Andaliman-203 Khotbah 11 November 2012 Minggu XXIII Setelah Trinitatis

Yesus Kristus, Dia-lah Imam Besar yang Menanggung Dosa Kita! Jangan Terlalu Mengandalkan Manusia …

Nas Evangelium Ibrani 9: 24-28 (bahasa Batak: Heber)

9:24 Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.

9:25 Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri.

9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Nas Epistel Mazmur 146:1-10 (bahasa Batak Psalmen)

146:1 Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

146:2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

146:4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

146:5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

146:6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

146:7 yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,

146:8 TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.

146:9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

146:10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!  

Istilah Imam Besar ini diadopsi dari zaman Perjanjian Lama (PL) di mana orang yang menyandang predikat agung tersebut memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang “biasa” pada umumnya. Begitupun, dia ‘nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Yesus Kristus adalah Imam Besar dalam Perjanjian Baru. Dalam segala hal, Yesus memang jauh lebih agung dan berkuasa. Lihat saja:

(1)   Imam Besar PL mampunya hanya sampai ke hadirat Allah (ruang suci, dan ruang maha suci yang sangat “ekslusif”), tapi Yesus punya “channel” langsung kepada Allah Bapa

(2)   Imam Besar PL harus bolak-balik mempersembahkan darah korban untuk penebusan dosa, sedangkan Yesus cukup satu kali mempersembahkan diri-Nya dengan darah-Nya sendiri, dan tuntas!

(3)    Imam Besar PL mati satu kali (sama dengan aku juga yang cuma diberikan “hak” untuk mati hanya satu kali …) lalu dihakimi, tetapi Yesus mati lalu bangkit dan menghakimi semua orang

Beda banget, ‘kan?

Setelah bangkit dari kematian, Yesus pergi ke surga mempersiapkan tempat bagi orang-orang percaya, lalu akan datang kembali pada saatnya yang sudah pasti (namun ‘nggak seorang pun yang tahu …) untuk menjemput dan menentukan kehidupan kekal kelak. Orang-orang menantikan-Nya.

Ya, menantikan kedatangan-Nya. Dengan berbagai cara, ada yang dengan penuh kesabaran dan keimanan. Sebaliknya, ada yang “sekadarnya”, seolah-olah kedatangan-Nya ‘nggak usah dirindukan sehingga menjauhkannya dari kehidupan kekal yang dirindukan oleh orang-orang percaya, yakni di surga yang baka.

Di antaranya mengejar kehidupan di dunia semata, dalam artian kehidupan yang sangat dikuasai oleh kedagingan. Dan mempercayakan hidupnya kepada manusia yang fana, kepada para bangsawan yang setelah mati akan tidak punya kuasa sama sekali. Itulah pesan pengingat yang ingin disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini.

Pujilah Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya karena Dia adalah Imam Besar yang melebihi Imam Besar mana pun!

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan salah paham juga, ya! Bukan berarti karena kita mengandalkan Tuhan sehingga tidak butuh pertolongan manusia. Bukan, bukan itu maksudnya! Kita tetaplah tidak dilarang meminta bantuan kepada sesama manusia karena manusia juga bisa dipakai Tuhan sebagai alat-Nya dalam menunjukkan kemuliaan-Nya. Jangan pula jadi ‘nggak berobat ke dokter karena mengandalkan Tuhan untuk menyembuhkan dari sakit penyakit.

Jangan seperti kisah seorang Kristen yang “sangat taat” dan hanya mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya pertolongan baginya. Yang lain adalah haram! Ketika rumahnya kebanjiran, dia berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongan Tuhan. Setelah berdoa, air semakin naik sehingga dia harus naik kea tap rumahnya sambil terus berdoa. Bahkan doanya mulai menggugat Tuhan: “Tuhan, aku memohon pertolongan-Mu untuk menyelamatkanku dari banjir yang semakin meninggi ini. Sudah sedari tadi aku minta pertolongan, tapi belum juga kelihatan. Engkau yang berjanji akan setia menolong orang-orang yang berteriak minta tolong kepada-Mu …”.

Dalam keputusasaannya, ada perahu karet dan tim penolong bencana datang dan melemparkan ban pelampung ke arahnya agar dia tangkap dan diselamatkan. Namun apa yang terjadi? Dia menolak sambil mengatakan,”Aku menunggu Tuhan datang menolongku. Dia berjanji untuk menyelamatkanku, dan janji-Nya selalu iya dan pasti …”. Akhirnya perahu karet pun pergi meninggalkannya yang terus berdoa. Ketika air sudah setinggi dagunya, dengan sisa kekuatannya dan batas keputusasaannya, dia kembali berteriak kepada Tuhan: “Tuhan, mana janji-Mu? Sejak kapan Engkau mulai ‘berani’ berbohong kepada anak-anak yang percaya sepenuhnya kepada-Mu?”

Apa jawaban Tuhan? Ini: “Sejak kapan pula Aku menolongmu dengan tangan-Ku yang kelihatan? Sudah lama Aku ‘nggak pernah menunjukkan tangan-Ku kepada manusia secara langsung. Yang barusan datang menjemputmu dengan perahu karet dan ban penyelamat, Aku-lah yang menyuruhnya untuk menyelamatkanmu …”.

Jangan ada di antara kita yang seperti itu, ya!

Kemarin aku membaca facebook seorang ibu yang mulai panik karena anaknya diare dan muntah-muntah setiap kali ada makanan yang masuk ke mulutnya, lalu meminta tolong dengan menuliskannya di statusnya untuk mengharapkan bantuan dari friends-nya. Terharu juga aku melihat betapa banyak dan cepatnya orang-orang memberikan nasihat yang harus dilakukannya untuk mengatasi situasinya yang sulit. Di antara puluhan tanggapan, ada seorang yang dengan “sangat sucinya” menyarankan untuk berdoa saja di pembaringan anaknya yang sakit. ‘Nggak usah melakukan apapun selain berdoa karena Tuhan pasti akan datang menolong untuk menyembuhkan …

Duh!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s