Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (Tulisan Penutup): Tuhan Menunjukkan Kuasa-Nya!

Puji Tuhan! Sinode Godang (selanjutnya disingkat saja dengan SG) sudah berakhir dengan baik. Beberapa hal yang sempat membuat kuatir – misalnya deadlock (disengaja ataupun alamiah …), gangguan keamanan dan ketertiban, dan lain sebagainya – ternyata tidak terbukti. Siapa yang menjadi pemimpin empat tahun ke depan (eforus, sekretaris jenderal alias sekjen, kepala departemen alias sekjen, dan praeses) sudah definitif. Yang tidak puas? Pasti ada. Menurutku, itu sesuatu yang “wajar”, apalagi bagi orang-orang yang melihat SG ini sebagai pertarungan.

Apa yang Menarik dari SG?

Aku tidak terlalu peduli dengan kepengurusan HKBP, dalam artian tidak sangat peduli (bukan sangat tidak peduli, ya …). Ada beberapa alasannya, yakni:

(1)    Secara umum tidak begitu menyentuh terhadap pelayanan di jemaat (huria), apalagi warga jemaat (ruas). Sampai sejauh ini, yang aku rasakan peranannya par-kantor pusat lebih banyak pada urusan seremonial, misalnya pesta gereja (yang ini juga sering membuatku bertanya: koq mesti mengundang mereka walau panitia sendiri seringkali kesulitan menyediakan dana pesta), pembicara seminar (yang ini juga rada mengherankan karena lebih cenderung kepada “pembobotan” dalam artian membuat seminar seolah-olah berbobot dengan kehadiran mereka walau apa yang disampaikan seringkali jauh dari harapan …), dan lainnya yang pada akhirnya mudah bercuriga bahwa motif di belakangnya lebih kepada upaya pendeta resort (atau siapapun yang berkarir dan atau mengharapkan berkarir di HKBP)  dalam “menjual diri” (dalam artian positif) kepada boss-nya. Menurutku, sah-sah saja, asalkan tidak memaksakan diri.

(2)    Nuansanya sudah semakin tidak rohani lagi. “Tidak jauh beda daripada pemilihan di dunia politik”, kata beberapa orang (kalau tentang suasana demokratisnya tentulah membuat bangga), namun … “Bahkan lebih parah pun!”, kata yang lainnya menimpali. Ini pastilah tentang hal-hal negatif di dunia politik, yang tentu saja membuat hati sedih dan terluka. Oh ya, suatu kali dalam suatu pertemuan di gereja seorang penatua menanyakan tentang money politics di SG, lalu pendeta resort menyangkalnya bahkan mengatakan itu fitnah. Ternyata sang penatua punya bukti yaitu buku yang ditulis oleh pendeta HKBP yang juga didapatkan karena pembagian di jemaat HKBP untuk penatua (buku bahan partangiangan wejk, kalau ‘nggak salah …). Posisi pendeta resort (yang “mati-matian” membantah money politics di SG tersebut) menjadi semakin blunder manakala seorang penatua yang ikut SG membantah bantahannya bahkan menantang sang pendeta untuk membuktikan ucapannya… Pelajaran berharga dari sini: bolehlah membela korps tapi jangan menjadi buta dan tuli pada fakta. Pengakuan yang jujur dan permohonan ma’af yang tulus seringkali malah mendatangkan tanggapan yang lebih positif daripada dengan arogan berupaya menutup-nutupi kebenaran yang tidak begitu lagi perlu.

(3)    Apapun hasilnya dan siapapun yang terpilih tidak akan berpengaruh pada perbaikan. Sebenarnya pandangan seperti ini tidak baik, namun faktanya terkesan seperti itu. Tidak jauh berbeda dengan pemilihan kepala daerah, ‘kan? Begitu banyak yang jadi golput karena berpendapat bahwa siapapun yang terpilih hasilnya akan sama saja: tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Yang patut disayangkan juga adalah bahwa fokus orang-orang (termasuk sinodisten) adalah pada pemilihan pejabat gereja, walau pada SG (katanya) ada juga agenda yang lain yang seharusnya juga mendapat perhatian, yaitu program kerja ke depannya.

(4)    Masih berhubungan dengan poin nomor tiga di atas namun dalam artian yang positif, yaitu siapapun yang terpilih dan apapun program kerja yang ditetapkan pada akhirnya Kristus sang Kepala Gereja-lah yang menentukan perjalanan gereja selanjutnya. Inilah yang paling utama yang mendasarinya, walaupun diletakkan di poin terakhir (ini membuktikan bahwa “yang pertama bisa menjadi yang terakhir, begitu juga yang terakhir bisa menjadi yang pertama, hehehe …). Sebagai Kepala Gereja, tentulah Beliau menginginkan agar gereja jangan musnah. Aku mengimani bahwa Kristus (masih) mengasihi HKBP.    

SG kali ini menjadi menarik, utamanya bila melihat siapa yang terpilih sebagai Eforus, Sekjen, dan Kepala Departemen. Dengan pengetahuanku yang sangat terbatas tentang SG, aku punya beberapa catatan yang menarik:

(1)    Selain Pdt. WTP Simarmata – yang kemudian terpilih menjadi Eforus – nama-nama lainnya yang kemudian terpilih menjadi Sekjen dan Kadep bukanlah yang sering terdengar dalam bursa, setidaknya tidak terdengar di kalangan orang-orang ambisius. “Kalau pendeta WTP sebenarnya di sinode godang sebelumnya pun sepatutnya jadi Eforus, tapi beliau saja yang ‘nggak mau”, kata seorang sinodisten, yang menurutku suatu pernyataan yang kurang pas, karena sebenarnya Kristus yang belum mau (menjadikan beliau sebagai Eforus pada sinode yang lalu) dengan memakai sinodisten dan orang-orang tim sukses kandidat lainnya yang menang.

(2)    Kekuasaan dan kekuatan (apalagi yang duniawi …) bukanlah jaminan yang memberikan kepastian. Pdt. Hutahaean yang Sekjen incumbent yang juga Ketua Panitia SG, secara teorititis adalah orang yang paling punya banyak kesempatan untuk terpilih menjadi Eforus ataupun “sekadar” bertahan sebagai Sekjen. Faktanya ternyata sangat jauh berbeda: gagal dalam pemilihan Eforus, bahkan gagal pula dalam pemilihan “sekadar” bertahan sebagai Sekjen.   

(3)    Tidak satupun dari antara “Lima Sekawan” (Eforus, Sekjen, dan tiga Kadep) adalah “pemain bertahan”. Artinya tidak seorang pun dari “Lima Sekawan” masa kepemimpinan sebelumnya yang bertahan dengan tetap terpilih sebagai “Lima Sekawan”. Selain Eforus Pdt. Bonar Napitupulu yang memang sudah tidak boleh mencalonkan diri karena sudah dua periode berturut-turut sebagai Eforus, yang lainnya tidak seorang pun yang meraih suara mayoritas sinodisten. Dengan mudah kita menduga bahwa pelayanan mereka selama menjabat yang lalu belum berhasil menaklukkan hati sinodisten (ataupun orang-orang yang menitipkan pesan kepada sinodisten).

Masih Bisa Berharap? Bolehlah, ya … Asalkan jangan Sampai Habis Pengharapan

Sekadar melihat dan mencoba memahami sebagaimana yang aku sampaikan sebelumnya, aku masih (berani) menitipkan pengharapan kepada “Lima Sekawan” yang sekarang ini. Memang tidak semuanya berada di tangan mereka, namun sebagai orang-orang yang terpilih mereka punya pengaruh dalam hal ini:

(1)    Jadilah pemimpin yang rendah hati dan sederhana. Tinggalkan, dan jangan mau terpengaruh pada godaan-godaan keduniawian yang mulai gencar melanda para pemimpn HKBP saat ini. Bukan lagi menjadi pelayan, malah minta dilayani. Hari ini Provinsi DKI Jaya sedang memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, dan calon terkuatnya adalah pasangan Joko Widodo (walikota Solo yang terkenal dengan kerendahhatian dan kesederhanaannya) dan Ahok (mantan Bupati Belitung Selatan yang beragama Kristen) yang sudah unggul pada pemilukada putaran pertama. Jika terpilih jadi Gubernur DKI, ini akan menjadi revolusi bagi pemilihan kepala daerah di Republik Indonesia ini. Dari pasangan ini bisalah “Lima Sekawan” belajar tentang kepemimpinan, tapi kalau Tarutung dan Jakarta terlalu jauh, sebenarnya kita punya model pemimpin yang sangat sangat sangat layak ditiru: siapa lagi kalau bukan Yesus Kristus sang Kepala Gereja! Bagiku, sudah saatnya mempertimbangkan kembali gelar Ompu i bagi Eforus yang patut dipertimbangkan relevansinya pada zaman yang lebih cenderung egaliter dan “tidak berjarak” sekarang ini.

(2)    Jadilah model, bagi para pendeta yang dipimpin, dan juga bagi warga jemaat yang mengidolakan pemimpin. Sudah terlalu banyak cercaan terdengar tentang kelakuan yang tidak pantas yang dilakukan para pendeta, dan sudah saatnya dihentikan. Jadilah pengadil yang seadil-adilnya, bukan karena balas dendam melainkan untuk menegakkan kebenaran. Tentu saja harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin air yang kotor dapat membersihkan air yang keruh? HKBP kekurangan model, sebaliknya memberikan contoh yang melimpah untuk hal yang tidak patut.

(3)    Kesangatduniawian HKBP harus dijadikan perhatian untuk dibatasi. “Pendeta juga manusia”, kata beberapa orang yang (sok) bijak dalam menanggapi ketidaklayakan kelakuan dan perlakuan pendeta belakangan hari ini yang menurutku lebih cenderung kepada pencarian alasan pembenaran daripada kebenaran. Malah seharusnya pendeta berbeda dengan yang bukan pendeta dalam hal perbuatan baik. Pemimpin yang tegas dan layak menjadi contoh yang baik untuk ditiru, sangat dirindukan oleh warga HKBP saat ini.    

(4)    Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Kolaborasi, bukan kompetisi! Sangat “aneh” rasanya membaca sejarah HKBP yang hampir tidak pernah memiliki pemimpin yang harmonis. Sejak dahulu era “dwitunggal” Eforus-Sekjen hingga era “Lima Sekawan” seperti sekarang ini. Menurutku, penyebabnya adalah sesama penjabat saling berkompetisi satu sama lain dengan menganggap orang lain sebagai lawan, bukan mitra pelayanan. Sekjen dan Kadep ingin merebut jabatan Eforus, sedangkan Eforus ingin mempertahankan jabatannya sampai habis hak berlakunya. Karena lebih banyak ‘nggak seiring sejalan, Eforus pun mempersiapkan orang lain untuk suksesi manakala tidak bisa dipilih kembali. Sebaiknya Eforus menggerakkan kawan-kawan “Lima Sekawan” dan semua praeses dan pendeta resort untuk berorientasi kepada pelayanan jemaat dengan pengertian yang sebenar-benarnya. Jangan pernah berpikir (apalagi menunjukkan) tentang jabatan sebagai kekuasaan, melainkan tunjukkanlah sebagai kewajiban untuk melayani yang terbaik. Dengan pelayanan yang baik dan berkualitas hingga suatu saat, pada waktu SG semua sinodisten “bingung” untuk memilih siapa yang akan menjadi Eforus, Sekjen, dan Kadep karena semua calon sama bagusnya. Dan itulah saatnya mekanisma pemilihan dengan manjomput na sinurat bisa diterapkan. Biarkan Tuhan yang memilih dengan mengabulkan do’a sinodisten yang tulus dan hati yang bersih. Satu tantangan lagi yang perlu difasilitasi oleh “Lima Sekawan” saat ini adalah pemikiran tentang Sekjen yang tidak harus dari kalangan pendeta. Melihat fungsinya yang sebenarnya lebih banyak urusan administrasi dan organisasi, untuk jabatan Sekjen bisa saja dipilih parhalado yang bukan pendeta, tapi memiliki kecakapan dalam hal tersebut.

Yang menjadi kerinduanku adalah bagaimana figur Eforus lebih memosisikan dirinya sebagai pemimpin umat dan dikenal di kalangan luas. Bukan hanya di HKBP sendiri, namun juga memainkan peran di kehidupan kenegaraan. Bukan harus terlibat dalam politik praktis, melainkan dipertimbangkan saat pengambilan keputusan kehidupan di luar gereja juga. Aku membayangkan bagaimana bupati, gubernur, atau siapapun pemimpin dengan jabatan politik datang kepada Eforus untuk berdiskusi tentang hal-hal yang terjadi dalam pekerjaan mereka. Gubernur datang ke praeses, bupati ke pendeta resort, misalnya. Bukan seperti sekarang ini, malah pendeta yang datang ke bupati dan atau gubernur. Kalau didasari oleh kerendahan hati, sih bagus-bagus aja … tapi kalau karena “kalah wibawa”? Wah, itu jadi lain ceritanya, ya …

Bukan menunjukkan arogansi (mentang-mentang pemimpin rohani yang “dekat” sama Tuhan …), melainkan rasa hormat yang ditunjukkan karena kompetensi dan kelayakan dari jabatan pelayan yang disandang dan dikesankan. Ini semua bisa terjadi kalau semua pelayan Tuhan benar-benar menunjukkan dirinya sebagai hamba yang sudah mempersembahkan diri untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya, di mana pun dan sebagai apa pun dalam kehidupan di dunia ini.

Andaliman – 196 Khotbah 23 September 2012 Minggu-XVI setelah Trinitatis

Menjadi Seperti Anak Kecil untuk Menjadi yang Terbesar. Jadilah Pelayan Tuhan walau Hidup (Kadangkala) Tidak Nyaman

 

Nas Epistel:  Markus 9:30-37

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;

9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”

9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Siapa yang terbesar di antara para murid

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Nas Evangelium: Yeremia 11:18-23 (bahasa Batak: Jeremia)

11:18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan  perbuatan  mereka kepadaku.

11:19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya ! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat  orang lagi !”

11:20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.

11:21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: “Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangan kami!” –

11:22 Sebab itubeginilah firman TUHAN semesta alam: “Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan;

11:23 tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka.”  

Seperti Minggu lalu, nas perikop Minggu ini – baik Ep maupun Ev – masih berbicara tentang bekal sebagai pelayan. Tentu saja relevan buatku (yang adalah pelayan jemaat), buatmu (yang mungin juga pelayan atau warga jemaat biasa), buat kita semualah, dan semua orang percaya.

Selama hidupnya di dunia, Yesus banyak menghabiskan waktunya dengan mengajar banyak orang dan berkunjung ke banyak tempat. Agar lebih fokus – tidak terganggu oleh orang banyak yang sangat ingin memaksa Yesus sebagai raja (duniawi) yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Roma – tercatat empat kali Yesus harus menyingkirkan diri. Selain orang banyak pada umumnya, Yesus juga mengajar murid-murid sebagai bekal agar mereka lebih memahami ajaran-Nya, kematian-nya, kebangkitan-Nya, dan siap melanjutkan pelayanan setelah Yesus pergi ke sorga. Walau murid-murid adalah orang yang lambat cara berpikirnya (sama kayak aku juga, kadang-kadang …), namun dalam perikop yang jadi nas Ep Minggu ini terlihat mereka mulai “besar kepala”. Lihatlah, mereka mulai mengukur-ukur (bertengkar, kata beberapa referensi) siapa di antara mereka yang paling besar. Godaan yang juga terjadi pada pelayanan jemaat masa kini, ya? Bukan supaya memirip-miripkan diri pada murid-murid Yesus, akupun acapkali tergoda untuk membanding-bandingkan diriku dan pelayananku kepada hamba Tuhan yang lainnya. Malu-maluin, ya?

Dan Yesus tahu (namanya juga Tuhan, tentulah serba tahu, ya …) apa yang dibahas oleh murid-murid-Nya, lalu bertanya (untuk menguji hati mereka …). Semua terdiam. Mulai merasa malu kelihatannya …

Lalu Yesus menyampaikan ajaran prinsip tentang pelayan dan pelayanan: dahulukanlah orang lain, layanilah orang lain. Kesediaan untuk menjadi yang terkecil, itulah yang terbesar! Untuk lebih memantapkan pemahaman murid-murid, Yesus membawa seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah kumpulan sambil mengatakan bahwa siapa yang bersedia menyambut seorang anak kecil (yang menggambarkan kepolosan hati, lemah, tidak punya kuasa) itu sama dengan menyambut Yesus, dan yang menyambut Yesus berarti menyambut Allah Bapa yang mengutus-Nya. Begitulah yang diminta kepada orang-orang percaya: menyambut firman Tuhan dengan kepolosan (pengakuan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya), sebagai orang yang tidak punya kuasa (pengakuan bahwa hanya mengandalkan kekuatan dan kuasa Tuhan sematalah pelayanan bisa berjalan dengan baik).

Penyambutan pelayan dan pelayanan? Itulah tantangan yang dialami oleh nabi Yeremia dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dia sendiri diburu, dianiaya, dicela, dan diancam bunuh oleh orang-orang sekampungnya sendiri yakni Anatot. Sama dengan pengalaman Yesus, ‘kan? Tidak diakui di kampung halamannya sendiri! Karena apa? Karena ajaran yang disampaikan dan pemberitaannya! Begitulah, tidak semua orang suka mendengar kebenaran (apalagi kalau bukan kebenaran versi dirinya sendiri). Sekadar intermeso, usai Sinode Godang seorang penjabat yang sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya (setelah kalah “bertarung” untuk jabatan lain yang lebih tinggi …) ‘ngedumel di facebook yang kira-kira mengatakan bahwa begitulah sulitnya yang dihadapinya karena banyak orang berani mengatakan ketidakbenaran yang tidak diketahuinya sehingga banyak sinodistan yang terjebak …   

Susah memang menjadi penyampai kebenaran. Apalagi kebenaran yang disampaikan berbeda dengan kebenaran yang diakui oleh orang-orang sebelumnya. Bisa malah jadi sebaliknya, menjadi tuduhan menghujat. Aku mengalaminya, dan terjadinya di lingkungan gereja. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa gereja adalah komunitas yang benar-benar steril. Tidak!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kalau gereja saja tidak steril, maka jangan berharap pula bahwa dunia “sekular” adalah steril. Tidak! (lagi, ma’af dengan tanda seru …). Hampir tidak ada bedanya, bahkan Gereja seringkali lebih memprihatinkan. Bisa dibayangkan kalau firman Tuhan dipakai menjadi alasan pembenaran dari ketidakbenaran yang benar-benar ketidakbenaran. Bingung, ‘kan?

Ya, sudahlah. Yang penting kita punya teladan yang layak ditiru dan dijadikan model. Siapa lagi kalau bukan junjungan kita: Yesus Kristus. Nas Ev memberikan kekuatan kepada kita – baik sebagai pelayan maupun warga jemaat biasa – Yeremia 11:20 yang mengatakan: “Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.”. Jadi, pembalasan datangnya dari Tuhan, karena hanya Beliau sajalah yang berhak atas pembalasan. Bukan hak kita – yang hanyalah manusia yang terdiri dari debu – jadi jangan “sok-sokan” …

Yang penting: kerjakan pelayanan dengan segala kerendahan hati, kuat menahan penderitaan yang ditimbulkan oleh pelayanan tersebut tanpa harus ikut-ikutan membuat penderitaan bagi orang lain (dan diri sendiri juga …) dengan tidak melakukan pembalasan dan penghukuman, dan jangan lupa: fokus pada Kristus!

Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (4) : Toho do, ‘Kan? Dongan Tubu i do na Monang?

Setelah pemilihan Eforus dan aku mendapat berita jam lima sore tentang angka finalnya, persiapan pemilihan Sekretaris Jenderal pun berlanjut. Jam setengah delapan sedang berlangsung perkenalan para calon. Hasil pemilihan kemudian diumumkan:

– Mori Sihombing 385 suara

– Ramlan Hutahaean 347 suara

– Darwin Tobing 310 suara

– Manarias Sinaga 180 suara

– Afeliften 70suara

– STP Siahaan 45 suara

Karena belum mencapai quorum, maka dilanjutkan dengan putaran kedua. Lalu berlanjut dengan putaran ketiga dengan penghitungan suara selesai subuh, dan hasil akhirnya adalah sebagai berikut:

– Mori Sihombing 546 suara

– Ramlan Hutahaean 346 suara (= berkurang satu suara dari putaran pertama …)

Dengan demikian, Pdt. Mori Sihombing yang menjadi Sekretaris Jenderal HKBP periode 2012 – 2016 bersanding (bukan bertanding!) dengan Pdt. W. T. P. Simarmata. Semoga menjadi dwitunggal HKBP yang terbaik yang bersedia dipakai Tuhan menjadi alat-Nya dengan kerendahan hati dan hati pelayan yang menjadi hamba-Nya.

Oh ya, lewat dinihari aku memberikan prediksi tentang siapa yang akan menang menjadi Sekjen, lalu aku menjawab: “Olo do ra dongan tubu i na monang …” yang secara harafiah diterjemahkan sebagai “Bisa jadi kawan se-marga itu yang nanti yang menang …”. Karena kawan berkomunikasi ini adalah bermarga Lumbantoruan, maka pas jadinya karena yang menang adalah Pdt. Mori Sihombing.

Dasar orang Batak, ‘nggak pernah bisa lepas dari parmargaon, ya … Itulah karunia Tuhan. Berharga kalau dipakai untuk memuliakan nama-Nya, misalnya mendukung orang dimaksud (terlepas apa dan bagaimana pun hubungannya secara paradaton). Dan yang utama adalah melakukan semua pekerjaan di jemaat seakan-akan untuk Tuhan, maksudnya: lakukanlah semuanya itu untuk Tuhan …

Horas! Horas! Horas!

By tanobato Posted in HKBP

Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (3) : Bah, “Jagoan” Kita Menang!

Kabar terbaru dari Sinode Godang HKBP di Pearaja, Tarutung. Pemilihan Eforus sudah berlangsung dan selesai dengan penghitungan suara sebagai berikut:

– Binsar Nainggolan 394 suara

– David Sibuea 25 suara

– Nelson Siregar 58

– Ramlan Hutahaean 176 dan …

– W. T. P. Simarmata yang jadi Eforus dengan 697 suara. Puji Tuhan! Besar pengharapan, dan kiranya selalu dibimbing Tuhan dan takut akan Tuhan.

Horas! Horas! Horas!

By tanobato Posted in HKBP

Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (2) : Sebaiknya Ada “Dengar Pendapat” dengan Jemaat

Minggu yang lalu, usai ibadah Minggu pagi, aku sempat ‘ngobrol dengan pendeta resort dan utusan SG di konsistori. Semula aku ‘nggak begitu hirau dengan pembicaraan mereka berdua yang duduk di sampingku. Tentang SG, apalagi kalau bukan itu? Tentang rencana perjalanan ke Tapanuli. Tentang kegiatan selama di sana. Juga tentang nama-nama yang muncul di bursa SG yang ini membuatku ‘nggak nyaman.

Ada kesempatan, maka aku pun nimbrung, “Untuk ke depannya, menurutku sebaiknya kita adakan semacam dengar pendapat dengan jemaat untuk mendengarkan masukan oleh utusan sinode sebelum berangkat ke sinode godang. Kalau yang selama ini kesannya adalah utusan sinode hanya membawakan aspirasi pribadinya saja. Padahal untuk memberangkatkan utusan ke sinode yang dipakai adalah uang jemaat, maka sepatutnyalah jemaat juga dilibatkan.“.

“Usulan yang bagus, sintuanami”, jawab pendeta resort. “Tapi untuk itu dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memperkenalkan calon-calon yang mau dipilih, padahal jarak waktu antara sinode distrik dengan sinode godang tidak lama. ‘Nggak cukup waktunya, karena begitu banyak orang-orang yang mau diperkenalkan dan dilibatkan …”.

Jawaban yang kurang pas menurutku, sehingga aku katakan: “Tak perlu berbulan-bulan, Amang. Bahkan satu minggu sebelum utusan sinode berangkat pun cukup. Seperti sekarang ini, minggu depan kalian berangkat, siang habis ibadah seperti inilah kita bikin pertemuan. Utusan sinode menyampaikan informasi terakhir, lalu warga jemaat memberikan pandangan. Tentang calon yang mau dipilih, bisa saja warga jemaat punya informasi yang belum diketahui oleh utusan sinode sehingga membuatnya menjadi lengkap. ‘Nggak usah semua hal dibicarakan, melainkan hanya yang berhubungan dengan jemaat kita di sini saja. Misalnya selain Eforus, Sekjen, dan kepala departemen, hanya praeses untuk distrik kita saja yang dibicarakan”.

Benar, ‘kan? Atau aku saja yang terlalu idealis?