Sarang Baruku …

IMG_2633[1]

Iklan

Andaliman-228 Khotbah 05 Mei 2013 Minggu Rogate

Berdo’alah … Kenapa ‘Nggak?

Evangelium Roma 12:9-12 (bahasa Batak Rom)
12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Epistel Matius 7:7-10
7:7 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

Punya foto lukisan atau lukisan Yesus sedang mengetuk pintu? Ini adalah salah satu snapshot populer kehidupan Yesus yang banyak diekspos (selain perjamuan kudus, sebagai gembala, dan disalib yang relatif mudah dijumpai di banyak rumah orang Kristen …). Coba perhatikan dan amati pintu yang diketuk oleh Yesus: adakah gerendelnya? Adakah engsel pembuka pintunya? Hari ini aku melihat 37 versi lukisan tersebut, dan hanya dua pelukis yang memperlihatkan engsel pembuka tersebut. Lainnya? Pelukis “lupa” melukiskan satu bagian dari pintu yang sangat penting tersebut … kenapa?

Besar kemungkinan penyebabnya adalah memang kondisi pintu tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa. Kenapa? Karena Yesus ‘nggak membutuhkan engsel tersebut! Ya, Yesus hanya mengetuk, selanjutnya terserah pemilik rumah (atau yang tinggal di balik pintu tersebut) apakah bersedia mendengar ketukan lalu membukakannya bagi Yesus. Atau malah hanya pura-pura tidak mendengar, lantas tidak akan membuka pintu. Artinya: semua orang diketuk – disapa oleh Yesus melalui firman – pintu hatinya, namun semuanya kembali ke pribadi masing-masing, apakah bersedia membukakannya atau tidak …

Yang mengetuk pintu aja pun adakalanya tidak akan dibukakan, bagaimana pula kalau sama sekali tidak pernah mengetuk? Kalau masih ingat teori kemungkinan dalam pelajaran matematika, yang mengetuk pintu tetaplah lebih baik (karena masih punya peluang, sekecil apapun itu …) daripada yang tidak mengetuk (karena tidak ada peluangnya sama sekali!). Demikianlah kehidupan doa sebagaimana disampaikan Yesus dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini yang mengingatkan agar jangan pernah jemu mengetuk pintu karena hanya bagi pengetuk pintulah akan dibukakan pintu.

Pesan yang bisa aku tangkap dari nas ini adalah bahwa tidak ada yang “otomatis” dalam kehidupan ini, selain harus “memperjuangkannya” (ada yang ringan, adapula yang berat, namun semuanya harus diperjuangkan …). Setiap orang harus meminta, harus mencari, dan harus mengetuk supaya “berhak” untuk menerima, mendapatkan, dan dibukakan pintu baginya.
Secara spesifik, ini bicara tentang do’a. Maksudnya, apa yang diminta, dicari, dan diketuk adalah dialamatkan ke Yesus dengan medianya adalah do’a. Dan harus dilakukan secara terus-menerus, tanpa menyerah, dan jangan lupa juga: harus pada pintu yang benar dan tepat. Jangan salah mengetuk!

Jangan salah mengetuk? Ya. Karena kalau salah mengetuk, bisa pula berakibat salah meminta. Salah meminta tentu saja berpotensi akan salah menerima ketika pintu dibukakan. Aku seringkali bertanya kepada Tuhan tentang permohonanku yang seringkali tidak dikabulkan (dan sekarang aku sadar bahwa untunglah tidak semua dikabulkan, karena belum tentu semua yang aku minta adalah yang terbaik bagiku karena bukan kebutuhanhku, melainkan sekadar keinginanku).

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi
Tuhan selalu menjawab doa, dengan tiga kemungkinan: iya, tunggu dulu, dan tidak. Semua jawaban tersebut menuntut respon dari kita: bersyukur dan memuji Tuhan, sabar lagi, dan mengimani bahwa yang terbaik selalu datangnya dari Tuhan. Konsep “yang terbaik” ini patut kita pahami dengan baik, dengan pertimbangan:
(1) Semua haruslah sesuai dengan kehendak Tuhan, karena Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik dengan kita yang sudah pasti bukanlah “batu sebagai pengganti roti” dan atau “ular sebagai pengganti ikan”. Roti dan ikan berarti kebutuhan mendasar/utama/primer, dan bilamana mengingat peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang dewasa dan laki-laki, ini sepatutnya menguatkan kita bahwa Tuhan peduli dengan kebutuhan kita dan punya kuasa dalam menggandakannya untuk memenuhi kebutuhan kita.

(2) Sebagai anak-Nya, kita “berhak” untuk meminta. Yang terbaik, bahkan yang jauh lebih baik daripada apa yang kita bisa berikan kepada anak(-anak) kita.

(3) Tidak semua do’a permohonan dikabulkan. Tidak ada keharusan akan hal tersebut. Oleh sebab itu, dalam do’a, kita juga sebaiknya meminta kepada Tuhan agar dikuatkan dalam menerima jawaban dari Tuhan. Apapun jawaban-Nya itu!

(4) Sebagai nafas kehidupan, do’a harus dilakukan terus-menerus. Jangan mudah menyerah, dalam artian mudah tergoda untuk tidak berdo’a dengan berbagai alasan, termasuk belu dikabulkan di dalamnya.

Ingatlah, tidak ada alasan untuk tidak berdo’a!

Presentasi Khotbah Sudah Siap, eh … Kabel Proyektornya Hilang Pula!

Tahun 2013 ini ada hal baru di jemaat kami. Setelah sempat “dilarang” bertahun-tahun, Rapat Jemaat Januari yang lalu menyepakati untuk membuka kesempatan bagi penatua untuk berkhotbah. Tapi, masih sebatas di partangiangan wejk. Di mimbar pada waktu ibadah Minggu, masih belum boleh. Apa dasarnya? Entahlah, lebih baik tidak berusaha mencari tahu penyebabnya karena semakin sering ditanyakan semakin sering pula menerima jawaban yang ‘nggak masuk akal (apalagi yang alkitabiah …).

Beragam tanggapan di kalangan warga jemaat, beragam pula tanggapan di kalangan parhalado khususnya penatua. Sebagian besar penatua “kaget”, dan menyampaikan berbagai alasan untuk menyatakan ketidaksiapan dalam berkhotbah. Bagiku, ini aneh: koq sintua malah “menghindar” untuk berkhotbah, bukankah pelayanan sebagai penyampai firman merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab selaku penatua? Bukan sok-sokan, aku malah menunggu “tantangan” untuk berkhotbah di mimbar pada saat ibadah Minggu. Siapa takut? Toh di Bandung aku sudah melakukannya berkali-kali …

Sejak kuliah di program pasca sarja STT Jakarta beberapa tahun silam aku malah sempat punya kerinduan untuk menyampaikan firman Tuhan dengan menggunakan multimedia (bahkan ada angan-anganku dengan beberapa orang kawan sekantor yang adalah pelayan jemaat, membawa LCD-projector ke mana-mana untuk berkhotbah yang sayangnya belum menjadi kenyataan sampai saat ini …). Itulah sebabnya mengapa pada suatu kali ketika mengikuti ibadah minggu di Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong di Bandung aku kaget sekaligus kagum manakala pendetanya menyampaikan firman dengan Power Point! Dan LCD projector tersebut sudah melekat permanen pada bangunan gereja dengan pipa panjang yang menjulur dari plafon dengan unit proyektor yang diatur pas sedemikian rupa. Dan dalam setiap ibadah, gereja tersebut selalu memanfa’atkan teknologi ciptaan manusia tersebut (yang pastinya adalah karunia Tuhan) untuk menampilkan lagu-lagu yang dinyanyikan bersama-sama. Selain itu, juga digunakan untuk menayangkan video clip berisi program pelayanan jemaat. Situasi seperti inilah yang membuatku sedih, kenapa jemaat kami di tengah-tengah pusat kota Jakarta ternyata masih terbelakang dalam hal pemanfaatan teknologi.

Tahun lalu saat ditunjuk sebagai Sekretaris Panitia Jubileum 25 Tahun gereja, aku menyampaikan kepada Panitia Pembangunan yang adalah bagian dari Panitia Jubileum agar jangan lupa untuk menyediakan LCD-projector yang permanen untuk pelayanan dan ibadah seperti dimiliki oleh GII di Bandung tersebut. Saat itu diiyakan dengan mengatakan, “Sudah, amang tenang aja. Infrastrukturnya sudah kami sediakan, koq …”. Sampai pembangunan gereja selesai dan hari ini jika datang ke gereja, yang terlihat hanyalah pipa dan engsel sebagai “monumen” yang bisa ditunjukkan oleh Panitia Pembangunan sebagai “niat” dalam mengadakan LCD-projector di gereja kami. Menyedihkan, memang …

Oh, ya beberapa tahun yang lalu kami – beberapa orang penatua yang “berpikiran maju” – urunan dalam pembelian satu unit LCD projector. Kami yang beberapa orang ini melihat itu sebagai kebutuhan dalam pelayanan jemaat, karena kami terlibat dalam pengajaran kelas sidi dan pra-sidi. Oh ya (lagi), proyektor pertama tersebut umurnya kurang dari setahun aja dan kami harus urunan lagi untuk membeli penggantinya. Kenapa? Rusak? Bukan! Tapi, hilang di rumah pendeta! Sesuatu yang sampai saat ini aku belum bisa menerima kehilangan tersebut begitu saja …

Bolehlah dikatakan, bahwa aku adalah salah seorang yang paling sering menyampaikan pelajaran di jemaat dengan menggunakan LCD projector. Bahkan di partangiangan wejk (ketika penatua masih belum dibolehkan secara resmi berkhotbah …) aku sudah memanfa’atkan proyektor dalam beberapa kali kesempatan dalam menyampaikan khotbah. Dan ketika ada “ibadah khusus”(yang setelah berjalan sedikit tahun, lalu dihapuskan sejak tahun 2013 ini karena peminatnya yang sangat sedikit dengan rata-rata 50 orang dalam setiap ibadah), yakni ibadah di sore hari dengan menggunakan liturgi yang berbeda dengan ibadah “normal” di pagi hari, proyektor tersebut digunakan selama ibadah (kecuali untuk khotbah).  

Begitulah, 13 Maret 2013 yang lalu aku mendapat “kehormatan” untuk berkhotbah di partangiangan wejk. Bukan di wejk kami, melainkan di wejk Nazareth yang warga jemaatnya berdomisili di sekitar gereja. Sebagaimana kalau mendapat tugas pelayanan “khusus” seperti ini (baca: pelayanan di luar yang normal dan regular) aku pun mempersiapkannya secara khusus pula. Aku siapkan presentasi khotbah dan video clip untuk membuatnya lebih menarik. Juga bahan-bahan untuk diskusi, karena aku tahu wejk ini punya warga jemaat yang lebih banyak dan ada beberapa warga jemaat yang senior dan kritis pada pelayanan. Cocoklah! Bagiku itu semua tantangan yang membuatku harus lebih baik mempersiapkan pelayanan.

Karena tidak mengetahui rumah warga jemaat yang menyediakan tempat untuk ibadah pada malam itu, aku pun meminta kesediaan penatua wejk tersebut (yang adalah kawanku seangkatan ketika sama-sama learning tiga tahun silam) untuk bareng denganku berangkat dari komplek gereja. Sekalian menjemput proyektor dari inang pandita yang selama ini menyimpan proyektor tersebut manakala ‘nggak ada yang memakai. Malam itu aku menerima proyektor tersebut dari isteri koster yang menjadi titipan inang pandita, lalu aku mencoba sendiri berangkat ke rumah warga jemaat yang manjabui malam itu karena penatua yang tadinya berjanji bareng denganku dari gereja ‘nggak muncul juga walau sudah lewat jam setengah delapan. Berulangkali aku coba menelepon ke ponselnya, tapi ‘nggak diangkat. Sebelumnya, begitu berangkat dari kantor menuju gereja sudah aku kirimin pesan-pendek, namun juga ‘nggak berjawab. Jadilah aku mengandalkan GPS (global positioning system) yang aku pasang di mobil ketika masih di Bandung sebegitu tahu aku akan pindah kembali ke Jakarta. Dulu aku ‘nggak butuh GPS karena masih punya sopir pribadi yang selalu bersedia mengantarkanku ke mana aku harus pergi …

Singkat cerita, aku sampai juga di rumah warga jemaat (yang ternyata kepala rumah tangganya adalah salah seorang guru Sekolah Minggu di mana aku adalah pendampingnya saat ini …). Setelah berhasil memarkirkan mobil di lahan yang sempit, aku pun lantas mempersiapkan peralatan khotbah. Dan, alangkah terkejutnya aku! Setelah mencari-cari, tetap juga aku ‘nggak menemukan salah satu kabel untuk menghubungkan notebook dengan proyektor tersebut. Karena sudah lewat jam setengah sembilan, aku pun memutuskan untuk memulai aja ibadah dengan terpaksa tidak menggunakan proyektor tersebut. Bubarlah persiapan yang sudah mantap! Apa boleh buat, akhirnya aku mengandalkan daya ingatku tentang materi tersebut. Untung aja (masih ada untungnya juga, hehehe …) aku sudah siapkan juga hard copy-nya sehingga aku ‘nggak blank sama sekali …

Walau ada rasa kecewa – tidak memeriksa peralatan saat menerimanya tadi yang memang ‘nggak ada pada isteri koster, yang aku tahu kemudian ternyata hilang entah oleh siapa pemakai terakhir – aku tetap berusaha menyampaikan khotbahku dengan sebaik mungkin. Aku bersyukur pada Tuhan karena pelayanan pada malam itu berjalan dengan baik, bahkan “terpaksa” harus ditutup karena sudah lewat tengah malam akibat diskusi yang sangat panjang dengan topik yang sangat menarik …

(Catatan: Malam itu sebegitu menyadari bahwa proyektor yang aku terima tidak dalam keadaan yang lengkap, aku langsung menelepon inang pandita, namun – mungkin karena sedang melayani di wejk yang lain – tidak diangkat. Hari Minggunya aku tanyakan, yang dijawab bahwa beliau juga ‘nggak mengetahui bahwa kabel VGA tersebut hilang karena menerima dari pemakai terakhir sudah begitu sambil menyarankan agar aku menghubungi pengurus Sekolah Minggu karena mereka yang terakhir memakai. Ada juga info dari pak pendeta resort bahwa pemakai sebelumnya adalah salah seorang penatua ketika ada acara kantor di Anyer. Karena semua yang aku tanyakan mengatakan “tidak bertanggung jawab” dan parhalado parartaon juga mengatakan “tidak mampu” menyediakan kabel pengganti – ditambah kekuatiranku bahwa kalau ‘nggak ada kabel VGA tersebut maka proyektor tersebut bakal rusak permanen karena ‘nggak ada yang peduli – maka aku pun membeli kabel ketika sedang menemani Auli dan mamaknya membeli MP3 player dan memperbaiki Galaxy Tab-nya yang ‘nggak bisa dipakai karena masalah provider di Grand Cakung Mall.).

Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6

Andaliman-227 Khotbah 28 April 2013 Minggu Kantate

Siapa pun dan Apa pun, Semuanya … Pujilah Tuhan!

Evangelium Kisah Rasul 11:15-18 (bahasa Batak Ulaon Parapostel)
11:15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
11:16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
11:17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”                                                                                                                                                                              11:18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

Epistel Mazmur 148:1-14 (bahasa Batak Psalmen)

148:1 Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
148:2 Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!
148:3 Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!
148:4 Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!
148:5 Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
148:6 Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.
148:7 Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya;
148:8 hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya;
148:9 hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras:
148:10 hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap;
148:11 hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia;
148:12 hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda!
148:13 Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.
148:14 Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!

Setelah ber-Jubilate pada Minggu lalu, maka Minggu ini diserukan untuk ber-Kantate, yang artinya supaya semua makhluk – yang hidup maupun yang mati – untuk memuji Tuhan dengan nyanyian yang baru. Apanya yang baru? Kalau merujuk pada lagu-lagu rohani, tidak selalu muncul yang baru (bahkan kalau kita sempatkan singgah ke toko kaset dan VCD/DVD, yang paling sering adalah pembuatan album yang seolah-olah baru karena isinya hanyalah sekadar kompilasi). Kalau secara khusus bicara tentang “buku nyanyian wajib” HKBP, yakni Buku Ende, maka sudah pastilah ‘nggak ada lagi yang baru karena sebagian besar yang ada tercantum adalah hasil gubahan berabad-abad yang lalu. Apalagi kalau Mazmur (seperti yang dipesankan pada perikop Minggu lalu) yang usianya pastilah jauh lebih tua daripada Buku Ende karena usianya hampir sama dengan usia peradaban manusia.

Nyanyian bisa saja dengan syair yang lama, namun semangat menyanyikannya haruslah dengan ucapan syukur dan semangat memuji yang baru setiap hari. Dan tidak terbatas pada nyanyian, melainkan pada segala bentuk pemujian bagi Tuhan.

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini menenangkan dengan prinsip pembaharuan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Dulunya dibaptis dengan air, sekarang dengan Roh. Pembaptisan adalah pembaharuan. Keberalihan dengan meninggalkan sikap hidup yang lama kepada hidup yang baru, yang dimaknai sebagai pertobatan. Dan perubahan itulah yang patut dinyanyikan sebagai nyanyian yang baru, artinya dipersaksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi
Pemazmur sebagaimana yang terpilih sebagai Ep Minggu ini menjelaskan bahwa semuanya – makhluk hidup dan mati, yang bernafas maupun yang tidak, yang bergerak maupun yang diam – diminta untuk memuji Tuhan. Supaya lebih jelas, pemazmur juga makin menekankan tentang “lapisan” dunia, yakni langit (yang di atas langit, karena pemahaman bahwa langit itu bertingkat-tingkat …), bumi dan daratan, dan bahkan dasar lautan yang dihuni oleh ular naga (ini kayaknya dipengaruhi oleh pemahaman bangsa-bangsa zaman dahulu bahwa dasar laut dihuni oleh ular naga yang dipahami sebagai penguasa samudera) dengan segala jenis penghuninya (manusia yang mewakili makhluk hidup yang bertumbuh dan berkembang, dari segala lapisan usia) yang juga turut memuji dan memuliakan Tuhan. Juga segala lapisan sosial, dari kalangan raja-raja, bangsawan, hingga rakyat jelata.

Segala sesuatu yang ada di dunia dan jagad raya harus memuji dan memuliakan Tuhan. Itu sudah menjadi ketetapan-Nya yang tetap dan harus dipatuhi (ada yang memahami bahwa penyimpangan dari keharusan mematuhi ini yang berakibat pada malapetaka dan bencana, pokoknya hal-hal yang tidak baiklah …) sampai selama-lamanya.

Kenapa harus memuji Tuhan? Karena Dia-lah satu-satunya yang berhak mendapatkannya. Tidak ada yang lain. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamai-Nya (ayat 13). Tuhan yang menciptakan, dan Tuhan jualah yang menopang segala ciptaan tersebut hingga berfungsi dalam keteraturan yang amat sangat. Kemuliaan Allah dan penebusan umat pilihan-Nya dinilai sebagai alasan yang cukup dalam memuji Tuhan. Siapa umat pilihan-Nya itu? Bangsa Israel, tentunya. Lantas, bagaimana kita yang bukan bangsa Israel ini dapat menikmati “tanduk umat-Nya” (yang diartikan sebagai kuasa dan kehormatan)?

Manusia sebagai makhluk paling mulia dari segala ciptaan menerima kuasa dari Tuhan untuk menguasai segala ciptaan. Tuhan membuatnya dalam suatu ketetapan dan keteraturan untuk membantu manusia dalam mengendalikan semua ciptaan Tuhan. Dulunya kuasa tersebut diberikan kepada bangsa Israel, dan sekarang kitalah umat yang dimaksud sebagai keturunan umat perjanjian. Bukan karena lahiriah dan titisan darah, melainkan melalui anugerah baptisan dalam Roh Kudus sebagaimana dimaksud dalam Kisah Rasul 11:18.

Sebagai warga jemaat kita berhak atas klaim tersebut dengan meyakini bahwa kita adalah juga ahli waris kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang percaya. Hal yang sama pulalah yang kita sampaikan kepada warga jemaat yang kita layani sebagai hamba Tuhan di jemaat-Nya: ekspresikan pembaharuan sebagai nyanyian baru bagi Tuhan dalam setiap sendi kehidupan dan setiap hari-hari yang kita jalani dan terefleksi dalam kesaksian hidup kita bagi orang-orang di sekeliling kita.