Dari Konsistori-2: Hamauliateon untuk Seksi ‘koq Diberikan ke Kas Huria, bukan untuk Membiayai Kegiatan Pelayanan Seksi?

SM for tanobato (150313)

Sejak ditunjuk menjadi pendamping (zaman dulu dikenal dengan istilah paniroi) aku selalu berupaya untuk membuat Seksi Sekolah Minggu (selanjutnya kita singkat saja dengan “SSM”, ya …) menjadi lebih baik, dalam artian punya banyak kegiatan yang benar-benar menyentuh dan dirasakan manfa’atnya oleh warga jemaat. Tidak “sekadar”, alias asal-asalan saja, atau “asallah ada …”. Dan untuk berkegiatan (apalagi dalam frekuensi yang tinggi dan bermutu) tentu saja dibutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Sayangnya, dari gereja alias huria, masih belum mampu menalangi semua biaya yang dibutuhkan (walau aku masih tetap bersyukur bahwa dari semua kategorial pelayanan yang ada di jemaat, SSM-lah yang paling sedikit anggarannya yang dipotong saat dibicarakan pada Rapat Jemaat yang lalu.

Sebagai parhalado yang diberi kepercayaan untuk menanggungjawabi SSM, tentu saja aku harus melakukan hal-hal yang berbeda. Aku mulai dengan keterlibatanku terhadap SSM. Kalau dulunya pendamping hanyalah sekadar mengarahkan apa yang sudah disepakati oleh SSM, maka aku malah banyak mendorong SSM untuk berkegiatan. Alasan yang sering aku sampaikan ke setiap pengurus SSM (yang kebanyakan adalah Guru Sekolah Minggu, yang kita singkat dengan “GSM” …) dalam setiap kesempatan adalah sebagai berikut:

(1)   Sekolah Minggu adalah kategorial pertama tempat anak-anak yang ada di jemaat dalam mengenal gereja dan Yesus Kristus, sehingga secara moral bertanggung jawab dalam membuat anak-anak terbekali dengan cukup sebelum mendapatkan pengajaran lebih lanjut. Untuk lebih menginspirasi para GSM, aku katakana: “Sampai sekarang aku masih ingat beberapa ibu guru sekolah Minggu-ku dulu. Itulah karena terkesannya dengan masa-masa bersekolah Minggu …”.

(2)   Sekolah Minggu harus mampu menjadi penarik dan sekaligus pendorong kategorial lain untuk berpacu dalam membuat pelayanan terbaik di jemaat. Artinya, menjadi contoh alias model untuk berkegiatan di jemaat. Untuk itu, harus bisa dipastikan SSM muncul setiap bulan dalam pelayanan rutin.

Lalu, meluncurlah uneg-uneg dari SSM, dan yang dominan adalah … apalagi kalau bukan dukungan dari parhalado dan dana untuk pelayanan. Yang ini dengan segera aku atasi dengan mengatakan: “Kalau untuk ke parhalado, serahkan sama aku. Itulah gunanya ada paniroi. Aku yang akan berjuang untuk parhalado dan bersama parhalado”. Bahkan, untuk lebih meyakinkan – untuk mendapatkan efek yang ‘dahsyat’ sehubungan dengan perhatian mereka, aku sampaikan, “Istilahnya, jika harus ‘berkelahi’, akulah yang akan melakukan untuk Sekolah Minggu. Tapi bukan dalam arti berkelahi secara fisik, ya … melainkan secara aspirasi …”.

Tentang dukungan dana yang selama ini dirasakan sangat sulit, aku pun punya resep yang aku sampaikan kepada mereka: “Jangan kuatir, warga jemaat kita bukanlah orang-orang miskin, malah banyak yang kaya. Coba lihat mobil yang terparkir setiap hari Minggu. Masalahnya adalah mereka yang punya kemampuan menyumbang itu ‘nggak tahu harus bagaimana karena upaya yang selama ini dilakukan di jemaat ini sudah usang. Oleh sebab itu, kita harus melakukan cara-cara yang baru yang lebih pas dan lebih menyenangkan. Salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan yang melibatkan warga jemaat, bisa anak-anak sekolah Minggu, bisa pula orangtuanya sehingga mereka bisa merasakan dan sekaligus menikmati apa yang mereka sumbangkan ke sekolah Minggu. Percayalah, lebih mudah bagi kita untuk meminta dukungan dari jemaat dibandingkan dengan kategorial lain. Yang penting: lakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan banyak dari warga jemaat yang akan memberikan hamauliateon untuk sekolah Minggu …”

Dan, memang terbukti. Meskipun tidak sangat “dahsyat”, namun frekuensi sumbangan yang disampaikan saat ibadah Minggu berupa amplop ucapan syukur mulai mengalir. Hampir selalu ada setiap minggu. Hingga suatu kali salah seorang pengurus SSM bertanya: “Amang, koq sumbangan buat sekolah Minggu ‘nggak diserahkan ke sekolah Minggu, ya? Menurut Bendahara Huria, uang ucapan syukur walau dituliskan untuk sekolah Minggu, menjadi hak Huria. Kalau begitu, untuk apa kita mendorong jemaat untuk menyumbang kalau pada akhirnya menjadi hak Huria? Padahal sudah jelas-jelas, jemaat itu memberikan sumbangannya untuk membantu kegiatan sekolah Minggu. Bisa-bisa, kita malah akan menganjurkan jemaat untuk menyumbang langsung ke sekolah Minggu aja. ‘Nggak usah dimasukkan ke kantong persembahan.”. 

Aku agak terkejut juga mengetahui hal ini, karena yang aku pahami selama berjemaat di HKBP adalah bahwa sumbangan berupa ucapan syukur alias hamauliateon yang datang dari warga jemaat adalah menjadi hak masing-masing sesuai peruntukan yang disebutkan dalam amplop tersebut. Misalnya, kalai di amplop persembahan tersebut disebutkan “untuk Sekolah Minggu”, maka otomatis itu adalah hak SSM, bukan Huria. Seharusnya itu dijadikan sebagai salah satu yang memotivasi masing-masing kategorial untuk membuat banyak kegiatan pelayanan agar lebih mendapat perhatian dari warga jemaat.

Untuk memastikan, maka hal itu aku tanyakan di sermon parhalado pada 15 Februari 2013 yang lalu, dan mendapat jawaban pendeta resort dan disaksikan pendeta pembantu sebagai berikut:

(1)   Ucapan syukur yang diterima SSM selama ada kegiatan besar seperti pesta parheheon adalah menjadi hak SSM, tapi jika bukan sedang ada kegiatan besar akan menjadi milik Huria. Ha ini juga berlaku untuk kategorial pelayanan lainnya.

(2)   Ucapan syukur yang bukan untuk kegiatan tersebutlah sebenarnya yang diharapkan oleh Huria untuk menutupi biaya operasional pelayanan jemaat. Jadi, walaupun dengan jelas dicantumkan pada amplop bahwa ucapan syukur tersebut untuk sumbangan SSM, namun karena tidak sedang melakukan kegiatan besar dan khusus, maka uangnya akan menjadi milik Huria yang akan dipakai untuk membayar gaji pendeta, misalnya.

Walau aneh bagiku, tapi sebagai penatua tentu saja harus mematuhinya. Dan hal yang sama juga aku sampaikan kepada semua pengurus SSM. Menyadari keadaan seperti itu, ada saja muncul ide-ide dari pengurus untuk membuat keadaan itu fair bagi SSM …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s