Kamis, 04 April 2013: Telah Lahir Wejk Betania

Di jemaat kami selama bertahun-tahun ada lima wejk. Dan saat Rapat Jemaat yang lalu, sudah diputuskan tentang “pemekaran” wilayah menjadi enam. “Dari segi jumlah wejk, berarti jemaat kita sudah bertumbuh”, kata pak pendeta resort suatu kali saat kami berdiskusi berdua tentang aspirasi warga jemaat dalam hal pemekaran wilayah ini yang menurutku belum tentu benar dengan pertimbangan bahwa jumlah warga jemaat bukan otomatis menjadi bertumbuh dengan pertumbuhan wejk. Apalagi pertumbuhan iman yang tentu saja sangat sulit ditentukan parameternya. Alasan yang disampaikan tentang pemekaran ini adalah untuk efektivitas pelayanan jemaat. Dan dasarnya adalah berdasarkan geografis, artinya domisili warga jemaat yang menentukan masuk ke wejk mana yang bersangkutan. Hal yang logis, menurutku.

Hal pengubahan wejk ini memang sudah bertahun-tahun direncanakan. Sayangnya, selalu mengalami kendala pada saat disampaikan ke jemaat. “Kami sudah bertahun-tahun tinggal di sini dan sudah merasa pas dalam persekutuan dengan warga jemaat se-wejk ini. Jadi, kami ‘nggak mau pindah ke wejk lain”, demikian salah satu alasan yang paling banyak disampaikan oleh beberapa warga jemaat yang terkena dampak “pemekaran” wejk ini. “Lagipula, apa jaminannya bahwa parhalado akan lebih baik melayani dengan perubahan ini?”, tantang yang lainnya pula yang dengan cepat pula diiyakan oleh yang lainnya.  Yah, sesuatu yang sulit dijawab, menurutku. Atau, malah, sesuatu yang ‘nggak perlu dijawab? Hehehe …

Karena tinggal di Bekasi, maka tempat kami bernama Wejk Galilea. Wilayahnya mencakup warga jemaat yang bertempat tinggal sangat jauh dari lokasi bangunan gereja yang terletak di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kalau ada warga jemaat yang baru mendaftar, kalau tidak bisa dimasukkan ke salah satu wejk (tepatnya: tidak satu pun wejk yang “bersedia” menerimanya …), maka “otomatis” akan dimasukkan ke wejk Galatia. Kami senang-senang saja menerimanya. Siapa yang ‘nggak senang mendapatkan teman baru, ‘kan? Itulah sebabnya, wejk kami sering disebutkan sebagai wejk parserahan yang berarti wilayah yang “tercerai berai”. Dari daftar, ada warga jemaat yang tinggal di Cileduk, Tangerang. Dan kami pernah mengadakan partangiangan wejk di sana dengan cara mengambil waktu yang khusus, tentunya … Juga waktu kami tinggal di Bandung, pernah diadakan partangiangan wejk di rumah yang sebagian warga jemaat yang dating dari Jakarta menginap di rumah saat itu. Asyik dan unik juga, sih …

Ada lagi yang unik dan membanggakan. Dibandingkan dengan wejk yang ada, Galiea mempunyai sintua yang paling banyak. Setiap ada penerimaan penatua baru alias sintua learning, pasti ada utusan dari Galilea. ‘Nggak tanggung-tanggung, selalu dua orang pula! Sangat kontras dengan wejk lain yang hanya bias mengutus satu orang, bahkan ada yang sama sekali tidak. Ada enam orang penatua di Galilea, sementara di wejk lain biasanya dua orang. Bahkan ada yang hanya tinggal satu orang, karena belum ada pengganti penatua yang pension dan atau meninggal dunia. Itulah sebabnya, walau jumlah anggota jemaat Galilea paling sedikit, namun seringkali yang terbanyak yang hadir dalam setiap partangiangan wejk, karena walau warga jemaat “biasa” sangat sedikit yang hadir, namun dengan enam orang penatua saja pun yang hadir, maka jumlah umat di partangiangan sudah ada minimal enam orang. Jika ada wejk yang tidak mampu menyelenggarakan partangiangan setiap minggu, namun Galilea selalu melakukan partangiangan wejk (walau sering juga harus dilakukan di konsistori gereja untuk mengakomodasi jarak yang relatif jauh antara rumah satu warga jemaat dengan warga jemaat lainnya).

Menyadari situasi geografis seperti itulah maka Galilea selalu menyambut dengan positif bilamana ada wacana pengaturan-ulang wilayah pelayanan.

Tahun 2013 – dengan pendeta resort yang baru – wacana penyusunan-ulang tersebut dihembuskan lagi. ‘Nggak tanggung-tanggung, sekalian “pemekaran” menjadi enam. Dan sosialisasi dengan mencantumkan daftar nama warga jemaat untuk masing-masing wilayah (bukan wejk, melainkan dengan memakai nama wilayah-1 sampai wilayah-6) sudah dilakukan sejak beberapa bulan yang lalu. Ada pro dan kontra di kalangan jemaat (dan sebagian parhalado …). Ada beberapa surat yang dating dari kalangan warga jemaat yang menyampaikan keberatan, sehingga rencana tersebut harus ditunda dengan memperpanjang masa sosialisasinya. Dan perpanjangan itu berakhir pada 31 Maret 2013 yang lalu.

Nah, untuk menindaklanjuti perubahan tersebut, sebagai penatua aku mengundang semua warga jemaat yang masuk dalam wilayah-6 (sesuai penunjukan dari Huria untuk wilayah pelayananku) dalam suatu partangiangan wejk di rumah salah seorang penatua. Dengan pesan-pendek, alias SMS (short message service) sekaligus pemberitahuan partangiangan wejk dan mencantumkan tambahan agenda bahwa akan ada diskusi setelah usai ibadah tentang rencana pelayanan ke depannya, antara lain nama wejk, format pelayanan, dan lain-lain. Tak lupa pula aku mencantumkan usulan nama wejk dariku, yaitu Betania yang mempunyai dua arti, yakni alkitabiah dan wilayah. Dari sisi Alkitab, Betania adalah kota tempat Yesus menghidupkan Lazarus, dan kota tempat tinggal Maria dan Marta sahabat-Nya. Aku berharap bahwa kami semua anggota wejk Betania akan menjadi sahabat-sahabat Yesus dan akan dihidupkan-kembali kelak untuk menjalani kehidupan kekal selama-lamanya. Itulah dasar alkitabiahnya. Dasar wilayahnya? Dengan sedikit kreativitas, maka Betania aku artikan sebagai singkatan dari “Bekasi dan Jakarta sekitarnya” yang sangat pas dengan domisili anggota kami sekarang yang sebagian besar tinggal di Bekasi dan seputarannya yang masih masuk wilayah Jakarta, yaitu Cakung di Jakarta Timur. Beginilah isi SMS yang aku sampaikan tersebut: PENGINGAT: Kawan-kawan se-wilayah 6. Nanti malam (KAMIS, 04 April 2013) jam 20.00 WIB akan diadakan partangiangan di rumah keluarga St. T. Manalu/KH br. Siallagan, Jl. Bougenville 2 Blok B3/9, Taman Modern, Cakung. Datanglah dgn sukacita dan kita akan sempatkan berdiskusi tentang rencana pelayanan ke depan, misalnya: jadual partangiangan, nama wilayah (ada yg mengusulkan namanya Betania sbg kota di Alkitab tempat Yesus menghidupkan Lazarus dan banyak mukjizat serta tempat tinggal sahabat2-Nya: yg bisa juga sbg singkatan dari BEkasi dan jakarTA sekitarNyA …), dan format pelayanan ke depannya. Horas!

“Hebat do pamingkiran ni sintua on”, kata pak pendeta padaku ketika suatu kali aku menyampaikan tentang ide tersebut setelah usai sermon parhalado, yang aku jawab dengan spontan pula, “Ah … pamingkiran na ro di tingki di Jerusalem i do i, amang …”

Apakah ada warga jemaat yang keberatan dengan “pergantian” nama wejk tersebut? Tentu saja ada, yakni satu orang yang langsung membalas SMS-ku saat itu yang mengatakan bahwa nama Galilea adalah milik kami, biarlah warga jemaat yang “pergi” ke wilayah lain yang mencari nama yang lain. Alasan ini ‘nggak pas menurutku, karena sebagaimana aku sampaikan saat diskusi pada malam itu kepada semua hadirin, “Tidak ada seorang pun yang paling berhak mengklaim atas nama Galilea karena semua orang bisa saja merasa berhak untuk nama tersebut karena semuanya adalah bagian dari sejarah panjang saat masih bergabung di wejk Galilea. Kita berhak, demikian pula kawan-kawan kita yang dulu sama-sama di wejk Galilea tapi sekarang bergabung dengan wilayah lainnya. Nah, daripada menghabiskan waktu dan enerji berdebat tentang klaim nama Galilea tersebut, aku usulkan kita pakai wejk Betania saja. Pas dari sisi Alkitab, dan pas pula dari sisi wilayah tempat kita tinggal …”.

Bukan mau menang sendiri, tapi faktanya memang diskusi saat itu menyepakati pemakaian nama Betania tanpa seorang pun yang keberatan. Juga dilontarkan beberapa usulan untuk peningkatan pelayanan pada partangiangan, antara lain dengan mengenalkan format Penelaahan Alkitab (yang langsung saja aku setujui), variasi penyampaian firman (tanpa harus selalu kaku dengan Almanak HKBP), pelaksanaan partangiangan wejk di luar rumah warga jemaat setiap kuartalan (di kafe, atau di luar kota misalnya …) dan lain-lain. Satu orang warga jemaat yang keberatan yang ingin mempertahankan nama Wejk Galilea tersebut, ternyata ‘nggak hadir pada partangiangan wejk malam itu tanpa pemberitahuan dan alasan.

Selamat datang Wejk Betania, wilayah pelayanan yang penuh harapan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s