Dari Konsistori-3: Ini Bukan Surat Kaleng dari Wejk

Ada yang baru yang ditawarkan oleh pendeta resort yang belum genap setahun bertugas di jemaat kami, yaitu “restrukturisasi” wilayah pelayanan alias wejk. Dengan maksud agar lebih baik pelayanan, maka pembagian wejk didasarkan pada letak geografis tempat tinggal warga jemaat dan dilakukan secara berimbang. Sangat ideal, menurutku. Bertahun-tahun belakangan ini, tentang hal ini sudah seringkali dibicarakan, namun selalu tertunda pelaksanaannya karena perbedaan pendapat. Nyatanya memang ada satu wejk yang jumlah warga jemaatnya sangat banyak, sebaliknya ada yang sangat sedikit sehingga melaksanakan partangiangan wejk setiap minggunya aja mereka ‘nggak mampu. Mana lagi jumlah sintua yang tidak berimbang, misalnya wejk kami yang bernama Galilea ada 6 orang sintua, sedangkan jumlah kepala keluarga yang aktif tidak lebih 20! Sebaliknya, ada satu wejk yang hanya punya 1 orang sintua (karena meninggal dan pensiun namun belum ada yang mau mengganti …).

Khusus bagi wejk Galilea – yang sering dikatakan sebagai wejk parserahan karena domisili warga jemaat yang sangat jauh jaraknya antara ujung yang satu dengan ujung lainnya – wacana restrukturisasi ini menurutku adalah sangat tepat. “Kebiasaan” melakukan partangiangan wejk dengan “menumpang” konsistori gereja (agar lokasinya tepat di tengah-tengah tempat tinggal warga jemaat sehingga tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat untuk dijangkau …) akan bisa dikurangi, dan partangiangan wejk bisa dilakukan di rumah warga jemaat sebagaimana layaknya situasi “normal”. Semakin dekat dan semakin terkumpul jemaat, maka semakin lebih baiklah pelayanan jemaat yang dapat dilakukan. Demikianlah logika berpikir pak pendeta, yang menurutku adalah sangat tepat bagi wejk parserahan kami.

Pak pendeta saja? Bisa dibilang begitu, karena keputusan restrukturisasi sebenarnya belumlah final, dalam artian tidak solid dan bulat manakala diperbincangkan. Baik saat dibicarakan di sermon parhalado, maupun ketika dibicarakan terbuka di rapat jemaat, selalu ada pro dan kontra yang tajam. Terlihat ada kemungkinan tertunda lagi.

Bagi yang tidak setuju berpendapat bahwa sekarang ini mereka sudah sangat nyaman dengan persekutuan sama orang-orang yang sudah dikenal bertahun-tahun. Kalau ganti wejk, maka harus perlu penyesuaian lagi dengan kawan-kawan yang “baru”. Bagiku ini rada aneh, karena toh mereka sudah saling tahu karena sudah sama-sama berjemaat di gereja yang sama bertahun-tahun. Hanya wejk-nya saja yang berbeda. Ada pula alasan yang menurutku seolah-olah alkitabiah namun faktanya sangat jauh dari alkitabiah dengan ada warga jemaat senior yang mengatakan: “Dulu waktu gereja kita ditahbiskan, nama-nama kami beserta nama wejk masing-masing ikut ditanam di altar gereja oleh eforus. Kalau nanti diubah, maka sudah ‘nggak sesuai lagi dengan apa yang didoakan oleh eforus saat itu” … Terus terang, alasan yang terakhir ini membuatku prihatin karena begitu rendahnya pemahaman warga jemaat, apalagi setelah aku tahu bahwa ada pula penatua senior yang mendukung pernyataan “aneh” ini.

Awal tahun ini pendeta resort berinisiatif dengan membuat pembagian wilayah sesuai dengan yang tercantum pada peta dan domisili warga jemaat. Bukan hanya pembagian wilayah, bahkan sekalian dengan tanggal partangiangan setiap minggunya sudah dicantumkan. Walau berulangkali dikatakan bahwa itu hanyalah sekadar usulan, dan bisa diubah sesuai pembicaraan di wejk masing-masing, penolakan tetap saja terjadi. Disampaikan oleh warga jemaat (biasanya warga senior yang merasa paling tahu, paling berjasa dan paling punya pengaruh …), juga ditolopi oleh sintua-nya.

Nah, pada sermon awal Februari 2013 yang lalu, terjadi (lagi) ketegangan. Ada satu surat dari salah satu wejk yang dengan tegas menyatakan menolak usulan pendeta yang akan mengubah pembagian wilayah. Ternyata ini bukan surat yang pertama, karena disebutkan bahwa surat ini kembali ditulis karena surat-surat terdahulu tidak pernah dibalas alias tidak pernah ditanggapi.

Lalu pak pendeta resort angkat bicara memberi tanggapan, “Terserah pada kalianlah yang ada di wejk tersebut, saya ‘kan hanya mengusulkan karena sudah diputuskan waktu rapat jemaat yang lalu bahwa kita akan mengadakan perubahan wilayah pelayanan yang tujuannya adalah untuk perbaikan pelayanan. Kalau ada yang ‘nggak setuju dengan saran saya, silakan sampaikan usulan yang lain yang menurut kalian lebih baik. Tapi jangan begini caranya. Untuk apa pakai menulis surat seperti ini? Seharusnya kalian sintua bisa meredam hal seperti ini. Saya tahu, ini bukan pendapat semua ruas, hanya orang-orang tertentu saja yang setuju dengan isi surat ini dan mau menekennya. Itu makanya saya ‘nggak pernah menanggapi, apalagi kalau sampai harus membuat surat seperti yang diminta ini.”.

Lalu suasana semakin tegang. Semakin banyak yang memberi pendapat, semakin panas pula tanggapan pak pendeta resort. Dan semakin menjauhkan suasana dari semangat pelayanan “orang-orang kudus”. Seorang inang sintua yang duduk di sebelah kiri sudah menutupkan mukanya di meja di depannya (aku ‘nggak tahu apakah karena prihatin dan menangis atau mengantuk karena sudah lewat tengah malam, karena aku pun baru menyadari hal tersebut manakala seorang inang sintua lainnya memberi isyarat kepadaku sambil menunjuk yang duduk di sebelahku …).

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, di jalan tol Purbaleunyi aku kembali merenungkan kejadian di bilut parhobasan tadi. Kenapa mesti terjadi yang seperti itu? Dan bukan ini yang pertama kali karena sebelumnya sudah pernah terjadi. Apa susahnya sih berkomunikasi dengan warga jemaat untuk mendengarkan aspirasi warga jemaat. Kalau “enggan” bertemu langsung, ya balas pakai surat saja, tokh yang diterima dari wejk bukanlah surat kaleng yang ‘nggak jelas siapa pengirimnya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s