Presentasi Khotbah Sudah Siap, eh … Kabel Proyektornya Hilang Pula!

Tahun 2013 ini ada hal baru di jemaat kami. Setelah sempat “dilarang” bertahun-tahun, Rapat Jemaat Januari yang lalu menyepakati untuk membuka kesempatan bagi penatua untuk berkhotbah. Tapi, masih sebatas di partangiangan wejk. Di mimbar pada waktu ibadah Minggu, masih belum boleh. Apa dasarnya? Entahlah, lebih baik tidak berusaha mencari tahu penyebabnya karena semakin sering ditanyakan semakin sering pula menerima jawaban yang ‘nggak masuk akal (apalagi yang alkitabiah …).

Beragam tanggapan di kalangan warga jemaat, beragam pula tanggapan di kalangan parhalado khususnya penatua. Sebagian besar penatua “kaget”, dan menyampaikan berbagai alasan untuk menyatakan ketidaksiapan dalam berkhotbah. Bagiku, ini aneh: koq sintua malah “menghindar” untuk berkhotbah, bukankah pelayanan sebagai penyampai firman merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab selaku penatua? Bukan sok-sokan, aku malah menunggu “tantangan” untuk berkhotbah di mimbar pada saat ibadah Minggu. Siapa takut? Toh di Bandung aku sudah melakukannya berkali-kali …

Sejak kuliah di program pasca sarja STT Jakarta beberapa tahun silam aku malah sempat punya kerinduan untuk menyampaikan firman Tuhan dengan menggunakan multimedia (bahkan ada angan-anganku dengan beberapa orang kawan sekantor yang adalah pelayan jemaat, membawa LCD-projector ke mana-mana untuk berkhotbah yang sayangnya belum menjadi kenyataan sampai saat ini …). Itulah sebabnya mengapa pada suatu kali ketika mengikuti ibadah minggu di Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong di Bandung aku kaget sekaligus kagum manakala pendetanya menyampaikan firman dengan Power Point! Dan LCD projector tersebut sudah melekat permanen pada bangunan gereja dengan pipa panjang yang menjulur dari plafon dengan unit proyektor yang diatur pas sedemikian rupa. Dan dalam setiap ibadah, gereja tersebut selalu memanfa’atkan teknologi ciptaan manusia tersebut (yang pastinya adalah karunia Tuhan) untuk menampilkan lagu-lagu yang dinyanyikan bersama-sama. Selain itu, juga digunakan untuk menayangkan video clip berisi program pelayanan jemaat. Situasi seperti inilah yang membuatku sedih, kenapa jemaat kami di tengah-tengah pusat kota Jakarta ternyata masih terbelakang dalam hal pemanfaatan teknologi.

Tahun lalu saat ditunjuk sebagai Sekretaris Panitia Jubileum 25 Tahun gereja, aku menyampaikan kepada Panitia Pembangunan yang adalah bagian dari Panitia Jubileum agar jangan lupa untuk menyediakan LCD-projector yang permanen untuk pelayanan dan ibadah seperti dimiliki oleh GII di Bandung tersebut. Saat itu diiyakan dengan mengatakan, “Sudah, amang tenang aja. Infrastrukturnya sudah kami sediakan, koq …”. Sampai pembangunan gereja selesai dan hari ini jika datang ke gereja, yang terlihat hanyalah pipa dan engsel sebagai “monumen” yang bisa ditunjukkan oleh Panitia Pembangunan sebagai “niat” dalam mengadakan LCD-projector di gereja kami. Menyedihkan, memang …

Oh, ya beberapa tahun yang lalu kami – beberapa orang penatua yang “berpikiran maju” – urunan dalam pembelian satu unit LCD projector. Kami yang beberapa orang ini melihat itu sebagai kebutuhan dalam pelayanan jemaat, karena kami terlibat dalam pengajaran kelas sidi dan pra-sidi. Oh ya (lagi), proyektor pertama tersebut umurnya kurang dari setahun aja dan kami harus urunan lagi untuk membeli penggantinya. Kenapa? Rusak? Bukan! Tapi, hilang di rumah pendeta! Sesuatu yang sampai saat ini aku belum bisa menerima kehilangan tersebut begitu saja …

Bolehlah dikatakan, bahwa aku adalah salah seorang yang paling sering menyampaikan pelajaran di jemaat dengan menggunakan LCD projector. Bahkan di partangiangan wejk (ketika penatua masih belum dibolehkan secara resmi berkhotbah …) aku sudah memanfa’atkan proyektor dalam beberapa kali kesempatan dalam menyampaikan khotbah. Dan ketika ada “ibadah khusus”(yang setelah berjalan sedikit tahun, lalu dihapuskan sejak tahun 2013 ini karena peminatnya yang sangat sedikit dengan rata-rata 50 orang dalam setiap ibadah), yakni ibadah di sore hari dengan menggunakan liturgi yang berbeda dengan ibadah “normal” di pagi hari, proyektor tersebut digunakan selama ibadah (kecuali untuk khotbah).  

Begitulah, 13 Maret 2013 yang lalu aku mendapat “kehormatan” untuk berkhotbah di partangiangan wejk. Bukan di wejk kami, melainkan di wejk Nazareth yang warga jemaatnya berdomisili di sekitar gereja. Sebagaimana kalau mendapat tugas pelayanan “khusus” seperti ini (baca: pelayanan di luar yang normal dan regular) aku pun mempersiapkannya secara khusus pula. Aku siapkan presentasi khotbah dan video clip untuk membuatnya lebih menarik. Juga bahan-bahan untuk diskusi, karena aku tahu wejk ini punya warga jemaat yang lebih banyak dan ada beberapa warga jemaat yang senior dan kritis pada pelayanan. Cocoklah! Bagiku itu semua tantangan yang membuatku harus lebih baik mempersiapkan pelayanan.

Karena tidak mengetahui rumah warga jemaat yang menyediakan tempat untuk ibadah pada malam itu, aku pun meminta kesediaan penatua wejk tersebut (yang adalah kawanku seangkatan ketika sama-sama learning tiga tahun silam) untuk bareng denganku berangkat dari komplek gereja. Sekalian menjemput proyektor dari inang pandita yang selama ini menyimpan proyektor tersebut manakala ‘nggak ada yang memakai. Malam itu aku menerima proyektor tersebut dari isteri koster yang menjadi titipan inang pandita, lalu aku mencoba sendiri berangkat ke rumah warga jemaat yang manjabui malam itu karena penatua yang tadinya berjanji bareng denganku dari gereja ‘nggak muncul juga walau sudah lewat jam setengah delapan. Berulangkali aku coba menelepon ke ponselnya, tapi ‘nggak diangkat. Sebelumnya, begitu berangkat dari kantor menuju gereja sudah aku kirimin pesan-pendek, namun juga ‘nggak berjawab. Jadilah aku mengandalkan GPS (global positioning system) yang aku pasang di mobil ketika masih di Bandung sebegitu tahu aku akan pindah kembali ke Jakarta. Dulu aku ‘nggak butuh GPS karena masih punya sopir pribadi yang selalu bersedia mengantarkanku ke mana aku harus pergi …

Singkat cerita, aku sampai juga di rumah warga jemaat (yang ternyata kepala rumah tangganya adalah salah seorang guru Sekolah Minggu di mana aku adalah pendampingnya saat ini …). Setelah berhasil memarkirkan mobil di lahan yang sempit, aku pun lantas mempersiapkan peralatan khotbah. Dan, alangkah terkejutnya aku! Setelah mencari-cari, tetap juga aku ‘nggak menemukan salah satu kabel untuk menghubungkan notebook dengan proyektor tersebut. Karena sudah lewat jam setengah sembilan, aku pun memutuskan untuk memulai aja ibadah dengan terpaksa tidak menggunakan proyektor tersebut. Bubarlah persiapan yang sudah mantap! Apa boleh buat, akhirnya aku mengandalkan daya ingatku tentang materi tersebut. Untung aja (masih ada untungnya juga, hehehe …) aku sudah siapkan juga hard copy-nya sehingga aku ‘nggak blank sama sekali …

Walau ada rasa kecewa – tidak memeriksa peralatan saat menerimanya tadi yang memang ‘nggak ada pada isteri koster, yang aku tahu kemudian ternyata hilang entah oleh siapa pemakai terakhir – aku tetap berusaha menyampaikan khotbahku dengan sebaik mungkin. Aku bersyukur pada Tuhan karena pelayanan pada malam itu berjalan dengan baik, bahkan “terpaksa” harus ditutup karena sudah lewat tengah malam akibat diskusi yang sangat panjang dengan topik yang sangat menarik …

(Catatan: Malam itu sebegitu menyadari bahwa proyektor yang aku terima tidak dalam keadaan yang lengkap, aku langsung menelepon inang pandita, namun – mungkin karena sedang melayani di wejk yang lain – tidak diangkat. Hari Minggunya aku tanyakan, yang dijawab bahwa beliau juga ‘nggak mengetahui bahwa kabel VGA tersebut hilang karena menerima dari pemakai terakhir sudah begitu sambil menyarankan agar aku menghubungi pengurus Sekolah Minggu karena mereka yang terakhir memakai. Ada juga info dari pak pendeta resort bahwa pemakai sebelumnya adalah salah seorang penatua ketika ada acara kantor di Anyer. Karena semua yang aku tanyakan mengatakan “tidak bertanggung jawab” dan parhalado parartaon juga mengatakan “tidak mampu” menyediakan kabel pengganti – ditambah kekuatiranku bahwa kalau ‘nggak ada kabel VGA tersebut maka proyektor tersebut bakal rusak permanen karena ‘nggak ada yang peduli – maka aku pun membeli kabel ketika sedang menemani Auli dan mamaknya membeli MP3 player dan memperbaiki Galaxy Tab-nya yang ‘nggak bisa dipakai karena masalah provider di Grand Cakung Mall.).

Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s