Dari Konsistori (1): Pak Pendeta, Rileks Ajalah …

Walau sudah hampir setahun bertugas di jemaat ini, masih ada saja penolakan yang dilakukan oleh warga jemaat terhadap hal-hal yang dilakukan oleh pak pendeta resort. Di balik kelebihan beliau sebagai uluan huria (aktif berkunjung ke warga jemaat yang sedang sakit, egaliter, dan tegas adalah di antaranya …), ada juga hal-hal lain yang dirasakan kurang pas oleh sebagian warga jemaat. Hal-hal yang masih menjadi hambatan dan tantangan saat ini adalah tentang pembagian wilayah pelayanan (wejk), ketentuan tentang gugu taon/toktok ripe dengan jumlah tertentu yang dapat dipilih (sementara sebagian golongan lagi berpendapat bahwa ucapan syukur dan persembahan haruslah dilakukan secara sukarela tanpa perlu diatur sejak awal …), perubahan jadual ibadah Minggu dari sore hari menjadi pagi (yang menurutku adalah subuh karena jam 06.00 WIB), anggaran pelayanan jemaat (yang banyak dipotong karena pesimis dengan estimasi penerimaan …) adalah beberapa di antara yang masih menjadi perdebatan di kalangan jemaat.

Pada sermon parhalado 15 Maret 2013 terjadi (lagi) ketegangan. Pemicunya adalah surat yang diterima dari wejk yang berisi penolakan untuk mematuhi usulan pendeta. Ini bukan surat yang pertama – dan tidak pernah dibalas pula surat-surat sebelumnya – sehingga mudah dimaklumi kalau isinya pun menjadi lebih keras dan tegas. Mungkin sudah karakter, pak pendeta juga menanggapinya dengan emosi yang meluap-luap yang mengarah kepada marah dan terkesan “di luar kendali” dengan pernyataan antara lain sebagai berikut:

(1)   Saya ‘nggak takut dengan pengaduan ke Eforus. ‘Nggak usah minta ke Eforus, besok pun saya bersedia menandatangani surat pindah kalau memang itu yang diinginkan oleh jemaat di sini.   

(2)   Ada yang menuduh saya sebagai pendeta sesat. Kalau saya sesat, maka Yesus juga sesat, karena saya melayani di jemaat ini dengan menyampaikan perkataan Yesus.

Aku sangat peduli dengan pendeta ini sebagaimana juga dengan pendeta-pendeta lainnya yang bertugas di jemaat kami, karena selalu mengingat pesan orangtuaku sejak dulu. “Jangan pernah ada seorang pun yang melecehkan dan merendahkan pendeta. Siapapun itu, dan bagaimana pun yang dilakukannya, karena mereka adalah orang yang dipilih Tuhan. Kalau pun ada kelakuannya yang salah, biarlah mereka yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Bukan hak kita untuk menghakiminya”.

Pendeta resort kami ini di awalnya ada kesan penolakan dari jemaat, dalam artian sebagian besar penatua yang mengklaim mendapat masukan dari warga jemaat karena mendengar kabar dari orang-orang tentang perlakuan dan kelakuannya yang kurang baik pada jemaat tempat beliau melayani sebelumnya. Aku termasuk  di dalamnya, sehingga jauh-jauh hari mencoba mencegah beliau jangan sampai masuk ke jemaat kami karena aku tahu  psikologis jemaat kami, khususnya berhadapan dengan hal seperti ini. Aku ‘nggak tega kalau beliau mendapat perlakuan yang ‘nggak pantas dari sebagian warga jemaat yang “kurang menghargai” tohonan. Sayangnya perkembangan selanjutnya malah menjadi tidak menentu dan tidak kondusif, baik di kalangan warga jemaat maupun di penatua. Dan aku banyak belajar dari kejadian tersebut.

Untuk menjaga agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berdampak negatif terhadap pelayanan, maka usai sermon parhalado aku sempatkan ‘ngomong dengan pak pendeta. Semula masih ada beberapa penatua yang ‘nimbrung (dengan duduk berjauhan  mungkin menjaga jarak dengan pak pendeta yang temperamental mengingat hal yang baru terjadi saat sermon …), namun tidak lama kemudian pulang satu demi satu. Tinggallah kami berdua.

Setelah usai mendengarkan pendapat dan pandangan beliau dengan sangat panjang dan lebar yang disertai dengan perdebatan dan diskusi,  maka aku pun menyampaikan saranku yang pada intinya agar beliau lebih menjaga dan mengendalikan emosi: Amang pendeta, sebaiknya jangan mudah terpancing marah, apalagi di hadapan penatua. Tidak semua kami penatua di sini punya cara pandang dan pemahaman yang sama. Bisa-bisa apa yang disampaikan tadi langsung sampai ke warga jemaat malam ini juga, dan bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kemudian kalau pesan yang disampaikan tidak utuh. Apalagi kalau ada yang menambah-nambahi. Rileks sajalah mengurus jemaat ini. Wajah kita hampir sama, yakni kurang ramah dipandang orang. Jadi, kita harus lebih banyak menunjukkan sikap ramah. Karena walau kita bermaksud tegas, orang-orang bisa memahami berbeda. Perlu kita cari cara berkomunikasi dengan baik ke warga jemaat dan penatua di jemaat ini. Aku sudah lebih lama di jemaat ini, dan kali ini aku harus memberi tahu ke amang pendeta supaya pelayanan kita menjadi lebih baik …”.

Malam semakin larut dan sudah lewat tengah malam. Ketika keluar dari bilut parhobasan dan melintasi ruang sekolah Minggu di lantai dasar yang bersebelahan, aku sudah ‘nggak melihat lagi punguan ama yang jadual latihan koornya adalah Jum’at malam bersamaan dengan sermon parhalado. Masuk ke mobil, aku tatap sejenak bangunan gereja, lalu meluncur pulang ke rumah. Di jalan, aku sempat merenung (dan untungnya jalanan raya Jakarta – Bekasi sudah sepi …) sampai kapan situasinya harus terus terjadi. Tak lupa aku memohon kepada Tuhan untuk diberikan kemampuan agar selalu bisa membantu menenteramkan hati orang-orang di jemaat ini, baik warga jemaat, maupun yang lainnya, dan termasuk juga para pelayan tahbisan …