Andaliman – 200 Khotbah 21 Oktober 2012 Minggu-XX Setelah Trinitatis

Melayani, bukan Dilayani

Nas Epistel:  Yesaya 53:4-12

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

53:7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

53:8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

53:9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

53:10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

53:11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.

53:12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Nas Evangelium: Markus 10:35-45

Permintaan Yakobus dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap  supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan  yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras  atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan  nyawa-Nya menjadi tebusan orang.”     

Yesus selalu menyuguhkan keluarbiasaan. Tak putus-putusnya aku terkagum-kagum dengan ajaran dan sikap-Nya, termasuk juga saat menghadapi permintaan murid-murid sebagaimana tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini.

Lihatlah betapa ringannya Yakobus dan Yohanes mengajukan permohonan kepada Yesus agar ditempatkan di tempat yang mulia, yakni di sebelah kanan dan kiri Yesus setelah nanti di kemuliaan-Nya. Kedua murid ini adalah murid kesayangan selain Petrus yang seringkali diajak dan diajar Yesus yang berbeda dengan murid-murid lainnya. Yakobus dan Yohanes adalah anak Salome yang adalah saudari Maria, ibu Yesus. Jadi, kelihatannya mereka berdua memanfaatkan kedekatan keluarga (hubungan darah) untuk mendapatkan sesuatu. Yang ini tentu saja bukan seperti yang dimaui oleh Yesus yang lebih mengutamakan hubungan rohaniah daripada hubungan lainnya. 

Ada lagi, tentang permintaan mereka. Cara pandang mereka tentang kerajaan yang dijanjikan Yesus adalah masih bersifat duniawi dengan berpikiran bahwa kalau Yesus suatu saat jadi raja, tentulah mereka “berhak” menjadi “lingkaran satu” karena telah banyak berkorban selama ini (mirip tim sukses dalam pemilihan kepala daerah dan kepala gereja di dunia ini, ‘kan?). Dengan pemahaman yang ‘nggak sesuai itu, Yesus menegur mereka dengan lembut, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”.  

Ada yang positif juga dari sikap kedua murid itu, yaitu mereka sangat “pede”: pede masuk surga (dengan mengklaim untuk duduk di sebelah Yesus memerintah …), dan pede tentang kemampuan dalam meminum anggur (karena mengira apa susahnya meminum anggur, malahan enak. ‘kan?) dan menerima baptisan (karena mengira hanya sekadar dicelupkan atau dipercikkan air …). Padahal yang dimaksud Yesus adalah menjalani penderitaan (ingat peristiwa Yesus berdoa di Getsemane meminta agar dilalukan meminum anggur dari cawan …) dan perendahan hati (bersedia dibaptis oleh Yohanes yang “bukan siapa-siapa” disbanding Yesus, lalu siap memikul salib karena menjadi orang Kristen yang akan dimusuhi oleh banyak penguasa dunia …).  

Sepuluh murid lainnya marah. Jangan salah, mereka marah bukan karena permintaan kedua murid tadi mengganggu Yesus. Bukan! Mereka marah karena takut kedahuluan, karena mereka juga sebenarnya menginginkan posisi yang diminta oleh Yohanes dan Yakobus tersebut. Begitulah, seringkali orang merasa tersinggung dengan kelakukan buruk orang lain meskipun dia sendiri melakukan perbuatan salah yang sama …

Dengan lemah lembut Yesus menjelaskan kepada semua murid-murid (dengan tidak marah tentunya …) dengan mengingatkan bahwa kerajaan yang dimaksud-Nya bukanlah kerajaan seperti yang dipahami oleh murid-murid dan penguasa-penguasa dunia. Bukan berkuasa dengan tangan besi, melainkan malah harus merendahkan diri dengan menjadi pelayan bagi orang lain. Hebat ‘nggak tuh … Tidak melawan walau disiksa, dianiaya, dipukuli, diludahi. Tidak membantah walau tidak terbukti melakukan kesalahan sebagaimana sudah dinubuatkan oleh Yesaya berabad-abad yang lalu seperti disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Karena apa? Karena kepatuhan Yesus sepenuhnya kepada perintah Allah Bapa! 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bukan Yesus namanya kalau ‘nggak sanggup melawan para penguasa dunia yang menghakiminya. Tidak susah bagi-Nya untuk mendatangkan malaikat dari surge untuk melululantakkan pengawal bait Allah, imam, ahli taurat, bahkan tentara Roma sekalipun. Lha wong, berbagai mujizat terbukti sudah dilakukan-Nya beberapa kali. Sudah pastilah lebih sulit – bahkan mustahil oleh manusia biasa – menghidupkan orang mati daripada mematikan orang hidup, bukan? Dan Yesus sudah melakukannya.

Kepatuhan kepada Allah Bapa, itulah yang membuat Yesus bersedia menjalani semua penderitaan bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa manusia. Padahal apalah manusia, namun Yesus bersedia melakukan segalanya untuk menyelamatkan manusia sebagaimana amanat Allah Bapa sebagai misi kedatangan-Nya sebagai manusia ke dunia.

Sikap itulah yang mendasari sehingga kita pun seharusnya bersedia dan bisa menjadi pelayan bukan dilayani. Kerendahan hati sebagaimana kesediaan Yesus bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis yang “bukan siapa-siapa”.

Cukuplah itu menjadi modal bagi kita untuk menjadi pelayan yang sungguh-sungguh: kepatuhan kepada perintah Allah dan kerendahhatian sebagai hamba yang lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Dan puji Tuhan, kita ‘nggak usah jauh-jauh mencari figur untuk dijadikan contoh karena kita punya Yesus yang adalah model sejati untuk selalu diikuti selama menjalani kehidupan yang seringkali tidak memihak kepada kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s