Sermon Parhalado yang Menggairahkan … (2): Uang, oh … Uang … Winnie the Pooh pun “Turun Tangan” …

Kotak Winnie the Pooh (011212)

Beberapa sermon parhalado kami belakangan ini selalu dibumbui dengan pembicaraan tentang uang. Sesuatu yang seringkali menarik bagi banyak orang, ‘kan? Tapi bagiku, tidak. Utamanya karena berbicara dalam konteks pelayanan di gereja.

Ada dua “kubu”. Yang pertama aku namakan sajalah “kubu pragmatis” yang diwakili oleh pendeta resort. Belum setahun melayani di jemaat kami yang sebenarnya belum layak dijadikan sebagai resort karena memang ‘nggak ada pagaran-nya.  Beliau ini selalu mengatakan bahwa untuk pelayanan diperlukan uang (memang benar, ‘kan?). Dan anggaran itu harus dibuat sejak awal tahun. “Saya tidak akan menandatangani program kerja tahun 2013 kalau perkiraan penerimaan tidak bisa menutupi pengeluaran selama setahun. Entah bagaimana kalian buat tahun lalu di sini sehingga bisa anggaran pengeluarannya yang jauh lebih besar daripada penerimaan …”, demikian berulangkali diucapkan beliau manakala membicarakan rencana pelayanan tahun 2013 sambil mencetuskan bahwa mutlak dilakukan gugu toktok ripe untuk menutupi selisih antara rencana penerimaan dan pengeluaran.  Sebagai kepala jemaat (bukan kepala Gereja, ya …) ada saja beberapa penatua yang mendukung pendapat ini. 

Satunya lagi aku namakan sajalah “kubu optimis”. Ini diwakili olehh seorang penatua yang sering menjadi utusan ke Sinode Godang. Hampir sepuluh tahun jadi penatua di jemaat kami, dan sangat aktif dalam pelayanan. Punya bakat sebagai pembaharu karena seringkali datang dengan pengetahuan yang sebenarnya sangat banyak gunanya untuk perbaikan pelayanan jemaat. “Sudah bertahun-tahun saya menjadi penatua di jemaat ini, dan selalu demikianlah caranya kami lakukan dalam pembuatan anggaran. Faktanya sampai saat ini kita ‘nggak pernah kekurangan uang dan kita tidak menjadi bangkrut, dan program pelayanan tetap berjalan. Kenapa harus ragu? Bukankah kita mengimani bahwa Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita? Yang penting, pelayanan kepada jemaat harus kita perbaiki dan tingkatkan agar kesediaan warga jemaat dalam memberikan persembahan juga menjadi meningkat. Selama ini kesadaran dalam memberikan persembahan itu yang masih sangat kurang di sini. Kita jangan kembali ke zaman dulu dengan melakukan gugu toktok ripe karena sudah lama kita tinggalkan konsep seperti itu karena tidak alkitabiah …”.

Aku sangat setuju dengan pembuatan anggaran dengan menganut sistem neraca berimbang, dalam artian sama antara pengeluaran dan pemasukan (dengan selisih positif, tentunya …). Dan aku juga sangat yakin bahwa selama ini kesediaan memberi persembahan (kolekte, persepuluhan, ucapan syukur, dan lain-lain) yang masih sangat kurang di lingkungan jemaat. Dan menurutku, itu disebabkan oleh pelayanan yang memang belum menyentuh kesadaran warga jemaat. Jemaat kami ‘nggak semuanya miskin secara ekonomi (terlihat dari banyaknya mobil yang parkir dengan berbagai merek dan tahun “tinggi” di halaman gereja dan gedung pertemuan yang dipinjam lahannya setiap Minggu), cuma kebanyakan masih miskin secara rohani. Dan aku harus akui – dan sudah berulangkali aku sampaikan di sermon parhalado – pelayanan kami masih “ala kadarnya”.

Sebagai penatua yang ditunjuk mendampingi Seksi Sekolah Minggu sejak pertengahan tahun ini, tentu saja aku ‘nggak mau terikut arus. Harus melakukan sesuatu! Itulah yang aku tekadkan sejak semula setelah mengimani bahwa panggilan pelayananku saat ini adalah mengembangkan Sekolah Minggu. Aku punya konsep, dan langsung aku sampaikan ke guru-guru Sekolah Minggu dan pengurus Seksi Sekolah Minggu. Setiap Minggu harus ada kegiatan Sekolah Minggu yang bisa dirasakan oleh warga jemaat. Dan harus dihindari kesan bahwa Seksi Sekolah Minggu selalu meminta uang kepada warga jemaat untuk membiayai kegiatannya (dan ini hampir terjadi pada setiap kategorial pelayanan di banyak gereja …).

Tahap pertama aku lakukan – dengan bantuan kawanku di kantor dan guru-guru Sekolah Minggu – berfoto gratis. Jadi, anak-anak Sekolah Minggu diberitahu (supaya mereka bersiap-siap dengan pakaian yang paling disukai) bahwa Minggu depan akan ada giliran pemotretan. Bergiliran sesuai kategori usia Sekolah Minggu. Selain supaya jumlahnya bisa dikelola dengan baik, juga agar setiap Minggu ada kegiatan pemotretan. Setiap orang akan difoto dan langsung diberikan hasilnya pada hari itu juga dengan bingkai yang cantik. Benar-benar gratis! Namun, untuk yang ingin mendapat dua atau lebih, dipersilakan untuk memberikan sumbangan sesuai kerelaan masing-masing. Nah, untuk itu aku sediakan kotak kaca Winnie the Pooh. Kenapa Winnie the Pooh? Semula aku mengusulkan menggunakan karakter Sponge Bob (karena aku juga menyukai karakter Sponge Bob ini), namun ketika aku berdiskusi dengan pengurus Sekolah Minggu, mereka lebih memilih Winnie the Pooh. Sebagai orang yang demokratis, aku tentu saja ‘nggak mau memaksakan kehendakku. Maka aku pesankanlah ke kawanku yang punya usaha biro iklan di Cimahi untuk membuatkan kotak kaca persembahan dengan karakter Winnie the Pooh sesuai permintaan kawan-kawan pengurus Sekolah Minggu. Gratis! Kawanku pasangan suami isteri beragama Islam tersebut hanya tersenyum saat aku menjelaskan bahwa kotak kaca itu adalah untuk keperluan gereja dan anak-anak. Ini yang kedua, setelah dulu aku juga minta dibuatkan tiang keranjang untuk permainan bola basket di gereja yang sama. Senangnya punya kawan yang baik yang mengerti dan bersedia membantu. Gratis pula lagi … Jadilah kotak kaca tersebut menghiasi kegiatan Sekolah Minggu sebagai sarana bagi warga jemaat dalam berkontribusi pada setiap kegiatan dengan memasukkan persembahannya ke dalam kotak kaca yang selalu tersenyum tersebut.

Oh ya, untuk pembuatan foto dan bingkainya aku juga mendapat pinjaman dari kawanku di Bandung yang menangani promosi perusahaan. Gratis juga, walaupun kemudian aku harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli tinta printer dan kertas foto karena yang dibutuhkan melebihi apa yang semula disediakannya. ‘Nggak apalah …

Tahap kedua, kami memproduksi video clip yang menampilkan anak-anak Sekolah Minggu dan gurunya dalam memberikan testimoni. Setiap Minggu sejak Minggu lalu sampai menjelang perayaan Natal. Isinya? Pemahaman mereka tentang topik yang sesuai dengan thema Minggu, dan ditutup dengan undangan menghadiri perayaan Natal Sekolah Minggu. Ditayangkan setiap selesai pembacaan warta jemaat. Ini juga gratis setelah aku minta bantuan pasangan muda warga jemaat yang punya talenta dalam membuat video clip.

Harapanku, dengan ini semua, warga jemaat akan mengetahui bahwa Sekolah Minggu itu punya kegiatan lain yang bermanfa’at selain hanya “kegiatan belajar-mengajar”. Dan tidak selalu harus meminta uang dengan “teken les” … Nah, semoga dengan demikian warga jemaat akan tergugah hatinya, dan menyadari bahwa kontribusi mereka terhadap perbaikan pelayanan jemaat – dalam hal ini Sekolah Minggu – sangat dibutuhkan.

Semoga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s