Dari Konsistori-8: Puji Tuhan, pak Pendeta!

Senin, 13 Mei 2013 aku masih gelisah karena prihatin dengan situasi jemaat kami dan bayangan tentang pertengkaran beberapa orang kaum bapak masih terlintas di benakku. Sampai di kantor, aku mengirim pesan-pendek (SMS) ke pendeta resort yang menanyakan keberadaan beliau. Dijawab bahwa ada di rumah, aku balik bertanya karena aku tahu hari itu ada convent pendeta, yang lalu dijawab beliau bahwa sedang di jalan mau ke tempat acara tersebut …

Tak lama kemudian kami bersepakat untuk bertemu dan ‘ngobrol malamnya di gereja. Tanpa info tentang topik yang akan dibicarakan namun aku yakin bahwa beliau sudah tahu tentang apa yang akan dibicarakan.

Hari itu aku pulang tepat waktu. Lebih cepat dari biasanya agar bisa ketemu dan ‘ngobrol lebih lama dengan pendeta resort. Tapi, kemacetan yang luar biasa terjadi sepanjang perjalanan di Jl. Pegangsaan Dua menuju komplek gereja. Sepanjang perjalanan dan sampai di gereja aku berulangkali memohon perlindungan Tuhan agar dikuatkan dan dimampukan berbicara dengan tenang dan bijaksana dengan hikmat yang datang dari-Nya agar apa yang menjadi tujuan – menyetujui pemberkatan nikah anggota jemaat dilakukan oleh pendeta resort dari Medan yang adalah pilihan keluarga penganten – dapat terwujud.

“Terlambat datangnya, amang sintuanami …”, kata suara yang berasal dari parunung-unungan di belakangku ketika aku baru selesai memarkirkan. Ternyata suara tersebut berasal dari pak pendeta yang sudah menunggu, “Ayo kita ke konsistori aja berbicara …”, ajak beliau.

“Ada apa ini, sintuanami? Kelihatannya ada yang sangat penting mau dibicarakan?”, tanya beliau membuka pembicaraan setelah duduk berhadap-hadapan di ruangan kantor beliau yang dipenuhi buku, di meja maupun di rak yang berada di sebelah kiri.

“Iya, amang. Tadi malam aku ‘nggak bisa tertidur karena masih terbayang peristiwa di gereja kemarin yang ada pertengkaran kaum bapak tentang ketidaksediaan kita menyetujui permohononan keluarga yang menginginkan pemberkatan perkawinan anak mereka dilakukan oleh pendeta yang datang dari Medan. Ada apa sebenarnya dan apa dasarnya kenapa amang menolak? Memang di sermon parhalado amang sudah menyampaikan bahwa itu adalah peraturan yang berlaku di HKBP, tapi menurutku ada hal lain sebenarnya yang menjadi pertimbangan utama”.

“Itulah, sintuanami. Saya juga sudah mendengar bahwa kemarin ada banding di gereja kita ini. Untuk apa disampaikan hal itu ke mantan praeses? Mana ada haknya untuk mengatur jemaat di sini. Ke praeses, bahkan ke Eforus pun diadukan saya ‘nggak takut, karena yang saya lakukan adalah yang benar. Mereka ‘nggak berhak mencampuri pekerjaan saya di sini. Kecuali saya melakukan kesalahan dan pelanggaran tohonan, bisalah saya takut. Kalau cuma begininya, paling saya dipindahkan ke tempat lain. Kenapa saya mesti takut? Banyak tempat yang bersedia menerima saya sebagai pendeta. Tadi siang pun waktu di convent pendeta saya ketemu dengan praeses, ternyata ‘nggak ada masalah.  Kami enak aja ‘ngobrol dengan ringan. Memang waktu di sermon sudah saya sampaikan tentang ketidaksetujuan saya, tapi itu bukan berarti tidak bisa berubah. Itu ‘kan diplomasi saya. Tuhan saja masih mau mengubah keputusannya kalau kita meminta dengan sungguh-sungguh, ‘kan? Yang saya ‘nggak suka adalah cara mereka, keluarga tersebut yang sudah langsung memberi tahu ke mana-mana bahwa perkawinan anaknya bukan diberkati oleh saya. Kenapa bukan bicara dulu sama saya? Saya ‘kan pimpinan jemaat di sini …” urai pak pendeta dengan panjang-lebar yang semuanya ‘nggak bisa aku cantumkan di sini karena berbagai keterbatasan.

“Oh, begitu … Sekarang aku sudah tahu lebih jelas. Terus bagaimana caranya agar hal ini bisa kita selesaikan dengan baik, amang? Bagaimana caranya agar pemberkatan nikah ini bisa dilakukan sesuai permintaan keluarga penganten?”, tanyaku dengan bersungguh-sungguh, karena perdamaian yang menyenangkan kedua belah pihak adalah yang utama, ‘kan?

“Itulah pertanyaan dan cara yang saya sukai, sintuanami. Bukan seperti cara yang dilakukan sintua-sintua waktu di sermon parhalado yang lalu yang bertanya dengan memaksa saya untuk menyetujui permohonan mereka. Saya ‘nggak keberatan untuk mengizinkan pendeta dari Medan itu untuk memberkati pengantin. Saya juga kenal dengan dia, bahkan lebih kenal lebih dahulu daripada mereka karena dia adalah kawan seangkatan saya waktu kuliah di STT. Isterinya juga. Tapi, cara mereka yang saya ‘nggak suka. Saya pasti setuju, asalkan mereka mau datang dengan baik-baik ke saya, lalu membicarakan bagaimana ke depannya”.

“Artinya kalau bisa aku atur supaya bisa ketemu dan bicara dengan keluarga pengantin, amang bersedia?”, tanyaku penuh harap.

“Tentu saja. Saya ‘nggak punya maksud apa-apa yang lain kecuali membuatnya supaya baik. Dan malam nanti kami rencananya mau ketemuan di sini. Sintua Ketua Dewan Marturia sudah mengatur pertemuan itu. Jadi, di gereja kita ini hanya kalian berdua sajalah sintua yang masih bisa berpikiran jernih untuk memperbaiki pelayanan di jemaat ini, yang masih berusaha mencari solusi. Bukan seperti sintua yang lain yang malah suka memanas-manasi orang-orang dan mengancam-ancam”.  Sempat juga aku bangga sama diriku sendiri, namun cepat tersadar, malah jadi prihatin dengan ucapan pendeta resort tersebut.

Karena sudah mendapat jawaban yang melegakan – dan sedang ditunggu oleh pertemuan lainnya yang dijadualkan jam delapan malam itu – aku pun mohon pamit sekaligus bergegas meninggalkan ruangan tersebut yang diiringi oleh pak pendeta. Dan benarlah, tak jauh dari konsistori, di depan ruang Sekolah Minggu kami berpapasan dengan rombongan dimaksud yang akan bertemu dengan pendeta resort. Ada tulang-ku yang adalah orangtua calon penganten laki-laki, ada Ketua Dewan Marturia, ada Ketua Dewan Koinonia (yang juga marlae karena anak beliau menikahi boru tulang tersebut). Mereka kaget melihatku, lalu bertegur sapa, lantas aku pamit pulang. Di mobil ketika hendak keluar dari komplek gereja, aku berpapasan dengan Ketua Dewan Diakonia yang berjalan kaki menuju rombongan tadi. Dari pembicaraan kami, ternyata beliau juga termasuk peserta yang diajak ikut berbicara dengan pendeta resort. Karena beliau termasuk orang yang “mengutus” aku untuk berbicara dengan pendeta resort saat pertemua di café beberapa hari sebelumnya, maka akupun sampaikan hasil pembicaraanku barusan dengan pendeta resort.

“Sudah baguslah. Aku sudah mendengar dari pak pendeta dan bagaimana tanggapan beliau tentang hal ini. Dan tadi pun sudah disampaikan bahwa beliau masih terbuka pada kemungkinan menyetujui permohonan keluarga pengantin. Jadi, bicarakan sajalah dengan baik-baik supaya baik untuk semuanya. ‘Nggak usahlah lagi mencari-cari kesalahan dan saling menyalahkan, karena yang penting untuk kita adalah permintaan keluarga pengantin dapat dipenuhi sehingga semuanya bersukacita …”.

Di rumah, aku berulangkali mensyukuri untuk pembicaraan malam itu. Selain karena hasilnya berujung pada kedamaian, aku juga mendapat pelajaran berharga tentang masalah seperti ini yang mungkin saja akan terjadi lagi di masa-masa yang akan datang. Puji Tuhan! 

Iklan
By tanobato Posted in HKBP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s