Andaliman – 193 Khotbah 02 September 2012 Minggu-XIII Setelah Trinitatis

Jadilah Pelaku Firman yang Taat yang Tidak Terganggu oleh si Jahat! Dan Sampaikan Kepada Keturunanmu!

Nas Epistel:  Ulangan 4:1-2; 6-9 (bahasa Batak: 5 Musa)

4:1 “Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu.

4:2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?

4:8 Dan bangsa besar manakah yang  mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal  yang  dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu  semuanya itu,

Nas Evangelium: Yakobus 1:16-27

1:16 Saudara-saudara  yang kukasihi, janganlah sesat!

1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap  anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung  di antara semua ciptaan-Nya.

Pendengar atau pelaku firman

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat  untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk  marah

1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya,ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

1:24 Baru saja ia memandang dirinya ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya .

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan  janda-janda dalam kesusahan  mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh  dunia.

Gila! Pesan yang disampaikan oleh nas perikop Minggu ini koq bisa kena dengan apa yang aku alami. Menegur dan aku tertegur! Bukan mau menyombongkan diri, tapi memang aku belakangan mulai lagi dengan sungguh-sungguh dan sangat disiplin dalam membaca (sambil berharap bisa mengingat dengan baik …) Alkitab. Kitab demi Kitab, secara berurutan. Jadi, bukan dipandu oleh buku renungan harian. Puji Tuhan, aku merasakan banyak berkat yang bisa aku dapatkan. Harapanku, dengan membaca secara disiplin – setiap pagi begitu bangun tidur dan atau malam sebelum beranjak tidur – di rumah, anakku akan melihat, dan tertanam dalam ingatannya sehingga suatu hari dia akan mengikuti apa yang aku lakukan. Tentunya tidak dengan mudah begitu saja: dengan melihat langsung melakukan, ‘kan? Tentu saja harus dilakukan oleh sang “model”, hehehe … Bagaimana anakku akan mengikuti langkahku kalau langkahku saja tidak dengan mantap diayunkan dan membawa kebaikan … Artinya, jangan berharap dia akan mengikuti kalau aku pun hanya sekadar pembaca firman, bukan pelaku firman. Analogi yang sering disampaikan orang-orang bijak: “Bagaimana kamu mau melarang anakmu merokok kalau di depannya kau masih merokok setiap hari seakan menjadikan andalan dalam hidupmu?”. Atau, bagaimana mau mengajari anak untuk ke gereja kalau bapaknya sendiri berdoa pun tidak?

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan untuk yakin pada kebenaran, kekuatan, dan kuasa yang ada pada firman Allah, Allah yang selalu dekat dengan umat-Nya. Setia mendengar panggilan anak-anak-Nya. Tidak perlu ditambahi atau dikurangi, jalankan saja karena perintah dan hukum itu sudah jadi ketetapan dan sangat cukup dijadikan pedoman. Di dalamnya sudah sangat lengkap, dan kebijaksanaan yang ada di dalamnya dapat dijadikan sumber hikmat dalam menghadapi kehidupan. 

Jangan ragukan! Lakukan saja! Supaya jangan sesat, ikuti saja perintah yang ada pada firman Tuhan, demikian pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop Ev Minggu ini.

Pada libur Lebaran yang panjang minggu lalu, beberapa kawan aktivis gereja menghabiskan hari-harinya dengan berlibur di Bandung. Setelah MInggu-nya kami beribadah di salah satu gereja yang sangat membutuhkan dukungan perjuangan untuk mendapatkan “pengakuan”, kami pun berdiskusi setelah malam sebelumnya sudah ‘ngobrol lumayan panjang lebar. Apalagi yang dibicarakan kalau bukan pelayanan? Ke mana lagi arah pembicaraan kalau kemudian tidak kepada pelayan yang adalah hamba Tuhan? 

Nah, di sinilah aku merasa tidak nyaman. Banyak sekali hamba Tuhan (baca: pendeta) yang “dibedah” saat itu ternyata berkelakuan yang tidak pantas sebagai hamba Tuhan. Sedangkan warga jemaat “biasa” saja ‘nggak pantas melakukannya, ini koq malah para pendeta?

“Begitulah, semakin banyak yang saya kenal dekat dengan para pendeta ini, semakin ketahuan kelakuannya yang tidak pantas. Padahal dulu sebelum saya jadi aktivis di gereja saya sangat kagum dengan mereka, para pendeta yang selalu kelihatannya baik, ramah, suka berbicara tentang firman Tuhan. Dan itu malah yang membuat saya tertarik untuk jadi pelayan Tuhan. Ternyata …” 

“Yah … pendeta juga manusia. Mereka juga butuh uang, bahkan banyak juga yang rakus pada uang atau tamak. Juga yang berwatak kasar dan berpikiran jorok sehingga semakin banyak saja yang terdengar melanggar susila.”, kata kawan yang satu lagi menanggapi, yang ini tentu saja aku tidak setuju, karena walaupun (memang) seorang manusia, tapi – bagiku – pendeta tetaplah berbeda dengan yang bukan pendeta karena mereka memiliki “keistimewaan” yang tidak dimiliki oleh warga jemaat biasa. Artinya, jangan dijadikan ke-manusia-annya menjadi alasan pembenaran tindakannya yang jahat.

Masih banyak lagi – ini makanya membuatku kecewa dan sedih serta marah: koq yang dibicarakan banyak hal-hal yang buruk? – dan membuat malu mengetahui hal-hal yang jahat dan jelek yang sudah dilakukan sehingga secara spontan aku berujar, “Apakah para pendeta tersebut sudah tidak melakukan doa dan introspeksi pada dirinya lagi? Bagaimana mereka bisa berkhotbah kalau kelakuannya ternyata jauh dari pesan yang harus disampaikan? Dan kalau sudah seperti itu banyaknya pendeta yang jahat, apa yang bisa diharapkan? Jangan-jangan kita hanya menunggu saatnya saja kapan Yesus sang Kepala Gereja benar-benar marah …”    

Dan aku mengalami sendiri, betapa dengan mudahnya pendeta berdusta di konsistori. Di hadapan penatua, dan atau di hadapan rekannya sesama pendeta. (Tentang hal ini, aku akan menuliskannya pada tulisan berseri: “Jempek do Pat ni Gabus, Pendeta!”).

Untunglah hari ini aku kembali diingatkan dengan nas yang sangat pas. “Jangan sesat!”, kata ayat di atas. Dan aku memahaminya begini:

(1)   Kalau banyak pelayan Tuhan yang jahat, jangan mau ikut-ikutan jahat. Bahkan sebisanya tunjukkan selalu hal yang baik

(2)   Jangan menjadi lemah, jangan jadi mengorbankan pelayanan, karena jemaat membutuhkan pelayanan yang tidak pantas harus dikurbankan karena semangat yang menjadi lemah karena ada si jahat

(3)   Nyatakan kebenaran, walaupun seringkali harus menghadapi tantangan dan tentangan (karena orang jahat selalu punya kawan sesama si jahat, dan jumlahnya bisa jadi lebih banyak daripada yang baik …). Menyatakan kebenaran adalah bagian dari pelaku firman juga, ‘kan?    

Oh ya, melihatku sering membaca firman Tuhan setiap ada kesempatan (dengan berguyon aku sering bilang: “Ma’af ya, aku lagi mau ‘Bibel-bibelon’ …” yang mengacu kepada orang-orang dewasa saat zaman kami anak-anak dulu untuk menyebutkan orang yang “kesurupan” dalam menyampaikan firman Tuhan: di segala tempat, di setiap saat, bahkan seringkali tidak pas dan tidak pantas karena motivasinya melenceng menjadi tontonan, bukan tuntunan …) yang dijawab mak Auli isteriku, “Yang penting kelakuan, pa. Banyak itu orang-orang yang setiap hari membaca firman dan berkhotbah di mana-mana, tapi kelakuannya malah lebih parah dan lebih jahat dibanding aku yang jarang banyak Alkitab …”. Ya, teguran dan himbauan yang selalu kujadikan peringatan untuk diriku sendiri.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Apakah engkau merasakan seperti yang aku rasakan dengan para pelayan di sekitar kita? Dan merasakan seperti yang aku rasakan juga? 

Pesanku: jangan terlalu fokus pada mereka sehingga mengganggu fokus kita kepada Kristus. Just focus on Jesus, it’s enough!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s