Pesta Telah Usai?

Bangku Kosong Tahun Baru (220113)

Kejadian ini berulang lagi. Saat beribadah tahun baru 01 Januari 2013 di gereja HKBP di Medan ini aku menemukan bangku-bangku kosong di gereja. Hanya segelintir umat yang hadir beribadah. Ada apa, dan kenapa?

Sebelum berangkat ke gereja (sendirian, dan berjalan kaki dari rumah mertua) aku menemukan beberapa penyebabnya yang memungkinkan sepinya umat yang beribadah hari pertama tahun 2013 ini:

(1) Begadang malam sebelumnya. Setelah ibadah pergantian tahun di rumah (yang dimulai jam 00.00) masih dilanjutkan dengan ‘ngobrol, makan kue, memasang lilin dan kembang api, dan lain-lain.

(2) Begadang juga menyebabkan sakit, bisa flu, masuk angin, kembung, pilek, dan lain-lain.

(3) Begadang pada malam tahun baru juga menyebabkan kecapekan.

(4) Ada juga “kebosanan” karena beribadah berturut-turut dalam jangka waktu kurang seminggu. Bayangkan aja: ibadah Minggu 23 Desember, malam Natal 24 Desember, Natal Pertama 25 Desember, Natal Kedua 26 Desember (kalau di HKBP …), Minggu 30 Desember, malam tahun baru 31 Desember … Apalagi kalau beribadahnya di gereja yang sama dengan banyak hal yang sama: pendeta pengkhotbah, pemusik, penyanyi, pelayan ibadah, cara penyampaian khotbah, semuanya sama dan monoton!

Banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk tidak menyetujui hal ini sebagaimana juga banyak hal yang bisa dijadikan sebagai alasan pembenaran, namun bagiku hal menjadi tidak beribadah pada 01 Januari tetaplah tidak bisa diterima. Hanya kondisi sakit parahlah – diri sendiri dan atau keluarga yang dikasihi – yang masih bisa diterima sebagai alasan untuk tidak beribadah. Semoga saja kelesuan beribadah pada 01 Januari tidak menjadi indikator bahwa hari-hari berikutnya akan mengalami kelesuan yang sama …

Bagi para pelayan ibadah, inilah saatnya untuk berpikir keras mengeluarkan ide-ide kreatif agar warga jemaat masih tetap rindu untuk datang beribadah di gereja. 

Andaliman-214 Khotbah 27 Januari 2013 Minggu Septuagesima

Baca, Percaya, Lakukan dengan Kuasa Roh Tuhan!

Nas Evangelium: Lukas 4:14-21

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.

4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Yesus ditolak di Nazaret

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Nas Epistel: Nehemia 8:1-11

8:1 (8-2) maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.

8:2 (8-3) Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti.

8:3 (8-4) Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.

8:4 (8-5) Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.

8:5 (8-6) Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.

8:6 (8-7) Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.

8:7 (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.

8:8 (8-9) Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

8:9 (8-10) Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

8:10 (8-11) Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

8:11 (8-12) Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!” 

Zaman dahulu – ketika kitab suci tidak sesederhana sekarang dalam bentuk buku yang rapi dan digital seperti yang ada sekarang ini – pembacaan firman Tuhan dapat dilakukan setiap pria dewasa dengan membuka gulungan papirus dengan kedua belah tangan dengan izin khusus pejabat bait suci (sinagoga). Yesus mendapat kesempatan tersebut hari itu sebagaimana dicantumkan dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dan – bukan suatu kebetulan pula! – nas yang dibuka dan dibaca adalah nubuat nabi Yesaya tentang kedatangan mesias yang sudah sangat lama dinantikan oleh bangsa Yahudi.

Dalam kondisi yang dipenuhi Roh Kudus (sebagai kelanjutan memenangkan pencobaan iblis sebagaimana tertera dalam perikop sebelumnya), Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Dia-lah yang dimaksud Yesaya sebagai orang yang akan “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Secara eksplisit, Yesus menyatakan bahwa Dia-lah juru selamat yang ditunggu-tunggu oleh mereka …

Ada beberapa hal menarik yang layak dicatat, yakni:

(1) Yesus melakukan pekerjaan-Nya dengan kuasa Roh Kudus yang ada pada-Nya. Aku mengimani bahwa Roh Kudus ada padaku (sebagaimana juga ada pada semua orang percaya), hanya “porsi-Nya” yang tidak selalu memadai dalam menyampaikan firman Tuhan dengan penuh kuasa, dan juga menyampaikan kebenaran dengan kapasitas penuh. Meskipun dalam banyak kesempatan aku merasakan dorongan tersebut dalam hatiku, seringkali pula aku menyampaikan firman Tuhan dengan “biasa-biasa saja” … Menurutku, ini adalah pembeda antara orang beragama dengan orang beriman; orang beriman dalam setiap tindakannya selalu didorong oleh kuasa Roh Kudus sedangkan orang beragama belum tentu seperti itu. Bukan hanya “kaum awam” (maksudnya warga jemaat biasa), para pelayan Tuhan (parhalado) kemungkinan besar dihinggapi gejala ini (bekerja tanpa kuasa Roh) kalau melakukan pekerjaan sekadar memenuhi rutinitas dan sekadar ritualitas.

(2) Hal yang disampaikan-Nya sangat mengena dengan situasi psikologis kaum Yahudi yang mendengarnya yang sedang dibelenggu penjajahan Romawi yang mengakibatkan banyak hal yang tidak menyenangkan, misalnya pajak yang sangat tinggi (sehingga membuat jatuh miskin), pengurangan hak-hak sipil (yang membelenggu dan membatasi kebebasan), dan pemaksaan dalam menganut kepercayaan (yang membutakan rohani mereka). Ada kemungkinan Yesus menyampaikan hal ini yang hubungannya dengan urusan duniawi, namun aku mengimani bahwa bobotnya yang sebenarnya adalah urusan surgawi. Pernyataan yang sangat berani tersebutlah (yang bisa dikesankan bertentangan dengan sikap penjajah Romawi) yang membuat pendengar-Nya terpana dan kemudian kecewa ketika selanjutnya konsep penyelamatan yang diajarkan Yesus sangat jauh berbeda dengan harapan mereka yang duniawi. Yang semula mereka sangat terkesan dengan khotbah Yesus yang penuh kuasa, akhirnya kecewa dan menolak Dia apalagi mereka yang cenderung menghubungkannya dengan status keduniawian Yesus yang hanyalah “sekadar” anak tukang kayu …

Berbeda dengan Yesus, ada begitu banyak pengkhotbah yang aku tahu yang seolah-olah mirip dengan pengalaman Yesus ini. Sangat berwibawa dan seakan penuh kuasa ketika menyampaikan firman Tuhan, namun warga jemaat kemudian menolaknya manakala kehidupan keseharian para pengkhotbah tidak sejalan dengan firman Tuhan yang mereka sampaikan. Ada juga yang menolak karena kehidupan kesehariannya tidak sejalan dengan apa yang diinginkan mereka (ini sangat berbahaya karena belum tentu semua keinginan mereka/warga jemaat sejalan dengan firman Tuhan …).

Hal pembacaan kitab suci sebagaimana dilakukan Yesus juga dilakukan Ezra dengan pembacaan hukum Taurat sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Dengan respon yang sama, yakni diperhatikan oleh umat yang mendengarkan dengan sangat tertarik.

Khotbah bisa menarik kalau merupakan ekspresi kehidupan dan pengalaman hidup dari sang pengkhotbahlah yang disampaikan sehubungan dengan firman tersebut. Bukan jualan “kecap”, melainkan firman Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan-lah yang disampaikan. Dan harus dimengerti sehingga sang pengkhotbah mampu menerangkan firman yang disampaikannya. Pastilah penyampaian firman akan semakin berkuasa dengan pertolongan Roh Kudus saat penyampaiannya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi:

Sangat menarik nas perikop Minggu ini. Sebagai warga jemaat, pesannya adalah sebagai berikut:

(1) Pembacaan firman Tuhan hendaknya dijadikan sebagai rutinitas dalam kehidupan. Lha, Yesus aja masih membaca firman Tuhan, koq kita “nekad” untuk ‘nggak membaca firman?

(2) Selain membaca, upayakan juga mengerti akan bacaan tersebut. Supaya terhindar dari salah tafsir, bagus jugalah kalau Alkitab didampingi dengan penjelasannya.

(3) Nah, yang paling utama: jadilah pelaku firman! Jangan sekadar agamis, tapi haruslah jadi orang yang imanis!

(4) Dengarkanlah firman yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikannya. Sulit juga, ya?

Demikian jugalah sebagai pelayan jemaat, yang secara khusus pesan tambahannya adalah:

(1) Kalau menyampaikan firman Tuhan – berkhotbah, misalnya – sebaiknya dipahami terlebih dahulu nas yang mau disampaikan. Diinteriofikasi, dihubungkan dengan pengalaman hidup, diyakini kebenaran firman tersebut, setelah mantap barulah disampaikan. Aneh, ‘kan kalau pengkhotbah sendiri tidak paham dengan firman yang mau disampaikan? Apalagi kalau tidak mengimani! Ada yang seperti itu?

(2) Sampaikanlah khotbah sebagai media dalam menguatkan iman warga jemaat. Bukan untuk menakut-nakuti! Jangan pula jadikan khotbah sebagai alat untuk “membalas dendam”. Lho? Iya, ada saja pengkhotbah yang memanfa’atkan mimbar sebagai media untuk “menghantam lawan-lawan politiknya” di jemaat. Ada yang seperti itu?

(3) Selaraskanlah firman dengan perbuatan, atau lebih tepatnya: selaraskan perbuatan dengan firman. Artinya supaya firman tersebut “berkuasa” dan “nyata”, hendaknya pengkhotbah adalah juga pelaku firman. ‘Gimana kita berkhotbah tentang damai sejahtera dalam mimik yang jelas-jelas menunjukkan gundah gulana dan rusuh? Ada yang seperti itu?

Sulit? Tidak mudah, memang. Tapi, dengan percaya akan pertolongan Roh Kudus yang ada pada kita, semuanya akan dipermudah. Percaya saja! 

Ke Kubur untuk Terhibur … Tapi, Jangan Takabur!

Salah satu acara saat mudik akhir tahun 2012 yang lalu adalah berziarah ke kuburan orangtua. Orangtua kandung (bapak dan mamak) yang dikubur di Patumbak, Medan dan mertua laki-laki di Dolok Sait, Laguboti. Aku seringkali menyempatkan diri “menjenguk” orang-orang yang sudah mendahului manakala sedang berkunjung ke suatu tempat. Bukan mau ‘nyekar, tapi aku seringkali merasakan kenyamanan saat berada di pekuburan. Dalam kesunyian (jarang ‘kan ada kuburan yang hiruk pikuk oleh keramaian, kecuali menjelang hari-hari perayaan tertentu?), seringkali aku menemukan kedamaian. Dan yang utama adalah rasa bersyukurku semakin bertambah karena disadarkan bahwa sampai saat itu aku masih diberikan nafas kehidupan.

Yang sering aku biasakan adalah: tidak sedih (apalagi menyedih-‘nyedihkan diri …) ketika melakukan ziarah. Karena, menurutku kesedihan adalah masa lalu, yakni ketika mengantarkan almarhum/almarhumah terakhir kali. Dan menurut iman kristiani, kematian adalah proses menuju surga. Malah sukacita seharusnya yang ditimbulkan manakala melakukan ziarah dengan iman, bukan meraung-raung (mangandungi, kata orang Batak) seperti yang masih banyak dilakukan oleh orang-orang tertentu. Bersedih bisalah, tapi jangan sampai mengesankan sebagai orang yang tidak beriman, ya …

Itulah sebabnya aku antusias ketika ada permintaan untuk menyediakan tenda untuk dipasang di kubur mertua di Dolok Sait. Tanpa menunda lebih lama, aku segera menjumpai kawanku di kantor Medan yang aku tahu pasti punya tenda promosi. Memang sempat rada bertanya keheranan ketika aku sampaikan tujuan peminjaman tersebut, sebelum akhirnya memberikan tenda ukuran 4×4 meter yang menambah semarak kuburan mertua ketika sudah terpasang saat acara makan bersama. Semua gembira, semua bahagia, yang seketika menghilangkan duka yang sempat muncul sejenak di awal.

Tenda di Kubur Dolok Sait (210113)

Demikian juga ketika pada hari yang lain aku mengajak keluarga di Medan untuk berziarah ke kuburan orangtua di Patumbak. Tanpa tenda, memang tapi suasananya aku buat gembira. Caranya? Dengan mengenang kisah dan pengalaman dengan orangtua yang lucu, menyegarkan, dan memberi semangat untuk bertahan hidup. Bukan kisah sedih yang mengharu-biru, yang buatku sudah tidak mengena lagi.

IMG_1663[1]Oh ya, masih ada lagi. Aku ingin membuat pemahaman bahwa ke kuburan itu bukanlah hal yang menakutkan (seperti yang banyak ditampilkan oleh film-film nasional yang murahan dan tidak mendidik). Makanya aku sangat setuju ketika dibicarakan bagaimana membuat kuburan menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih terang dan jauh dari kesan angker. Salah satu faktor yang membuat keluarga “enggan” berziarah bahkan ke makam saudara kandung adalah hal-hal yang menyeramkan tentang kubur dan kematian.

Tapi, jangan pula menjadi “mentang-mentang”. Maksudnya karena beriman bahwa kematian adalah salah satu proses menuju ke kehidupan yang kekal yang dijanjikan bagi orang-orang percaya yang membuat kita terhibur, jangan pula malah membuat pesta pora (dengan segala pernak-perniknya yang akhirnya menjauhkan dari semangat yang positif tersebut …) karena yakin “100% surga sudah ada di tangan”. Jangan, ya. Itu sikap takabur yang malah harus dikubur!

    

Andaliman – 213 Khotbah 20 Januari 2013 Minggu II Setelah Epifani

Satu Tubuh. Semua Punya Pengaruh. Yang Tidak Patuh Pasti akan Rubuh!

Nas Evangelium: 1 Korintus 12:21-26

12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.”

12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.

12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.

12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,

12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

Nas Epistel: Mazmur 36:6-13 (bahasa Batak: Psalmen)

36:5 (36-6) Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan.

36:6 (36-7) Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kau selamatkan, ya TUHAN.

36:7 (36-8) Betapa berharganya kasih setia-Mu,ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.  

36:8 (36-9) Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai  kesenangan-Mu.

36:9 (36-10) Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.

36:10 (36-11) Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau,dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!

36:11 (36-12) Janganlah kiranya kaki orang-orang congkak menginjak aku, dan tangan orang fasik mengusir aku.

36:12 (36-13) Lihat, orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi.

Kalau disuruh pilih untuk menjadi salah satu (saja) dari bagian tubuh, mau pilih yang mana? Tentu saja akan dipilih mana yang dianggap paling penting dan paling berpengaruh, ya?

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini adalah nasehat rasul Paulus dalam menyikapi situasi yang berkembang pada jemaat Korintus pada saat itu yang di ambang perpecahan karena adanya beberapa golongan yang mendiskrimasi pelayanan jemaat. Ada warga jemaat yang diprioritaskan dan mendapatkan keistimewaan, sebaliknya ada pula warga jemaat yang tidak dilayani dengan baik. Masih terjadi jugakah di jemaat saat ini? Jawablah sendiri, ya …

Menurutku, apa yang menjadi perhatian Paulus ratusan tahun yang lalu masih sangat relevan dengan situasi saat ini. Hampir di setiap jemaat yang aku sempat kunjungi, dari perbincangan dengan warga jemaat dan pelayan aku menemukan situasi yang terjadi seperti ini. “Kalau ke tempat orang kaya pendeta itu sangat rajin berkunjung, tapi kalau ke rumah orang miskin sangat jarang …”, demikianlah yang masih sering terdengar dan sangat patut disesalkan.

Ayat-23 dan 24 Ev sangat menyentuhku, bahwa orang-orang yang dianggap lemah (miskin, sakit) malah seharusnya diberikan kemuliaan dan penghormatan khusus. Aku memahaminya sebagai perhatian khusus. Dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena diberikan kepekaan yang khusus (lebih dari yang lain) terhadap golongan yang lemah, miskin, dan sakit ini. Masih belum layak dibanggakan, memang … namun (kembali) aku bersyukur untuk kepekaan ini. Mudah-mudahan dalam waktu yang tepat diberikan karunia khusus pula dalam melayani golongan ini. Dalam setiap ibadah, aku lebih mudah tergerak dalam membantu golongan ini dan melayani mereka untuk memastikan mereka merasakan pelayanan (minimal standarlah, ya …) dalam berkegiatan di gereja. Itu pulalah yang sejak awal, bertahun-tahun yang lalu dalam setiap diskusi tentang “taurat” berpakaian bagi pelayan jemaat, aku sangat tidak setuju kalau pelayan jemaat memakai “pakaian kebesaran” berupa jas (bagi laki-laki) dan kebaya (bagi perempuan) karena pakaian tersebut akan mengurangi keluwesan dalam memberikan bantuan pelayanan bagi warga jemaat yang dibutuhkan …

Selain itu, struktur pelayanan jemaat juga pernah aku kritisi. Bentuknya yang berupa hirarkhi (atasan – bawahan) menurutku sudah ‘nggak relevan saat ini, karena penatua bukanlah anak buah pendeta, melainkan “rekan sekerja” sebagaimana tercantum dalam Agenda HKBP. Jadi, yang paling pas adalah struktur organisasi lingkaran, yang berarti sesama pelayan jemaat menganut sistem kordinasi. Jadi, pendeta bukan memerintah penatua, melainkan berkordinasi. Untuk mengimplementasikan ini memang dibutuhkan “kebesaran jiwa” dan kemampuan yang “bukan biasa-biasa” dari seorang pendeta …

Sebagai warga jemaat, saling menguatkan dan saling melayani dengan sungguh-sungguh dan sukacita sangat diingatkan oleh Paulus. Ini untuk mencegah terjadinya perpecahan di tengah jemaat, malah untuk membuat semua orang bersukacita dalam persekutuan dan pelayanan. Saling menghormati keberadaan masing-masing, itulah yang sangat dibutuhkan (dan mulai terasa hilang bekalangan ini …).

Memang belum tentu mudah, apalagi bagi kalangan yang selama ini sudah menjalankan pelayanan dengan “menyimpang” dari himbauan Paulus ini. Butuh pengorbanan.

Namun, nas perikop yang menjadi Ep tentang lagu pujian pemazmur sangat menguatkan. Bagi pelayan jemaat, maupun bagi warga jemaat. Tuhan akan melindungi orang-orang yang setia mengikuti-Nya, dan sebaliknya akan menghukum orang-orang yang tidak sesuai dengan perintah-Nya (yang congkak, penindas, curang, dan lain-lain).

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi:

“(Warga) jemaat HKBP adalah orang-orang yang mandiri. Mereka ‘nggak terlalu bergantung pada pelayan jemaat, relatif aktif dalam memenuhi kebutuhan rohaninya”, pernyataan yang kedengarannya membanggakan jika memang demikian adanya. Dalam sedikit hal, memang pernyataan ini mungkin bisa dibenarkan. Namun, jangan sampai membuat para pelayan menjadi lengah dalam melayani warga jemaat dengan baik, ya …

Sebagai pelayan jemaat, nasehat Paulus ini sangat mengena. Dan sangat perlu dilakukan. Bahkan mutlak. Keluhan dan sindiran yang bernada minor atas pelayanan yang dirasakan oleh warga jemaat sudah sepatutnyalah diminimalisasi. Caranya? Dengan memperbaiki pelayanan! Dengan menganggap bahwa semua orang butuh. Semua orang adalah satu tubuh. Semua orang mempunyai pengaruh. Dan, bukan zamannya lagi menjadi pelayan yang angkuh!

Sebagai warga jemaat “biasa” himbauan Paulus ini juga sangat mengena bagi kita.

Jujur saja, perikop ini sebenarnya tidak membutuhkan penafsiran yang macam-macam. Semuanya sudah jelas dan tegas sebagai pesan buat kita semua.

“Mana Suaramu? Makanya, Serius!”, Kata Pak Pendeta di Altar

Natal Kedua, 26 Desember 2012 yang lalu aku beribadah di Medan, gereja tempat aku menghabiskan masa-masa Sekolah Minggu sampai menjelang pemberkatan nikah. Tentu saja banyak kenangan dengan gereja dan persekutuan di sini. Aku bertemu dengan beberapa orang yang sangat aku kenal dan “mewarnai” kehidupanku dalam berjemaat. Salah seorang di antaranya adalah penatua yang dulunya adalah paniroi kami saat ber-NHKBP. Ketika itu ada pergolakan di HKBP, dan beliau sangat fanatik mendukung salah seorang eforus bahkan mengajak kami untuk berdemonstrasi. Sesuatu yang ‘nggak pantas, menurutku saat itu. Karena bagiku tidak penting siapa yang jadi eforus, yang paling utama adalah bagaimana persekutuan dan pelayanan jemaat. “Tak penting kita ikut-ikutan berdemo,”, kataku saat itu kepada kawan-kawanku pengurus NHKBP di jemaat, “Yang merebut jabatan dan kekuasaannya orang-orang itu semua. Dan masing-masing punya alasan untuk membenarkan diri. Lain ceritalah kalau kita dilarang beribadah di gereja, kalau itu aku pasti akan protes. Daripada demo dan membuat rusuh, mendingan kita urus NHKBP kita ini”.

Saat itu beliau termasuk penatua yang “terlihat” di antara sedikit penatua yang “layak diperhitungkan”. Berpendidikan (suami isteri sarjana, pegawai tetap, dan bekerja di tempat bonafid …), punya akses yang luas, yang tentu saja punya pengaruh yang lumayan di jemaat. Namun, ada satu yang membuatku tidak simpatik selain aktivitasnya dalam menggerakkan jemaat untuk berdemo: beliau tidak bersedia maragenda. Aneh juga kalau ada sintua tapi tak maragenda, ya? Puncaknya adalah ketika serah-terima pendeta resort di mana beliau terlihat sekali berupaya menggagalkannya dan siap membuat kerusuhan di jemaat. Aku tidak membela pihak manapun (karena keduanya menurutku sangat jauh dari sikap selaku pemimpin gereja), dan tidak setuju pergantian pendeta dengan alasan yang bukan berorientasi pada pelayanan jemaat yang lebih baik, namun kalau jadi membuat rusuh tentulah tidak pantas dilakukan di gereja …

Begitulah yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Dan hari itu, aku terkejut ketika ada seorang yang sudah berumur dengan langkah yang tidak stabil (“bergoyang-goyang” …) mendadak mendatangiku yang sudah duduk di bangku barisan belakang di dalam bangunan gereja (karena aku bersiap-siap untuk bersaat teduh). Tanpa bicara (karena sudah sulit untuk berbicara dengan jelas), beliau mengulurkan tangan menyalamku. Tentu saja aku sambut dengan berdiri dan tersenyum gembira sambil menanyakan kabar (yang tentu saja tidak ada sahutan …). Setelah kembali ke posisiku semula, aku tersadar bahwa beliau adalah paniroi NHKBP pada masa aku dahulu jadi pengurusnya. Beliau terserang stroke sehingga membuat kondisi fisiknya menurun sangat drastis seperti itu. Meskipun aku tahu bahwa tidak semua penyakit adalah hukuman dari Tuhan, namun pertemuan tersebut mengingatkanku agar berhati-hati dalam hidup ini. Tuhan tidak buta dan tidak tuli, ‘kan ya?

Karena Natal Kedua hanya berlaku di HKBP (dan pasti sedikit warga jemaat yang akan hadir beribadah), ada strategi yang dilakukan oleh gereja tersebut (dan sudah berlangsung sejak aku masih aktif berjemaat di sana), yaitu mengadakan kegiatan pembaptisan anak dan orang dewasa. Nah, inilah yang aku mau ceritakan.

Sebelum ibadah dimulai, guru huria sudah kasak-kusuk mengatur pelaksanaan baptisan anak dengan memeriksa kehadiran orangtua yang membawa bayinya dan mengatur sertifikat yang nantinya akan diserahkan. Sampai ibadah akan dimulai jam sembilan, ternyata masih ada empat lagi yang belum hadir …

Ketika diminta pendeta resort untuk mengikrarkan hata haporseaon, para pasangan yang berjumlah puluhan (mungkin ini yang terbanyak yang pernah dilakukan di jemaat ini …) nyaris tidak kedengaran suaranya. Pendeta mulai marah dan meminta mereka untuk mengulangi dengan suara yang keras. Hanya ada sedikit penambahan volume suara. Karena duduk di belakang, maka aku bisa menghitung: ada tujuh pasangan yang kelihatan tidak perduli (terutama kaum bapaknya …), malah ‘ngobrol dengan bayinya dan atau isterinya … Sangat memprihatinkan, apalagi kalau aku bandingkan dengan persiapan yang aku lakukan saat membawa Auli untuk dibaptis, wah … Menurutku, kesadaran bahwa membawa anak untuk dibaptis adalah salah satu kewajiban utama dan rohaniah orangtua yang belum berhasil dipahami oleh sebagian besar pasangan tersebut. Kemeriahan berfoto langsung setelah turun dari altar membuktikan bahwa pembaptisan tersebut tidak lebih dari sekadar ritual bagi mereka! Bahkan sebagian besar lupa bahwa kegiatan pembaptisan tersebut masih di dalam acara ibadah yang seharusnya tetap perlu dijaga kekhidmatannya …

IMG_1637[1]

Setelah pembaptisan anak, dilanjutkan dengan pembaptisan orang dewasa. Menurut pernyataan pak pendeta mereka yang dibaptis ini adalah dalam situasi “terdesak” karena mereka adalah pasangan yang akan segera melangsungkan perkawinan. Hal yang sama terjadi, saat mengikrarkan hata haporseaon suaranya juga “nyaris tak terdengar”. Dan ini membuat pak pendeta (yang selama ini sering dianggap sangat tegas, bahkan sering pula “kebangetan” …) ‘nggak sabaran sehingga berkata: “Mana suara kalian? Masak mengikrarkan itu saja ‘nggak bisa? Makanya, belajar dengan serius! Ketahuan sekali kalian dalam keadaan terdesak! Ulangi lagi!” Melihat kemarahan pak pendeta, aku jadi bertanya-tanya, apakah ‘nggak dilakukan persiapan dan latihan sebelumnya? ‘Ngapain aja selama ini?

IMG_1638[1]

Entah dapat “wahyu” dari mana, mendadak pak pendeta meminta guru huria untuk mengambil agenda berbahasa Indonesia yang lalu dengan sigap setengah berlari masuk ke bilut parhobasan. Tak berapa lama, datang dengan permintaan tersebut dan menyerahkannya ke pak pendeta yang mulai merah mukanya. Aku sempat menduga bahwa pak pendeta masih ingin “menguji” pasangan-pasangan tersebut dan menjadikan “alih bahasa” tersebut sebagai “ujian akhir” untuk membuktikan bahwa semua pasangan tersebut “hau-hau” …

Namun apa yang terjadi? Ajaib! Pengucapan ikrar berjalan sangat lancar dan dengan suara yang kuat. Beberapa warga jemaat yang hadir tertawa dan terdengar ada kepuasan. Nah, kena lo … eh ma’af, pak pendeta!