Andaliman – 199 Khotbah 14 Oktober 2012 Minggu XIX Setelah Trinitatis

Cicak versus Buaya …

Nas Epistel:  Ibrani 4:12-16 (bahasa Batak Heber)

4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Yesus sebagai Imam Besar

4:14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Nas Evangelium: Amos 5:6-7; 10-15

5:6 Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel.

Melawan perkosaan keadilan

5:7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah!

5:10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas.

5:11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, –sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya.

5:12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.

5:13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

Hidup dan mati

5:14 Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan.

5:15 Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.    

Di awal Oktober yang lalu kembali kita disuguhi tontonan yang menarik perhatian – sekaligus menjengkelkan – yakni pertarungan jilid dua antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Sebagai orang yang sama sekali tidak punya kepentingan (secara langsung) dengan kejadian ini, lakon yang kemudian terjadi ini terasa sangat menggelikan.

 

KPK dengan penyidik dari Polri yang “di-BKO-kan” ke KPK lalu ogah kembali ke kesatuan Polri walau dipanggil dengan alasan habis masa kontraknya, dicoba jemput paksa oleh Polda Bengkulu dengan alasan terlibat kasus penembakan tersangka pencuri sarang burung walet delapan tahun yang lalu. Semakin dalam mengikuti pemberitaannya di media semakin terasa “kekonyolan” yang dilakukan Polri karena dengan mudah orang menduga bahwa Polri sudah habis akal untuk menyelamatkan para perwiranya (bahkan ada pula Gubernur Akademi Kepolisian yang seharusnya bisa menjadi suri tauladan) yang sedang disidik KPK karena terlibat korupsi di kepolisian. Bayangkan: jenderal polisi terlibat korupsi di kepolisian! Karena semakin blunder, maka presiden turun tangan untuk “mendamaikan” perseteruan ini setelah sebelumnya didesak oleh para penggiat anti korupsi untuk turun tangan dengan melakukan demonstrasi di berbagai tempat … 

Begitulah, pada saatnya hal-hal yang busuk akan ketahuan juga. Namanya juga bangkai, bau yang menjijikkan pasti akan tercium juga. Apalagi bagi Tuhan yang mata-Nya selalu dengan awas melihat perbuatan setiap orang. Dengan gamblang, sehingga tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Dengan kemampuan yang “supra-natural” yang dimiliki sang Imam Agung, hal yang jahat dan yang baik dengan mudah dipisahkan oleh pedang roh-Nya yang sangat tajam, yang bisa memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati. Jika sampai sekarang ini si jahat masih “menikmati kejahatannya”, itu adalah masalah waktu. Suatu saat akan terkuak. Sudah banyak contoh. Di republik kita ini (dengan para pejabat, politisi, bahkan suatu saat akan menjangkau gereja). Gereja? Pasti, karena Gereja bukanlah lembaga yang steril dari penyakit yang memalukan ini! 

“Menikmati kejahatannya”? Benar! Aku bikin pakai tanda kutip, karena sesungguhnya mereka yang jahat tidak benar-benar menikmati hasil kejahatanya walaupun terlihat mereka bergembira. Itu hanyalah seolah-olah, karena belum tentu mereka menikmatinya dengan damai sejahtera. Ancaman akan ketahuan dan tertangkap pasti setiap saat mengancam dan mengganggu ketenteraman mereka itu.    

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai anak-anak Tuhan, kita disadarkan untuk menjadi agen-agen pembawa kebenaran dan keadilan.  Jangan silau dengan kemilau yang “seolah-olah” menyukacitakan, bukan sukacita penuh yang didasari oleh damai sejahtera. Jadilah orang-orang yang adil, yang mencintai kebenaran, yang menghormati pengadil (dianalogikan dengan “pintu gerbang” karena pada zaman itu pengadilan dilakukan secara terbuka di pintu gerbang kota agar semua orang dapat melihat).

Kejujuran juga sangat dituntut tanpa memandang status sosial seseorang. Yang kaya dan yang miskin sama derajatnya di mata pengadil.

Sebagai pelayan jemaat, kita dituntut untuk melayani semua warga jemaat dengan pelayanan yang terbaik, tanpa memandang latar belakangnya.

Jika sudah “terlanjur” menjadi si jahat sebagaimana dimaksud dalam nas Ep dan Ev Minggu ini, maka diperlukan keberanian untuk menghadap Allah dengan mengaku dosa dan melakukan pertobatan yang sungguh-sungguh. Bagi yang belum atau tidak melakukan kejahatan, yakinkan dalam diri bahwa semua yang didapatkan dari hal-hal yang jahat, tidak akan memberikan sukacita dan damai sejahtera (disebutkan dengan “sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya”). Jadi, untuk apa pula mau jadi orang jahat?

Mendingan jadi orang yang baik, yang mencintai kebenaran dan keadilan. Caranya? Carilah Tuhan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s