Andaliman-231 Khotbah 26 Mei 2013 Minggu Trinitatis

Bermegahlah di dalam Tuhan karena Roh Kudus

Evangelium Yohanes 16:12-15

16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

16:14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.

16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Epistel Roma 5:1-5 (bahasa Batak Rom)

5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Kata “bermegah” bisa berkonotasi negatif dan positif. ‘Nggak aneh, seperti kebanyakan yang ada di dunia ini juga, ‘kan? Sekilas – dan ini menjadi pemahaman spontan – kebanyakan orang memahaminya sebagai suatu tindakan yang mengarah kepada kesombongan (itulah sebabnya mengapa pada ayat-ayat yang lain beberapa kali pula kita dilarang untuk bermegah …). “Bermegah” dalam pengertian sebagaimana dimaksudkan dalam nas perikop (Roma 5:2) yang menjadi Ep Minggu ini bukanlah dalam konotasi kesombongan, melainkan mengajak semua orang percaya untuk tetap memuji Tuhan dalam segala situasi dan kondisi kehidupannya. Susah ataupun senang! Aneh, ya?

Iya, memang aneh. Terutama bagi orang yang pertama kali mengetahui tentang hal ini, hehehe … Sampai hari ini, salah satu hal yang membuatku “terkesima”, “terpana”, dan benar-benar tersentuh dari teologi Kristen adalah keharusan “bersukacita dalam segala hal ini”. Bagaimana mungkin orang yang sedang dilanda penderitaan, kesengsaraan, dukacita yang sangat dalam, eh … malah disuruh bersukacita? Dan aku tak jemu-jemu, dalam setiap kesempatan (ketika berkhotbah, dialog dengan warga jemaat, memberikan penguatan pada orang-orang maupun diri sendiri) menjelaskan tentang sukacita ini. Sukacita tidak selalu sama dengan bahagia, tetapi bahagia selalu sama dengan sukacita. Bedanya di mana? Kalau bahagia sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi di luar diri manusia (mendapat hadiah, menerima pujian, memenangkan perlombaan, kelahiran anak, dan lain-lain yang biasanya membuat girang hati), sedangkan sukacita sangat ditentukan oleh suasana hati (yakni yang ada di dalam diri seseorang). Jadi, sukacita bisa (bahkan sangat bisa!) tidak ditentukan oleh suasana yang terjadi di luar diri seseorang. Itulah sebabnya, ada aja orang yang mampu bertahan dalam setiap penderitaan, karena dia bersukacita. Ada hal yang lebih penting daripada harus bersedih, berputus asa, patah hati, demikianlah agaknya prinsipnya.

Aku sedang dalam proses belajar menjalani prinsip yang demikian. Ketika orangtuaku meninggal beberapa tahun yang lalu, aku bersedih (Wajar, ‘kan? Namanya juga ditinggal pergi oleh orang yang sangat aku kasihi dan hormati) tapi tidak membuatku meraung-raung, dan menangis tersedu-sedu seperti orang yang ‘nggak punya pengharapan …) tapi ada yang menguatkanku: kematian ini adalah hal yang terbaik yang datangnya dari Tuhan karena di balik ini ada hal yang lebih indah yang sudah disiapkan. Dan itu memang terbukti. Selalu saja kemudian terjadi hal-hal yang pada akhirnya mengarahkan pada fakta bahwa kematian itu adalah yang terbaik.

Beberapa kali aku mengikuti acara penghiburan (manise, manghata-hatai, mangapuli) dan merasakan sukacita. Suasana yang sebelumnya sering terjadi bahwa acara penghiburan kedukaan didominasi oleh ratapan dan isak tangis (mangarungkari si dangolon, bahkan malah sering disalahpahami menjadi suatu keharusan seakan-akan tidak pas kalau ‘nggak ada tangisan …), malah menjadi “arena” bagi keluarga yang berduka untuk memberikan kekuatan bagi orang-orang yang datang yang sebenarnya bertujuan untuk menghiburnya. Hal yang terjadi adalah kebalikannya: keluarga yang ditinggal mati, malah memberikan kesaksian yang menguatkan orang-orang yang datang tentang betapa baiknya Tuhan.

Dua minggu lalu aku dengan punguan marga Tobing berkunjung ke rumah paramangboruon yang bulan Maret lalu mengalami kedukaan karena rumahnya habis terbakar di Pedongkelan. Baru bisa kami kunjungi karena saat kejadian sebagian besar kami sedang mengikuti wisata rohani ke Timur Tengah (alasan yang pas …). Aku melihat puluhan rumah yang hangus yang meninggalkan sisa-sisa bakaran berupa kayu-kayu yang sudah menjadi arang. Juga sepeda motor, sepeda, dan berbagai perabotan rumah tangga. Suasananya murung. Tapi, begitu melihat amangboru yang dengan semangat berlari mendatangi kami (jujur saja, aku juga baru kali ini bertemu dengan beliau karena selama beberapa tahun ini kami tinggal di Bandung … alasan lagi, hehehe …) aku merasakan perbedaan. Suasana hati itu pulalah yang terbawa olehku sampai di dalam rumah yang mulai dibangun seadanya ketika bisa bercanda tentang peristiwa kebakaran tersebut ketika berbicara tentang dokumen yang ikut terbakar yang di dalamnya ada surat kawin yang ‘nggak mungkin lagi bisa didapatkan kecuali melakukan perkawinan lagi yang tentu saja ‘nggak mungkin bagi orang Kristen …). Semuanya tertawa, termasuk amangboru sendiri yang mengalami peristiwa tersebut! (meskipun kemudian aku sempat terdiam sejenak karena tersadar dan merasa bersalah sudah menjadikan peristiwa duka tersebut menjadi bahan candaan …) manakala melihat mereka semua masih berlanjut tertawanya.

Suasana hatiku baru terasa plong manakala amangboru dan namboru berbicara menyampaikan ucapan terima kasih karena kedatangan kami, yang dengan takzim diiringi air mata dan isak tangis tertahan menceritakan saat peristiwa terjadi. Kami bersedih, ikut berduka merasakan kesedihan yang dialami oleh keluarga tersebut. Tapi, suasananya segera menjadi berubah manakala mereka menyampaikan tentang pertolongan Tuhan yang mereka alami dan rasakan saat peristiwa kebakaran terjadi (“yang kami alami masih lebih baik daripada yang dialami oleh banyak tetangga kami …”), dan sesudah musibah tersebut terjadi (“Hampir setiap hari ada saja yang datang menjenguk kami dan memberikan bantuan sehingga rumah tempat kami berteduh ini bisa berdiri seperti ini sekarang bahkan mungkin akan jadi lebih baik nantinya dibandingkan dengan rumah kami yang dulu yang sudah hangus terbakar. Dan ini saya rasakan sebagai buah dari apa yang sudah kami perbuat selama ini, ternyata sangat banyak orang-orang yang mengasihi kami.”.). Luar biasa, kan? Aku saja belum tentu bisa sekuat mereka itu, sehingga dalam perjalanan pulang seringkali bergumam dalam hati betapa luar biasanya Tuhan. Dan aku malah menjadi sangat dikuatkan.

Kenapa bisa terjadi demikian? Tak ada alasan lain yang lebih pas: karena ada Roh Kudus di dalam diri mereka. Roh Kudus yang menjadi penolong, penghibur, pemberi kekuatan, dan yang selalu mengarahkan orang-orang percaya kepada Tuhan dengan mengikuti jalan yang sudah disiapkan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan bermegah di dalam Tuhan, yakni kuat menghadapi penderitaan dengan keyakinan bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan yang pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati oleh Roh Kudus (ayat 3-5).        

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu-minggu ini aku banyak menerima “panggilan” untuk menyampaikan khotbah/renungan di berbagai persekutuan. Dan karena masanya adalah bersamaan dengan penyambutan kedatangan Roh Kudus maka themanya adalah mirip-mirip dengan perikop Minggu ini. Dan selalu aku titipkan pesan dalam setiap kesempatan bahwa Roh Kudus sudah ada di dalam diri kita masing-masing. Setiap orang yang sudah dibaptis pasti sudah ada Roh Kudus di dalam dirinya karena sudah di-install oleh Allah, demikian istilah yang sering aku pakai untuk memudahkan pemahaman para pendengarku.

Berbeda dengan rasul-rasul pada masa dahulu yang masih membutuhkan pencurahan Roh Kudus untuk pertama kalinya ketika Yesus terangkat ke surga, kita sekarang ini “hanya” perlu untuk mengembangkan oknum Tuhan itu yang sudah ada dalam diri kita masing-masing agar semakin berkuasa dalam kehidupan kita sehingga kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Caranya bagaimana? Banyak-banyaklah mendengar dan membaca serta merenungkan firman Tuhan, juga membiarkan Dia yang bekerja dalam kehidupan kita. Bukan sebaliknya, mengurangi peranan Roh Kudus tersebut dalam diri kita dengan mengabaikan tegurannya manakala kita melakukan perbuatan jahat (taroktok, istilah bahasa Batak-nya …), bahkan meniadakannya karena sama sekali ‘nggak pernah menggubris teguran tersebut.

Ini sangat perlu aku sampaikan karena dalam berbagai khotbah yang disampaikan oleh beberapa orang pendeta di mimbar mengesankan bahwa Roh Kudus itu belum ada pada diri kita orang percaya dengan mengatakan: “Dengan Roh Kudus yang sudah dicurahkan pada kita hari ini, maka kita harus berubah …”.  Alamakkk …

Iklan

2 comments on “Andaliman-231 Khotbah 26 Mei 2013 Minggu Trinitatis

  1. saya sering membaca ulasan saudara, ulasan saudara memang agak enak, tetapi sering menyalahkan orang lain khususnya pendeta, jadi saya ragu, mungkin saudara ingin menjadi pendeta, tetapi tidak kesampaian. saudara harus ingat, berilah penjelasan dan renungan sesuai dengan petunjuk roh kudus, sehingga bukan kehebatan penjelasan anda yang bekerja, melainkan roh kudusnya.

    • Hehehe … zaman sekarang yang sangat terbuka ini sah-sah saja berpendapat, baik yang bermutu maupun yang tidak bermutu sama sekali. Dan kekurangakuratan informasi cenderung menggiring pada pendapat yang jauh menyimpang daripada fakta, apalagi jika diimbuhi dengan sentimen tertentu. Begitupun, aku tetap harus berterima kasih untuk kesediaan singgah pada blog yang sederhana dan sangat jauh dari sempurna ini (yang sampai sekarang aku selalu merindukan tuntunan Roh Kudus melengkapi diriku dalam setiap membuat tulisan sebagaimana juga dalam melakukan pelayanan di jemaat) sebagaimana juga para pengunjung lainnya yang aku sangat menghargai saran dan kritikan jauh melebihi puja-puji (apalagi yang sekadar basa-basi …).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s