Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (1) : Dingin di Jemaat = ‘Nggak Ada Harapan?

Selasa malam yang lalu seperti biasa kami marsermon parhalado. Sermon terakhir sebelum Sinode Godang. Pak pendeta resort dan penatua utusan resort ke SG asyik bercakap-cakap setelah usai pembagian tugas pelayan Minggu dan untuk minggu itu. Karena pendeta resort akan mengikuti SG yang dilanjutkan dengan cuti karena ada perayaan ulang tahun orang tua beliau di Tapanuli, maka pemangku jabatan pemimpin pelayanan di jemaat adalah inang pandita (pendeta diperbantukan yang malam itu juga diumumkan sudah menerima surat pindah ke jemaat lain di Jakarta, keputusan yang dirasakan aneh: menjelang habis periode jabatan, koq masih aja Kantor Pusat mengeluarkan surat pindah, yang dijawab oleh pendeta resort. “Nanti ajalah kita omongkan di hahomion tentang surat pindah tersebut …”).

Sintua utusan SG sebenarnya bertugas pada Minggu tersebut, namun karena berangkat ke Tarutung maka harus ada yang menggantikan. Dengan sukarela plus didorong oleh inang pandita, maka aku pun menyanggupi untuk bertugas. Kali ini sebagai panjaha tingting (warta jemaat dalam bahasa Batak karena jadual ibadah Minggu berbahasa Batak setiap minggu ganjil) setelah Minggu sebelumnya sebagai liturgis Ibadah Minggu sore karena minggu lalu beliau mendapat giliran berkhotbah di gereja lain di Depok. ‘Nggak apalah, selagi masih bisa dan masih kuat ber-Jakarta – Bandung pulang pergi …

Selama sermon, aku ‘nggak melihat kawan-kawan parhalado membicarakan SG. Aneh juga, bukankah SG itu suatu pertemuan besar bagi HKBP yang akan menentukan langkah selanjutnya? Layaknya muktamar, atau musyawarah nasional, atau kongres bagi organisasi “sekular” yang adalah jadi pusat perhatian, paling tidak, untuk “musim” tersebut. Menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, sang Kepala Gereja? Sangat beriman, kedengarannya … Atau cuek? Atau malah apatis? Beberapa hari sebelumnya – karena belum tahu tanggal pastinya SG – aku coba mengakses situs resmi HKBP, dan langsung merasa kecewa karena ‘nggak terasa “kemeriahan” SG. Bayangkan, situs HKBP Kantor Pusat tidak mencantumkan kegiatan dan persiapan SG, selain acara pelantikan Panitia SG oleh Eforus pada beberapa bulan yang lalu. Bahkan kapan SG berlangsung pun tidak ada tercantum …

Di sebelahku duduk inang sintua senior yang juga adalah parhalado resort yang tadi menyilakan aku duduk karena datang terlambat (seperti biasanya, ma’af … karena jalan tol Cipularang belakangan ini sudah ‘nggak mudah terprediksi lagi macetnya, apalagi karena sedang ada perbaikan ruas jalan …), lalu aku tanya: “Menurutku, sebaiknya,utusan kita yang mau ke sinode godang berdiskusi dengan kita tentang apa aspirasi yang akan mereka bawa nanti di sinode. Masak pendapat kita ‘nggak perlu mereka dengar?”, yang langsung dijawab, “‘Nggak usahlah, Amang ditanyakan. Untuk apa, ya?”. Jawaban yang spontan mematikan semangatku untuk bertanya …

Usai sermon, sambil menuju parkiran mobil, aku ‘ngobrol dengan dua orang penatua lainnya. Yang satu adalah utusan SG, dan satunya lagi mantan ketua parartaon (karena kondisi kesehatan yang semakin menurun, beliau tidak lagi menjabat di struktur pelayanan). Kami bertiga adalah pengajar kelas pra-sidi dan sidi, dan sering berdiskusi tentang hal-hal yang strategis di jemaat. Aku lontarkan keherananku tentang dinginnya tanggapan parhalado tentang SG, dan perbincanganku sebelumnya dengan inang sintua tadi. “Memang harusnya ada pertanyaan seperti itu kepada kami utusan sinode. Bukan dari saya, karena ‘nggak pas kalau saya yang melontarkan pertanyaan karena saya utusan. Tapi begitulah kondisi kita saat ini, bahkan sampai parhalado juga dingin saja seakan sinode ‘nggak ada pengaruhnya dengan kita. Saya setuju pendapat Amang Tobing apalagi kami berangkat ‘kan dibiayai oleh uang jemaat …”

“Ah, sudah acuh (warga) jemaat semua terhadap sinode, Amang. Semua sudah tahulah bagaimana HKBP kita ini. Pemimpinnya juga begitu, jadi ‘nggak guna lagi membicarakannya. Coba aja, calon-calon yang mau dipilih pun sama saja kualitasnya. Mungkin ada yang bagus, itupun sangat sedikit, tapi tetap akan kalah dibandingkan yang jelek yang lebih banyak. Sudah ‘nggak ada harapan lagi …”

Lalu kisah-kisah yang lebih banyak jeleknya daripada baiknya pun mengalir. Hal yang semakin sering aku dengar manakala membicarakan tentang pelayananan dan pelayan. Aduh, sedihnya dan membuat prihatin mengingat seharusnya pelayanan di gereja tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk di luar.

Sampai kapan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s