Biola … Akhirnya! Awalnya Hari Ini. Terima Kasih, Tuhan!

Kapan persisnya aku sudah tak ingat lagi. Yang aku ingat, waktu masih kanak-kanak aku terkagum melihat foto keluarga yang di dalamnya ada ompung doli-ku di depan gereja saat pamasu-masuon perkawinan bapak dan mamakku. Tentu saja aku ‘nggak kelihatan karena baru akan lahir bertahu-tahun kemudian … Aku melihat kepala beliau menggeleng ke kiri, dan ketika aku tanya dijawab salah seorang kerabat dekat, “Oh, memang begitu kebiasaan Ompung kalau berfoto. Miring ke kiri karena kebiasaan bermain biola. Di gereja Ompung main biola selain marpoti marende.“. Aku ‘nggak pernah melihat beliau bermain musik, karena beberapa tahun setelah pensiun guru huria kesehatan Ompung menurun sampai beberapa tahun kemudian meninggal dunia …

Waktu SMP aku kagum dengan biola. Sepertinya masa SMP inilah aku mulai menyukai musik klasik. Saat itu statusnya masih “numpang dengar” pada bapakku yang di waktu senggang (habis mengajar) suka mendengar musik klasik dari pita kaset yang diputar oleh tape recorder yang portable dengan loudspeaker masing-masing satu buah bass dan treble. Bach, Tchaikovsky, Mozart, Strauss adalah musikus yang akrab bagiku. Meskipun tidak paham beda yang nyata antara yang satu dengan yang lainnya, tapi aku bisa betah duduk diam mendengarnya berjam-jam (kalau kasetnya ‘nggak diganti, tentunya …).

Setelah lama mengendap, keinginan untuk belajar biola muncul kembali ketika sudah berkeluarga dan kami tinggal di Kelapa Gading di Jakarta. Saat itu aku memang berkeinginan ikut kursus bersamaan dengan saat kami memutuskan bahwa anak kami si Auli harus bermain musik. “Selain kecerdasan berpikir, anak kita juga sebaiknya kita bekali dengan kecerdasan emosional. Waktu bayi aku selalu memperdengarkan musik klasik pada Auli, sekarang pun kita perlu memperkenalkannya dengan musik sesuai bakatnya. Terserah nanti alat musik mana yang dipilihnya“, kataku kepada mak Auli isteriku saat itu. Ketika itu jadual kursusnya ‘nggak pas dengan jadual kerjaku, karena yang paling lama adalah sore jam lima yang mana saat itu adalah jam keluar kantorku. “Nggak keburu. Akhirnya tertunda …

Auli akhirnya memilih electone dan mengikuti kursus tersebut dengan tekun sampai sekarang. Ketika pindah ke Bandung dan memilih rumah kontrakan, salah satu pertimbangannya memilih komplek perumahan ini adalah karena di dalam komplek ada kursus musik Yamaha sehingga Auli bisa melanjutkan pelajaran musiknya dengan kurikulum yang sama. Aku sendiri? Setelah lewat dua tahun tinggal di Bandung, barulah beberapa minggu lalu aku “serius” dengan mendaftar sebagai murid kelas biola dewasa. Harus privat, karena hanya ada itu yang cocok dengan usia dan jadual guru dan jadualku.

Jadilah aku hari ini belajar biola. Dengan guru yang dipanggil “encik” dan baru tahu bahwa beliau juga belajar biola setelah dewasa (memang belum setua aku ini, hehehe …). “Saya juga baru bermain musik setelah tamat kuliah dan menganggur dua tahun, pak …”, katanya berusaha membesarkan hatiku yang kesannya sangat sulit mempelajari, bahkan untuk belajar memegang peralatannya. “Saya berjemaat di Kalam Kudus, pak …”, lanjutnya lagi manakala aku beritahu bahwa aku pelayan di gereja Batak (beliau ‘nggak paham HKBP …) dan punya kerinduan untuk memainkan lagu Natal pada perayaan Natal di gereja bulan Desember yang akan datang. “Kalau hanya untuk memainkan lagu Silent Night saya sanggup mengajari Bapak, tapi tidak dengan lagu lainnya …”, jawabnya menanggapi keseriusanku meminta.

Supaya bisa belajar di rumah sendirian – di kursus hanya 30 menit untuk setiap pertemuan selama satu minggu – aku pun membeli biola dari kursus Yamaha tersebut. Tidak yang paling murah, tidak pula yang paling mahal. Yang penting bisa dululah, kataku dalam hati.

Sampai di rumah, Auli yang paling hempot. “Sebenarnya Auli dulu pun mau belajar biola, pa. Nanti Auli kursus biola lagi, ya pa …”, katanya yang aku baru tahu tentang keinginannya untuk bermain biola juga.  Aku baru tahu hari itu, dan untuk menenteramkan hatinya aku bilang, “Oh kalau gitu, gini aja, nak. Auli ajari papa main organ, lalu papa ajari Auli main biola. Cocok?”. Malam itu kami pun “berkenalan” dengan biola yang aku baru beli itu. Aku lihat Auli sangat semangat menggosok bow dengan alat yang disediakan untuk mengencangkan talinya (entah apa namanya, aku tidak ingat lagi …).

Lalu kami pun memainkan biola tersebut. Berganti-ganti. Tentu saja suaranya sumbang karena belum pakai kunci, alias sekadar menggesek. Karena belum dikencangkan – aku ‘nggak tahu, ternyata harus diputar pada pin dan talinya setiap mau dipakai – maka benang-benangnya berlepasan … Sempat panik sejenak (biola baru dibeli sudah rusak …), namun aku menenteramkan diri, “Biar aja besok diurus ke tempat kursus”, kataku yang membuat Auli juga tenang walau tadi sempat tertegun melihat benang-benang yang berlepasan.

Lalu kami mainkan lagi seolah-olah sudah menjadi violis sejati. Ketawa-ketawa dengan gaya masing-masing (yang tentu saja masih kacau karena belum sesuai kaidah dalam mengepit biola dan memegang bow-nya …). Ketawa-ketawa lagi, mendengar nada biola yang (sebenarnya) sumbang tapi kami menganggapnya merdu. Mak Auli yang bolak-balik naik-turun dari lantai dua rumah karena sedang mencuci pakaian di mesin cuci (pembantu belum datang juga setelah Lebaran) hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kami berdua. “Kalian berdua ini sama saja, kalau sudah asyik bukan main berisik. Perasaan sudah jago main biola aja …”.

Lalu kami pun ketawa berderai-derai. Lagi dan lagi …

Iklan

4 comments on “Biola … Akhirnya! Awalnya Hari Ini. Terima Kasih, Tuhan!

  1. Karena tinggal di Bandung, kursus musiknya juga di Bandung dan di komplek perumahan tempat kami tinggal. Salah satu kursus musik terkenal dan ada cabangnya di banyak tempat. Aku ‘nggak merekomendasikan karena pengelolanya tidak profesional. sudah mengecewakanku, paling tidak sebanyak dua kali.

    • Bukan di Kelapa Gading, melainkan di Bandung. Memang mengecewakan cara kerja pengelolanya. Sayang sekali, ‘nggak sesuai dengan kebesaran namanya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s