Andaliman-227 Khotbah 28 April 2013 Minggu Kantate

Siapa pun dan Apa pun, Semuanya … Pujilah Tuhan!

Evangelium Kisah Rasul 11:15-18 (bahasa Batak Ulaon Parapostel)
11:15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
11:16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
11:17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”                                                                                                                                                                              11:18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

Epistel Mazmur 148:1-14 (bahasa Batak Psalmen)

148:1 Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
148:2 Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!
148:3 Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!
148:4 Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!
148:5 Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
148:6 Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.
148:7 Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya;
148:8 hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya;
148:9 hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras:
148:10 hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap;
148:11 hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia;
148:12 hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda!
148:13 Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.
148:14 Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!

Setelah ber-Jubilate pada Minggu lalu, maka Minggu ini diserukan untuk ber-Kantate, yang artinya supaya semua makhluk – yang hidup maupun yang mati – untuk memuji Tuhan dengan nyanyian yang baru. Apanya yang baru? Kalau merujuk pada lagu-lagu rohani, tidak selalu muncul yang baru (bahkan kalau kita sempatkan singgah ke toko kaset dan VCD/DVD, yang paling sering adalah pembuatan album yang seolah-olah baru karena isinya hanyalah sekadar kompilasi). Kalau secara khusus bicara tentang “buku nyanyian wajib” HKBP, yakni Buku Ende, maka sudah pastilah ‘nggak ada lagi yang baru karena sebagian besar yang ada tercantum adalah hasil gubahan berabad-abad yang lalu. Apalagi kalau Mazmur (seperti yang dipesankan pada perikop Minggu lalu) yang usianya pastilah jauh lebih tua daripada Buku Ende karena usianya hampir sama dengan usia peradaban manusia.

Nyanyian bisa saja dengan syair yang lama, namun semangat menyanyikannya haruslah dengan ucapan syukur dan semangat memuji yang baru setiap hari. Dan tidak terbatas pada nyanyian, melainkan pada segala bentuk pemujian bagi Tuhan.

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini menenangkan dengan prinsip pembaharuan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Dulunya dibaptis dengan air, sekarang dengan Roh. Pembaptisan adalah pembaharuan. Keberalihan dengan meninggalkan sikap hidup yang lama kepada hidup yang baru, yang dimaknai sebagai pertobatan. Dan perubahan itulah yang patut dinyanyikan sebagai nyanyian yang baru, artinya dipersaksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi
Pemazmur sebagaimana yang terpilih sebagai Ep Minggu ini menjelaskan bahwa semuanya – makhluk hidup dan mati, yang bernafas maupun yang tidak, yang bergerak maupun yang diam – diminta untuk memuji Tuhan. Supaya lebih jelas, pemazmur juga makin menekankan tentang “lapisan” dunia, yakni langit (yang di atas langit, karena pemahaman bahwa langit itu bertingkat-tingkat …), bumi dan daratan, dan bahkan dasar lautan yang dihuni oleh ular naga (ini kayaknya dipengaruhi oleh pemahaman bangsa-bangsa zaman dahulu bahwa dasar laut dihuni oleh ular naga yang dipahami sebagai penguasa samudera) dengan segala jenis penghuninya (manusia yang mewakili makhluk hidup yang bertumbuh dan berkembang, dari segala lapisan usia) yang juga turut memuji dan memuliakan Tuhan. Juga segala lapisan sosial, dari kalangan raja-raja, bangsawan, hingga rakyat jelata.

Segala sesuatu yang ada di dunia dan jagad raya harus memuji dan memuliakan Tuhan. Itu sudah menjadi ketetapan-Nya yang tetap dan harus dipatuhi (ada yang memahami bahwa penyimpangan dari keharusan mematuhi ini yang berakibat pada malapetaka dan bencana, pokoknya hal-hal yang tidak baiklah …) sampai selama-lamanya.

Kenapa harus memuji Tuhan? Karena Dia-lah satu-satunya yang berhak mendapatkannya. Tidak ada yang lain. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa menyamai-Nya (ayat 13). Tuhan yang menciptakan, dan Tuhan jualah yang menopang segala ciptaan tersebut hingga berfungsi dalam keteraturan yang amat sangat. Kemuliaan Allah dan penebusan umat pilihan-Nya dinilai sebagai alasan yang cukup dalam memuji Tuhan. Siapa umat pilihan-Nya itu? Bangsa Israel, tentunya. Lantas, bagaimana kita yang bukan bangsa Israel ini dapat menikmati “tanduk umat-Nya” (yang diartikan sebagai kuasa dan kehormatan)?

Manusia sebagai makhluk paling mulia dari segala ciptaan menerima kuasa dari Tuhan untuk menguasai segala ciptaan. Tuhan membuatnya dalam suatu ketetapan dan keteraturan untuk membantu manusia dalam mengendalikan semua ciptaan Tuhan. Dulunya kuasa tersebut diberikan kepada bangsa Israel, dan sekarang kitalah umat yang dimaksud sebagai keturunan umat perjanjian. Bukan karena lahiriah dan titisan darah, melainkan melalui anugerah baptisan dalam Roh Kudus sebagaimana dimaksud dalam Kisah Rasul 11:18.

Sebagai warga jemaat kita berhak atas klaim tersebut dengan meyakini bahwa kita adalah juga ahli waris kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang percaya. Hal yang sama pulalah yang kita sampaikan kepada warga jemaat yang kita layani sebagai hamba Tuhan di jemaat-Nya: ekspresikan pembaharuan sebagai nyanyian baru bagi Tuhan dalam setiap sendi kehidupan dan setiap hari-hari yang kita jalani dan terefleksi dalam kesaksian hidup kita bagi orang-orang di sekeliling kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s