Minggu Ceria, koq ‘Nggak Menarik Perhatian Orangtua?

Minggu Ceria 07 April 2013

Dalam satu sermon Guru Sekolah Minggu – aku hadir karena akan maragenda pada Minggu berikutnya di kebaktian Sekolah Minggu – yang dipimpin oleh pendeta resort aku terkejut ketika menerima masukan dari guru-guru Sekolah Minggu tentang betapa minimnya kegiatan Minggu Ceria yang akan dilaksanakan pada Minggu, 07 April 2013 lalu. Minggu Ceria adalah kegiatan bulanan Sekolah Minggu yang dilaksanakan setiap Minggu akhir bulan dengan menambahkan kegiatan permainan setelah usai acara ibadah Minggu. “Biasanya ada pembagian hadiah perlombaan, bang. Juga perayaan ulang tahun bagi anak-anak yang berulang tahun selama bulan yang lalu. Tapi, kami ‘nggak punya dana untuk melaksanakan itu selama beberapa bulan ini karena ‘nggak ada lagi di anggaran, dan ‘nggak ada lagi orangtua yang mau menyumbang …”, kata salah seorang guru Sekolah Minggu menimpali “laporan” teman Sekolah Minggu lainnya.

Sebagai pendamping Sekolah Minggu yang ditunjuk oleh jemaat, tentu saja aku sangat prihatin tentang hal ini. Masa’ jemaat seperti kami ini ‘nggak sanggup melakukan acara yang lebih menyenangkan bagi anak-anak Sekolah Minggu yang notabene adalah masa depan Gereja? Setelah “tang-ting-tong” dengan pak pendeta, guru-guru Sekolah Minggu, maka aku pun sampaikan: “Untuk Minggu ini sebagai perayaan ulang tahun bulan Maret maka aku akan menyediakan dua puluh hadiah untuk perlombaan, dan kue ulang tahun untuk dinikmati oleh anak-anak. Untuk bulan-bulan selanjutnya silakan diatur sebagaimana pak pendeta barusan sampaikan bahwa beliau bersedia membantu untuk meminta kesediaan orangtua menyediakan kue ulang tahun yang anaknya berulang tahun pada bulan tersebut. Bulan mendatang, pak pendeta yang akan menyediakan kue ulang tahun karena anak pak pendeta berulangtahun pada bulan April ini.”.

Minggu, 07 April 2013 aku bertugas rangkap sebagai liturgis dan pengkhotbah karena amang pandita dan inang pandita sudah punya acara yang lain sehingga ‘nggak bisa berkhotbah untuk ibadah Sekolah Minggu tersebut. Bagiku ‘nggak terlalu masalah (lagian, aku sudah berjanji untuk bersedia berkhotbah di jemaat setiap minggu sebagai komitmen setelah kepulangan dari Yerusalem, ‘kan?). Lalu, jadilah demikian. Pagi itu, barulah diketahui oleh guru-guru Sekolah Minggu bahwa anakku si Auli turut sebagai salah seorang anak Sekolah Minggu yang berulangtahun bulan Maret ini. Sekali lagi hal ini menunjukkan kurang “profesional”-nya guru-guru Sekolah Minggu sampai-sampai ‘nggak punya daftar yang jelas dan lengkap tentang ulang tahun anak-anak Sekolah Minggu walau kegiatan Minggu Ceria ini sudah dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu. Sebagai pendamping Seksi Sekolah Minggu, tentu saja aku pun harus bertanggung jawab dalam hal ini. Dan sudah aku jadikan catatan sebagai salah satu hal yang aku harus perbaiki untuk hari-hari selanjutnya untuk mewujudkan Sekolah Minggu yang bisa menjadi model pelayanan di jemaat kami ini. Semoga Tuhan memberkati dan pasti membantu kami dalam mewujudkan impian ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s