Sermon Parhalado yang Menggairahkan … (3): Anak-anak, Ayo Berfoto!

Begitulah … Sebagai salah satu cara mendapatkan dukungan dari warga jemaat, maka aku bertekad untuk selalu melakukan kegiatan positif untuk Sekolah Minggu di jemaat kami ini. Aku selalu punya keyakinan bahwa warga jemaat sebenarnya mampu berkontribusi – materi dan non materi – untuk perbaikan pelayanan jemaat. Salah satu faktor keengganan pada sebagian besar warga jemaat untuk berpartisipasi dan berkontribusi adalah karena sangat kurangnya dirasakan oleh mereka pelayanan selama ini. Kurang menyentuh, begitulah kalau mau disederhanakan …

Dan perlu juga terlihat dan terasakan oleh warga jemaat betapa aktifnya Sekolah Minggu. Itulah sebabnya aku menantang Guru-guru Sekolah Minggu dan pengurusnya untuk berkegiatan setiap Minggu. Dalam berbagai bentuk, ‘nggak harus dalam menaikkan pujian pada Ibadah Minggu, bisa juga hal-hal lainnya. Aku sudah punya berbagai jenis kegiatan, tinggal menunggu kemauan dan kesiapan stakeholder Sekolah Minggu saja.

Satu yang sudah mulai berjalan sejak 28 November 2012 yang lalu adalah kegiatan berfoto. Setelah diumumkan sebelumnya, maka anak-anak Sekolah Minggu akan difoto dengan gayanya masing-masing. Pada hari yang sama langsung dicetak (aku pinjam printer kawanku di Bandung …) dan dimasukkan ke bingkai eksklusif (artinya: ‘nggak ada dijual di mana-mana, karena ini adalah khusus dicetak untuk promosi salah satu produk kami, hehehe …), dan dibagikan gratis. Iya, gratis! ‘Nggak usah bayar. Tapi kalau mau dicetak-ulang, maka bolehlah memberikan sumbangan dengan memasukkan ke kotak persembahan yang khusus aku pesan ke kawanku di Cimahi (lagi-lagi gratis …) dengan corak Winnie the Pooh yang selalu tersenyum … Karena ada tiga kategori usia, maka kegiatan ini akan berlangsung selama tiga Minggu pula. Dari laporan yang aku terima (karena aku ‘nggak selalu beribadah di jemaat kami), selalu saja ada yang memberikan persembahannya ke kotak Winnie the Pooh tersebut. Tidak selalu harus yang memesan cetak-ulang, yang mendapat satu foto pun juga dengan sukacita menyumbang. Puji Tuhan!

Anak Sekolah Minggu Berfoto (021212)

“Ke mana nantinya uang yang terkumpul itu, bang? Disetorkan ke Bendahara Huria atau boleh kita pakai aja langsung?“, tanya salah seorang pengurus Sekolah Minggu ketika ada pertemuan di gereja. “Ah, ‘nggak usah pusing memikirkannya sekarang. Toh kita belum memerlukannya, ‘kan? Nanti aja kalau sudah penuh dan kita sudah keberatan menganggkat kotak persembahan Winnie the Pooh itu baru kita diskusikan …”, jawabku diplomatis. Jujur saja, aku juga belum tahu bagaimana baiknya agar tidak mengganggu konsentrasi kami yang sedang semangat-semangatnya mengembangkan Sekolah Minggu. Selain itu, di ruang pertemuan saat itu sedang ada beberapa parhalado yang mungkin saja sensitif dengan urusan uang seperti ini.

Yang penting bekerja dan melayani dululah … Dan yang terpenting, bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kemuliaan Yesus Kristus sang kepala gereja semata!

Sermon Parhalado yang Menggairahkan … (2): Uang, oh … Uang … Winnie the Pooh pun “Turun Tangan” …

Kotak Winnie the Pooh (011212)

Beberapa sermon parhalado kami belakangan ini selalu dibumbui dengan pembicaraan tentang uang. Sesuatu yang seringkali menarik bagi banyak orang, ‘kan? Tapi bagiku, tidak. Utamanya karena berbicara dalam konteks pelayanan di gereja.

Ada dua “kubu”. Yang pertama aku namakan sajalah “kubu pragmatis” yang diwakili oleh pendeta resort. Belum setahun melayani di jemaat kami yang sebenarnya belum layak dijadikan sebagai resort karena memang ‘nggak ada pagaran-nya.  Beliau ini selalu mengatakan bahwa untuk pelayanan diperlukan uang (memang benar, ‘kan?). Dan anggaran itu harus dibuat sejak awal tahun. “Saya tidak akan menandatangani program kerja tahun 2013 kalau perkiraan penerimaan tidak bisa menutupi pengeluaran selama setahun. Entah bagaimana kalian buat tahun lalu di sini sehingga bisa anggaran pengeluarannya yang jauh lebih besar daripada penerimaan …”, demikian berulangkali diucapkan beliau manakala membicarakan rencana pelayanan tahun 2013 sambil mencetuskan bahwa mutlak dilakukan gugu toktok ripe untuk menutupi selisih antara rencana penerimaan dan pengeluaran.  Sebagai kepala jemaat (bukan kepala Gereja, ya …) ada saja beberapa penatua yang mendukung pendapat ini. 

Satunya lagi aku namakan sajalah “kubu optimis”. Ini diwakili olehh seorang penatua yang sering menjadi utusan ke Sinode Godang. Hampir sepuluh tahun jadi penatua di jemaat kami, dan sangat aktif dalam pelayanan. Punya bakat sebagai pembaharu karena seringkali datang dengan pengetahuan yang sebenarnya sangat banyak gunanya untuk perbaikan pelayanan jemaat. “Sudah bertahun-tahun saya menjadi penatua di jemaat ini, dan selalu demikianlah caranya kami lakukan dalam pembuatan anggaran. Faktanya sampai saat ini kita ‘nggak pernah kekurangan uang dan kita tidak menjadi bangkrut, dan program pelayanan tetap berjalan. Kenapa harus ragu? Bukankah kita mengimani bahwa Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita? Yang penting, pelayanan kepada jemaat harus kita perbaiki dan tingkatkan agar kesediaan warga jemaat dalam memberikan persembahan juga menjadi meningkat. Selama ini kesadaran dalam memberikan persembahan itu yang masih sangat kurang di sini. Kita jangan kembali ke zaman dulu dengan melakukan gugu toktok ripe karena sudah lama kita tinggalkan konsep seperti itu karena tidak alkitabiah …”.

Aku sangat setuju dengan pembuatan anggaran dengan menganut sistem neraca berimbang, dalam artian sama antara pengeluaran dan pemasukan (dengan selisih positif, tentunya …). Dan aku juga sangat yakin bahwa selama ini kesediaan memberi persembahan (kolekte, persepuluhan, ucapan syukur, dan lain-lain) yang masih sangat kurang di lingkungan jemaat. Dan menurutku, itu disebabkan oleh pelayanan yang memang belum menyentuh kesadaran warga jemaat. Jemaat kami ‘nggak semuanya miskin secara ekonomi (terlihat dari banyaknya mobil yang parkir dengan berbagai merek dan tahun “tinggi” di halaman gereja dan gedung pertemuan yang dipinjam lahannya setiap Minggu), cuma kebanyakan masih miskin secara rohani. Dan aku harus akui – dan sudah berulangkali aku sampaikan di sermon parhalado – pelayanan kami masih “ala kadarnya”.

Sebagai penatua yang ditunjuk mendampingi Seksi Sekolah Minggu sejak pertengahan tahun ini, tentu saja aku ‘nggak mau terikut arus. Harus melakukan sesuatu! Itulah yang aku tekadkan sejak semula setelah mengimani bahwa panggilan pelayananku saat ini adalah mengembangkan Sekolah Minggu. Aku punya konsep, dan langsung aku sampaikan ke guru-guru Sekolah Minggu dan pengurus Seksi Sekolah Minggu. Setiap Minggu harus ada kegiatan Sekolah Minggu yang bisa dirasakan oleh warga jemaat. Dan harus dihindari kesan bahwa Seksi Sekolah Minggu selalu meminta uang kepada warga jemaat untuk membiayai kegiatannya (dan ini hampir terjadi pada setiap kategorial pelayanan di banyak gereja …).

Tahap pertama aku lakukan – dengan bantuan kawanku di kantor dan guru-guru Sekolah Minggu – berfoto gratis. Jadi, anak-anak Sekolah Minggu diberitahu (supaya mereka bersiap-siap dengan pakaian yang paling disukai) bahwa Minggu depan akan ada giliran pemotretan. Bergiliran sesuai kategori usia Sekolah Minggu. Selain supaya jumlahnya bisa dikelola dengan baik, juga agar setiap Minggu ada kegiatan pemotretan. Setiap orang akan difoto dan langsung diberikan hasilnya pada hari itu juga dengan bingkai yang cantik. Benar-benar gratis! Namun, untuk yang ingin mendapat dua atau lebih, dipersilakan untuk memberikan sumbangan sesuai kerelaan masing-masing. Nah, untuk itu aku sediakan kotak kaca Winnie the Pooh. Kenapa Winnie the Pooh? Semula aku mengusulkan menggunakan karakter Sponge Bob (karena aku juga menyukai karakter Sponge Bob ini), namun ketika aku berdiskusi dengan pengurus Sekolah Minggu, mereka lebih memilih Winnie the Pooh. Sebagai orang yang demokratis, aku tentu saja ‘nggak mau memaksakan kehendakku. Maka aku pesankanlah ke kawanku yang punya usaha biro iklan di Cimahi untuk membuatkan kotak kaca persembahan dengan karakter Winnie the Pooh sesuai permintaan kawan-kawan pengurus Sekolah Minggu. Gratis! Kawanku pasangan suami isteri beragama Islam tersebut hanya tersenyum saat aku menjelaskan bahwa kotak kaca itu adalah untuk keperluan gereja dan anak-anak. Ini yang kedua, setelah dulu aku juga minta dibuatkan tiang keranjang untuk permainan bola basket di gereja yang sama. Senangnya punya kawan yang baik yang mengerti dan bersedia membantu. Gratis pula lagi … Jadilah kotak kaca tersebut menghiasi kegiatan Sekolah Minggu sebagai sarana bagi warga jemaat dalam berkontribusi pada setiap kegiatan dengan memasukkan persembahannya ke dalam kotak kaca yang selalu tersenyum tersebut.

Oh ya, untuk pembuatan foto dan bingkainya aku juga mendapat pinjaman dari kawanku di Bandung yang menangani promosi perusahaan. Gratis juga, walaupun kemudian aku harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli tinta printer dan kertas foto karena yang dibutuhkan melebihi apa yang semula disediakannya. ‘Nggak apalah …

Tahap kedua, kami memproduksi video clip yang menampilkan anak-anak Sekolah Minggu dan gurunya dalam memberikan testimoni. Setiap Minggu sejak Minggu lalu sampai menjelang perayaan Natal. Isinya? Pemahaman mereka tentang topik yang sesuai dengan thema Minggu, dan ditutup dengan undangan menghadiri perayaan Natal Sekolah Minggu. Ditayangkan setiap selesai pembacaan warta jemaat. Ini juga gratis setelah aku minta bantuan pasangan muda warga jemaat yang punya talenta dalam membuat video clip.

Harapanku, dengan ini semua, warga jemaat akan mengetahui bahwa Sekolah Minggu itu punya kegiatan lain yang bermanfa’at selain hanya “kegiatan belajar-mengajar”. Dan tidak selalu harus meminta uang dengan “teken les” … Nah, semoga dengan demikian warga jemaat akan tergugah hatinya, dan menyadari bahwa kontribusi mereka terhadap perbaikan pelayanan jemaat – dalam hal ini Sekolah Minggu – sangat dibutuhkan.

Semoga!

Andaliman – 206 Khotbah 01 Desember 2012 Minggu Adven-I

Dia akan Datang … Bersiaplah! Kapan? Orang Percaya Pasti Tahu Nantinya!

Nas Epistel:  Lukas 21: 25-33

21:25 “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.

21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

21:27 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

21:28 Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

21:29 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.

21:30 Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.

21:31 Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

21:32 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.

21:33 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Nas Evangelium: Yeremia 33: 14-16

33:14 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.

33:15 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.

33:16 Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!

Puji Tuhan! Sekarang sudah masuk Minggu Advent! Minggu penantian dan persiapan menyambut (perayaan) kelahiran Yesus Kristus. Nas perikop Minggu ini “sangat cantik”, dalam artian sangat berhubungan antara Ep dan Ev (jujur saja, sangat jarang keserasian seperti ini terjadi di Almanak HKBP …).

Dalam nas Ep Yesus menyampaikan tentang masa penantian dan kedatangan-Nya nanti untuk menjemput orang-orang percaya dalam kemuliaan-Nya. Setelah berbagai kesulitan yang dihadapi oleh manusia – kesukaran yang sangat sukar, bahkan tidak terpikirkan manusia – yang membuat sangat ketakutan dan cemas, maka Dia akan datang dalam awan kemuliaan. Pada saat itu, orang-orang percaya harus mampu meyakini bahwa itu adalah saatnya penjemputan.

Memahaminya dalam kehidupan saat ini, aku melihat betapa kehidupan saat ini sangat “membingungkan”: yang jahat malah mendapatkan perlakuan istimewa. Lihat saja para koruptor yang malah mendapatkan eksposur layaknya selebritas, demikian juga penguasa lalim, para pezinah, para pendusta … Di lingkungan yang seharusnya “steril” seperti gereja pun, malah para hamba Tuhan melakukan perbuatan yang tidak pantas. Penegak hukum melakukan perbuatan melawan hukum, hamba Tuhan yang harusnya mengingatkan umat untuk tidak melakukan dosa malah “ikut-ikutan” menjadi pendosa … Nah, dalam menghadapi situasi yang kacau seperti ini, firman Tuhan ini mengingatkanku: bahwa “… apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” (ayat 28). Artinya, lihat kepada Kristus, yang firman-Nya tidak akan berlalu walaupun dunia ini akan berlalu nantinya (ayat 33).

Masih ada lagi: saat kedatangan Kristus yang kedua kali ke dunia ini akan diikuti (atau didahului?) oleh tanda-tanda khusus. Banyak orang mengatakan bencana alam, gempa bumi, laut yang menggelora meluluhlantakkan semuanya, namun menurutku itu semua bukanlah suatu ketentuan. Buktinya, sudah berulangkali bencana yang maha dahsyat itu terjadi, namun kiamat dan kesudahan dunia ini belum juga tiba, ‘kan? Oleh sebab itu, menurutku:

(1)   Bencana alam dan segala yang sangat mencemaskan manusia di dunia ini “boleh-boleh saja” terjadi, namun belum tentu semua itu sebagai tanda-tanda akhir zaman dan kedatangan Kristus yang kedua kali. Itu hanyalah “sekadar” mengingatkan untuk berpaling kepada-Nya.

(2)   Lalu apa tanda-tanda yang sebenarnya? “… kamu tahu dengan sendirinya …” (ayat 30), artinya setiap orang percaya akan diberikan kemampuan untuk mengetahui saatnya. Lebih pekalah terhadap suara-Nya.

Ada yang “sedikit mengganggu”, yaitu pemahaman tentang “… angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi …” (ayat 32). Ada tafsiran yang mengatakan bahwa yang dimaksud Yesus adalah bangsa Israel, yang berarti bahwa bangsa Israel masih akan tetap ada sampai akhir zaman (nubuatan yang seringkali terbukti dengan merenungkan bahwa konflik kontemporer yang dialami Israel di Timur Tengah – saat ini sedang terjadi dengan Palestina sehubungan dengan jalur Gaza – yang seringkali mengancam keberadaannya sebagai bangsa …). Bukan mengecil, malah membesar setiap selesai suatu konflik. Namun, kalau Yesus dengan sempit mengatakan bahwa yang dimaksud-Nya adalah Israel, lantas bagaimana dengan bangsa Indonesia? Atau, “bangsa” Batak?

Sebaliknya, jika yang dimaksudkan adalah orang-orang yang hidup ketika kalimat tersebut diucapkan Yesus, maka ayat-ayat selanjutnya harus lebih dipersempit bahwa secara eksklusif ditujukan bagi peristiwa kejatuhan Israel dan runtuhnya persemakmuran Yahudi.

Nah, karena menurutku bahwa ucapan Yesus adalah universal dan ditujukan kepada semua bangsa dan pada segala abad, maka yang dimaksud dengan “angkatan ini” adalah gereja-Nya. Bagian dari tubuh-Nya yang tentu saja akan selalu dijaga-Nya sampai kesudahannya alias sampai akhir zaman. Tentu saja saat Kristus datang kembali, Dia akan mendatangi gereja-Nya; setelah itu, eksistensi Gereja sudah tidak diperlukan lagi …

Kedua perikop ini ada membicarakan tentang tunas. Pada Ep Yesus membicarakan tentang kelahiran tunas sebagai tanda perubahan musim, sedangkan pada Ev Yeremia membicarakan tentang kelahiran juru selamat yang menunjukkan perjanjian keselamatan yang baru. Keduanya mengacu kepada Yesus, yang kelahiran-Nya akan dirayakan oleh manusia dan minggu-minggu ini adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pada Minggu Advent yang pertama ini kita diingatkan untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran-Nya sebagai pembebas dan penyelamat. Minggu ini kita diminta untuk membebaskan diri kita dari dan terhadap:

(1)   Keraguan tentang kelahiran-Nya sebagai manusia “biasa” dengan kesederhanaannya

(2)   Keraguan akan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan-Nya

(3)   Keraguan dalam memahami tanda-tanda kedatangan-Nya kelak

Masih ragu? Ah, percaya sajalah!

Yang “Lucu-lucu” Tentang Kematian

Inspirasi ini datang begitu saja ketika di mobil dalam perjalanan Bandung – Jakarta kemarin. Minggu subuh itu aku ditemani oleh OB Didin untuk beribadah di Jakarta. Auli dan mamaknya ‘nggak ikut karena di rumah sedang ada keluarga Simanjuntak yang datang dari Medan untuk menghadiri wisuda puteri mereka di STT Telkom Bandung. Seperti biasa – karena disupiri – maka aku punya waktu sekira dua jam untuk melakukan hobiku, kalau ‘nggak membaca buku, ya memainkan iPhone dengan membaca e-mail, website, dan ber-facebook ria.

Minggu itu adalah Minggu Ujung Taon Parhurian sekaligus parningotan ni angka naung monding. Setelah pesan yang pertama, maka aku pun menuliskan pesan yang kedua. Isinya adalah sebagai berikut:

Hari ini di jemaat HKBP seluruh dunia menjadi ibadah Minggu penutupan tahun pelayanan jemaat (selanjutnya Minggu depan mulailah Adven). Hari ini juga dijadikan sebagai minggu peringatan PADA warga jemaat (bukan KEPADA) yang sudah meninggal. Akan banyak isak tangis pada ibadah Minggu hari ini. 

Bagi warga setia HKBP, daripada sedih berlarut-larut, mendingan kita ingat hal-hal “lucu” tentang kematian …:

(1) Kebanyakan menjadi sedih bila berbicara tentang kematian, padahal kita mengimani bahwa hanya dengan kematianlah proses menuju surga bisa berlangsung. Surga mau, tapi mati ‘nggak mau. Lucu, ‘kan? Tapi jangan pula malah jadi tertawa terbahak-bahak di depan mayat ortu …
(2) Pagi hari menjelang dimasukkan ke peti mati, keturunan ortu melakukan “penghormatan terakhir kali” yang dilakukan secara berurutan (biasanya dimulai dari keturunan yang paling muda). Bukan menyampaikan kenangan tentang yang meninggal kepada khalayak untuk mengambil pelajaran semasa hidupnya, malah biasanya – dan ini hal yang kurang pas, menurutku – satu per satu berbicara kepada mayat ortu. Lucunya, semasa hidup ada yang tidak pernah berbicara (mungkin karena perselisihan …), malah ketika sudah jadi mayat komunikasi mulai dijajaki …
(3) Masih tentang acara “penghormatan terakhir”: paling sering malah berisi ucapan penyesalan (sayang sekali, ya?) dan “promosi”. Pernah aku melihat yang seperti ini: “Ma’afkanlah aku Ompung, ‘nggak bisa menjengukmu waktu opname karena aku baru pulang jalan-jalan ke Eropa selama sebulan”, lalu dilanjutkan sama yang lain: “Aku ‘nggak sempat melihatmu karena mendadak dipanggil rapat sama Gubernur …”. Kalau dipanggil KPK karena jadi tersangka, apakah juga akan diadukan kepada mayat tersebut?
(4) Di peti “dititipkan” Alkitab. Mungkin maksudnya supaya ada bacaan di alam sana sambil menunggu sangkakala berbunyi, padahal ketika hidup pun sang almarhum/almarhumah hampir ‘nggak pernah baca Alkitab … Lebih lucu lagi kalau harus beli Alkitab baru karena mengganggap sebagai salah satu syarat! Ada pula yang memasukkan sepatu kesayangan almarhum/ah yang saking sayangnya ‘nggak permah dipakai karena tiap hari pergi ke sawah dan jarang pula pergi ke gereja …
(5) Banyak sekali mengenang orang mati dengan ucapan penyesalan. Ada yang benar-benar menyesal, ada pula yang pura-pura (kalau di fb biasanya diimbuhi dengan “hikksss …”). Katanya sayang dan hormat sama ortu, tapi waktu “ditagih” urunan biaya berobat – misalnya – semuanya berlomba mencari alasan (karena mau beli rumahlah, mau ambil S2- lah, macamlah …), bukan mencari obat! 
Ada pula yang jadi rajin berkomunikasi dengam almarhum/ah (pakai fb pula …), padahal selama hidupnya hampir ‘nggak pernah berkomunikasi. Jangankan datang menjenguk, atau bertelepon, atau berkirim surat, mengirim SMS pun kagak … Apalagi mendoakan ketika masih hidup!

Hehehe …

PS: Bersukacitalah! Jadikanlah pengingatan orang mati untuk motivasi diri dengan mengenang saat-saat bahagia bersama mereka, bukan jadi sarana untuk bersentimentil-ria …
(Ditambai angka dongan ma, hatanghi hata tambaan)

Andaliman – 205 Khotbah 25 November 2012 Minggu Ujung Taon Parhuriaon

Dia-lah Alfa dan Omega, Sang Empunya Kerajaan … Dan Kita Dijadikan-Nya sebagai Kerajaan Kudus

Nas Epistel:  Wahyu 1:4b-8 (bahasa Batak Pangungkapon)

1:4 Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya,

1:5 dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya—

1:6 dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, –bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.

1:7 Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.

1:8 “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”

Nas Evangelium: Daniel 7:9-10; 13-14

7:9 Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;

7:10 suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab.

7:13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.

7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah..

”Sangat jarang pendeta HKBP mau membawakan khotbah tentang hari kiamat. Bahkan kalau bisa dihindari, mereka akan cari nas lain yang bukan dari Wahyu atau Daniel seperti yang kita sedang bahas ini …”, kata seorang penatua yang duduk di sebelahku ketika sermon parhalado minggu lalu. Bukan pertama kali ini saja aku mendengar pernyataan yang seperti itu. Terkesan nada “putus asa”, mungkin melihat bagaimana pak pendeta yang sedang menanggapi pertanyaan dan pernyataan beberapa penatua. Sementara penatua yang mendapat kesempatan sebagai penyaji materi sermon hanya terdiam duduk di sebelah pak pendeta. “Itulah kalau membuat bahan sermon hanya sekadar menjiplak dari buku. Bukan dari pemikiran dan karya tulis sendiri”, komentar yang lain setengah berbisik padaku. Hal yang pernah aku sampaikan ke pendeta dan beberapa penatua yang memprihatinkan “kebiasaan” yang dilakukan oleh kebanyakan penatua bilamana mendapat kesempatan sebagai penyaji bahan sermon: sekadar copy and paste, tanpa pendalaman lebih lanjut. Ditambah kalau pendeta yang kurang rajin membaca, “klop-lah” menjadikan diskusi yang “kering”. Itu pula salah satu alasan yang pernah aku dengar dari penatua yang “malas” datang ke sermon, karena: “Tak ada pun bertambah pengetahuan dari sermon kita …”. Duh!

Bukan karena merasa lebih hebat – ma’afkanlah aku kalau sempat terkesan seperti itu – tapi aku sangat tertarik dengan kedua kitab ini. Meskipun sangat sulit dipahami dan seringkali membuatku mengernyitkan dahi karena banyak simbol, perbandingan, dan istilah yang sangat sulit unyuk dimengerti. Seringkali aku berusaha membayangkan kejadian yang coba disampaikan melalui kedua kitab ini. 

Kedua perikop ini menjelaskan tentang penglihatan, sesuatu yang akan terjadi kemudian. Entah kapan, tapi pasti akan terjadi. Yohanes yang mengklaim dirinya sebagai penerima penglihatan mengirimkan surat ini kepada tujuh jemaat. Ada beberapa pandangan tentang tujuh jemaat ini, namun pada umumnya sepakat bahwa tujuh menunjukkan kesempurnaan dan mewakili semua jemaat dengan karakternya masing-masing. Dan memang, semua karakter jemaat (gereja, maksudnya sudah terwakili oleh ketujuh jemaat tersebut …).

Tujuh roh (atau Roh, karena bahasa Yunani tidak membedakan antara huruf besar dan huruf kecil …) semakin menunjukkan kesempurnaan pesan atas penglihatan yang disampaikan oleh Yohanes, sang penulis kitab Wahyu ini. “Tujuan utama kitab Wahyu adalah menggambarkan kemenangan kerajaan Allah ketika Kristus datang kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya di bumi; peristiwa-peristiwa akhir zaman sekitar kedatangan-Nya itu juga dipaparkan. Ini menyampaikan suatu kemenangan eskatologis bagi orang yang setia, sambil mengajarkan bahwa sejarah akan berakhir dengan jatuhnya hukuman atas sistem Iblis dalam dunia ini dan dalam pemerintahan Kristus yang kekal dengan umat-Nya.”, demikianlah penjelasan dalam salah satu rujukan. 

Alfa adalah huruf pertama dari alfabet Yunani dan Omega adalah huruf terakhir, yang berarti bahwa Allah itu kekal, dari penciptaan sampai kesudahannya, Ia adalah Tuhan di atas semuanya. Ialah yang akhirnya menang atas kejahatan dan memerintah segala sesuatu.

Kita lihat peranan Yesus dalam kedua perikop ini:

(1)   Sebagai Saksi: yang sudah menyaksikan kerajaan kekal karena satu-satunya manusia yang pernah datang dari sorga setelah dibangkitkan dari kematian. Jadi jangan percaya jika ada orang yang berani (entah dengan dasar apa …) mengklaim dirinya sudah pernah dari sorga (apalagi masih hidup sampai sekarang …). Oh ya, Yesus dikatakan yang pertama bangkit dari kematian, maksudnya adalah Yesus-lah yang sulung yang bangkit dari kematian dan ‘nggak mati lagi sampai selama-lamanya. Beda dengan Lazarus, misalnya yang terlebih dahulu dibangkitkan oleh Yesus dari kematian yang tentunya juga akan kemudian mati selama-lamanya.

(2)   Pembasuh dosa manusia dengan darah-Nya yang tercurah di kayu salib. Satu-satunya! Tidak ada yang lain!

(3)   Penguasa setelah mengalahkan semua kekuatan yang ada di bumi, kekuatan manusia, kuasa raja-raja dunia, dan termasuk juga iblis. Semuanya akan takluk pada saat Yesus datang kembali ke dunia. Masih ingat dengan perikop khotbah Minggu lalu, ‘kan? Orang-orang yang sudah mati kemudian akan dibangunkan dari tidurnya yang panjang (jadi bukan di surga, ya! Oleh sebab itu, jangan pernah lagi mengatakan kepada keluarga yang berduka karena ditinggal mati oleh sanak keluarganya bahwa keluarganya yang mati itu sudah di surga).

(4)   Dia-lah yang awal dan yang akhir. Yang pertama kali ada di dunia sebelum dunia diciptakan, dan akan menjadi yang terakhir pula setelah dunia dihakimi.

 Yesus akan datang dalam awan-awan menjemput semua manusia, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup dalam Ep Minggu ini. Hal yang sama disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini.

Nah, kemudian perikop Ev mengajak untuk melihat suasana penghakiman. Yesus yang datang dalam awan-awan lalu menghadap Allah Bapa (“Orang yang Lanjut Usianya”, demikian disampaikan Daniel) yang suci dan penuh kemuliaan untuk menerima kuasa untuk menghakimi manusia. Penghakiman dilakukan dengan membuka kitab-kitab. Kitab-kitab? Iya, itu berarti tidak hanya ada satu kitab. 

Terlebih dahulu dibuka kitab yang berisi perbuatan-perbuatan manusia yang sedang dihakimi. Dalam kitab tersebut tertera semua perbuatan, baik yang jahat maupun yang baik. Setelah dibacakan semuanya, lalu dipertimbangkan. Jika orang yang sedang dihakimi ternyata memiliki lebih banyak perbuatan baik daripada perbuatan yang jahat, belum tentu langsung berhak untuk masuk kerajaan surga. Perlu dipastikan juga apakah namanya ada tertera dalam Kitab Kehidupan. Jika ada, maka silakan masuk ke sebelah kanan Allah Bapa untuk bergabung dengan orang-orang benar. Jika tidak ada, maka dengan sangat menyesal, nerakalah bagiannya. Itu berarti bahwa dalam melakukan perbuatan baik, orang tersebut tidaklah didorong oleh motivasi yang benar sebagaimana yang dituntut oleh Tuhan. Bisa saja dia melakukan semua perbuatan baik tersebut didasari oleh keinginan yang kuat untuk memuliakan dirinya sendiri, bukan kemuliaan Allah. Kasihan sekali …  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Apa pesan yang bisa kita dapatkan dari nas perikop Minggu ini? Tentu saja pemahaman dan keyakinan yang teguh bahwa:

(1)   Kerajaan dunia ini akan berakhir, dan semuanya akan takluk kepada Tuhan

(2)   Yesus-lah satu-satunya yang bisa diikuti dalam kehidupan di dunia dan juga persiapan memasuki kehidupan di akhirat, karena hanya Yesus-lah yang terlibat dalam penghakiman sebagai satu-satunya yang mendapat kuasa dari Allah Bapa untuk melakukan proses penghakiman yang sangat menentukan tersebut. Yang lain yang mengklaim dirinya sebagai orang suci? Ma’aflah yawww … ‘nggak ada tuh disebutkan!

(3)   Sekali lagi, semua manusia akan dihakimi sekaligus.

Oh ya, Minggu ini adalah Minggu untuk mengenang orang-orang yang sudah mati. Akan ada acara khusus dalam ibadah Minggu dengan agenda yang khusus. Dalam kesempatan tersebut akan dibacakan nama-nama warga jemaat yang meninggal selama satu tahun jemaat (akhir November 2011 sampai 24 November 2012, itulah sebabnya juga disebutkan sebagai ujung taon parhuriaon). Akan ada isak tangis bagi yang masih bersedih, namun yang utama adalah acara khusus tersebut bukan untuk yang sudah mati, melainkan ditujukan kepada yang masih hidup (kita, yakni aku dan engkau …) untuk menyadari dan mengingat bahwa pada saatnya kita juga akan mati. Jadi, persiapkanlah diri sejak sekarang selagi masih ada kesempatan.

Itulah sebabnya aku me-wanti-wanti: acara Minggu itu adalah parningotan di angka naung monding, bukan parningotan tu angka naung monding. Pengingatan akan orang-orang yang sudah meninggal, bukan pengingatan kepada orang-orang yang sudah mati. Yang masih hiduplah yang perlu diingatkan akan hari kematian, bukan yang sudah mati. Masih ingat cerita Lazarus (orang miskin dan pengumpul remah-remah roti sisa yang dibuang oleh orang kaya sebagai makanannya) dan orang kaya (yang setelah mati baru menyadari kesalahannya lalu meminta untuk mengingatkan keluarganya yang masih hidup agar tidak meniru dirinya supaya jangan masuk ke neraka), ‘kan?