Dari Konsistori-4: Pak Pendeta, Mana Buku Program Kerja Pelayanan Jemaat Tahun 2013?

Setelah berhasil menyelesaikan Rapat Jemaat – yang sempat tertunda karena ‘nggak mencapai quorum peserta, yang menurutku sebenarnya hal tersebut juga tidak pas benar – sampai hari ini hasil kesimpulan rapat tersebut belum disosialisasikan kepada jemaat. Bahkan pengurus alias pelayan dari masing-masing seksi dan dewan juga tidak pernah menerimanya. Bahkan notulen rapat jemaat tersebut sekalipun!

Biasanya, sejak aku berjemaat di gereja ini di awal tahun (tepatnya bulan Januari) kami sudah menerima satu buku yang memuat program pelayanan dari setiap seksi, dewan, dan jemaat untuk satu tahun ke depan. Di dalamnya juga tercantum anggaran penerimaan dan belanja jemaat, dan berapa alokasi dana untuk masing-masing kegiatan yang sudah disepakati saat rapat jemaat. Ada juga notulen rapat jemaat, dan masukan dari masing-masing wilayah pelayanan (yang biasanya dicantumkan apa adanya sebagaimana dokumen yang diberikan oleh masing-masing pengurus wejk ke parhalado).

Hal ini kembali seakan-akan mempertegas bahwa tahun 2013 ini adalah “tahun istimewa” bagi jemaat kami, sebab setelah ada rapat jemaat yang perlu diulang-kembali (konon baru terjadi pertama kali dalam sejarah perjalanan jemaat kami yang sudah 25 tahun …), kali ini buku program kerja pula yang ‘nggak ada. Lantas apa yang bisa dijadikan dasar alias landasan bagi seksi-seksi dan dewan dalam melakukan pelayanan tahun ini kalau buku tersebut ‘nggak ada?

Jum’at lima minggu yang lalu saat sermon parhalado aku sudah sampaikan ke pendeta untuk dijadikan perhatian agar segera dirampungkan pencetakan buku tersebut dan segera kami distribusikan ke setiap wejk dan seksi pelayananan jemaat. Saat itu dijawab pak pendeta bahwa buku dimaksud belum diterbitkan karena belum menerima jadual yang pasti dari masing-masing seksi tentang rencana jadual pelaksanaan kegiatan masing-masing. Sebenarnya, saat memberikan usulan kegiatan pelayananan sebelum Rapat Jemaat, masing-masing seksi sudah mencantumkan rencana pelaksanaan, namun baru sekadar bulan pelaksanaan (bukan tanggal pelaksanaan). Dan aku timpali apakah suatu keharusan mencantumkan sampai sedetil itu, yakni tanggal pelaksanaan, karena menurutku bukanlah itu esensi program pelayanan jemaat. Dengan mencantumkan bulan pelaksanaannya saja, sudah cukuplah. Buktinya, ‘nggak satupun seksi yang memberi tanggapan atas permintaan pimpinan jemaat yang disampaikan via tingting selama berminggu-minggu (karena mereka juga mungkin berpikir hal yang sama: untuk apa harus sampai mencantumkan tanggal segala, ya?). Nah, waktu sermon itu aku sampaikan ke forum: “Memang lebih bagus kalau ada tanggal pelaksanaan kegiatan. Tapi ini ‘kan masih rencana, yang berarti tanggal pelaksanaannya bisa saja bergeser sesuai dengan situasi dan kondisi. Jadi, artinya bukan suatu kemutlakan. Dengan mencantumkan jadual bulan saja sudah cukuplah untuk saat ini, karena buku tersebut adalah dokumen yang bisa dijadikan dasar dalam melakukan kegiatan pelayanan di gereja ini. Sekarang sudah bulan lima, sampai kapan lagi kita harus menunggu sampai buku tersebut ada dan dibagikan kepada masing-masing?”.

Saat sermon parhalado Jum’at, 24 Mei 2013 yang lalu kembali aku “mengingatkan” tentang sudah mendesaknya buku tersebut selesai dicetak. Sambil aku ingatkan bahwa evaluasi pelayanan semester satu sudah harus dipersiapkan. Perlu diwartakan melalui tingting huria Minggu ini agar masing-masing seksi punya waktu yang cukup dalam membuat laporan dan evaluasi pelayanan yang sudah dilakukan dalam satu semester tahun 2013 ini.

‘Nggak tahu juga apa yang melatarbelakangi penundaan pembuatan buku program kerja pelayanan tahun 2013 ini. Menurutku, kurang pas juga kalau hal “sepele” seperti ini harus diadukan ke Eforus di Tarutung. Namun, mau ‘gimana lagi?

Iklan

2 comments on “Dari Konsistori-4: Pak Pendeta, Mana Buku Program Kerja Pelayanan Jemaat Tahun 2013?

  1. Horas Sintua nami, dang pola sahat tu Ompui Ephorus… tu Praeses ma jolo dipasahat hamu taringot tu na masa i….

    • Mansai toho hian do na didok muna i, amang. Songon i ma tong na hudok tu ruas na huboto manongos SMS tu Eforus paboahon na masa i, alai didok nasida ma mangalusi ahu: “Ndang margogo be Pareses paturehon na songon on …”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s