Mau 10%, ‘Bang …?

Tahun lalu aku “kehilangan” seorang teman di Bandung. Pensiunan dari tempatku bekerja saat ini. Karena asli orang Bandung, saat pertama kali datang ke Bandung untuk mulai bertugas memimpin kantor wilayah ini, beliau satu di antara sedikit orang yang aku hubungi untuk membantuku. Urusan mencari kantor dan rumah kontrakan, utamanya. Meskipun aku kemudian kecewa karena merasa bantuannya tidak sepenuh hati (mungkin disebabkan perbedaan budaya dan agama, entahlah, pada akhirnya aku berhasil dengan mencari sendiri …). Setelah pensiun, ternyata beliau mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang periklanan. Aku mengetahuinya manakala datang ke kantor pada suatu hari menawarkan jasanya (persisnya: meminta pekerjaan).

Menghargai perkawanan (meskipun aku tahu pasti bahwa hasil pekerjaannya ‘nggak akan lebih baik daripada agency yang kami pakai sekarang dan sudah bertahun-tahun) aku pun memberikan pekerjaan kepadanya. Sekalian menguji kemampuan timnya, pikirku saat itu. Dan memang terbukti, setelah tiga kali aku minta diperbaiki, barulah rada memuaskan, dan barulah aku berani menandatangani klaimnya.

Bukan itu yang membuatku jengkel, ada yang lebih menjengkelkan. Suatu sore, beliau datang lagi ke kantorku. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, muncul omongan yang membuatku tak senang: “Bang, sebagai tanda ucapan terima kasih sudah menjadi keputusan di perusahaan kami untuk memberikan 10% sebagai uang jasa untuk diberikan kepada client yang membantu kami mendapatkan proyek. Untuk abang juga aku bawakan sekarang ini. ‘Nggak usah kuatir, bang … kawan-kawan kita di Jakarta juga melakukan hal yang sama …”, ujarnya sambil menyebut nama orang di kantor pusat kami. Tentu saja aku kaget, ‘nggak ‘nyangka dia menganggapku serendah itu (maksudku bukan 10% itu terlalu rendah, hehehe …).   

Kawanku ini orang Sunda, baru pulang haji, dan selama masih aktif bekerja di perusahaan kami, beberapa kali kami bekerja dalam satu tim. Jadi, aneh sekali kalau dia ‘nggak kenal aku ini seperti apa. “Kang haji …, aku ini mau uang, dan butuh uang. Tapi aku selalu mencukupkan apa yang aku dapat dari perusahaan sebagai gaji untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau ada orang lain yang mau menerima pemberian seperti itu menurut akang tadi, samaku ‘nggak usahlah dilakukan. Dengan pekerjaan yang akhirnya bisa bagus, bagiku sudah cukup. Jadi, simpan saja uangnya. Aku ‘nggak bersedia menerima.” 

“Tapi ini sudah dikeluarkan dari kasir, bang. Dan benar-benar ucapan terima kasih”

Itu urusan akang. Lagian, ‘kang perusahaannya akang sendiri?”

“Gimana kalau saya berikan saja ke panti asuhan, nanti saya bilang bahwa ini sumbangan dari abang?”, kejarnya terus dengan nada memaksa.

Sekali lagi, itu urusan akang. Aku ‘nggak mau tahu, dan jangan bawa-bawa namaku …”, kataku tetap menahan diri untuk tidak terlihat marah yang melampaui batas (walaupun dia sebenarnya sudah kelewatan, ya …).

Itulah perjumpaan kami yang terakhir. Ada beberapa kali mengirim pesan-pendek, tapi selalu aku jawab secara normatif. Kalau ada pekerjaan lagi, aku ‘nggak pernah menawarkan padanya. Mungkin faham dengan kekesalanku, akhirnya tidak ada komunikasi lagi. Bahkan undanganku untuk acara berbuka puasa bersama di kantor tidak dijawab …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s