Andaliman – 195 Khotbah 16 September 2012 Minggu-XV Setelah Trinitatis

Teladani Yesus Sang Mesias (Rohani) dengan Pertolongan-Nya dalam Melayani Jemaat-Nya

Nas Epistel: Yesaya 50:4-9a

50:4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.

Nas Evangelium: Matius 16:13-20

16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”

16:14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 16:17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

16:20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

Nas Ep dan Ev Minggu ini sangat berhubungan. Curahan hati dan pengalaman pribadi Yesaya pada Perjanjian Lama ini agaknya sebuah nubuatan yang mengarah kepada Yesus sebagai mesias pada Perjanjian Baru (sebagaimana yang kemudian dinyatakan dalam nas perikop Ev).

Segala hal yang dialami oleh Yesaya: penyiksaan, penghinaan, perlakuan kasar dan tidak pantas, bahkan berujung kepada kematian, itulah yang kemudian dijalani oleh Yesus. Dan segala hal yang jahat tersebut – dipesankan – untuk tidak usah dibalaskan dengan hal yang sama jahatnya. Yesus banget, ya?

Dan pada nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini dikisahkan tentang percakapan Yesus dan murid-murid. Setelah mendengar pendapat orang-orang, Yesus perlu tahu juga pendapat orang-orang yang paling dekat dengan-Nya tentang siapa diri-Nya menurut pemahaman mereka. Bisa saja berbeda, ‘kan?

Oh, ya tadi pagi menjelang berangkat ke kantor aku sempat ‘ngobrol dengan mak Auli (ini adalah nama isteriku, jangan dicari di Alkitab, ‘nggak bakalan ada, hehehe …) tentang Sinode Godang yang akan berlangsung di Tarutung dalam minggu ini. Fokusnya adalah tentang orang-orang yang menjabat sekarang ini yang bisa saja tidak akan menjabat lagi karena ‘nggak terpilih.

“Kasihan mereka ya, pa … mau jadi apa nanti kalau sudah tidak menjabat. Apa mau jadi pendeta biasa setelah selama ini merasa dirinya seperti boss saja? Aku rasa sulitlah, ya. Selama ini sudah enak hidupnya. Apalagi kalau nanti ditugaskan di pelosok desa …”

“Makanya harus jadi orang yang baik, apapun jabatannya dan di manapun adanya”, kataku sok menasehati …

“Mereka pikir dirinya baik, pa. Jangan salah. Papa juga jangan berpikir papa orang baik, orang-orang belum tentu menganggap papa orang baik. Mungkin malah dicap sebagai orang yang tidak baik …”

“Oh, iyalah … kalau aku sih memang begitu, dan aku juga ‘nggak pernah berharap semua orang menganggapku baik. Yang penting, aku kerjakan apa yang baik menurutku, lalu mendengarkan pendapat orang. Kalau mereka itu kemungkinan ‘nggak mau lagi mendengarkan orang lain. Kalau banyak orang mengatakan perbuatannya ‘nggak pantas sebagai seorang pendeta, harusnya sudah bercermin jauh-jauh hari supaya bisa langsung berubah jadi orang baik-baik. Jangan sudah terlambat dulu …”

Dalam perikop ini pun Yesus sepertinya ingin mendapat konfirmasi pemahaman murid-murid tentang diri-Nya, lalu meluruskan apa yang dianggap-Nya salah. Misalnya tentang konsep kemesiasan yang akan diluruskan-Nya kemudian dengan melarang mereka menyampaikan apa yang dibicarakan saat itu. Bangsa Israel saat itu memahami Yesus sebagai mesias secara politis (yang akan membebaskan Israel dari penjajahan bangsa Roma), padahal yang dimaksud Yesus adalah diri-Nya sebagai juru selamat secara rohani. Bukan duniawi, melainkan surgawi.

Dan Petrus mendapat “kredit” dari Yesus dengan menyampaikan pemahamannya bahwa Yesus adalah mesias surgawi (sedangkan murid-murid lainnya menempatkan-Nya sejajar dengan Yohanes, Elia, Yeremia, dan paling banter tingkatan nabi (meskipun Yesus beberapa kali dipahami orang-orang sebagai nabi) dengan menyatakan Petrus sebagai pemegang kunci kunci Kerajaan Sorga. “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.“, kata Yesus kepadanya. ‘Nggak kebayang betapa menyenangkan perkataan itu kalau diucapkan Yesus juga kepadaku …

Pemegang kunci kerajaan sorga banyak dipahami bahwa Petrus-lah sebagai penentu siapa orang-orang yang berhak masuk sorga (namanya juga kuncen, ‘kan?). Bahkan Gereja Katolik menempatkannya sebagai Paus yang pertama sebelum manusia-manusia biasa lainnya menjabat Paus. Menurutku tidaklah begitu, bukan Petrus yang menentukan orang masuk kerajaan sorga. Sebagai kuncen, tentunya dia juga harus patuh terhadap majikannya, sang pemilik rumah ‘kan? Siapa lagi kalau bukan Yesus?

Pemegang kunci kerajaan sorga – dan dihubungkan dengan pendirian jemaat alias gereja dalam perikop ini – menurutku adalah hal-hal yang dapat membawa orang-orang percaya ke sorga ada pada Petrus, yang kemudian mendirikan jemaat di mana-mana. Di mana kita bisa mengetahui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke sorga? Sepatutnyalah di gereja (walau bukan satu-satunya). Sepatutnyalah, maksudku, karena ada kemungkinan Gereja malah menjauhkan orang-orang dari keselamatan yang kekal yang ditawarkan oleh Yesus. Berapa banyak orang yang dengan hari yang hancur meninggalkan Gereja karena melihat pelayanan dan kelakuan orang-orang di Gereja yang malah menjauhkannya dari Kristus yang adalah Kepala Gereja?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Perikop ini sangat pas bagi kita, yang “benar-benar” seorang pelayan Tuhan dalam pelayanan di jemaat, juga “sekadar warga jemaat biasa” yang seharusnya juga adalah pengabdi Tuhan. Alangkah menyenangkan, membanggakan, dan menyukacitakan bilamana yang disampaikan Yesus kepada Kristus juga diucapkan kepada kita sebagai anak-anak-Nya.

Jika apa yang kita ucapkan adalah yang datangnya dari Bapa kita yang di sorga, dan berlaku siap sedia sebagaimana yang disampaikan Yesaya dengan segala hal yang menyakitkan (dipukuli, diludah, dicabuti janggutnya = dipermalukan) sebagai konsekuensi dalam melayani Tuhan, upah yang akan kita terima tentunya akan sebanding dengan janji-janji Tuhan kepada anak-anak-Nya.

Sanggup?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s