“Boan Sada Nari”, Lho Koq Ini Malah Dibiarkan “Sendiri”?

Begitu tahu pindah tugas ke Bandung tahun 2010 yang lalu, ada permintaan seorang kawan di Jakarta agar aku melayani jemaat “khusus” di Bandung ini. “Khusus”, karena sampai sekarang belum terdaftar di Almanak HKBP walau mereka sudah berjuang sangat lama untuk mendapat pengakuan dari Kantor Pusat HKBP. Ini adalah salah satu ekses kekisruhan di HKBP yang terjadi lebih 20 tahun yang lalu, yakni konfrontasi antara dua kelompok besar yang menamakan dirinya Setia Sampai Akhir (loyalis Eforus SAE Nababan) dan Sinode Agung Istimewa (loyalis Eforus PWT Simanjuntak). Kisah sedih dekade yang lalu, namun masih menyisakan keprihatinan sampai sekarang.

Beribadah setiap Minggu di komplek militer di Bandung (kecuali ada kegiatan tentara yang memakai gedung dimaksud, maka jemaat harus mengalah ke bangunan lain yang juga milik tentara di Bandung sebagaimana pernah aku alami ketika pelantikan penatua saat itu …) selalu ada lebih dari 50 orang yang menghadiri ibadah Minggu. Terdiri dari anak-anak (kategori Sekolah Minggu kalau di gereja yang “normal”) sampai ompung-ompung, dengan jenjang pendidikan yang sangat lengkap: anak SD sampai profesor emeritus.

Semua orang harus kita layani kalau mereka membutuhkan kita. Apalagi ini yang masih setia dengan HKBP”, kata seorang penatua yang sering menjadi teman diskusi di Jakarta ketika aku menanyakan pandangan beliau tentang keberadaan jemaat seperti ini. “Saya pun bersedia melayani di sana kalau ada kesempatan”, imbuhnya lagi. Maka jadilah beliau sebagai penyampai firman setiap Minggu ketiga pada bulan genap di persekutuan tersebut sejak tahun 2012 ini.

“Boleh saja Amang melayani di sana, tapi jangan meninggalkan pelayanan di jemaat kita di sini. Dan jangan mau terlibat dalam persoalan mereka …”, kata pendeta resort tempatku berjemaat di Jakarta saat aku “meminta izin” untuk melayani di jemaat “khusus” ini beberapa tahun yang lalu. Maka jadilah aku melayani, berselang-seling bilamana tidak sedang bertugas sebagai pelayan di Jakarta sesuai roster. Semula sering menjadi liturgis, namun kemudian hanya berkhotbah karena mereka sudah punya tambahan sintua yang baru ditahbiskan tahun lalu.

Jadual berkhotbahku di jemaat “khusus” ini sebenarnya sudah aku sampaikan, namun tidak jarang pula ada permintaan mendadak. Kalau kurang seminggu – ini yang membuatku benar-benar “tertantang” – aku segera maklum: “pasti ada yang sedang berhalangan”. Berhalangan? Ya, karena hanya “orang-orang khusus” yang bisa berkhotbah di sini. Artinya, kalau ‘nggak punya ‘nyali – maksudnya ‘nggak berani mengambil resiko ditegur Kantor Pusat HKBP – alias “pencari posisi aman” sudah pasti takkan pernah melayani di jemaat “khusus” ini.

Selama ini ada pendeta yang berani yang mempersembahkan diri sebagai pelayan tetap di jemaat “khusus” ini. Tinggal di Jakarta – dan masih resmi bertugas sebagai pendeta aktif HKBP –  namun beliau bersedia melayani sesuai jadual yang teratur di jemaat “khusus” di Bandung ini. Itulah sebabnya, dulu masih bisa menyelenggarakan baptisan kudus, perjamuan kudus, pengebumian, dan penahibsan penatua sebagaimana di jemaat-jemaat “normal” lainnya. Dari sisi ini, aku sangat salut kepada beliau. Sayangnya, beberapa bulan yang lalu beliau terserang stroke lumayan berat sehingga harus dirawat di rumah sakit. Karena kondisi kesehatan paska-stroke tersebut, sampai sekarang beliau belum pernah lagi melayani di jemaat “khusus” ini.

Setelah berkhotbah Minggu sebelumnya, Minggu yang lalu aku bersama beberapa kawan aktivis gereja HKBP dari Jakarta datang beribadah di jemaat “khusus” ini. Satu penatua (yang sesuai jadual sekali dua bulanannnya) berkhotbah, satunya lagi pengacara yang selama ini memperjuangkan nasib mereka, dan sepasang suami-istri aktivis jemaat kami (penatua dan suaminya) sebagai peninjau.

Rencana semula adalah, kami mengadakan pertemuan informal para pelayan dari Jakarta di Bandung. Agenda utamanya: “penyatuan kembali semangat pelayanan setelah dipimpin pendeta resort yang baru”, cuma sayangnya hanya sedikit yang benar-benar hadir walau sudah mengonfirmasi kehadirannya sebelumnya. Apa boleh buat …

Setelah ibadah Minggu, lalu ada perjamuan kasih (menghormati tamu yang datang dari Jakarta), maka diadakan ramah-tamah. Persisnya adalah curhat jemaat. Ternyata jemaat “khusus” ini baru melakukan rapat jemaat dua minggu lalu. Intinya adalah bagaimana antisipasi setelah pendeta yang sakit belum pulih kembali dalam pelayanan. Ada kekuatiran di kalangan jemaat bagaimana perjalanan selanjutnya. “Kalau ‘nggak ada pendeta yang melayani kita, apa lagi yang harus membuat kita bertahan di sini? Kalau besok-besok ada yang meninggal, misalnya, siapa yang akan menguburkannya?“, begitulah kira-kira ungkapan yang terdengar walau pak profesor dengan tegas menyanggah pada Minggu yang lalu dalam bahasa Batak yang fasih, “Holan sada pangidoanku tu Debata: manang andigan ahu marujung ngolu, unang ma sanga mago haporseaonku. Manang ise na mananom ahu haduan, ndang pala porlu di ahu. Nang so adong pandita. Haru Jesus ise do huroa na mananom? Ndang adong pandita, manang tulang rorobot-Na …”.

Sebelum kembali ke Jakarta, kami pun par-Jakarta ini berdiskusi tentang apa yang bisa dan harus kami perbuat. Masak dibiarkan jemaat ini “gaung-gaung” (istilah yang disampaikan salah seorang warga jemaat ketika mandok hata). Ada dua hal yang patut kami lakukan yang disepakati saat itu untuk direncanakan:

(1) menghubungi dan meminta kesediaan seorang pendeta yang terdaftar di jemaat kami di Jakarta yang sedang tugas belajar atas biaya sendiri di STT Jakarta dan tidak melayani pada jemaat secara permanen

(2) menjadikan jemaat “khusus” ini sebagai bagian pelayanan diakonia dari beberapa warga jemaat di Jakarta yang terpanggil untuk membantu.

“Dulu kita diminta untuk menjalankan boan sada nari, koq malah yang seperti ini sudah di depan mata dibiarkan sendiri dan tidak dilayani? Kita jadikan saja mereka seperti pola Pekabaran Injil sampai ada keputusan yang lebih baik nantinya. Mudah-mudahan Eforus yang baru nanti lebih punya hati dalam melihat masalah ini …”, demikianlah rangkuman pembicaraan kami saat itu. Benar juga, pikirku. ‘Ngapain jauh-jauh berzending ke pulau-pulau terpencil kalau yang jelas-jelas di depan mata saja ‘nggak bisa terlayani dengan baik? Harusnya keduanya – yang jauh di seberang pulau, apalagi yang di depan mata seperti ini – benar-benar terlayani dengan baik.

Betul?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s