Andaliman – 194 Khotbah 09 September 2012 Minggu-XIV Setelah Trinitatis

Bukan Manusia, namun Andalkan Tuhan Saja (Apalagi) untuk Keselamatan yang Sesungguhnya!

Nas Epistel:  Mazmur 146: 1-10 (bahasa Batak: Psalmen)

146:1 Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

146:2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

146:4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

146:5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

146:6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

146:7 yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,

146:8 TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.

146:9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

146:10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Nas Evangelium: Yesaya 35:4-7a

35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.

35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;

35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

Kehidupan sekarang ini jahat. Membingungkan! Dan adakalanya bisa sangat mengguncang. Apalagi kalau terjadinya di lingkungan gereja. Setelah berbagai pengalaman sebelumnya, yang baru terjadi Minggu lalu juga membuatku bertanya-tanya: “Koq bisa begini? Aneh sekali! Tak pantas …”.  

‘Gimana ‘nggak membingungkan kalau bahkan seorang pendeta (jangan katakan: “pendeta juga manusia” untuk membenarkan “kealpaan” mereka, ya …) melakukan kebohongan tentang rekannya sesame pelayan gereja, disampaikan kepada rekannya sesama pendeta, untuk pelaksanaan acara gereja yang ibadah adalah bagian daripadanya. ‘Gimana ‘nggak semakin “bingung” jika di mimbar sang pendeta masih berani berkhotbah tentang ajaran kebenaran padahal sebagian besar warga jemaat yang melihat dan mendengar khotbahnya tahu tentang kebohongan yang tidak pantas yang sudah dilakukan oleh hamba Tuhan tersebut. Dalam hati aku hanya berkata, “Ya Tuhan, apa sebenarnya yang Engkau mau sehingga membiarkan hamba Tuhan yang seharusnya menjadi pelayan kebenaran masih berlaku tidak pantas seperti ini?”. Bukan hanya aku, beberapa aktivis gereja juga menyampaikan keprihatinan yang sama, yang untuk menenangkannya aku katakan, “Jangan lagi lihat siapa yang bicara, karena semakin tidak tahu lagi mana yang benar. Jangan pula jadi berhenti melayani di jemaat, karena Tuhan menginginkan pelayan yang tangguh bukan yang “tanggung” … Fokus kepada Tuhan sajalah.”. 

Dan puji Tuhan, dalam suasana yang tidak mengenakkan seperti itu masih ada  juga hal yang positif. Setiap bertemu dengan pendeta (dengan segala “asesoris yang melekat pada dirinya”, hehehe …) dan mendengarkan pembicaraannya yang “sumbang” aku selalu berseru kepada Tuhan agar dikuatkan dan dijauhkan dari “hal-hal yang buruk”. Jadi teringat anekdot tentang supir angkot yang suka ‘ngebut malah yang masuk sorga (karena penumpangnya selalu berseru kepada Tuhan karena supir yang membawa angkotnya dengan ugal-ugalan yang sangat membahayakan keselamatan).

Bukan itu saja, aku pun jadi bercermin setiap mengingat hal tersebut. Baik ingat sendiri, maupun kalau ada orang lain yang membicarakannya (persisnya: mengeluhkannya …). Seringkali aku berkata: “Ah, aku juga belum tentu lebih baik daripada beliau. Pelayananku juga belum tentu sudah menyenangkan hati Tuhan sepenuhnya, apalagi kelakuanku”. Jadinya introspeksi dan mengingatkan diriku untuk tidak melakukan hal yang sama yang aku juga tidak sukai seperti yang dilakukan oleh pendeta dimaksud (ataupun oleh kawan-kawan pelayan yang lain, dan atau keluarga atau siapapun itu …). Begitulah, Tuhan selalu dapat memakai apa saja dan siapa saja untuk menyatakan kemulian-Nya … 

Begitupun nas perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini. Pemazmur menyerukan untuk selalu memuji Tuhan, karena hanya Dia-lah satu-satunya yang bisa diandalkan. Manusia? Mana bisa! Apapun pangkatnya, jabatannya, status sosialnya, kelebihan fisik dan pribadinya, semuanya itu adalah fana. Akan musnah menjadi debu. ‘Gimana berharap memberikan keselamatan, kalau dirinya sendiri tidak dapat diselamatkan? Berapa banyak yang akhirnya kecewa dalam hidupnya karena sangat mengandalkan manusia.

Termasuk dalam hal ini sebagai oknum yang tidak layak diandalkan sebagai jalan keselamatan adalah atasan (mungkin karena pangkatnya sangat tinggiiii dan sangat berkuasa …), pemimpin gereja dan atau sesama pelayan (apalagi ini yang katanya semakin dekat pada Tuhan malah semakin hebat godaan iblis yang dating padanya sehingga banyak pelayan yang jatuh dalam perbuatan menjijikkan …), bahkan pasangan hidup yang adalah belahan jiwa!

Selagi masih dikategorikan sebagai manusia – yang terdiri dari darah, daging, dan tulang – tidak bisa diandalkan. Hanya Tuhan! Dengan kuasa-Nya, dan selama-lamanya tidak berubah. Karena manusia punya keterbatasan, sehingga ada batasan untuk mengandalkannya. Tapi, jangan salah, bukan jadi malah kita sesat sehingga tidak mengandalkan manusia. Andalkanlah manusia untuk batas tertentu. Misalnya dalam hal menyembuhkan sakit penyakit. Bukan berarti tidak pergi berobat ke dokter (karena ilmu pengetahuan untuk menyembuhkan datangnya dari Tuhan juga, ‘kan?), tetaplah berobat dengan meminta pertolongan Tuhan agar dokter diberi hikmat dan dipakai Tuhan sebagai jalan kesembuhan. Kalau sudah sembuh kemudian, berterima kasihlah kepada dokter dan pujilah Tuhan untuk kebaikan-Nya. Dan imani bahwa kesembuhan datangnya dari Tuhan, bukan dari sang dokter.  

Hal yang sangat menguatkanku manakala mencerna pesan perikop ini, yaitu:

(1)   Pengakuan bahwa hidup dan dunia ini betapa jahatnya, dan akan semakin buruk dari ke hari

(2)   Tidak ada yang bisa diandalkan: setiap hari, selalu berkuasa, tidak berubah alias tidak akan berpaling  

(3)   Namun Dia berjanji – dan hanya Tuhan ini sajalah – akan memulihkan semuanya itu, dan mengembalikan segala sesuatunya ke kesempurnaan sediakala yang hanya dinikmati oleh orang-orang benar yang berhak mendapatkan karya keselamatan dari Tuhan yang hidupnya lurus di jalan Tuhan   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih kecewa dengan kehidupan yang dijalani saat ini? Kecewa dengan orang-orang yang berlaku tidak pantas dan tidak sesuai dengan status dan jabatan yang disandangnya? Jangan larut dan hanyut dalam kekecewaan, pandang saja Tuhan karena hanya Beliau satu-satunya yang dapat diandalkan saat ini sampai selama-lamanya. Jangan pula membalaskan kejahatan yang ditimpakan kepada kita, bahkan mendendam, karena pembalasan adalah hak Tuhan semata.

Atau sebaliknya, sangat menikmati perlindungan dari orang-orang yang dapat diandalkan saat ini? Pesanku sama saja: nikmati namun jangan larut dan terhanyut. Belum tentu keadaannya akan sama dengan besok dan hari-hari kemudian. Bercerminlah, apakah nikmat yang kita dapatkan saat ini adalah yang seharusnya kita dapatkan sebagai anak-anak Tuhan?

Orang-orang jahat akan datang dan pergi. Begitu juga dengan orang-orang baik. Mana yang lebih banyak? Hal-hal yang menyenangkan akan berganti dengan hal-hal yang menyakitkan (Atau malah semuanya menyakitkan? Janganlah, ya!). tidak ada yang abadi, kecuali Dia, satu-satunya yang abadi. Di dunia dan di surga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s