Engkau, Tuhan!

“Luar biasa Engkau, Tuhan!” kataku spontan saat tadi melihat notebook yg memunculkan penjualan Juli ini yg 103% pencapaian targetnya. Macam mana aku ‘nggak semakin malu pada-Nya yang selalu memberikan yg luar biasa pada saat tdk ada harapan … Masih kurang rasanya apa yg aku lakukan utk kemuliaan Tuhan. Itulah pesan pendek (= SMS) yang aku sampaikan ke istriku pada Rabu, 01 Agustus 2012 jam 08:47 yang lalu.

Ya, memang hampir berteriak keras aku saat itu di ruang kerjaku begitu melihat tampilan data penjualan Bandung Area (wilayah kerja yang aku pimpin sampai saat ini sebagai Area Sales Manager) yang merupakan laporan otomatis dari Business Intelligence (BI).  Oh ya, setiap pagi dan setiap hari muncul yang dikirim via e-mail. Dibaca oleh semua orang (dengan tingkat jabatan manajer ke atas sampai Presiden Direktur …), dan dengan tegas menunjukkan kinerja masing-masing Area, yakni merah jika masih di bawah target dan sebaliknya hitam jika mencapai atau di atas target. Ini merupakan “sarapan” kedua kami setiap pagi setelah sarapan yang sebenarnya yang pertama di rumah (atau sarapan sereal di kantor kalau aku datang kepagian …).

Setelah tiga bulan pertama tahun ini tidak pernah mencapai target (karena ada masalah yang tidak bisa aku kendalikan sebelumnya ….), maka sejak April 2012 Area yang aku pimpin selalu mencapai target. Juli adalah bulan yang sulit (secara historis karena masa libur sekolah dan persiapan memasuki tahun ajaran baru), dan tahun 2012 ini semakin sulit karena baru saja terjadi kenaikan harga yang selalunya sangat signifikan dampaknya terhadap penjualan. Dan itu sudah terjadi pada minggu-minggu awal. Bukan saja di Bandung, tapi di semua Area di seluruh Indonesia.

Tidak menyerah begitu saja dengan keadaan dan fakta tersebut, setiap malam aku berdoa meminta pertolongan Tuhan agar diberi kemampuan dan hikmat kebijaksanaan dalam memimpin tim yang dipercayakan kepadaku. Memohon agar Beliau saja yang memimpin dan mengendalikan diriku dalam melangkah, berpikir, bertindak, dan berbicara. Dan selalu saja terasa pertolongan Tuhan. Ada saja yang di luar perkiraanku. Misalnya ada pelanggan yang selama ini tidak pernah membeli, mendadak memesan dalam jumlah yang lumayan besar (do’aku seringkali begini: “Bukakanlah saluran-saluran penjualan yang baru yang kami tidak tahu selama ini …“). Atau memesan produk dalam jumlah yang sangat banyak, jauh di atas rata-rata. Biasanya aku hanya tersenyum (sambil memuji Tuhan di dalam hati …) jika ada anggota timku yang melapor tentang hal-hal “di luar kebiasaan” seperti ini karena heran dan ‘nggak menyangka …

Bukan hanya pelanggan. Hal yang sama terjadi juga pada Distributor. Yang selama ini sulit untuk mendapatkan tambahan pesanan untuk meminta kiriman barang dari pabrik, ada saja kejadian ketika “tiba-tiba” meminta persetujuan kami karena akan mengirimkan permintaan produk ke pabrik sebagai tambahan dari pesanannya yang normal setiap minggu.

Dan juga kawan-kawanku di Kantor Pusat di Jakarta. Beberapa kali permohonanku yang di luar kebiasaan (umumnya meminta dukungan budget …) ternyata disetujui oleh mereka (yang ini pasti jawaban do’aku: “dan berikanlah orang-orang yang bersedia membantuku dengan sukacita …“).

Begitulah, sampai 31 Juli malam sebelum meninggalkan kantor, pencapaian kami masih di angka 94%. Memang masih ada order yang belum dikirim dari pabrik, tapi kalaupun itu diproses semuanya, pencapaian kami paling tinggi di 97%. Tak ada harapan. Itu pencapaian target pembelian ke pabrik alias sales to Distributor (= STD). Bagaimana pencapaian target penjualan ke pelanggan alias sales to trade (= STT)? Hanya 91%!. Lama aku memandangi layar notebook yang menampilkan angka-angka penjualan seakan berharap angkanya bisa berubah kalau lama aku pelototi … “Ah, Tuhan … kalau ‘nggak bisa dua-duanya STD dan STT yang mencapai target, kenapa ‘nggak bisa salah satunya saja ya? Memang kalau melihat data sudah ‘nggak ada harapan lagi, tapi apa sih yang ‘nggak bisa terjadi kalau Tuhan kehendaki?”, kataku bergumam untuk diriku sendiri.

Malam itu di rumah pikiranku masih kepada kinerja penjualan itu. Tetap berkecamuk pertanyaan: kalau meminta kepada Tuhan untuk mencapai target 100%, tapi bagaimana caranya. Bagaimana cara-Nya untuk membuat penjualan kami meningkat drastis padahal pesanan yang belum diproses tidak akan cukup untuk 100%. Hanya 97% STD dan 91% STT. Bagaimana bisa? Tak masuk akal! Begitulah berulangkali berkecamuk. Sampai pada akhirnya, ketika menjelang tidur – sebagaimana biasanya – aku berdoa: “Tuhan, aku tahu Tuhan mengasihiku. Apapun kata manusia, tapi aku mengimani bahwa tiada yang mustahil bagi-Mu. Tuhan tahu, aku sangat ingin memuliakan nama-Mu. Pakailah pekerjaanku ini juga sebagai alat menunjukkan kemuliaan Tuhan. Bikinlah kami mencapai target bulan ini. Kalau bukan STD dan STT, salah satunya pun cukuplah bagiku.”.

Itu do’aku malam 31 Juli 2012. Paginya? Keajaiban terjadi! Sudah menjadi kebiasaan, begitu sampai di ruangan kerjaku di kantor aku akan menyalakan notebook dan melihat automatic report yang setiap pagi muncul via e-mail.  Dan ceritanya berlanjut sebagaimana kalimat pada pesan-pendek paragraf pertama tulisan ini.

Beberapa hari kemudian ketika rapat bulanan, salah seorang anggota timku (yang beragama Islam) bertanya:” ‘Gimana ceritanya, pak. Hari terakhir pada data yang Bapak sampaikan pada kami semua menunjukkan bahwa kita ‘nggak mungkin mencapai target apalagi melampaui target seperti yang Bapak presentasikan barusan. Dari mana datangnya tambahan penjualan itu?”

“Dari do’a”, jawabku spontan, “Malam sebelumnya menjelang tidur, aku berdo’a kepada Tuhan meminta agar target bulan Juli ini bisa tercapai. Aku meminta kepada Tuhan ‘kalau bukan STT dan STD, salah satunya aja pun okelah, yang penting ada parameter yang menunjukkan kita punya hasil yang layak dibanggakan’. Dan itu dikabulkan, STD kita tercapai bahkan melampaui target. Tapi setelah melihat angka pencapaian yang bagus itu beberapa jam kemudian, yang ini jangan ditiru, aku malah ‘nyeletuk: ‘Tuhan, kalau bisa STD, kenapa ‘nggak sekalian aja STT-nya dibuat mencapai target?’. Hehehe … Begitulah sifat manusiawi kita, tak pernah merasa puas. Sekali lagi, jangan ditiru, ya. Bersyukurlah selalu, dan percaya kepada keajaiban Tuhan, asalkan kita meminta dengan sungguh-sungguh. Kita aja kalau anak kita meminta susu Dancow masa’ kita berikan racun tikus, ‘kan? Tuhan tenntu saja lebih baik daripada kita yang adalah manusia …”. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s