“Mana Suaramu? Makanya, Serius!”, Kata Pak Pendeta di Altar

Natal Kedua, 26 Desember 2012 yang lalu aku beribadah di Medan, gereja tempat aku menghabiskan masa-masa Sekolah Minggu sampai menjelang pemberkatan nikah. Tentu saja banyak kenangan dengan gereja dan persekutuan di sini. Aku bertemu dengan beberapa orang yang sangat aku kenal dan “mewarnai” kehidupanku dalam berjemaat. Salah seorang di antaranya adalah penatua yang dulunya adalah paniroi kami saat ber-NHKBP. Ketika itu ada pergolakan di HKBP, dan beliau sangat fanatik mendukung salah seorang eforus bahkan mengajak kami untuk berdemonstrasi. Sesuatu yang ‘nggak pantas, menurutku saat itu. Karena bagiku tidak penting siapa yang jadi eforus, yang paling utama adalah bagaimana persekutuan dan pelayanan jemaat. “Tak penting kita ikut-ikutan berdemo,”, kataku saat itu kepada kawan-kawanku pengurus NHKBP di jemaat, “Yang merebut jabatan dan kekuasaannya orang-orang itu semua. Dan masing-masing punya alasan untuk membenarkan diri. Lain ceritalah kalau kita dilarang beribadah di gereja, kalau itu aku pasti akan protes. Daripada demo dan membuat rusuh, mendingan kita urus NHKBP kita ini”.

Saat itu beliau termasuk penatua yang “terlihat” di antara sedikit penatua yang “layak diperhitungkan”. Berpendidikan (suami isteri sarjana, pegawai tetap, dan bekerja di tempat bonafid …), punya akses yang luas, yang tentu saja punya pengaruh yang lumayan di jemaat. Namun, ada satu yang membuatku tidak simpatik selain aktivitasnya dalam menggerakkan jemaat untuk berdemo: beliau tidak bersedia maragenda. Aneh juga kalau ada sintua tapi tak maragenda, ya? Puncaknya adalah ketika serah-terima pendeta resort di mana beliau terlihat sekali berupaya menggagalkannya dan siap membuat kerusuhan di jemaat. Aku tidak membela pihak manapun (karena keduanya menurutku sangat jauh dari sikap selaku pemimpin gereja), dan tidak setuju pergantian pendeta dengan alasan yang bukan berorientasi pada pelayanan jemaat yang lebih baik, namun kalau jadi membuat rusuh tentulah tidak pantas dilakukan di gereja …

Begitulah yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Dan hari itu, aku terkejut ketika ada seorang yang sudah berumur dengan langkah yang tidak stabil (“bergoyang-goyang” …) mendadak mendatangiku yang sudah duduk di bangku barisan belakang di dalam bangunan gereja (karena aku bersiap-siap untuk bersaat teduh). Tanpa bicara (karena sudah sulit untuk berbicara dengan jelas), beliau mengulurkan tangan menyalamku. Tentu saja aku sambut dengan berdiri dan tersenyum gembira sambil menanyakan kabar (yang tentu saja tidak ada sahutan …). Setelah kembali ke posisiku semula, aku tersadar bahwa beliau adalah paniroi NHKBP pada masa aku dahulu jadi pengurusnya. Beliau terserang stroke sehingga membuat kondisi fisiknya menurun sangat drastis seperti itu. Meskipun aku tahu bahwa tidak semua penyakit adalah hukuman dari Tuhan, namun pertemuan tersebut mengingatkanku agar berhati-hati dalam hidup ini. Tuhan tidak buta dan tidak tuli, ‘kan ya?

Karena Natal Kedua hanya berlaku di HKBP (dan pasti sedikit warga jemaat yang akan hadir beribadah), ada strategi yang dilakukan oleh gereja tersebut (dan sudah berlangsung sejak aku masih aktif berjemaat di sana), yaitu mengadakan kegiatan pembaptisan anak dan orang dewasa. Nah, inilah yang aku mau ceritakan.

Sebelum ibadah dimulai, guru huria sudah kasak-kusuk mengatur pelaksanaan baptisan anak dengan memeriksa kehadiran orangtua yang membawa bayinya dan mengatur sertifikat yang nantinya akan diserahkan. Sampai ibadah akan dimulai jam sembilan, ternyata masih ada empat lagi yang belum hadir …

Ketika diminta pendeta resort untuk mengikrarkan hata haporseaon, para pasangan yang berjumlah puluhan (mungkin ini yang terbanyak yang pernah dilakukan di jemaat ini …) nyaris tidak kedengaran suaranya. Pendeta mulai marah dan meminta mereka untuk mengulangi dengan suara yang keras. Hanya ada sedikit penambahan volume suara. Karena duduk di belakang, maka aku bisa menghitung: ada tujuh pasangan yang kelihatan tidak perduli (terutama kaum bapaknya …), malah ‘ngobrol dengan bayinya dan atau isterinya … Sangat memprihatinkan, apalagi kalau aku bandingkan dengan persiapan yang aku lakukan saat membawa Auli untuk dibaptis, wah … Menurutku, kesadaran bahwa membawa anak untuk dibaptis adalah salah satu kewajiban utama dan rohaniah orangtua yang belum berhasil dipahami oleh sebagian besar pasangan tersebut. Kemeriahan berfoto langsung setelah turun dari altar membuktikan bahwa pembaptisan tersebut tidak lebih dari sekadar ritual bagi mereka! Bahkan sebagian besar lupa bahwa kegiatan pembaptisan tersebut masih di dalam acara ibadah yang seharusnya tetap perlu dijaga kekhidmatannya …

IMG_1637[1]

Setelah pembaptisan anak, dilanjutkan dengan pembaptisan orang dewasa. Menurut pernyataan pak pendeta mereka yang dibaptis ini adalah dalam situasi “terdesak” karena mereka adalah pasangan yang akan segera melangsungkan perkawinan. Hal yang sama terjadi, saat mengikrarkan hata haporseaon suaranya juga “nyaris tak terdengar”. Dan ini membuat pak pendeta (yang selama ini sering dianggap sangat tegas, bahkan sering pula “kebangetan” …) ‘nggak sabaran sehingga berkata: “Mana suara kalian? Masak mengikrarkan itu saja ‘nggak bisa? Makanya, belajar dengan serius! Ketahuan sekali kalian dalam keadaan terdesak! Ulangi lagi!” Melihat kemarahan pak pendeta, aku jadi bertanya-tanya, apakah ‘nggak dilakukan persiapan dan latihan sebelumnya? ‘Ngapain aja selama ini?

IMG_1638[1]

Entah dapat “wahyu” dari mana, mendadak pak pendeta meminta guru huria untuk mengambil agenda berbahasa Indonesia yang lalu dengan sigap setengah berlari masuk ke bilut parhobasan. Tak berapa lama, datang dengan permintaan tersebut dan menyerahkannya ke pak pendeta yang mulai merah mukanya. Aku sempat menduga bahwa pak pendeta masih ingin “menguji” pasangan-pasangan tersebut dan menjadikan “alih bahasa” tersebut sebagai “ujian akhir” untuk membuktikan bahwa semua pasangan tersebut “hau-hau” …

Namun apa yang terjadi? Ajaib! Pengucapan ikrar berjalan sangat lancar dan dengan suara yang kuat. Beberapa warga jemaat yang hadir tertawa dan terdengar ada kepuasan. Nah, kena lo … eh ma’af, pak pendeta!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s