Andaliman-214 Khotbah 27 Januari 2013 Minggu Septuagesima

Baca, Percaya, Lakukan dengan Kuasa Roh Tuhan!

Nas Evangelium: Lukas 4:14-21

4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.

4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Yesus ditolak di Nazaret

4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Nas Epistel: Nehemia 8:1-11

8:1 (8-2) maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.

8:2 (8-3) Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti.

8:3 (8-4) Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.

8:4 (8-5) Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.

8:5 (8-6) Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.

8:6 (8-7) Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.

8:7 (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.

8:8 (8-9) Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

8:9 (8-10) Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

8:10 (8-11) Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

8:11 (8-12) Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!” 

Zaman dahulu – ketika kitab suci tidak sesederhana sekarang dalam bentuk buku yang rapi dan digital seperti yang ada sekarang ini – pembacaan firman Tuhan dapat dilakukan setiap pria dewasa dengan membuka gulungan papirus dengan kedua belah tangan dengan izin khusus pejabat bait suci (sinagoga). Yesus mendapat kesempatan tersebut hari itu sebagaimana dicantumkan dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dan – bukan suatu kebetulan pula! – nas yang dibuka dan dibaca adalah nubuat nabi Yesaya tentang kedatangan mesias yang sudah sangat lama dinantikan oleh bangsa Yahudi.

Dalam kondisi yang dipenuhi Roh Kudus (sebagai kelanjutan memenangkan pencobaan iblis sebagaimana tertera dalam perikop sebelumnya), Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Dia-lah yang dimaksud Yesaya sebagai orang yang akan “menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Secara eksplisit, Yesus menyatakan bahwa Dia-lah juru selamat yang ditunggu-tunggu oleh mereka …

Ada beberapa hal menarik yang layak dicatat, yakni:

(1) Yesus melakukan pekerjaan-Nya dengan kuasa Roh Kudus yang ada pada-Nya. Aku mengimani bahwa Roh Kudus ada padaku (sebagaimana juga ada pada semua orang percaya), hanya “porsi-Nya” yang tidak selalu memadai dalam menyampaikan firman Tuhan dengan penuh kuasa, dan juga menyampaikan kebenaran dengan kapasitas penuh. Meskipun dalam banyak kesempatan aku merasakan dorongan tersebut dalam hatiku, seringkali pula aku menyampaikan firman Tuhan dengan “biasa-biasa saja” … Menurutku, ini adalah pembeda antara orang beragama dengan orang beriman; orang beriman dalam setiap tindakannya selalu didorong oleh kuasa Roh Kudus sedangkan orang beragama belum tentu seperti itu. Bukan hanya “kaum awam” (maksudnya warga jemaat biasa), para pelayan Tuhan (parhalado) kemungkinan besar dihinggapi gejala ini (bekerja tanpa kuasa Roh) kalau melakukan pekerjaan sekadar memenuhi rutinitas dan sekadar ritualitas.

(2) Hal yang disampaikan-Nya sangat mengena dengan situasi psikologis kaum Yahudi yang mendengarnya yang sedang dibelenggu penjajahan Romawi yang mengakibatkan banyak hal yang tidak menyenangkan, misalnya pajak yang sangat tinggi (sehingga membuat jatuh miskin), pengurangan hak-hak sipil (yang membelenggu dan membatasi kebebasan), dan pemaksaan dalam menganut kepercayaan (yang membutakan rohani mereka). Ada kemungkinan Yesus menyampaikan hal ini yang hubungannya dengan urusan duniawi, namun aku mengimani bahwa bobotnya yang sebenarnya adalah urusan surgawi. Pernyataan yang sangat berani tersebutlah (yang bisa dikesankan bertentangan dengan sikap penjajah Romawi) yang membuat pendengar-Nya terpana dan kemudian kecewa ketika selanjutnya konsep penyelamatan yang diajarkan Yesus sangat jauh berbeda dengan harapan mereka yang duniawi. Yang semula mereka sangat terkesan dengan khotbah Yesus yang penuh kuasa, akhirnya kecewa dan menolak Dia apalagi mereka yang cenderung menghubungkannya dengan status keduniawian Yesus yang hanyalah “sekadar” anak tukang kayu …

Berbeda dengan Yesus, ada begitu banyak pengkhotbah yang aku tahu yang seolah-olah mirip dengan pengalaman Yesus ini. Sangat berwibawa dan seakan penuh kuasa ketika menyampaikan firman Tuhan, namun warga jemaat kemudian menolaknya manakala kehidupan keseharian para pengkhotbah tidak sejalan dengan firman Tuhan yang mereka sampaikan. Ada juga yang menolak karena kehidupan kesehariannya tidak sejalan dengan apa yang diinginkan mereka (ini sangat berbahaya karena belum tentu semua keinginan mereka/warga jemaat sejalan dengan firman Tuhan …).

Hal pembacaan kitab suci sebagaimana dilakukan Yesus juga dilakukan Ezra dengan pembacaan hukum Taurat sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Dengan respon yang sama, yakni diperhatikan oleh umat yang mendengarkan dengan sangat tertarik.

Khotbah bisa menarik kalau merupakan ekspresi kehidupan dan pengalaman hidup dari sang pengkhotbahlah yang disampaikan sehubungan dengan firman tersebut. Bukan jualan “kecap”, melainkan firman Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan-lah yang disampaikan. Dan harus dimengerti sehingga sang pengkhotbah mampu menerangkan firman yang disampaikannya. Pastilah penyampaian firman akan semakin berkuasa dengan pertolongan Roh Kudus saat penyampaiannya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi:

Sangat menarik nas perikop Minggu ini. Sebagai warga jemaat, pesannya adalah sebagai berikut:

(1) Pembacaan firman Tuhan hendaknya dijadikan sebagai rutinitas dalam kehidupan. Lha, Yesus aja masih membaca firman Tuhan, koq kita “nekad” untuk ‘nggak membaca firman?

(2) Selain membaca, upayakan juga mengerti akan bacaan tersebut. Supaya terhindar dari salah tafsir, bagus jugalah kalau Alkitab didampingi dengan penjelasannya.

(3) Nah, yang paling utama: jadilah pelaku firman! Jangan sekadar agamis, tapi haruslah jadi orang yang imanis!

(4) Dengarkanlah firman yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikannya. Sulit juga, ya?

Demikian jugalah sebagai pelayan jemaat, yang secara khusus pesan tambahannya adalah:

(1) Kalau menyampaikan firman Tuhan – berkhotbah, misalnya – sebaiknya dipahami terlebih dahulu nas yang mau disampaikan. Diinteriofikasi, dihubungkan dengan pengalaman hidup, diyakini kebenaran firman tersebut, setelah mantap barulah disampaikan. Aneh, ‘kan kalau pengkhotbah sendiri tidak paham dengan firman yang mau disampaikan? Apalagi kalau tidak mengimani! Ada yang seperti itu?

(2) Sampaikanlah khotbah sebagai media dalam menguatkan iman warga jemaat. Bukan untuk menakut-nakuti! Jangan pula jadikan khotbah sebagai alat untuk “membalas dendam”. Lho? Iya, ada saja pengkhotbah yang memanfa’atkan mimbar sebagai media untuk “menghantam lawan-lawan politiknya” di jemaat. Ada yang seperti itu?

(3) Selaraskanlah firman dengan perbuatan, atau lebih tepatnya: selaraskan perbuatan dengan firman. Artinya supaya firman tersebut “berkuasa” dan “nyata”, hendaknya pengkhotbah adalah juga pelaku firman. ‘Gimana kita berkhotbah tentang damai sejahtera dalam mimik yang jelas-jelas menunjukkan gundah gulana dan rusuh? Ada yang seperti itu?

Sulit? Tidak mudah, memang. Tapi, dengan percaya akan pertolongan Roh Kudus yang ada pada kita, semuanya akan dipermudah. Percaya saja! 

Iklan

One comment on “Andaliman-214 Khotbah 27 Januari 2013 Minggu Septuagesima

  1. thanks untuk postingannya Pak…!!!!!
    saya merasa diberkati….

    mohon di posting dong pak,,dalam bentuk PA..supaya mampu memperdalam pengetahuan tentang ayat_ayat alkitab.

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s