Puji Tuhan, Kerinduanku Jadi Kenyataan: Sai Mulak, Sai Mulak …

Ibadah Terakhir (211212)

Tiga tahun lalu, ketika mengetahui bahwa aku pindah tugas ke Bandung, seorang penggiat jemaat yang juga adalah pengacara beberapa jemaat HKBP yang “teraniaya” memintaku untuk menjadi pelayan di salah satu persekutuan di Bandung. Sebagai ekses konflik kepemimpinan HKBP dengan adanya Eforus “kembar” yakni Dr. S. A. E. Nababan dan Pdt. Dr. P. W. T. Simanjuntak lebih sepuluh tahun yang lalu, ada sekelompok warga jemaat yang pergi meninggalkan HKBP Jalan Riau dengan menamakan dirinya sebagai HKBP Resort Bandung Riau. Saat aku datang, ibadah dilakukan di Gedung Keuangan Kodam Siliwangi di Jl. Sumatera, Bandung. Menempati aula tentara yang berdekatan dengan mushola, ibadah dilakukan setiap Minggu (pernah sekali mendadak dipindahkan ke lokasi lain karena komplek tersebut dipakai tentara berkegiatan pada suatu Minggu …).

Sebelumnya aku sudah meminta izin kepada pendeta resort kami untuk melayani di jemaat yang kecil tersebut (“Sebelumnya kami sangat banyak, Amang namun karena ada kawan-kawan yang ‘nggak kuat bertahan sehingga menyerah dan mengaku salah ke pimpinan pusat HKBP di Pearaja, tinggallah kami sekarang yang lebih sedikit”, kata seorang tokohnya padaku pada berbagai kesempatan manakala aku melayani di tempat itu). Pesan pendeta resort saat itu kepadaku jelas, “Boleh aja, Amang melayani di sana. Tapi jangan terlibat dalam urusan dan konflik mereka yang dianggap membangkang oleh Kantor Pusat HKBP”.

Jadilah aku melayani di sana. Berganti-ganti. Manakala tidak sedang bertugas di Jakarta, maka aku pun bertugas di jemaat yang kecil tersebut. Sebelumnya juga sebagai liturgis, namun setelah ada penambahan penatua yang ditahbiskan, maka aku praktis hanya berkhotbah. Kerinduanku sejak awal adalah bagaimana agar tercipta rekonsiliasi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Tokh, semua orang pernah melakukan kesalahan. Itulah sebabnya, setiap ada kesempatan ketika berkhotbah aku selalu selipkan “pesan sponsor” tentang indahnya perdamaian.

Cuma, sayangnya … dalam beberapa kesempatan aku melihat bahwa beberapa pendeta yang diundang berkhotbah di sana malah menyemangati untuk tetap bertahan dan berjuang sampai “titik darah penghabisan”. Sayangnya lagi, pesan disampaikan seringkali dengan nada dan kalimat yang menyalahkan orang-orang yang mereka anggap seharusnya bertanggung jawab terhadap nasib perjemaatan mereka. Jujur saja, setiap kali selesai beribadah di sana, aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana Tuhan menilai ibadah Minggu kami itu?

***

Pada suatu Minggu, usai ibadah, seorang penatua yang aktif mengajakku berdiskusi tentang masa depan persekutuan tersebut. Ternyata tuntutan tentang kejelasan status mereka semakin santer dari beberapa orang warga jemaat. Bahkan ada yang sudah tidak aktif lagi beribadah di sana walau sudah diajak berulang kali. Faktor utamanya adalah tentang kejelasan status. Ini bukan yang pertama kali. Biasanya aku hanya menawarkan diri untuk membantu mereka dalam pelayanan, bagaimana caranya agar penatua semakin percaya diri dalam maragenda dan memahami khotbah. 

Beberapa minggu sebelumnya disampaikan bahwa setelah pergantian Eforus menjadi Pdt. Simarmata ada secercah harapan untuk meraih mimpi setelah bertahun-tahun terkatung-katung. “Kita diberikan opsi apakah mau jadi resort, atau jemaat biasa. Syaratnya harus ada jumlah kepala keluarga sesuai ketentuan yang diminta. Oleh sebab itu, kita harus mulai mengajak kawan-kawan yang dulu sama-sama berjuang untuk kembali ke mari”.

Mungkin setelah berjuang memanggil kembali belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan, maka hari itu sudah semakin kuat tekad sebagian orang untuk “membubarkan diri”. “Bagaimana lagi kita mau pertahankan, Amang kalau jumlah yang rajin beribadah tinggal sebegini saja. Untuk merayakan Natal nanti aja kita jadi ragu apakah masih ada yang akan hadir dalam jumlah yang sama seperti tahun lalu. Mana kodam juga sudah menyampaikan rencana untuk merehab gedung aula ini, jadi semakin kuranglah semangat untuk terus berjuang”, kata seorang isteri penatua yang juga tokoh sentralnya.

Tak berapa lama, beberapa hari kemudian, beliau bertelepon kepadaku setelah beberapa kali missed call (yaitu ketika kami melaksanakan Rapat Jemaat yang gagal di Jakarta saat itu). “Begini, Amang … kami sudah rapat dan memutuskan untuk membubarkan diri saja. Jadi, bagi pelayan yang pernah melayani kami seperti amang kami undang untuk mengikuti ibadah Minggu terakhir. Rencananya mau dibikin saat Natal 25 Desember nanti, tapi karena banyak yang ‘nggak bisa maka kita rencanakan pada Minggu, 16 Desember nanti. Amang bisa hadir?”

Dheg! Aku terkejut. Kaget karena tetap berita ini mengejutkan dan mendadak. Yang kedua, karena pada hari Minggu itu aku juga sudah diminta untuk menjadi pendo’a syafa’at pada perayaan Natal Tobing sa-ompu di Jakarta. Selain berdo’a, aku juga mendapat kehormatan untuk menyediakan hadiah Natal bagi anak-anak (yang sudah jadi rutin setiap tahun yang tetap membuatku bahagia, hehehe …).

Di tengah menimbang-nimbang harus pilih yang mana, kawanku yang juga aktif melayani jemaat tersebut meneleponku: “Sudahlah, Amang Sintua. Ke acara yang di Bandung ajalah kita. Saya juga sebenarnya ada acara bertemu Eforus di peresmian distrik Jakarta dan pelantikan praeses. Tapi karena jemaat yang kita layani ini sangat khusus, maka saya memutuskan untuk ke Bandung karena diminta juga marjamita karena pendeta yang selama ini sangat setia mendampingi mereka hanya sanggup menahbiskan penatua yang baru karena belum begitu pulih dari sakit stroke-nya yang dulu. Melayani di jemaat yang kecil itu ajalah kita …”.

Bukan suatu kebetulan, karena beberapa menit sebelumnya, di mobil kami mendiskusikan apakah mau tetap ber-Natal di Jakarta atau ke Bandung karena Auli juga ada acara pada hari yang sama di Bandung, yakni festival paduan suara mewakili sekolahnya di Trans Studio karena masuk semi final setelah Minggu sebelumnya berhasil menjadi juara ketiga ketika diselenggarakan di Lottemart. Sebelumnya itu suasana diskusi sempat memanas, “Kalau papa tetap memaksa ke Natal Tobing di Jakarta, kalau gitu kami dengan Auli pulang ke Bandung untuk acara festival Auli. Apa papa tega karena Auli sendiri sudah sangat gembira untuk tampil sama kawan-kawan sekolahnya?”, kata mak Auli dengan nada setengah “mengancam” (setengahnya lagi pasrah dan kecewa, mungkin …. hehehe …).

“Iya, pa … kata ibu guru kalau Auli ‘nggak ikut, ‘nggak ada yang bisa menggantikan posisi Auli menyanyikannya nanti di festival”, kata si boru Tobing pula memelas yang membuatku ‘nggak tahan untuk mengecewakannya.

Tak berapa lama aku menelepon dongan tubu di Jakarta untuk permisi dan meminta kemakluman mereka atas ketidakhadiranku di perayaan Natal Tobing di Jakarta tersebut. Hadiah untuk anak-anak sudah aku kirim sebelumnya, jadi ‘nggak bakalan mengganggu kemeriahan perayaan Natal bagi anak-anak nantinya.

***

Maka kami pun mengikuti ibadah Minggu di jemaat kecil tersebut pada Minggu yang lalu. Setelah khotbah, dilanjutkan dengan penahbisan dua orang penatua (yang menurutku sangat “istimewa” karena begitu ditahbiskan mereka langsung ‘nggak punya jemaat lagi, melainkan “jemaat baru” nantinya …). Benarlah, pak pendeta sudah sangat sulit membacakan agenda penahbisan, dengan terbata-bata akhirnya penahbisan selesai (namun sangat berbeda ketika menyampaikan “kata perpisahan” yang berapi-api setelah acara makan siang …).

Lalu kami semua yang pernah melayani di sana dipanggil ke depan untuk menerima hadiah (seperangkat pulpen yang bagus dan handuk yang dikemas khusus …). Terharu juga melihat situasi peribadahan hari itu. Ada yang menangis karena menyadari akan berpisah dengan kawan-kawan seperjuangan.

“Kita masih akan merayakan malam Natal tanggal 24 Desember dan Natal tanggal 25 Desember di sini yang dilayankan oleh inang pandita. Saat itulah akan dibagikan hadiah kenang-kenangan kepada semua jemaat. Dan kita akan tartingting di HKBP Bandung Timur pada minggu kedua Januari 2013. Bagi yang tidak ke Bandung Timur, silakan ke jemaat lain yang sesuai dengan kehendak hati masing-masing …”, kata isteri sintua yang sangat aktif melayani di jemaat tersebut.

“Kita akan tetap bertemu, paling tidak sekali tiga bulan. Undangannya akan kami sampaikan …”.

Ketika mau berpisah pulang, kawanku sesama penatua di jemaat yang sama di Jakarta yang tadi berkhotbah, mengatakan: “Sudah paslah itu semua diatur Tuhan, amang sintua. Dulu itu yang menjadi kerinduan sintua waktu melayani mereka pertama kali sejak ditempatkan di Bandung, ‘kan? Nah, sekarang jemaatnya sudah bergabung kembali dan amang kembali pindah tugas dari kantor ke Jakarta. Memang begitulah yang diminta Tuhan dari amang sintua.“. Aku sempat kaget sejenak, namun segera teringat bahwa rencana kepindahanku kembali ke Jakarta sudah pernah aku sampaikan ke beliau pada minggu lalu ketika aku mengikuti rapat dinas di Jakarta dan malam sebelumnya bareng membesuk kawan penatua yang terbaring dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto di Jalarta. 

Haleluya! Terpujilah Tuhan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s