Ma’af, Aku Terpaksa “Melanggar Janji” …

Natal Singkola Minggu HKBP IKG (151212)

Sejak mendapat “pencerahan” dari seorang pendeta HKBP yang dulu rajin menulis di blog, sejak lima tahun yang lalu aku berjanji untuk ‘nggak pernah mau merayakan Natal sebelum 25 Desember alias ketika masih masa-masa Adven. Beberapa kali aku sempat berdebat dengan beberapa orang yang “terlanjur” terbiasa dengan tradisi bahwa Natal bisa dirayakan bahkan sejak 01 Desember. Juga beberapa kali aku dengan halus menolak permintaan persekutuan untuk berkhotbah karena Panitia tetap ‘ngotot ‘nggak mau mengubah perayaannya menjadi bukan Natal dan atau mengganti nas khotbah ke perikop yang bukan menceritakan kelahiran Yesus. Dan aku memang menjadi lebih khusyuk dalam memahami Adven dan Natal daripada sebelumnya yang “kacau” karena merayakan Natal sebelum 25 Desember.

Tahun ini – dengan sangat menyesal – aku harus merayakan Natal sebelum 25 Desember. Dan sangat khusus, yakni hanya pada perayaan Natal Sekolah Minggu di jemaat kami. Hal ini semata-mata disebabkan oleh “jabatan” yang diberikan jemaat HKBP tempatku melayani sebagai paniroi Seksi Sekolah Minggu. Dan Auli anakku juga ikut berliturgi pada perayaan ini. Kurang pas-lah kalau paniroi-nya sendiri ‘nggak ikut pada perayaan Natal Sekolah Minggu yang biasanya paling meriah karena pasti dihadiri oleh warga jemaat dari semua golongan usia, yakni dari anak-anak sampai ompung-ompung

***

Pagi hari Sabtu, 15 Desember 2012 itu ada acara family gathering dari kantor se-Jawa Barat Kalimantan Barat, tempatnya di Saung Mang Ujo di Bandung pula. Sama ‘nggak pasnya juga bila aku ‘nggak hadir di acara tahunan ini karena kami “tuan rumah”. Puji Tuhan, akhirnya boss-ku mengizinkanku pamit setelah makan siang untuk berangkat ke Jakarta walau sehari sebelumnya beliau memintaku untuk tetap ada di lokasi acara sampai usai (agar memudahkan mendapat izin, sebelumnya aku terlihat aktif berpartisipasi sampai mengundi dan menyerahkan hadiah kepada pemenang lucky draw …). 

Jalanan ke Bandung hari itu lancar sehingga kami bisa tiba di komplek gereja menjelang jam tiga siang. Rencana semula, acara akan dimulai jam empat agar tidak terlalu malam selesainya. Aku sempatkan menyapa anak-anak dan orangtua yang sudah datang terlebih dahulu, sebelum aku melihat persiapan acara. Lalu ke konsistori untuk duduk menenangkan diri.

Alangkah terkejutnya aku manakala melihat inang pendeta diperbantukan yang siap-siap dengan toganya layaknya yang akan maragenda. “Lho, koq jadi inang yang maragenda? Memangnya ke mana amang pandita, inang?”, tanyaku dengan heran.

“Ada koq, amang

“Kenapa bukan beliau yang maragenda sesuai dengan pembicaraan terakhir saat rapat persiapan Natal?”

“Wah, ‘nggak tahulah, amang. Saya ‘kan hanya patuh pada perintah atasan. Disuruh maragenda sekarang, ya saya ikut sajalah …”

“Patuh, sih patuh inang kepada atasan, tapi patuh kepada kesepakatan juga ‘kan suatu keharusan. ‘Nggak bisa diubah begitu saja tanpa pemberitahuan kecuali beliau memang ada urusan yang sangat penting dan mendadak”.

Ada memang rasa kesalku saat itu, tapi segera aku lawan supaya jangan menjadi terganggu dengan cara kerja pelayan yang ‘nggak teratur seperti ini. Ketika ketua seksi Sekolah Minggu juga mempertanyakan “keanehan” tersebut, aku tetap berupaya menenangkannya, juga semua orang yang merasa terganggu dengan ketidakhadiran pak pendeta resort. “Padahal dulu dia yang memaksa supaya harus hadir pada acara Natal Sekolah Minggu karena takut dipertanyakan oleh warga jemaat. Dan dia juga yang bilang bahwa Natal adalah pesta besar sehingga pendeta resort harus terlihat pada acara Natal dan berkhotbah. Ini koq malah ‘nggak kelihatan?”.

***

Memang, di awal persiapan perayaan Natal, Panitia sudah menghubungi pendeta dari luar untuk melayankan ibadah dengan berkhotbah interaktif pada acara yang memang harus bisa ‘nyambung dengan anak-anak. Aku pun baru tahu ketika Panitia datang kepadaku dan menyampaikan bahwa pendeta keberatan dan memaksa harus beliau yang berkhotbah. Lalu aku datang ke pendeta dan mengajak ‘ngobrol, “Amang, kita harus akui bahwa melayani sekolah Minggu berbeda dengan kategorial lain. Tidak mudah berkomunikasi dengan anak-anak sehingga ‘nggak semua orang bisa berkhotbah yang mampu membuat anak-anak tekun mendengarnya. Aku pun walau sudah belajar di STT tentang pelayanan tetap merasa ‘nggak mampu berkhotbah lebih baik daripada orang yang sudah berpengalaman. Dan guru Sekolah Minggu lebih tahu siapa yang pas dan mereka juga sudah menghubungi pendeta yang menurut mereka cocok dengan thema perayaan Natal tahun ini. Jadi, kita izinkan sajalah sambil kita lihat nanti apakah benar seperti yang mereka katakan. Bila tidak, maka tahun depan kita ‘nggak bisa lagi mempercayakan kepada mereka begitu saja …”, kataku panjang lebar mencoba meyakinkan pak pendeta. Benar juga, kan? 

Akhirnya didapatlah kesepakatan: pak pendeta yang akan maragenda dan pendeta dari luar yang akan berkhotbah interaktif. Bahkan tata ibadah perayaan Natal juga didiskusikan dan beliau memberikan beberapa koreksi untuk membuat acaranya lebih bagus. Makanya aku kaget waktu mengetahui bahwa pak pendeta resort sama sekali ‘nggak terlihat pada acara tersebut. Beliau muncul menjelang khotbah yang dibawakan dengan menarik oleh ibu pendeta dari luar tersebut yang memang terlihat sangat menguasai pekerjaannya. Pak pendeta aku lihat berdiri di pintu masuk, lalu pergi keluar selama khotbah berlangsung!

Usai khotbah, aku mengantarkan ibu pendeta ke tempat parkir karena meminta izin pulang lebih awal karena anaknya sakit (yang memang tadi sempat aku lihat karena dibawa juga ke gereja bersama suaminya yang adalah juga pendeta dan aku kenal ketika masih kuliah di STT Jakarta beberapa tahun yang lalu). Betapa kagetnya aku ketika melihat pak pendeta sedang duduk-duduk ‘ngobrol di bangku panjang yang diletakkan di samping gereja. Dengan seorang penatua yang sangat akrab dengan beliau, dan beberapa orang kaum bapak. Di keterkejutanku (karena belum pernah melihat kelakuan seorang pendeta resort seperti ini …) aku mendatangi tempat duduk mereka setelah mengantarkan kepergian ibu pendeta dan keluarganya pulang:

“Bah, kenapa di luar, amang pandita? Ayolah masuk ke dalam”, kataku mengajak.

“Kan sudah selesai, sintuanami?”

“Belum, amang. Lihat saja anak-anak masih berliturgi dan bernyanyi di dalam”

“Kami di sini sajalah, samanya itu di luar dan di dalam. Lagian, kami sudah dapat kue”, timpal yang seorang lagi.

“Bah, bukan kue itu yang perlu dan jadi ukuran, Amang. Kehadiran kita di dalam untuk menyemangati anak-anak dan warga jemaat yang ber-Natal yang perlu. Ayolah kita ke dalam, Amang …”.

“Tak usahlah. Di sini ajalah kami …”  

Karena bersikeras dengan prinsipnya – bahwa sama antara duduk di dalam bersama jemaat dengan duduk di luar ‘ngobrol ‘ngalor-‘ngidul – dengan kecewa aku pun kembali ke dalam gereja. Di dalam aku bertemu dengan beberapa penatua yang mempertanyakan kehadiran pak pendeta karena selain maragenda harusnya juga ikut dalam penyalaan lilin karena namanya jelas tercantum pada buku acara. Lalu meluncurlah ucapan dengan kalimat yang mempertanyakan kelakuan yang kurang pantas seperti itu. “Kalau memang dia ‘nggak mau ikut acara perayaan Natal, sekalian aja dia ‘nggak usah terlihat di sini. Ini ‘kan jadi merusakkan citranya sendiri selaku seorang pendeta resort yang juga pimpinan di gereja ini. Aneh! Koq bisa ada pendeta yang seperti itu, ya?”. Karena ‘nggak mau terlibat lebih jauh dengan pembicaraan seperti itu, aku pun kembali ke tempat dudukku di depan di samping panggung.

Acara pun berlangsung terus …

‘Nggak tahu kenapa, mendadak pak pendeta resort datang ke atas panggung untuk menutup acara dengan do’a. Mengherankan, memang. Tapi apa yang mau dibilang, begitulah pendeta resort kami yang sekarang ini …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s