Berdo’alah untuk Sinode Godang HKBP (Tulisan Penutup): Tuhan Menunjukkan Kuasa-Nya!

Puji Tuhan! Sinode Godang (selanjutnya disingkat saja dengan SG) sudah berakhir dengan baik. Beberapa hal yang sempat membuat kuatir – misalnya deadlock (disengaja ataupun alamiah …), gangguan keamanan dan ketertiban, dan lain sebagainya – ternyata tidak terbukti. Siapa yang menjadi pemimpin empat tahun ke depan (eforus, sekretaris jenderal alias sekjen, kepala departemen alias sekjen, dan praeses) sudah definitif. Yang tidak puas? Pasti ada. Menurutku, itu sesuatu yang “wajar”, apalagi bagi orang-orang yang melihat SG ini sebagai pertarungan.

Apa yang Menarik dari SG?

Aku tidak terlalu peduli dengan kepengurusan HKBP, dalam artian tidak sangat peduli (bukan sangat tidak peduli, ya …). Ada beberapa alasannya, yakni:

(1)    Secara umum tidak begitu menyentuh terhadap pelayanan di jemaat (huria), apalagi warga jemaat (ruas). Sampai sejauh ini, yang aku rasakan peranannya par-kantor pusat lebih banyak pada urusan seremonial, misalnya pesta gereja (yang ini juga sering membuatku bertanya: koq mesti mengundang mereka walau panitia sendiri seringkali kesulitan menyediakan dana pesta), pembicara seminar (yang ini juga rada mengherankan karena lebih cenderung kepada “pembobotan” dalam artian membuat seminar seolah-olah berbobot dengan kehadiran mereka walau apa yang disampaikan seringkali jauh dari harapan …), dan lainnya yang pada akhirnya mudah bercuriga bahwa motif di belakangnya lebih kepada upaya pendeta resort (atau siapapun yang berkarir dan atau mengharapkan berkarir di HKBP)  dalam “menjual diri” (dalam artian positif) kepada boss-nya. Menurutku, sah-sah saja, asalkan tidak memaksakan diri.

(2)    Nuansanya sudah semakin tidak rohani lagi. “Tidak jauh beda daripada pemilihan di dunia politik”, kata beberapa orang (kalau tentang suasana demokratisnya tentulah membuat bangga), namun … “Bahkan lebih parah pun!”, kata yang lainnya menimpali. Ini pastilah tentang hal-hal negatif di dunia politik, yang tentu saja membuat hati sedih dan terluka. Oh ya, suatu kali dalam suatu pertemuan di gereja seorang penatua menanyakan tentang money politics di SG, lalu pendeta resort menyangkalnya bahkan mengatakan itu fitnah. Ternyata sang penatua punya bukti yaitu buku yang ditulis oleh pendeta HKBP yang juga didapatkan karena pembagian di jemaat HKBP untuk penatua (buku bahan partangiangan wejk, kalau ‘nggak salah …). Posisi pendeta resort (yang “mati-matian” membantah money politics di SG tersebut) menjadi semakin blunder manakala seorang penatua yang ikut SG membantah bantahannya bahkan menantang sang pendeta untuk membuktikan ucapannya… Pelajaran berharga dari sini: bolehlah membela korps tapi jangan menjadi buta dan tuli pada fakta. Pengakuan yang jujur dan permohonan ma’af yang tulus seringkali malah mendatangkan tanggapan yang lebih positif daripada dengan arogan berupaya menutup-nutupi kebenaran yang tidak begitu lagi perlu.

(3)    Apapun hasilnya dan siapapun yang terpilih tidak akan berpengaruh pada perbaikan. Sebenarnya pandangan seperti ini tidak baik, namun faktanya terkesan seperti itu. Tidak jauh berbeda dengan pemilihan kepala daerah, ‘kan? Begitu banyak yang jadi golput karena berpendapat bahwa siapapun yang terpilih hasilnya akan sama saja: tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Yang patut disayangkan juga adalah bahwa fokus orang-orang (termasuk sinodisten) adalah pada pemilihan pejabat gereja, walau pada SG (katanya) ada juga agenda yang lain yang seharusnya juga mendapat perhatian, yaitu program kerja ke depannya.

(4)    Masih berhubungan dengan poin nomor tiga di atas namun dalam artian yang positif, yaitu siapapun yang terpilih dan apapun program kerja yang ditetapkan pada akhirnya Kristus sang Kepala Gereja-lah yang menentukan perjalanan gereja selanjutnya. Inilah yang paling utama yang mendasarinya, walaupun diletakkan di poin terakhir (ini membuktikan bahwa “yang pertama bisa menjadi yang terakhir, begitu juga yang terakhir bisa menjadi yang pertama, hehehe …). Sebagai Kepala Gereja, tentulah Beliau menginginkan agar gereja jangan musnah. Aku mengimani bahwa Kristus (masih) mengasihi HKBP.    

SG kali ini menjadi menarik, utamanya bila melihat siapa yang terpilih sebagai Eforus, Sekjen, dan Kepala Departemen. Dengan pengetahuanku yang sangat terbatas tentang SG, aku punya beberapa catatan yang menarik:

(1)    Selain Pdt. WTP Simarmata – yang kemudian terpilih menjadi Eforus – nama-nama lainnya yang kemudian terpilih menjadi Sekjen dan Kadep bukanlah yang sering terdengar dalam bursa, setidaknya tidak terdengar di kalangan orang-orang ambisius. “Kalau pendeta WTP sebenarnya di sinode godang sebelumnya pun sepatutnya jadi Eforus, tapi beliau saja yang ‘nggak mau”, kata seorang sinodisten, yang menurutku suatu pernyataan yang kurang pas, karena sebenarnya Kristus yang belum mau (menjadikan beliau sebagai Eforus pada sinode yang lalu) dengan memakai sinodisten dan orang-orang tim sukses kandidat lainnya yang menang.

(2)    Kekuasaan dan kekuatan (apalagi yang duniawi …) bukanlah jaminan yang memberikan kepastian. Pdt. Hutahaean yang Sekjen incumbent yang juga Ketua Panitia SG, secara teorititis adalah orang yang paling punya banyak kesempatan untuk terpilih menjadi Eforus ataupun “sekadar” bertahan sebagai Sekjen. Faktanya ternyata sangat jauh berbeda: gagal dalam pemilihan Eforus, bahkan gagal pula dalam pemilihan “sekadar” bertahan sebagai Sekjen.   

(3)    Tidak satupun dari antara “Lima Sekawan” (Eforus, Sekjen, dan tiga Kadep) adalah “pemain bertahan”. Artinya tidak seorang pun dari “Lima Sekawan” masa kepemimpinan sebelumnya yang bertahan dengan tetap terpilih sebagai “Lima Sekawan”. Selain Eforus Pdt. Bonar Napitupulu yang memang sudah tidak boleh mencalonkan diri karena sudah dua periode berturut-turut sebagai Eforus, yang lainnya tidak seorang pun yang meraih suara mayoritas sinodisten. Dengan mudah kita menduga bahwa pelayanan mereka selama menjabat yang lalu belum berhasil menaklukkan hati sinodisten (ataupun orang-orang yang menitipkan pesan kepada sinodisten).

Masih Bisa Berharap? Bolehlah, ya … Asalkan jangan Sampai Habis Pengharapan

Sekadar melihat dan mencoba memahami sebagaimana yang aku sampaikan sebelumnya, aku masih (berani) menitipkan pengharapan kepada “Lima Sekawan” yang sekarang ini. Memang tidak semuanya berada di tangan mereka, namun sebagai orang-orang yang terpilih mereka punya pengaruh dalam hal ini:

(1)    Jadilah pemimpin yang rendah hati dan sederhana. Tinggalkan, dan jangan mau terpengaruh pada godaan-godaan keduniawian yang mulai gencar melanda para pemimpn HKBP saat ini. Bukan lagi menjadi pelayan, malah minta dilayani. Hari ini Provinsi DKI Jaya sedang memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, dan calon terkuatnya adalah pasangan Joko Widodo (walikota Solo yang terkenal dengan kerendahhatian dan kesederhanaannya) dan Ahok (mantan Bupati Belitung Selatan yang beragama Kristen) yang sudah unggul pada pemilukada putaran pertama. Jika terpilih jadi Gubernur DKI, ini akan menjadi revolusi bagi pemilihan kepala daerah di Republik Indonesia ini. Dari pasangan ini bisalah “Lima Sekawan” belajar tentang kepemimpinan, tapi kalau Tarutung dan Jakarta terlalu jauh, sebenarnya kita punya model pemimpin yang sangat sangat sangat layak ditiru: siapa lagi kalau bukan Yesus Kristus sang Kepala Gereja! Bagiku, sudah saatnya mempertimbangkan kembali gelar Ompu i bagi Eforus yang patut dipertimbangkan relevansinya pada zaman yang lebih cenderung egaliter dan “tidak berjarak” sekarang ini.

(2)    Jadilah model, bagi para pendeta yang dipimpin, dan juga bagi warga jemaat yang mengidolakan pemimpin. Sudah terlalu banyak cercaan terdengar tentang kelakuan yang tidak pantas yang dilakukan para pendeta, dan sudah saatnya dihentikan. Jadilah pengadil yang seadil-adilnya, bukan karena balas dendam melainkan untuk menegakkan kebenaran. Tentu saja harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin air yang kotor dapat membersihkan air yang keruh? HKBP kekurangan model, sebaliknya memberikan contoh yang melimpah untuk hal yang tidak patut.

(3)    Kesangatduniawian HKBP harus dijadikan perhatian untuk dibatasi. “Pendeta juga manusia”, kata beberapa orang yang (sok) bijak dalam menanggapi ketidaklayakan kelakuan dan perlakuan pendeta belakangan hari ini yang menurutku lebih cenderung kepada pencarian alasan pembenaran daripada kebenaran. Malah seharusnya pendeta berbeda dengan yang bukan pendeta dalam hal perbuatan baik. Pemimpin yang tegas dan layak menjadi contoh yang baik untuk ditiru, sangat dirindukan oleh warga HKBP saat ini.    

(4)    Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Kolaborasi, bukan kompetisi! Sangat “aneh” rasanya membaca sejarah HKBP yang hampir tidak pernah memiliki pemimpin yang harmonis. Sejak dahulu era “dwitunggal” Eforus-Sekjen hingga era “Lima Sekawan” seperti sekarang ini. Menurutku, penyebabnya adalah sesama penjabat saling berkompetisi satu sama lain dengan menganggap orang lain sebagai lawan, bukan mitra pelayanan. Sekjen dan Kadep ingin merebut jabatan Eforus, sedangkan Eforus ingin mempertahankan jabatannya sampai habis hak berlakunya. Karena lebih banyak ‘nggak seiring sejalan, Eforus pun mempersiapkan orang lain untuk suksesi manakala tidak bisa dipilih kembali. Sebaiknya Eforus menggerakkan kawan-kawan “Lima Sekawan” dan semua praeses dan pendeta resort untuk berorientasi kepada pelayanan jemaat dengan pengertian yang sebenar-benarnya. Jangan pernah berpikir (apalagi menunjukkan) tentang jabatan sebagai kekuasaan, melainkan tunjukkanlah sebagai kewajiban untuk melayani yang terbaik. Dengan pelayanan yang baik dan berkualitas hingga suatu saat, pada waktu SG semua sinodisten “bingung” untuk memilih siapa yang akan menjadi Eforus, Sekjen, dan Kadep karena semua calon sama bagusnya. Dan itulah saatnya mekanisma pemilihan dengan manjomput na sinurat bisa diterapkan. Biarkan Tuhan yang memilih dengan mengabulkan do’a sinodisten yang tulus dan hati yang bersih. Satu tantangan lagi yang perlu difasilitasi oleh “Lima Sekawan” saat ini adalah pemikiran tentang Sekjen yang tidak harus dari kalangan pendeta. Melihat fungsinya yang sebenarnya lebih banyak urusan administrasi dan organisasi, untuk jabatan Sekjen bisa saja dipilih parhalado yang bukan pendeta, tapi memiliki kecakapan dalam hal tersebut.

Yang menjadi kerinduanku adalah bagaimana figur Eforus lebih memosisikan dirinya sebagai pemimpin umat dan dikenal di kalangan luas. Bukan hanya di HKBP sendiri, namun juga memainkan peran di kehidupan kenegaraan. Bukan harus terlibat dalam politik praktis, melainkan dipertimbangkan saat pengambilan keputusan kehidupan di luar gereja juga. Aku membayangkan bagaimana bupati, gubernur, atau siapapun pemimpin dengan jabatan politik datang kepada Eforus untuk berdiskusi tentang hal-hal yang terjadi dalam pekerjaan mereka. Gubernur datang ke praeses, bupati ke pendeta resort, misalnya. Bukan seperti sekarang ini, malah pendeta yang datang ke bupati dan atau gubernur. Kalau didasari oleh kerendahan hati, sih bagus-bagus aja … tapi kalau karena “kalah wibawa”? Wah, itu jadi lain ceritanya, ya …

Bukan menunjukkan arogansi (mentang-mentang pemimpin rohani yang “dekat” sama Tuhan …), melainkan rasa hormat yang ditunjukkan karena kompetensi dan kelayakan dari jabatan pelayan yang disandang dan dikesankan. Ini semua bisa terjadi kalau semua pelayan Tuhan benar-benar menunjukkan dirinya sebagai hamba yang sudah mempersembahkan diri untuk dipakai Tuhan sebagai alat-Nya, di mana pun dan sebagai apa pun dalam kehidupan di dunia ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s