Dari Konsistori-6: ‘Ndang Boi! ‘Ndang Boi?

Di sermon parhalado Jum’at malam, 10 Mei 2013 ada (lagi) air mata. Seorang inang sintua tersedu menyampaikan permohonannya yang akan mengawinkan anaknya bulan-bulan mendatang setelah amang pandita resort menegaskan sikapnya yang tidak mengizinkan pendeta resort dari Medan untuk memberkati pasangan yang akan memulai hidup berumah tangga tersebut. Kalimat-kalimat yang disampaikan pak pendeta sebagai jawaban atas pertanyaan beberapa orang sintua yang membuka diskusi tentang hal tersebut terkesan menutup peluang untuk pengabulan permohonan beliau yang adalah aktivis jemaat sejak lama. Seingatku, pernah menjadi Ketua Dewan Marturia, lalu Katua Parartaon yang tidak lama kemudian mengundurkan diri karena merasa ‘nggak cocok dengan sikap yang ditunjukkan pak pendeta resort dalam menyikapi hal perjalanan “dinas” pak pendeta dengan Seksi Lanjut Usia ke Denpasar tahun lalu.

“Apakah tidak ada lagi harapan untuk mengabulkan permohonan calon pengantin yang adalah anak kami, dan ‘nggak ada lagi kerendahan hati amang pendeta untuk mengizinkan pendeta resort dari Medan yang akan memberkati perkawinan mereka di gereja kita ini? Masak kami harus melakukannya di gereja lain? Pendeta tersebut adalah yang mendoakan anak kami yang adalah pengantin laki-laki sebelum berangkat sekolah ke luar negeri dulu, lalu permintaan calon pengantin perempuan karena kedekatan mereka saat dulu sama-sama di Surabaya waktu pendeta tersebut masih bertugas di Surabaya. Kenapa kita ‘nggak bisa menyenangkan hati pengantin? Waktu suami saya menyampaikan hal ini kepada amang, kenapa amang menjawab bahwa keputusan setuju atau tidak itu bergantung pada sermon parhalado? Sekarang ini ternyata hanya amang yang menentukan jawaban tidak setuju.”

Pak pendeta resort menjawab: “Semua pelayanan di gereja ini harus kami yang melayani, kecuali saya sebagai pendeta resort di sini ‘nggak sanggup melayankan pemberkatan nikah, barulah bisa ditunjuk pendeta yang lain. Misalnya karena ada rapat pendeta yang saya ikuti sehingga ‘nggak bisa memberkati perkawinan tersebut. Saya ‘kan masih sanggup, jadi ‘nggak ada alasan untuk pendeta lain yang memberikan pemberkatan di gereja kita ini. Begitulah peraturannya. Jangan kebiasaan kita jadikan kebenaran, sebaliknya kebenaranlah yang harus kita jadikan kebiasaan di gereja kita ini supaya jangan sampai salah. Dan jawaban ini memang harus saya sampaikan di sermon parhalado agar semua parhalado tahu keputusannya.”.

“Tapi, kenapa waktu anak kami kawin di gereja ini pada waktu itu bisa diberkati oleh amang Simarmata?”, tanya salah seorang penatua mantan Ketua Dewan Diakonia yang beberapa tahun lalu pemberkatan nikah anaknya dilakukan di gereja ini oleh Pdt. WTP Simarmata yang sekarang menjadi Eforus HKBP.

“Oh, itu karena dia atasan saya. Beda itu.”, jawab pak pendeta.

“Lantas, tahun lalu, seingat saya amang pendeta pernah meminta izin pulang ke kampung untuk memberkati perkawinan beremuna. Kenapa bisa seperti itu?”, tanya seorang penatua lain yang adalah Ketua Dewan Diakonia.

“Itu permintaan orangtuanya yang adalah pendeta resort di sana karena merasa kurang pas kalau dia yang memberkati perkawinan anaknya sendiri”, jawab pak pendeta dengan tangkas.

Lalu terjadilah perdebatan, masing-masing dengan pendapatnya. Ada beberapa sintua yang merasa heran kenapa pendeta resort tidak meluluskan permintaan inang sintua tersebut. Apakah karena ada faktor hubungan mereka yang memang tidak harmonis sejak lama? Aku sendiri – karena tidak menguasai persoalan yang sedang dibicarakan – sama sekali tidak bersuara. Walau seringkali mengetahui bahwa bukan pendeta resort yang memberkati perkawinan warga jemaatnya di gerejanya atas permintaan orangtua mempelai – misalnya Eforus atau Sekjen HKBP yang mamasu-masu warga jemaat di Jakarta yang biasanya adalah “orang-orang tertentu” yang sanggup memfasilitasi para pejabat HKBP tersebut yang harus jauh-jauh rela datang dari Pearaja, Tarutung, Tapanuli Utara – tapi aku belum pernah tahu tentang peraturan yang disampaikan pendeta resort tersebut dan bagaimana prosedur standar HKBP tentang hal ini. Daripada salah, mendingan diam dan jadi pendengar yang baik aja, ‘kan?

“Jadi bagaimana sekarang, pak pendeta. Kami harus bersikap dan mengambil tindakan karena pesta ini sudah tidak lama lagi akan berlangsung. Lagian, undangan juga sudah dicetak sesuai permohonan kedua mempelai”, kata seorang penatua lain yang adalah Ketua Dewan Koinonia yang adalah besan dari inang sintua yang akan mengawinkan anaknya tersebut dengan setengah mendesak.

“Begitulah jawaban saya, amang. Tidak berubah.”, kata pendeta resort.

Lalu sermon parhalado menjadi semakin tegang. Diam. Ada sedikit suara berbisik-bisik.

Setelah ditutup, aku pun keluar konsistori. Sebelumnya aku melihat ada seorang penatua yang mantan Ketua Dewan Diakonia yang dulu perkawinan anaknya diberkati Pdt. Simarmata yang sekarang jadi Eforus HKBP yang mencoba membujuk pak pendeta untuk mengabulkan saja permohonan tersebut. Tak lama kemudian beliau keluar dan bergabung dengan kami beberapa orang penatua yang memprihatinkan sikap pendeta resort tersebut. Lalu ada yang berinisiatif untuk melanjutkan diskusi di café yang tidak berapa jauh dari komplek gereja.

Di sana dibahas kembali panjang lebar yang intinya mempertanyakan kekerasan hati pendeta sehingga kurang mencerminkan jiwa pelayan, malah terkesan sangat arogan. Adapula usulan yang disepakati oleh semua untuk “mengutus” aku berbicara lagi dengan pak pendeta dengan pertimbangan tertentu. “Amang Tobing mungkin bisa mencairkan suasana hati pendeta kita ini. Cobalah dibujuk supaya semuanya bisa jadi baik, jangan kisruh begini. Saya nanti yang akan menenangkan inang sintua dan keluarga agar jangan menjadi emosional dan melakukan hal-hal yang tidak kita ingini bersama.”, kata seorang penatua yang adalah mantan Ketua Dewan Koinonia.

Bah! Koq malah jadi ke aku pula?, pikirku. Tapi aku tanggapi secara positif saja atas kepercayaan yang sudah mereka berikan kepadaku. Sedari tadi aku memang terus berupaya memahami apa yang mendasari sikap pak pendeta resort tersebut. Apakah ada unsur “balas dendam”? Mau menunjukkan kuasa? Ataukah ada hal-hal yang kami ‘nggak tahu, atau malah sengaja disembunyikan oleh para “stakeholder” permasalahan ini? Meskipun tipis, namun aku tetap punya keyakinan bahwa pasti ada cara untuk membuat situasinya menjadi baik. Yang pertama harus dilakukan adalah: berbicara empat-mata dengan pak pendeta untuk mengetahui latar belakang sikap beliau seperti itu. Dengan demikian aku akan mengetahui apa yang harus dilakukan. Dengan pertolongan Tuhan, aku percaya pasti akan dibukakan jalan.

Lewat tengah malam, dan café pun sudah bersiap-siap akan tutup. Lalu kami pun bubar dengan tugas yang diberikan kepadaku tersebut. Karena mobilku masih aku tinggalkan di pelataran parkir gereja, aku pun minta diturunkan di jalan raya di depan komplek gereja. Aku mencoba menelepon pak pendeta namun tidak diangkat. Mobil dinas beliau tidak terlihat di garasi tempat biasa menyimban mobil Toyota Avanza hitam yang kami belikan beberapa tahun yang lalu sebagai kendaraan dinas pendeta resort. Karena sudah lelah dan yakin tidak ada lagi yang bisa dikerjakan malam itu, aku pun pulang ke rumah. Di jalan yang sepi aku terus merenung dan berpikir tentang kejadian dan masalah yang terjadi. Sampai di rumah masih berlanjut, sampai kemudian aku berdoa menjelang tidur dan terlelap beberapa menit menjelang pergantian hari tersebut …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s