Andaliman – 202 Khotbah 04 November 2012 Minggu-XXII Setelah Trinitatis

Tuhan Itu Esa, Tuhan Itu Satu! Kasihilah Tuhan dan Sesama Manusia, dengan Sepenuh Hati !

Nas Epistel:  Ulangan 6:1-9 (bahasa Batak 5 Musa 6:1-9)

6:1 “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.  

Nas Evangelium: Markus 12:28-34

Hukum yang terutama

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. 

Waktu masih kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta beberapa tahun yang lalu, satu di antara banyak hal perdebatan yang sengit di kalangan kami mahasiswa yang berasal dari berbagai denominasi gereja adalah tentang keesaan Allah. Semua sepakat bahwa Tuhan itu esa alias satu, namun waktu aku tanyakan: “Kalau begitu, Tuhan yang kita sembah sama dong dengan yang disembah umat beragama lain, Islam misalnya?”, suasananya seketika berubah. Apalagi manakala seorang mahasiswa yang berasal dari gereja karismatis yang mengatakan bahwa mereka hanya menyembah Yahweh (yang terkesan berbeda dengan Tuhan dan atau Allah …), maka semakin serulah perdebatan. Tentu saja membuatku menjadi terheran-heran, lha ‘gimana wong mahasiswa pasca-sarjana sekolah tinggi teologi aja masih berbeda pendapat tentang satunya Allah … Padahal, Alkitab sudah jelas-jelas mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan Dia-lah satu-satunya yang layak disembah …

Begitu juga waktu aku memimpin diskusi di partangiangan wejk, warga jemaat ada yang protes keras karena aku mengatakan bahwa Tuhan kita satu sehingga semua penyembah Tuhan memiliki Tuhan yang sama. “Ah, saya hanya mau menyembah Tuhan orang Kristen, si tolu sada, saya ‘nggak mau dan ‘nggak setuju kalau dikatakan Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan orang Islam juga. Jangan dikacaukan iman kepercayaan kami, sintuanami!”. 

Tanggapan seperti itu jugalah yang aku lontarkan pertama kali “diguncang” dengan prinsip keesaan Allah ini (monoteisme, istilah yang lazim digunakan) di bangku kuliah beberapa tahun yang silam. Aku protes kalau dikatakan Tuhan orang Kristen sama dengan Tuhan agama lain. Aku tak rela!, hehehe … Namun dengan perenungan yang mendalam dan dituntun oleh Tuhan melalui firman-Nya aku menjadi yakin  bahwa Tuhan itu adalah satu. Kenapa ada perbedaan? Itu disebabkan oleh pemahaman bangsa yang pertama kali menerima wahyu tersebutlah yang menjadi penyebabnya sehingga ada agama-agama yang berbeda dengan perbedaan yang diajarkannya (selain banyak persamaan yang disampaikannya juga …). Perlu diingat pula, bahwa agama adalah buatan manusia, dan bukan agama pula yang menyelamatkan sehingga manusia masuk surga. Latar belakang orang-orang zaman dulu tentu saja mempengaruhi konsep pemahamannya tentang Tuhan. Dan itulah yang memperkaya keberagaman cara menyembah Tuhan. Orang Batak sekarang ini saja bisa berbeda (walaupun sangat sedikit …) tentang pemahaman iman kristiani dengan suku bangsa lain, bahkan dengan sesama Batak sendiri pun (apalagi bila mereka sudah tidak mar-HKBP lagi alias sudah ke karismatis …).   

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini merupakan perintah Allah melalui Musa tentang hukum mematuhi Allah dan mengingatkan bangsa Israel untuk menyembah hanya Allah yang satu. Bagian ini sering kali disebut sebagai “shema” (bahasa Ibrani shama = mendengar). Bagian ini sangat dikenal orang Yahudi pada zaman Yesus karena diucapkan setiap hari oleh orang Yahudi yang saleh dan secara tetap dalam kebaktian di sinagoge. Shema ini merupakan pernyataan terbaik tentang kodrat monoteistis Allah. 

Supaya lebih mantap (bila masih ragu karena mengira bahwa pernyataan tersebut hanya dicantumkan di Perjanjian Lama), nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini juga mengutip ucapan Yesus tentang keesaan Allah: “… Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (ayat 29). Jadi, kalau Yesus juga sudah mengatakannya, tentulah kita juga ‘nggak perlu ragu lagi untuk meyakininya, ya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Perlunya pemahaman tentang satunya Allah yang kita sembah (dan yang juga disembah oleh umat manusia di dunia ini, apapun agamanya!) sangat kita butuhkan, khususnya dalam melaksanakan hukum yang utama dan terutama untuk mengasihi Allah dan sesama manusia. Kita harus memahami bahwa sebagai sesama ciptaan Tuhan (yang memerintahkan untuk mengasihi-Nya dan juga manusia lainnya) maka kita harus menghindari fanatisme yang sempit untuk hanya mengasihi sesama orang Kristen. Oh ya, fanatisme yang sempit ini berpotensi kepada hal yang lebih buruk bahwa kita hanya perlu mengasihi sesama warga HKBP, sesama satu wejk, sesama orang Batak, sesama marga, sesama keluarga satu ompung,  sesama satu ayah-ibu, … wah, lihatlah … ini semakin menjauhkan kita dari prinsip yang diajarkan oleh Yesus dengan memberikan ilustrasi tentang orang Samaria yang baik hati, ‘kan?

Orang Israel (yang beragama Yahudi) sampai sekarang masih sangat taat untuk mengikatkan firman (setelah dimasukkan dalam kotak kecil berupa potongan kertas) pada lengannya dan tanda pada dahinya (secara harafiah sebagaimana orang Yahudi yang sangat legalistik) dan pada pintu masuk rumahnya. Bagi kita saat ini salah satu cara utama untuk mengungkapkan kasih kepada Allah ialah mempedulikan kesejahteraan rohani anak-anak kita dan berusaha menuntun mereka kepada hubungan yang setia dengan Allah (sebagaimana disampaikan dalam salah satu rujukan), melalui:

(1)   Pembinaan rohani anak-anak, seharusnya merupakan perhatian utama semua orang-tua

(2)   Pengarahan rohani harus berpusat di rumah, dan melibatkan ayah dan ibu. Pengabdian kepada Allah di dalam rumah tangga wajib dilakukan; hal itu adalah perintah langsung dari Tuhan.

(3)   Tujuan dari pengarahan oleh orang-tua ialah mengajar anak-anak untuk takut akan Tuhan, berjalan pada jalan-Nya, mengasihi dan menghargai Dia, serta melayani Dia dengan segenap hati dan jiwa.

(4)   Orang percaya harus dengan tekun memberikan kepada anak-anaknya pendidikan yang berpusatkan Allah di mana segala sesuatu dihubungkan dengan Allah dan jalan-jalan-Nya.   

Dan semua itu dilakukan setiap hari, dan berulang-ulang, dan melalui teladan kita selaku orang tua. Perlu pula diingat dan dicamkan, bahwa patuh pada perintah Tuhan adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Dan kebaikan akan selalu menyertai kita dalam menjalani kehidupan ini. “Tidak jauh dari kerajaan Allah“, sebagaimana disampaikan oleh Yesus kepada orang Farisi yang bijaksana tersebut pada ayat terakhir (Markus 12:34). Apalagi upah yang lebih baik daripada itu? Bukankah kita harusnya lebih baik daripada orang Farisi yang seringkali digambarkan secara negatif dalam Alkitab? 

Iklan

Belajar dari Rangkaian Acara Pengebumian Mertua (2): Awas Hula-Hula Palsu!

Ma’af, bukan mau menyombongkan diri. Bukan pula mau menunjukkan “ke-kami-an” bila aku harus menampilkan guntingan iklan di koran Sinar Indonesia Baru (koran terbitan Medan yang lebih dikenal dengan “SIB”) untuk memberitahukan kepada keluarga, kerabat, dan handai tolan tentang berita kematian mertua laki-laki. Oh ya, di baris paling bawahnya tertulis dalam bahasa Batak yang berarti “… ini adalah juga pemberitahuan kepada keluarga dekat dan hula-hula kami yang mengasihi kami.”.

Dari sinilah cerita ini bermula: koran SIB (koran yang banyak memuat berita tentang Batak dan kampung halaman, yang mertua pun berlangganan koran ini hanya untuk mengetahui berita bona pasogit karena bila mencari info terkini yang lebih bermutu sudah banyak media lain …), dan hula-hula. Tulisan ini pun lebih terpicu oleh adanya pesan facebook dari situs gobatak (yang belakangan ini suka aku ikuti untuk menambah pengetahuan tentang habatahon dan mendengarkan lagu-lagu Batak) tentang mulai seringnya terjadi “hula-hula palsu” di pesta orang Batak.  

Berdasarkan pengalaman saat upacara pemberangkatan mayat leluhur (paborhathon natua-tua tu inganan parsatongkinan) yakni ompung kami pada tahun lalu, utamanya ketika manortor menghormati hula-hula (kerabat dari pihak perempuan sesuai konsep dalihan na tolu yang umumnya menempati posisi yang sangat khusus sehingga pada saat saweran uang jumlahnya lebih banyak disematkan ke jari-jari tangan yang manortor), beberapa orang menyampaikan keheranannya: “Koq ada di antara yang manortor tadi tidak aku kenal, ya? Padahal seharusnya semua keluarga yang jadi rombongan kita adalah keluarga dekat kita, masak aku ‘nggak kenal? Aneh juga …”. Kecurigaan merebak, dan dugaan adalah: ada orang yang sebenarnya bukan keluarga, namun ikut rombongan manortor untuk mengharapkan saweran uang. Ikut rombongan hula-hula karena biasanya uang yang disematkan di jari oleh pihak keluarga yang menjadi tuan rumah (suhut bolon) jumlahnya lebih besar dibandingkan yang diberikan kepada rombongan lain. Itulah yang belakangan disebut dengan “hula-hula palsu”. Sebenarnya dia ‘nggak punya hubungan dengan pihak keluarga yang menyelenggarakan pesta dan atau upacara adat, namun selalu ikut rombongan hula-hula untuk mendapatkan uang saweran yang banyak.

Kebanggaan pada diri orang Batak bila banyak orang yang datang menghadiri pestanya juga salah satu yang menanamkan benih ini. Apalagi sekarang dengan banyaknya anggota keluarga yang merantau jauh sehingga tidak begitu mengenal lagi keluarga dan kerabat dekat orang tuanya sehingga pada saat manortor semua yang ikut (dan banyak pula orangnya …) mendatangkan sukacita bagi keluarga yang menjadi suhut bolon. Inilah satu keprihatinan terhadap generasi muda Batak saat ini. Yang lebih memprihatinkan adalah oknum-oknum orang Batak yang mencari uang dengan “rela” menjadi hula-hula palsu seperti ini, suatu hal  yang sangat jauh dari karakter orang Batak yang sangat menjunjung kehormatan dan harga diri … 

Meskipun kecurigaan akan hula-hula palsu ini selalu muncul pada setiap penyelenggaraan upacara adat di keluarga kami, namun semuanya masih bisa menoleransi: “Ya sudahlah kalau begitu, biarin saja … ‘nggak sering koq kita bikin pesta. Anggap sajalah cara kita memberi kepada orang yang membutuhkan. Juga supaya bertambah orang yang bersukacita. Lagian, siapa yang masih punya kesempatan memperhatikan satu per satu anggota rombongan yang datang manortor? Siapa pula kita yang kenal sama semua anggota rombongan keluarga orang tua kita?”. Begitulah beberapa pernyataan secara umum dari keluarga tentang hal ini.

Pada acara partuathon sebagai rangkaian upacara pengebumian mertua laki-laki ini memang banyak sekali yang datang (jika memperhitungkan dari jumlah makanan yang dipesan dan terbagi dengan baik ke semua orang, diperkirakan ada dua ribu orang yang hadir). Dan memang kami sangat bangga, karena berarti banyak orang yang memberikan “penghormatan terakhir” kepada almarhum mertua. Dan kegiatan panortoran pun berjalan dengan meriah. Ruang tamu keluarga yang sudah dimodifikasi sejak tahun lalu sebagai antisipasi kegiatan seperti ini pun masih ‘nggak cukup untuk menampung banyaknya anggota rombongan yang manortor. Selain berdesakan di pintu, seringkali pula kami suhut bolon harus mendatangi anggota rombongan yang ada di halaman.

Nah, setelah usai acara partuathon, dibarengi minum kopi untuk melepas lelah sejenak, aku pun ‘ngobrol dengan dongan sahuta yang sangat membantu pelaksanaan upacara adat ini. Dan ada satu orang yang dulu adalah kawanku di lingkungan rumah mertua di Medan itu sejak sama-sama ikut Sekolah Minggu. Mamaknya sintua, dan bapakku juga sintua di jemaat yang sama. Setiap kali aku pulang ke Medan dan beribadah di gereja tersebut, pastilah bertemu dengan orang ini. Latar belakang kehidupannya dan saudara kandungnya yang banyak di kalangan “pasaran” menjadikannya cocok untuk dimintai tolong “mengamankan” acara pesta dan adat seperti ini. Saat minum kopi itulah aku baru tahu ternyata ada “kehebohan” tadi.

“Itulah, lae. Ada dua orang yang tertangkap tadi hula-hula palsu itu”, katanya membuka cerita yang sekaligus menunjukkan perannya dalam mengatasi masalah. 

“Masih ada juga, ya?”, kataku menanggapi.

“Bah, semakin banyak sekarang ini orang mencari makan dan cari kesempatan dengan jadi hula-hula palsu”, lalu menceritakan beberapa kasus yang terjadi di beberapa pesta.“Waktu aku tangkap dan sebelum kami serahkan ke polisi untuk diproses, di tangannya masing-masing ada uang tiga ratus ribu lebih yang sudah berhasil didapatnya. Sempat tadi dia minta ma’af dan minta untuk berdamai saja, tapi paribannya lae bilang tetap harus dibawa ke polisi supaya jera“. 

“Dari mana mereka tahu untuk datang ke pesta dan jadi hula-hula palsu?”, tanyaku mulai tertarik.

“Dari koran SIB-lah, lae. ‘Kan cuma ada di situ kalau ada berita orang Batak yang mati. Lalu dia lihat keluarga yang meninggal si paradongan atau tidak. ‘Nggak mungkin mereka jauh-jauh datang dari Mandala kalau ‘nggak memperhitungkan berapa nanti uang yang akan didapat. Tadi aku tanya dua-duanya, lae dan dibilang kek gitu samaku makanya aku tahu”, katanya menjelaskan panjang lebar dengan ekspresi mantap selaku orang yang paling banyak tahu dengan gaya khas Medan-nya.

“Oh, gitu … Terus, dari mana lae tahu koq bisa langsung menduga dan mencurigai hula-hula palsu itu?”, kataku penasaran.

“Ah, lae ini … bikin aku malu aja. Dari pengalaman sendirilah, lae. Aku dulu ‘kan seperti itu juga …”, jawabnya dengan sedikit tersipu.

Bah! Patutlah, kataku dalam hati. Ada-ada saja …

 

Andaliman – 201 Khotbah 28 Oktober 2012 Minggu-XXI Setelah Trinitatis

Air Mata Kemarin dan Hari Ini, Pengharapan akan Sukacita Besok!

Nas Epistel:  Mazmur 126:1-6 (bahasa Batak Psalmen)

Pengharapan di tengah-tengah penderitaan

126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”

126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. 126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.  

Nas Evangelium: Yeremia 31:7-9

31:7 Sebab beginilah firman TUHAN: Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: TUHAN telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! 31:8 Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari!

31:9 Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku.     

Too good to be true, adalah ungkapan yang beberapa kali aku dengar. Biasanya dipakai oleh beberapa kawan yang pergi dan pindah ke perusahaan lain dalam mengekspresikan betapa jauh lebih baik yang didapatkan di perusahaan yang baru daripada yang diperoleh selama ini. Selain itu, kalimat tersebut juga diungkapkan untuk sesuatu hasil pekerjaan yang sangat bagus yang tidak terbayangkan sejak semula. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan, itulah artinya.

Hal yang samalah yang diekspresikan oleh bangsa Israel ketika membayangkan keadaannya bebas dari pembuangan Babel. “…keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi”, demikianlah ungkapan yang dipakai oleh pemazmur dalam ayat 1 nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Tidak terbayangkan oleh mereka yang sedang terbuang dan dijajah oleh bangsa Babel yang penuh dengan penderitaan. Mereka berteriak kepada Tuhan untuk memulihkan, karena pengharapan hanya diletakkan pada kemurahan hati Tuhan yang mampu melakukan perkara-perkara besar. Manusia ‘nggak bakal mampu melakukannya. Negeb yang adalah gurun pasir (melambangkan ketandusan hidup) dengan serta-merta diubahkan menjadi tanah yang subur dengan air yang melimpah. 

Pengharapan. Itulah yang menjadi bekal dalam menghadapi penderitaan dan hal-hal yang sulit dalam hidup. Yang menabur benih dengan air mata (artinya melakukan perbuatan baik dan terpuji walaupun dengan penuh pengorbanan) pada saatnya akan menuai dengan bersorak sorai (artinya akan mendapatkan hasil yang menyukacitakan). Jargon in sering dipakai dalam dunia penginjilan untuk mengungkapkan betapa sulitnya dalam menghadapi tantangan saat mengabarkan firman Tuhan, namun jika dijalankan dalam suasana hati yang penuh sukacita maka saatnya akan tiba manakala melihat semakin banyak orang-orang yang diselamatkan.

‘Nggak jauh berbeda dengan pengalaman kami satu keluarga besar yang dibesarkan oleh orangtua dengan penghasilan pas-pasan. Kegigihan orangtua kami dalam membesarkan kami dengan bersekolah sampai di perguruan tinggi – yang seringkali berpikir keras untuk mendapatkan hutangan manakala tiba saatnya untuk membayar uang sekolah – tentu saja dengan bercucuran air mata (ini bisa difahami dalam arti kiasan maupun arti yang sebenarnya …) tentu dengan keyakinan dan pengharapan bahwa kehidupan kami anak-anak mereka akan menjadi lebih baik daripada kehidupan mereka saat itu. Terpujilah Tuhan dengan doa yang tulus dan terus-menerus, Tuhan memberkati kerja keras mereka sehingga kami bisa bersekolah dan hidup lebih baik secara umum. Jika dengan logika semata, sudah pasti ‘nggak bakalan masuk hitung-hitungannya … 

Tuhan menjanjikan kehidupan yang menyukacitakan, itu juga yang ingin disampaikan oleh Yeremia melalui nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Yang semula bersedih dan mencucurkan air mata, pada saatnya akan diubahkan dan terhibur dengan berkat yang dilimpahkan. Syaratnya: menjadikan Tuhan sebagai bapak alias pemimpin dalam kehidupan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Mazmur yang sedang kita bicarakan ini adalah satu bagian dari apa yang sering disebutkan dengan “nyanyian ziarah” atau “nyanyian pendakian”. Disebutkan demikian karena mengisahkan perjalanan bangsa Israel dari pembuangan menuju Yerusalem, tanah kelahiran. “Mendaki”, karena diibaratkan sedang berjuang untuk meraih penghidupan yang lebih baik (mendaki tentunya ke tempat yang lebih tinggi, ‘kan?) setelah melalui jalan yang terjal (harus melalui tantangan dan kesulitan yang luar biasa). Ada juga unsur kekecewaan di dalamnya sebagaimana yang mereka alami yang memang berulangkali kecewa karena tidak selalu sesuai dengan harapan mereka (yang memang cenderung lebih bersifat kedagingan).

‘Nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita juga, ‘kan? Hidup kita ini adalah ‘nggak jauh berbeda dengan orang yang melakukan ziarah alias perjalanan yang sangat jauh. Sepanjang apapun umur kita, pada akhirnya akan berhenti, dan tiba pada satu titik. Sebagai orang percaya, tentulah kita mengharapkan agar tiba di “Yerusalem yang baru” (bukan Yerusalem yang dituju oleh orang Israel pada masa Perjanjan Lama ini, ya …). Selama melakukan “perjalanan” tentu saja kita mengalami berbagai macam peristiwa. Suka dan duka bergantian, ada juga kecewa, kegagalan, frustrasi, dan lain-lain.

Nah, perikop ini mengingatkan kita: jadikanlah Tuhan sebagai pemimpin. Air mata yang banyak bercucuran selama ini dan selama kita hidup anggaplah itu sebagai air yang akan membasahi tanah yang kering untuk menyuburkan gurun pasir dari hati kita yang kering dan tandus dengan selalu berharap kepada Tuhan. Dan pada saatnya, kita akan beroleh penghiburan dan sukacita sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan yang selalu menyertai kita dalam kehidupan.

Belajar dari Rangkaian Acara Pengebumian Mertua (1): Ke Mana Setelah Mati?

 

Selama mengikuti rangkaian acara pengebumian mertua, ada yang mengganggu pikiranku: kenapa orang-orang mengatakan “Jangan sedih, bapak sudah ada di surga sekarang” ? Bukan berarti aku ‘nggak suka kalau almarhum mertua memang masuk surga (dan kami akan bertemu kelak di sana …), namun yang aku kuatir kalau pernyataan tersebut malah menyesatkan. Baik bagi pengucap, apalagi yang mendengarnya.

Orang yang duduk di sebelah kananku, aku tanya: “Apa iya, bapak kita ini sekarang sudah di surga?” 

“Lho, bukan memang begitu?”, sahutnya balik bertanya.

“Menurutku bukan, karena semua orang yang mati akan pergi ke tempat yang bernama sheol menunggu panggilan penghakiman. Setelah dipanggil serentak dengan orang-orang lain pada saatnya, lalu dihakimi oleh Tuhan. Penghakiman itulah yang menentukan apakah seseorang ke surga, atau malah ke neraka …”

“Oh begitu, iya juga ya. Mungkin ucapan-ucapan itu maksudnya untuk memotivasi keluarga yang ditinggalkan, ya. Supaya mereka jangan terlalu bersedih …”. Ada benarnya juga, pikirku.

Oh ya, masih ada satu lagi: kebiasaan anggota keluarga “berbicara” kepada jasad almarhum (biasanya anak-anak kepada mayat orangtuanya …), biasanya di pagi hari sebelum jenazah diberangkatkan menjalani rangkaian upacara adat lalu ibadah penutupan peti mati. Satu per satu anggota keluarga mengucapkan kata-kata perpisahan kepada mayat. Yang sering terdengar adalah ucapan penyesalan, namun sering pula “dibumbui” dengan “pesan sponsor”, misalnya: “Ma’afkanlah saya bapak tidak bisa merawat dan melihatmu di hari-hari terakhir kehidupanmu karena saya tiba-tiba dipanggil presiden untuk rapat penting”. Atau, “Saya sudah lama ingin menjengukmu, dan memang sudah berencana bertemu denganmu setelah saya pulang liburan sebulan di lima benua”. Ada lagi, “Kenapa ‘nggak sabar menunggu saya menikah dulu, padahal resepsinya sudah disiapkan di hotel bintang lima dengan mendatangkan artis-artis terkenal …”

Tahun lalu ketika menghadiri ibadah penghiburan tetangga kami yang dibawakan oleh gereja karismatis tempat almarhum berjemaat, aku merasa ‘nggak ‘nyaman sama sekali (dan kepingin cepat-cepat pulang kalau ‘nggak ingat sopan-santun bertetangga). Gara-garanya adalah pemimpin ibadah (mungkin pendeta jemaat) dengan ringannya mengatakan: “Saya yakin bahwa bapak ini sekarang sudah berada bersama Yesus di surga”, lalu warga jemaat yang ikut rombongannya menyahut dengan “amiiinn …”. Begitu berulang-ulang sambil memuji-muji almarhum. Aku jadi bertanya-tanya: apa iya memang begitu? Koq begitu yakin dia “memutuskan” bahwa almarhum sudah langsung bersama Yesus di surga? Emangnya dia Yesus, atau Allah Bapa, sang pemilik surga sehingga dengan mudahnya memberikan “kapling” buat almarhum? Bagiku – sebaik apapun kehidupannya, atau serohani bagaimana pun kelakuannya – tetap saja tidak ada seorang pun manusia yang bisa menjamin dengan mengatakan bahwa seseorang yang sudah meninggal sudah ada di sorga ketika kematian menjemputnya.

Terpujilah Tuhan! Ketika menggumulkan hal ini, aku diminta untuk berkhotbah pada Minggu yang lalu di Bandung. Dengan senang hati aku menerimanya, sekalian untuk “kompensasi” kebatalan aku berkhotbah Minggu sebelumnya karena menghadiri upacara pengebumian mertua di Medan dan dikubur di Dolok Sait, Laguboti di Tapanuli Utara. Dan nas perikop khotbah (lihat tulisan Andaliman-200 di bawah ini) menuntunku untuk mencari tahu tentang hal orang mati ini. Ucapan Yesus dalam Markus 10:40 “Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.” membawaku pada kesimpulan bahwa Yesus pun tidak “berani” (ma’af kalau harus menggunakan kata “berani” ini yang bukan berarti bahwa hal ini adalah tentang berani atau takut …) menjanjikan kepada seseorang (yang masih hidup) tentang kepastiannya masuk surga sebelum dia benar-benar mati lalu menjalani penghakiman kelak. Hanya kepada orang yang bersama-sama dengan-Nya disalib di Golgota, yakni yang di sebelah kanan-Nya Yesus mengatakan: “Engkau akan bersama-Ku di firdaus …”. Menurutku, itupun adalah hal yang sangat sangat sangat khusus untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh memberikan harapan akan kehidupan di surga.

Beberapa hari ketika mempersiapkan khotbah aku mencari berbagai referensi. Tak lupa pula meminta tuntunan Tuhan agar jangan sampai khotbah yang aku ucapkan malah menyesatkan jemaat. Karena di HKBP, maka aku pun melihat Buku Ende dan Konfesi, yang membawaku pada arahan:

(1) Buku Ende No. 383 yang berjudul Adong do Ama memang mengesankan bahwa yang meninggal ada di surga, dengan “Lao ma au, lao ma au tu na di surgo i. Di surgo do au, na lao ma au, tu Ama na di surgo i”. Lalu ada juga di ayat empat: “Molo masihol ho muse di au, ingotma na di surgo i do au …”. Benar, ‘kan? Tapi, coba lihat Buku Ende No. 334 yang berjudul Nasa Jolma Ingkon Mate yang mencantumkan syair: “Daging on do gabe bangke, jala ingkon do malangke. Asa sogot bangkit i, tu hasangaponna i”. Dan teruskan dengan ayat lima yang syairnya “… Ai marriburibu taonna lao tumopot ingananna …”.

(2) Konfesi HKBP 1996 mencantumkan hal kematian ini. Dengan membandingkan teksnya dengan konfesi versi-versi sebelumnya, terkesan bahwa itu semua dibuat untuk menghilangkan pemahaman umat HKBP (yang masih sangat “tradisional”) yang menganggap bahwa orang mati itu “tidak ke mana-mana”, alias masih berada di tengah-tengah keluarganya (dan melihat dan mengawasi anggota keluarganya, bayangkan saja ‘gimana orang yang sudah mati bisa mengawasi dan “mengatur” kehidupan orang yang masih hidup …) sehingga ada yang menyembahnya dengan meminta pertolongan dan berkat dari/kepada arwah orang mati tersebut. Lazim dikenal dengan mangido sumangot ni na jumolo monding. Aku masih sempat menyaksikan manakala berziarah pada dinihari menjelang peringatan hari kebangkitan Yesus, di kuburan ada yang meletakkan lampet dan atau sangsang kesukaan selagi hidup (supaya dimakan orang yang dikuburkan di situ …), menyalakan rokok kegemaran (supaya dihisap orang yang dikuburkan di situ …), catur (karena almarhum senang bermain catur selama hidupnya …), dan mungkin juga kartu joker (karena almarhum adalah si panjaha na utusan …). Bahkan sampai sekarang ada yang jumolo marsantabi dengan “Santabi tua ni jabu on” bilamana akan membicaraka tentang orang yang sudah mati. Nah, untuk menghilangkan praktek-praktek seperti itulah maka (mungkin) nyanyian Buku Ende menyairkan bahwa yang mati itu sudah di surga jadi ‘nggak usah lagi diperlakukan sebagaimana dia sewaktu masih hidup. Padahal, iman kepercayaan kita menegaskan bahwa tidak ada lagi hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup. Begitu mati, urusannya sendirilah setelah itu. Tidak bisa “minta dukungan” kepada orang yang masih hidup, sebaliknya yang masih hidup juga tidak ada gunanya “memberikan dukungan” kepada orang yang sudah mati. Dengan mendoakannya supaya diterima di sisi Allah subhannahu wata’ala, misalnya … 

Saranku:

(1) Jangan mudah “membela” si mati sekaligus menjadi hakim pengambil keputusan dengan menjatuhkan vonis dengan mengatakan bahwa dia sudah berada di surga saat itu, karena penghakiman belum dimulai. Dan ingat, hanya satu Sang Pembela yang Agung yang berhak memutuskan kelak apakah ke surga atau malah ke neraka.

(2) Daripada ‘ngobrol dengan mayat yang sudah kaku, mendingan berujar kepada keluarga yang ditinggalkan untuk mengambil teladan yang baik dan mengenang almarhum selama hidupnya dengan hal-hal yang baik. Dan berdoalah kepada Tuhan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kenyataan itu. Bukan diberika kekuatan dalam menghadapi menghadapi musibah, ya karena kematian adalah satu-satunya cara dalam menjalani proses menuju kehidupan yang kekal. Apalagi jangan sampai mendoakan agar arwahnya diterima di sisi-Nya!

Andaliman – 200 Khotbah 21 Oktober 2012 Minggu-XX Setelah Trinitatis

Melayani, bukan Dilayani

Nas Epistel:  Yesaya 53:4-12

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

53:7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

53:8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

53:9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

53:10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

53:11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.

53:12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Nas Evangelium: Markus 10:35-45

Permintaan Yakobus dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap  supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan  yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras  atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan  nyawa-Nya menjadi tebusan orang.”     

Yesus selalu menyuguhkan keluarbiasaan. Tak putus-putusnya aku terkagum-kagum dengan ajaran dan sikap-Nya, termasuk juga saat menghadapi permintaan murid-murid sebagaimana tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini.

Lihatlah betapa ringannya Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan kepada Yesus agar ditempatkan di tempat yang mulia, yakni di sebelah kanan dan kiri Yesus setelah nanti di kemuliaan-Nya. Kedua murid ini adalah murid kesayangan selain Petrus yang seringkali diajak dan diajar Yesus yang berbeda dengan murid-murid lainnya. Yakobus dan Yohanes adalah anak Salome yang adalah saudari Maria, ibu Yesus. Jadi, kelihatannya mereka berdua memanfaatkan kedekatan keluarga (hubungan darah) untuk mendapatkan sesuatu. Yang ini tentu saja bukan seperti yang dimaui oleh Yesus yang lebih mengutamakan hubungan rohaniah daripada hubungan lainnya. 

Ada lagi, tentang permintaan mereka. Cara pandang mereka tentang kerajaan yang dijanjikan Yesus adalah masih bersifat duniawi dengan berpikiran bahwa kalau Yesus suatu saat jadi raja, tentulah mereka “berhak” menjadi “lingkaran satu” karena telah banyak berkorban selama ini (mirip tim sukses dalam pemilihan kepala daerah dan kepala gereja di dunia ini, ‘kan?). Dengan pemahaman yang ‘nggak sesuai itu, Yesus menegur mereka dengan lembut, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”.  

Ada yang positif juga dari sikap kedua murid itu, yaitu mereka sangat “pede”: pede masuk surga (dengan mengklaim untuk duduk di sebelah Yesus memerintah …), dan pede tentang kemampuan dalam meminum anggur (karena mengira apa susahnya meminum anggur, malahan enak. ‘kan?) dan menerima baptisan (karena mengira hanya sekadar dicelupkan atau dipercikkan air …). Padahal yang dimaksud Yesus adalah menjalani penderitaan (ingat peristiwa Yesus berdoa di Getsemane meminta agar dilalukan meminum anggur dari cawan …) dan perendahan hati (bersedia dibaptis oleh Yohanes yang “bukan siapa-siapa” disbanding Yesus, lalu siap memikul salib karena menjadi orang Kristen yang akan dimusuhi oleh banyak penguasa dunia …).  

Sepuluh murid lainnya marah. Jangan salah, mereka marah bukan karena permintaan kedua murid tadi mengganggu Yesus. Bukan! Mereka marah karena takut kedahuluan, karena mereka juga sebenarnya menginginkan posisi yang diminta oleh Yohanes dan Yakobus tersebut. Begitulah, seringkali orang merasa tersinggung dengan kelakukan buruk orang lain meskipun dia sendiri melakukan perbuatan salah yang sama …

Dengan lemah lembut Yesus menjelaskan kepada semua murid-murid (dengan tidak marah tentunya …) dengan mengingatkan bahwa kerajaan yang dimaksud-Nya bukanlah kerajaan seperti yang dipahami oleh murid-murid dan penguasa-penguasa dunia. Bukan berkuasa dengan tangan besi, melainkan malah harus merendahkan diri dengan menjadi pelayan bagi orang lain. Hebat ‘nggak tuh … Tidak melawan walau disiksa, dianiaya, dipukuli, diludahi. Tidak membantah walau tidak terbukti melakukan kesalahan sebagaimana sudah dinubuatkan oleh Yesaya berabad-abad yang lalu seperti disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Karena apa? Karena kepatuhan Yesus sepenuhnya kepada perintah Allah Bapa! 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bukan Yesus namanya kalau ‘nggak sanggup melawan para penguasa dunia yang menghakiminya. Tidak susah bagi-Nya untuk mendatangkan malaikat dari surge untuk melululantakkan pengawal bait Allah, imam, ahli taurat, bahkan tentara Roma sekalipun. Lha wong, berbagai mujizat terbukti sudah dilakukan-Nya beberapa kali. Sudah pastilah lebih sulit – bahkan mustahil oleh manusia biasa – menghidupkan orang mati daripada mematikan orang hidup, bukan? Dan Yesus sudah melakukannya.

Kepatuhan kepada Allah Bapa, itulah yang membuat Yesus bersedia menjalani semua penderitaan bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia. Padahal apalah manusia, namun Yesus bersedia melakukan segalanya untuk menyelamatkan manusia sebagaimana amanat Allah Bapa sebagai misi kedatangan-Nya sebagai manusia ke dunia.

Sikap itulah yang mendasari sehingga kita pun seharusnya bersedia dan bisa menjadi pelayan bukan dilayani. Kerendahan hati sebagaimana kesediaan Yesus bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang “bukan siapa-siapa”.

Cukuplah itu menjadi modal bagi kita untuk menjadi pelayan yang sungguh-sungguh: kepatuhan kepada perintah Allah dan kerendahhatian sebagai hamba yang lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Dan puji Tuhan, kita ‘nggak usah jauh-jauh mencari figur untuk dijadikan contoh karena kita punya Yesus yang adalah model sejati untuk selalu diikuti selama menjalani kehidupan yang seringkali tidak memihak kepada kita.