Rapat Jemaat yang “Cacat”: Lho, koq Ada Hantu Segala?

Rapot Cacat (201212)

Aku mungkin satu di antara sedikit warga jemaat yang antusias dalam Rapat Jemaat yang akan membicarakan program dan rencana pelayanan tahun 2013 yang akan datang. Sedikit? Ya, kalau aku menjadikan wejk kami sebagai rujukan. Walau sudah berulangkali disampaikan dalam partangiangan wejk, tanggapan dari umat aku rasakan sangat minim. Setiap kali bertugas di partangiangan wejk – karena harus datang jauh-jauh dari Bandung – aku selalu sempatkan/mengingatkan agar usulan dan utusan wejk yang akan berpartisipasi ke Rapat Jemaat sudah dikumpulkan dan ditetapkan. Ternyata hampir ‘nggak ada yang menanggapi dengan memadai. Hingga pada minggu terakhir adanya partangiangan wejk (menjelang penutupan tahun pelayanan jemaat) barulah ada gaungnya. Itu pun karena aku yang berinisiatif membuat beberapa usulan (pribadi dan yang sudah pernah aku dengar dari beberapa warga jemaat) melalui e-mail. Meskipun terbatas kepada beberapa orang yang aku tahu alamat e-mailnya dan dibarengi berkomunikasi vie pesan-pendek akhirnya bisa juga terkumpul usulan yang mewakili aspirasi warga jemaat di wejk kami. Aku yang berinisiatif memulai, maka aku pula yang “mengakhiri” yakni dengan menyerahkan usulan wejk ke parhalado yang mendapat tugas mempersiapkan rapat sekali setahun tersebut.

Sermon parhalado Selasa malam, 04 Desember 2012 yang lalu terasa “aneh” bagiku. Biasanya menjelang rapat jemaat kami para penatua bertambah sibuk dalam mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk menyukseskan acara besar dan penting tersebut. Kali ini, tidak. Hanya ada sedikit pertanyaan yang diajukan oleh sedikit penatua kepada pendeta resort yang bersifat umum, misalnya agenda rapat, dan format rapat. Oh ya, ada juga tentang makan siang yang kali ini oleh pendeta mengaturnya dengan sangat berbeda dibandingkan dengan rapat jemaat semasa pendeta resort yang sebelumnya: makan siang baru akan dipesan ketika rapat sudah dimulai agar jumlahnya pasti. “Kita belum tahu berapa orang yang akan datang. Jangan sampai makanan sudah dipesan tapi yang datang hanya sedikit sehingga makanannya terbuang. Kita sudah meniadakan ibadah sore, jangan pula membuang uang lagi karena makanan yang tidak habis karena sedikit yang datang rapat. Saya nanti akan minta Sekretaris untuk membuat daftar makanan yang bisa dipilih oleh peserta rapat, lalu berdasarkan itulah dipesan ke restoran. Saya juga sudah menghubungi pengusaha rumah makan dan bersedia membantu kita”. Bagus juga, pikirku, jika hanya melihat dari sisi efisiensi biaya. Tapi, urusan makan bagi orang Batak ‘kan bukan hanya sekadar biaya yang harus dikeluarkan, bukan?

Malam itu sermon parhalado cepat selesai. Belum sampai jam sembilan, kami pun sudah bubar. Setelah pergantian pendeta resort, tahun ini sermon parhalado berlangsung dengan cepat. Jarang ada diskusi, karena memang hanya sedikit yang menyukai diskusi. Lainnya? Berharap agar cepat saja bubar dan pulang ke rumah (memprihatinkan juga sih, bagiku mentalitas yang seperti ini …). Namun, kali itu lebih cepat dari yang biasanya, sampai office boy yang menyupiriku terheran karena aku sudah mengajaknya pulang ke Bandung ketika hari masih “terang” …

Sebelum bubar, aku sempatkan ‘ngobrol bertiga dengan pak pendeta resort. Aku memuji perubahan format rapat yang semula berhadap-hadapan antara parhalado dengan warga jemaat, menjadi bergabung. Juga penatua, yang dulunya hanya “duduk manis” (karena “dilarang” untuk berbicara selain yang adalah juga ketua dewan) nantinya bisa membantu warga jemaat dalam menyampaikan pendapat. Karena inilah pertama kali beliau akan memimpin rapat jemaat, jadi aku merasa perlu memberi masukan untuk kebaikan dan kelancaran rapat kelak. Yang aku sampaikan adalah agar beliau memahami bahwa ada saja peserta rapat dari jemaat yang suka mengkritik yang sayangnya ‘nggak selalu dibarengi dengan kesediaannya dalam membantu melakukan apa yang diusulkan. Selain itu, waktu menanggapi usulan, saran, dan kritikan dari peserta rapat sebaiknya tidak dengan suara dan nada yang tajam. “Ah, tonang ma sintuanami. Godangan mengkel do ahu marsogot di rapot huria i. Molo adong ruas na songon didokhonmuna i tor hutantang do na rade do ibana mangulahon. Unang holan na manghatahon daba, ndang laku di ahu na songon i …”, demikianlah jawaban beliau saat itu. Sedikit menenangkan, menurutku …

***

Minggu, 09 Desember 2012 itu aku bertugas sebagai liturgis. Berbahasa Indonesia sesuai jadual dan ketentuan peribadahan di jemaat kami ini. Habis ibadah, dilanjutkan dengan menghitung kolekte di konsistori. Saat menghitung kolekte, beberapa warga jemaat sudah naik ke lantai dua yang dipakai sebagai ruang rapat. Hampir jam dua belas, semua kegiatan di konsistori telah selesai, dan kami bersiap ke ruang rapat. “Jolo mangan ma hita, Amang. Molo male olo do mura-mura jolma muruk …”, kataku ke pak pendeta dengan setengah bercanda (setengahnya lagi serius, karena aku juga sudah mulai lapar …).

Ketika naik ke lantai dua, aku melihat ruang rapat masih terkesan kosong dengan banyaknya bangku yang masih kosong. Pak pendeta (resort)dan bu pendeta (diperbantukan) sudah duduk di kursi dengan meja yang menghadap peserta rapat. Aku lihat ada segepok kertas terletak di meja di hadapan mereka yang ternyata adalah satu set bahan rapat yang terdiri dari rencana anggaran, usulan warga jemaat, rencana program pelayanan tahun 2013, dan tata tertib rapat. Setelah mendapat izin dari pendeta, maka aku pun membagikan dokumen tersebut ke semua yang hadir. Lalu meletakkan sisanya ke setiap kursi yang masih kosong. Masih ada sisa, lalu aku pegang dan kemudian aku bagikan bagi yang baru datang dan belum menerima dokumen tersebut sebelumnya. Atau sudah menerimanya minggu lalu, namun “lupa” membawanya.

Setelah berbasa-basi, maka bu pendeta membuka acara dengan mengajak hadirin bernyanyi dari Buku Ende, lalu beliau memimpin doa. Tidak ada pembacaan firman Tuhan sebagaimana diamanatkan oleh Aturan dohot Paraturan HKBP 2002 pasal 27 ayat 2. Setelah itu, pak pendeta membuka dengan ucapan selamat datang dan tujuan rapat jemaat, lalu menyerahkan ke sintua parartaon untuk memeriksa kehadiran peserta rapat (oh ya, katua parartaon sudah mengundurkan diri bulan yang lalu dengan alasan yang tidak pernah disampaikan walau aku sudah menanyakannya di sermon parhalado yang dijawab pak pendeta bahwa urusan pengunduran diri adalah urusan internal parartaon dan tidak berkewajiban memberikan penjelasan ke sermon parhalado … sesuatu yang aneh, menurutku …).

Nah, ketika menghitung kehadiran peserta ini terjadi “kekacauan”. Peserta diminta mengacungkan tangan saat ditanyai oleh sang penatua. Padahal absensi sudah dijalankan oleh penatua lainnya. Seperti ‘nggak sabar menunggu selesainya pengisian absensi sebagai dokumen yang sah, beliau memeriksa kehadiran peserta berdasarkan dewan, seksi, dan utusan. Dengan arahan pak pendeta yang menentukan bahwa setiap orang hanya bisa satu kali mengacungkan tangan, maka terjadilah kebingungan karena ada peserta yang merangkap sebagai utusan jemaat selain yang adalah juga anggota dewan/seksi. Melihat situasi seperti itu, maka aku berdiri dan maju mendatangi meja pemimpin rapat memberikan penjelasan sekaligus meminta untuk dilakukan penghitungan-ulang. Disetujui, lalu dihitung lagi …

Belum begitu dipahami oleh semua peserta rapat, barangkali, sehingga yang mengacungkan tangan juga sekadarnya. Setelah setiap dewan hanya sedikit yang mengacung (menurutku juga karena memang sedikit anggota dewan yang bukan penatua, karena anggota dewan yang penatua “dilarang” mengacungkan tangan oleh pak pendeta karena sudah dihitung sebagai bagian dari kelompok parhalado), kemudian seksi-seksi pelayanan juga demikian. Bahkan ketika seksi pendidikan ditanyai, tidak satupun tangan yang teracung, maka pak pendeta pun marah: “Boha do rapotmuna saleleng on? Hira na marmeam-meam do hamu, hape rapot huria on ma na umtimbo kedudukanna di huria, hape ndang sude na ro. Holan 52 halak do na ro, ndang memenuhi quorum na ingkon dua partolu undangan. Boha do boi songon i? Naeng nihataan angka na porlu tu panghobasion taon na naeng ro, hape jolmana pe so adong. Manghatai begu ma hita songon on. Boha do, ta torushon do rapotta on? Molo tinorushon annon, nunga cacat be rapotta on. So tung diparoa-roa ruas hita ala na songon on. So tung na adong di rapot on pe dohot paroa-roahon mandokhon na cacat do rapotta. Molo ndang tatorushon, ndang rugi hita, ala so tinuhor dope sipanganonta. Ndang mago hepengta nang pe so jadi hita marrapot huria …”.

“Ditantang” demikian (dan juga didasari faktor lainnya, menurutku, misalnya psikologis orang lapar, dan perbedaan dalam memahami perkataan “manghatai begu” …), peserta rapat pun menyambut dengan bersorak: “Tunda … tunda …”.  Singkat cerita, pak pendeta pun menutup rapat dengan menyampaikan bahwa direncanakan untuk melakukan rapat jemaat berikutnya pada Januari 2013. Tanggal pastinya akan diberitahukan kemudian.

***

Aku pun keluar ruangan rapat dan turun ke lantai dasar. Beberapa warga jemaat bersungut-sungut dengan tindakan pak pendeta, paling banyak menyesalkan ucapan yang mengandung begu alias hantu tersebut. “Memangnya kita ini hantu, apa? Koq dibilangin kita rapat dengan hantu. Saya ‘nggak mau lagi ikut rapat kalau yang memimpin begitu caranya …”. Lalu yang lain menimpali dengan emosional. Bahkan ada yang curiga bahwa rapat tersebut memang sengaja dibatalkan karena parhalado memang sebenarnya belum siap. Untuk hal yang satu ini aku coba menenangkan agar jangan sampai ada tuduhan yang tidak berdasar seperti itu.

Di rumah, aku merenungkan dan menduga bahwa peserta rapat yang umumnya warga jemaat (bukan penatua) secara psikologis tergiring pada suasana yang dapat memberi kesan bahwa rapat tidak terlalu serius. Bisa jadi, waktu dia (atau mereka) naik ke lantai dua dan akan masuk ke ruang rapat merasakan ada sesuatu yang hilang, yaitu meja panjang yang berisi makanan yang diatur sedemikian rupa sehingga menerbitkan selera. Masuk ke ruang rapat, juga tidak melihat ada tampilan LCD-projector yang menayangkan acara rapat dan agenda rapat, sehingga mengesankan minimnya persiapan. Aku sendiri pun kaget ketika menyadari ketiadaan LCD-projector tersebut karena sudah menyiapkan presentasiku dalam format PowerPoint dan video clip yang tentu saja membutuhkan LCD-projector. Meskipun menjelang pengumuman penundaan rapat disampaikan aku melihat ada kesibukan kecil di depan untuk memasang LCD-projector tersebut, namun menurutku sudah sangat terlambat.

Perut yang lapar, persiapan yang minim, dan pernyataan yang tidak pas di hati … terbukti cukup untuk menghilangkan keinginan orang-orang untuk mendiskusikan tentang hal yang seharusnya diurus dengan serius …

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s