Beta-II: Berbukalah dengan yang Manis …

Sebagaimana demografi Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, demikianlah situasi di perusahaan tempatku bekerja. Di Kantor Bandung yang aku pimpin dua tahun terakhir ini, hanya akulah yang beragama Protestan yang setiap hari berkantor di sini. Ada satu dua lainnya, namun mereka sehari-harinya berkantor di kantor perwakilan yang biasanya dimiliki oleh mitra bisnis kami. Dan sesuai dengan prinsip yang aku anut, semua umat manusia adalah bersaudara. Paling tidak, sebagai sesama umat Tuhan yang satu. Bukankah Tuhan kita sama dengan Tuhan mereka, dan Tuhan agama lainnya?

Dalam keseharian, walaupun Kristen dan jadi pemimpin (kata orang “boss”, istilah yang aku paling tidak suka …) aku tidak mendominasi segala hal untuk menunjukkan kekristenanku dengan simbol-simbol, misalnya. Percayalah, tidak ada satu pun salib yang tergantung di semua lantai dan ruangan di Kantor Bandung ini. Bahkan stiker yang “berbau” kekristenan juga tidak. Tapi kalau Alkitab atau buku yang berisi firman, aku jamin pasti ada di ruanganku … hehehe …

“Kapan lagi menunjukkan kekristenan kita yang minoritas ini, pak? Belum pernah ada orang nomor satu di Kantor Bandung ini yang Kristen seperti Bapak, koq kita ‘nggak manfa’atkan untuk menunjukkannnya kepada semua orang di sini?“, kata salah seorang anggota tim-ku yang bukan Kristen “dari sononya” ketika suatu kali datang ke kantor dengan nada “protes”. Jawabku? “Mas, bagiku lebih penting menyaksikan iman daripada menunjukkan simbol-simbol. Belum tentu kawan-kawan muslim menyukai pertunjukan simbol itu, malah bisa jadi negatif tanggapan mereka. Bukan karena pimpinan di sini maka aku bisa saja memanfa’atkan posisiku itu untuk seperti itu. Dan bukan pula karena takut pada mereka sehingga tidak berani menunjukkannya. Bukan itu. Bagiku, kesaksian yang utama adalah bagaimana mereka bisa melihat tindakanku yang baik yang berbeda dengan orang-orang sebelumnya karena agamaku berbeda”.  Ada sedikit perubahan pada wajahnya yang tersenyum meskipun aku yakin masih ada sedikit rona keheranan yang tersisa di sana.

Begitulah. Aku mulai dengan menyediakan ruang sholat yang khusus dan lebih baik. Sebelumnya hanya memanfa’atkan sisa space yang ada di bawah tangga, maka di kantor yang sekarang aku sediakan kamar khusus. Dengan karpet yang bagus dan asesori selayaknya tempat sholat, yakni tasbih, rehal, kaligrafi, dan sajadah. “Yang seperti inilah yang pantas disediakan bukan ibadah kepada Tuhan. Bukan seperti yang dulu hanya asal ada. Kamu yakin tempat sholat seperti dulu itu mampu mengundang malaikat untuk datang? Bukan harus mewah, melainkan harus layak dan pantas. Ini urusannya dengan Tuhan …”, kataku kepada kawan-kawan muslim ketika “memeriksa” hasil pekerjaan mereka dalam “mendandani” ruang sholat yang baru setelah menerima uang dariku untuk membeli segala sesuatunya. Terpelongo, karena tidak menyangka responku – yang bukan muslim ini – yang sangat baik terhadap kebutuhan mereka untuk beribadah. Suatu kesaksian bukan? Bukankah orang Kristen diajarkan untuk mengasihi sesama dan memperhatikan kebutuhan mereka?

Setiap waktu sholat aku memberikan izin bilamana mereka ingin meninggalkan ruang meeting saat berlangsung. Bukan hanya mengizinkan, malah aku selalu mengingatkan mereka untuk sholat bilamana saatnya tiba. Apalagi kalau Jum’at, Office Boy pun pasti aku “usir” kalau suatu kali terlihat bermalas-malasan mau ke masjid.

Memasuki pertama kali kantor baru, aku mengundang tetangga dan majelis taqlim untuk melakukan pengajian. Bobot utamanya adalah untuk memperkenalkan diri dan perusahaan kami sebagai pendatang baru di lingkungan perumahan ini. Aku yang mengurus sendiri (dengan bantuan orang-orang tertentu, tentunya …) tanpa melibatkan kawan-kawan seperusahaan yang notabene adalah muslim. Ada yang mengejutkan. Ketika usai pengajian dan acara ramah tamah, salah seorang ibu mengatakan: “Setelah bertahun-tahun bangunan ini dipakai untuk kantor, baru kali ini kami diundang untuk melakukan pengajian“. Dan saat maghrib dan melakukan sholat berjemaah, pak ustadz yang kami undang heran kenapa aku tidak ikut sembahyang dengan mereka walau sedari tadi ikut sibuk mempersiapkan tempat untuk sholat, yang langsung dijawab salah seorang kawan sekantor, “Boss kantor ini tidak sembahyang, pak ustad. Beliau bukan muslim, tapi orang Kristen”. “Oh, pantesan …. Tapi, koq baik?“, kata pak ustad sedikit tersipu. Begitulah yang aku bayangkan saat itu.

Dan tahun ini ada yang sedikit berbeda yang aku lakukan. Tiap tahun selalu aku buat acara buka puasa bersama di kantor yang mengundang semua orang yang berhubungan dengan pekerjaan kami, namun kali ini yang menyampaikan tausiah yang aku minta adalah kawan sekantor. Salah seorang yang posisinya sudah senior.  Spontan aku minta kesediaannya, lalu aku buatkan undang ke semua kawan-kawan. Tak lupa mencantumkan topik khotbahnya: shamina wa’athona, yang artinya “mendengar dan melakukan”.

Koq pak Tobing tahu shamina wa’athona segala?”, tanya salah seorang heran.

“Lho, pak Tobing kan sekolah pendeta. Sekolahnya juga belajar agama Islam. Jangan main-main sama beliau tentang ilmu agama, bisa kalah kita.“, jawab yang satunya lagi. Aku hanya tersenyum, karena aku juga baru dengar dan baru tahu dari kawan muslim yang lainnya.

Tak berapa lama menerima e-mail yang aku kirim ke semua orang untuk mengikuti acara buka puasa bersama tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu, pak Agus yang aku minta kesediaannya untuk menyampaikan tausiah membalas e-mailku dan datang ke ruanganku.

“Pak Tobing, terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan siraman rohani untuk acara buka puasa bersama besok. Tapi, sebagaimana e-mail saya barusan, saya merasa belum pantas untuk menyampaikan tausiah tersebut. Bisa saya panggil aja ustad untuk menggantikan saya, pak?”

“Lho, kenapa pak Agus? Apa yang membuat sampeyan ‘nggak pede?”, tanyaku sambil tersenyum.

“Ilmu agama saya masih cetek, pak. Saya belum tahu apa-apa, apalagi dibandingkan dengan kawan-kawan yang lebih bisa. Nanti seperti kejadian pak Temi pula lagi seperti minggu lalu yang Bapak minta menyampaikan tausiah, tapi ternyata tidak memuaskan …”, kata beliau lagi yang mengingatkanku pada kejadian yang dimaksudkannya. Memang saat itu aku meminta salah seorang karyawan Distributor untuk menyampaikan tausiah menjelang berbuka. Aku ingat, saat buka puasa bersama tahun lalu, beliau paling banyak bertanya (tepatnya: nyaris menguji pengetahuan) kepada pak ustad yang aku undang sebagai pembicara. Ada kesan menunjukkan kemampuannya saat itu yang aku lihat. Dan aku yakin, beliau juga punya pengetahuan yang lumayan memadai (dan dari jidatnya yang menghitam mengesankan sholatnya pasti rajin …). Ternyata ketika minggu lalu saat menyampaikan tausiah malah keteteran dan tidak pede. Semula minta waktu 30 menit (dan aku sediakan dengan meminta alokasi waktu ke protokol) dan minta bantuanku menunjukkan surat dari Manajemen tentang penghargaan bagi dirinya lebih sepuluh tahun yang lalu, ternyata tidak lebih sepuluh menit sudah berakhir karena mendadak hilang kepercayaan dirinya melihat orang-orang yang hanya sangat sedikit menghiraukan apa yang disampaikannya …

“Pak Agus”, kataku dengan tenang, “Ma’af ya, bukan aku mau mengajari sampeyan. Aku pernah dengar ada perkataan ‘sampaikanlah, walau hanya satu ayat’. Itu artinya, semua orang diminta untuk bisa berdakwah dan syiar, bukan? Tak perlu harus canggih-canggih, harus pakai bahasa Arab misalnya, malah mungkin membuat orang bosan untuk mendengarnya karena tidak banyak orang yang paham bahasa Arab. Apalagi menggurui. Itulah yang coba dilakukan oleh kawan kita minggu lalu saat memberikan tausiah itu, dan tidak pas pula buat kawan-kawan yang umumnya berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Yang bagus adalah kalau kita bercerita tentang pengalaman hidup kita dengan ayat yang mau disampaikan. Pakai istilah sehari-hari yang sederhana yang lebih dipahami. Tak usah ‘njelimet, pak. Tuhan ‘nggak suka yang rumit, ‘kan? Nah, di atas segalanya itu harus rendah hati dengan memohon pertolongan dari Tuhan supaya semuanya lancar dan bukan menjadi riya …”

Pada hari-H aku melihat beliau memegang buku dan bolak-balik membacanya. “Untuk persiapan, pak supaya ‘nggak salah nanti waktu menyampaikannya. Ini tentang nabi Muhammad, pak”, katanya dengan tersenyum yang membuatku juga jadi ikut tersenyum.

Dan benar saja, saat tausiah beliau membawakannya dengan kerendahan hati. Dan akibatnya menjadi lancar dan interaktif. Semua tertawa ketika ada hal-hal yang lucu yang menunjukkan kesederhanaan berpikir dan berbicara. Salah satu yang disampaikan adalah, “Yah, karena ini untuk memenuhi permintaan pak Tobing dan saya menyiapkan bahan yang sangat banyak sehingga tidak cukup waktu untuk membahasnya semua karena kita sebentar lagi akan berbuka, maka untuk pembahasan selanjutnya saya akan e-mail saja. Itupun bagi yang perlu. Kalau tidak merasa perlu, bolehlah pinjam buku saya ini nanti, atau beli aja di toko buku. Masih ada yang menjual, koq …”

Semua tertawa ‘ngakak. Gembira. Dan senang. Ada suasana sukacita aku lihat di ruang tamu yang kami sulap menjadi ruang bersila sekaligus tempat sholat. Sebagai penutup sebelum melakukan sholat berjemaah, aku sampaikan: “Terima kasih untuk pak Agus yang sudah bersedia mempersiapkan diri dan menyampaikan siraman rohani bagi kita sore hari ini. Dari keringat yang terlihat di jidat pak Agus, kami melihat kesungguhan Bapak dalam melakukan hal yang sangat bermanfa’at ini. Sebagai ungkapan terima kasih, kami tidak memberikan uang karena dilarang oleh perusahaan dan Bapak juga pasti ‘nggak bersedia menerima, ini aku berikan buku ‘Nabi dan Sahabat-Sahabatnya”. Sekalian hadiah untuk ulang tahun Bapak yang berulang tahun tanggal 02 Agustus yang lalu. Buku ini bagus karena di dalamnya ada kisah empat orang sahabat terdekat nabi dengan berbagai karakter yang bisa kita pelajari. Silakan Bapak baca dan semoga jadi referensi untuk penyampaian khotbah pada kesempatan yang akan datang.”.

Beliau menerimanya dengan senang hati. Ada kebanggaan yang terlihat karena sudah melakukan pekerjaan yang mulia, agaknya. Dan yang utama adalah terlihat perasaan lega setelah melewati beban berat.

Suasananya menyenangkan. Manis, sebagaimana hidangan berbuka puasa yang umumnya rasanya manis: sop buah pakai susu Carnation, minuman jus pakai Nesfruita, dan kurma rasa keju sebagai hasil karya kreatif Office Boy yang mengeluarkan biji korma lalu menggantinya dengan potongan keju di dalamnya. Semua bergembira.

Sekali lagi: ada sukacita. Dan sekali lagi ada kesaksian dari seorang anak Tuhan tentang kemuliaan-Nya. Bukan kemuliaanku, seorang Tobing, hamba-Nya yang tidak berharga apa-apa di mata-Nya selain karena kasih karunia …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s