Pindah! Ke “Tanah Perjanjian”. Terima Kasih, Tuhan!

Setelah tertunda hampir setahun, konfirmasi perpindahan tugasku sudah aku terima beberapa bulan yang lalu. Kembali ke Jakarta setelah hampir tiga tahun (sejak 05 Maret 2010) kami tinggal di Bandung. Banyak suka dan duka selama bertugas di Bandung.

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor (berjalan kaki, sebagaimana hari-hari sebelumnya …) aku sempat mengabadikan beberapa kejadian sebagai kenang-kenangan. Walau tadi malam sudah aku beritahu ke mak Auli dan Auli bahwa truk beserta crew-nya akan datang pagi-pagi – “Bahkan sebelum kita sarapan mereka sudah akan tiba di rumah ini …”, demikian aku sampaikan – namun tetap saja masih ada keterkejutan ketika aku bangun pagi dan menghidupkan mesin mobil, ada dua truk baru parkir di jalan di depan rumah. Lalu segeralah terasa kesibukan yang tidak seperti biasanya.

IMG_1712[1]

Petugas pengangkutan yang sigap segera mengemasi barang-barang yang akan diangkut. Setelah menanyakan barang-barang mana yang akan ditinggal. Ada beberapa memang yang harus kami tinggalkan karena milik yang punya rumah.

IMG_1714[1]

Rencananya, malam nanti kami akan menginap di hotel (setelah menyerahkan kunci rumah ke penggantiku yang akan meneruskan tinggal di rumah yang dikontrak oleh perusahaan ini sampai habis periodenya di bulan Juni yang akan datang). “Sekalian ajalah kita ajak si Alfi supaya dia pernah juga merasakan nikmatnya menginap di hotel. Jangan cuma membantu kita selama ini dengan baik dan penuh perhatian”, kataku ke mak Auli tadi malam yang segera saja diiyakan waktu aku usulkan untuk memesan dua kamar di Hotel Horison.

IMG_1716[1]

Selamat tinggal, Bandung dan kenangannya … Selamat kembali ke Jakarta, “tanah perjanjian” dari Tuhan …

Andaliman-215 Khotbah 03 Februari 2013 Minggu Sexagesima

Dicari: Penyampai Firman Seperti Yeremia. Masihkah Ada? Atau Seperti yang Dipesankan oleh Yesus?

Nas Evangelium: Yeremia 1:4-10

1:4 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:

1:5 “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

1:6 Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.”

1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.

1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.”

1:9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

1:10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.”

Nas Epistel: Matius 10:5-15

10:5 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,

10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

10:9 Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.

10:10 Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

10:11 Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.

10:12 Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.

10:13 Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

10:14 Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.

10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.” 

Nas perikop untuk Minggu ini sangat mengena dengan kerinduan warga jemaat pada kualitas dan kompetensi pelayan pada saat ini. Namun, sebelumnya, aku mau sampaikan ketertarikanku tentang perikop Ev ini, yakni tentang pemilihan Yeremia sebagai utusan Tuhan. Beberapa ayatnya sangat mengesankan bagiku: bahwa sebelum dilahirkan pun, Tuhan sudah mengenal semua manusia di bumi ini. Dan Beliau juga sudah menyiapkan rencana bagi setiap orang. Takdir? Menurutku, tidak! Iman kepercayaan Kristen tidak mengenal apa yang dimaksud dengan takdir bagi agama lain. Dan perikop ini jugalah yang menguatkanku bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya memang sudah diatur oleh Tuhan. Inilah sebabnya aku selalu mengingatkan diriku untuk tidak lagi pernah menggunakan kata “kebetulan” ini.

Selain itu, perikop ini juga yang seringkali aku jadikan dasar penguatan bagi orang-orang yang merasa “kurang beruntung” dengan kelahirannya karena “kebetulan” (ma’af, ini istilah yang mereka pakai …) dilahirkan oleh seseorang yang menurutnya “kurang pantas” dengan kondisi yang “kurang pantas” pula. Bahkan bagi mereka yang “sekadar dipungut” oleh orang lain, alias oleh orang tua asuh, alias bukan orang kandung sendiri. Aku dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan memang menghendaki kelahiran setiap orang seperti yang sudah terjadi, namun Tuhan juga sudah menyiapkan rencana yang indah bagi setiap orang (tanpa memandang bagaimana situasi dan kondisi kelahirannya!). Syaratnya cuma satu: melakukan kehendak-Nya dalam setiap langkah kehidupan.

Nah, sesuai tema yang dicantumkan dalam Almanak HKBP, pesan yang ingin disampaikan nas yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini adalah sehubungan dengan pengutusan Tuhan sebagai pelayan-Nya. Keduanya menjadi sangat luar biasa bilamana memahami kondisi dan situasi saat ini. Lihatlah pesan tentang pelayanan sebagaimana yang diminta oleh kedua perikop tersebut:

(1) Kerendahhatian yang ditunjukkan oleh Yeremia – dengan menganggap dirinya “bukan apa-apa” dan “bukan siapa-siapa” karena masih mudah dan sangat jauh bedanya dibandingkan dengan orang-orang Yahudi yang akan dilayaninya. Masih adakah sikap rendah hati seperti ini yang aku tunjukkan?

(2) Tuhan merespon “kekuatiran” Yeremia tersebut dengan meyakinkannya bahwa Tuhan akan memampukannya dalam penyampaian pesan yang harus disampaikan kepada umat dan selalu menyertai. Masih adakah sikap pasrah dan mengutamakan Tuhan seperti ini yang aku tunjukkan?

(3) Kemampuan dalam “mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” dalam artian memperbaiki yang rusak. Masih adakah keberanian seperti ini yang aku tunjukkan?

Aku malu bilamana membandingkannya dengan diriku. Masih sangat jauhlah. Apalagi bila mengukur diri dengan pembekalan kepada murid-murid yang disampaikan oleh Yesus sebagaimana dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, aduuuh … malunya!

(1) Jika dalam perikop tersebut Yesus memesankan untuk jangan pergi ke bangsa Samaria (karena mereka masih menduakan Tuhan dengan penyembahan berhala) namun harus ke bangsa Israel terlebih dahulu, bagiku ini adalah menyangkut prioritas. Dan aku memahaminya dengan: “tak usah jauh-jauh dengan mengkhotbahi orang-orang lain, sebaiknya khotbahi diri sendiri terlebih dahulu, lalu orang-orang terdekat sebelum meluaskan jangkauan”. Bereskan diri sendiri dulu sebelum membereskan orang lain! Sampaikanlah berita sukacita dan kasih karunia Tuhan setelah benar-benar mengamininya. Sebelum menyampaikan khotbah, aku terlebih dahulu “mengkhotbahkannya” kepada diriku (itulah makanya aku sering “tertampar”, hehehe …

(2) Hanya kabar sukacita dan kerajaan Allah-lah yang diberitakan, jangan “kerajaan” diri sendiri. Kemuliaan Tuhan, bukan kemuliaan diri sendiri. Jika berkhotbah, aku sering mengingatkan hal ini kepada diriku, jangan sampai menceritakan pengalaman diri sendiri jika bukan untuk mempersaksikan kemuliaan Tuhan.

(3) Lakukan dengan cuma-cuma. Jangan meminta imbalan, apalagi dengan “komersialisasi firman” (gejala yang semakin banyak menjangkiti pelayan Tuhan). 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi:

Selain untuk pelayan Tuhan dalam jemaat, warga jemaat “biasa” (yang sebenarnya adalah juga seharusnya melayani Tuhan dalam hidupnya dan melalui kehidupannya) nas perikop ini sangat mengena.