Dari Konsistori-9: Kenapa Dibiarkan Sekolah Injil Liburan (SIL) Berbenturan dengan Lepas Sidi?

Selasa, 28 Mei 2013 aku dikirimi info oleh salah seorang Guru Sekolah Minggu (GSM) yang terkesan dengan nada “setengah panik” mengabarkan bahwa Parguru Malua akan manghatindangkon haporseaon pada Minggu, 07 Juli 2013.

Memangnya kenapa?

“Itu bersamaan dengan acara Sekolah Injil Liburan atau SIL Sekolah Minggu kita, bang …:. 

Memangnya kenapa (lagi)?

“Ada lima (orang) anak Sekolah Minggu yang kakaknya adalah parguru malua, sehingga kemungkinan ‘nggak bakalan ikut ke acara SIL itu. Sebaiknya lepas sidi dimundurkan seminggu, karena SIL sudah ‘nggak bisa diganti. Selain karena sudah bayar panjar, kita harus cari tempat lain karena jadual lainnya sudah penuh …”

+++

Setelah di partangiangian wejk tidak mendapat tanggapan yang memadai dari inang pandita (dalam artian hanya diberikan alasan yang ‘nggak masuk akal …), maka hal ini pun aku munculkan kembali saat sermon parhalado pada hari Jum’atnya. Dan jawabannya sama: lepas sidi ‘nggak bisa digeser tanggalnya.

“Karena sudah kita jadualkan, amang sintuanami. Inilah salah satu sebabnya kalau Seksi Sekolah Minggu ‘nggak memberikan jadual kegiatannya selama satu tahun 2013 ini, jadinya berbenturan seperti ini jadual kegiatan”, kata pendeta resort memberikan alasan. Menggelikan bagiku, karena sebelum Rapat Jemaat tahun 2012 yang lalu (yang kemudian dibatalkan dengan alasan tidak mencapai quorum peserta) Seksi Sekolah Minggu sudah mencantumkan SIL ini sebagai salah satu kegiatan besar Sekolah Minggu untuk tahun 2013. Dicantumkan rencana pelaksanaannya sekadar Juli 2013, karena memang saat itu belum ada yang tahu jadual pasti liburan sekolah. Lagian, sampai sekarang pun Buku Program Kerja/Pelayanan Jemaat Tahun 2013 belum ada dikeluarkan walau sudah berulangkali dimintakan ke pendeta resort. Alasannya “aneh” bagiku: belum satu pun Seksi yang menyetorkan tanggal-tanggal jadual kegiatannya sehingga buku yang seharusnya jadi panduan pelayanan jemaat tersebut belum bisa diterbitkan. Aneh, ‘kan?

“Tidak bisa dimundurkan, amang karena amang S akan kawin pada tanggal sesudah itu. Dia mau anaknya sudah malua waktu dia diberkati”, kata inang pandita diperbantukan menimpali dengan alasan yang lebih membuatku heran: hebat benar gara-gara seorang warga jemaat mau kawin (lagi, karena statusnya adalah duda …) sehingga yang lainnya yang melibatkan jumlah umat yang lebih banyak harus dikorbankan. Apalagi pesta dan pemberkatan perkawinannya juga bukan dilangsungkan di Jakarta (menurut info dari seorang penatua yang mengetahui hal ini karena kami dulunya adalah sama-sama anggota punguan koor ama sebelum calon pengantin ini ditinggal mati oleh almarhumah isteri beliau). Luar biasa!

“Lagian, sampai sekarang belum ada proposal yang kami terima tentang kegiatan SIL ini”, tambah inang pandita diperbantukan lagi yang membuatku menjadi kesal sehingga harus angkat bicara. 

“Kalau infonya sebenarnya ‘kan sudah disampaikan oleh Seksi Sekolah Minggu dua minggu lalu, bahkan di sermon parhalado seperti ini. Dokumen proposalnya memang ‘nggak diserahkan saat itu karena belum diteken oleh Ketua Dewan Koinonia karena beliau mendadak pulang ke Medan karena ada keluarga yang meninggal, tapi tentang rencana, jadual, dan tempat SIL pastilah sudah disampaikan. Sekarang begini saja. Kita punya dua kegiatan yang bersamaan tanggalnya, yakni parguru malua manghatindangkon haporseaon dan SIL Sekolah Minggu yang keduanya melibatkan warga jemaat yang mungkin saja sama. Apakah akan kita biarkan berbenturan? SIL ini akan menghabiskan uang dua puluh sembilan juta yang adalah uang jemaat yang tentunya itu bukanlah jumlah yang sedikit. Pada sisi yang lain, kita punya kuasa untuk mencegah benturan tersebut, dan benar-benar tergantung di tangan kita untuk membuatnya menjadi baik. Kembali aku tanyakan, masih mau dibenturkan?” 

“Tidak bisa lagi diubah, amang“, kata pendeta berdua hampir berbarengan.

“Benar harus begitu? Kalau begitu, aku mau mulai Minggu depan dimasukkan ke tingting agar semua warga jemaat mengetahui bahwa akan ada dua kegiatan besar di gereja kita ini yang berbenturan. Kita lihat saja reaksinya nanti”, kataku.

“Oh, belum bisa SIL dimasukkan ke tingting, amang“, kata inang pandita diperbantukan, “Waktunya ‘kan masih lama, masih bulan depan. Selain itu, proposalnya juga ‘kan belum diterima parhalado“.

“Oh, begitu? Malah menurutku kita terlambat mengumumkan hal ini karena kita perlu memberitahu para orangtua jauh-jauh hari sebelumnya agar mereka mengatur jadual libur anak-anaknya supaya ‘nggak berbenturan dengan jadual kegiatan liburan mereka lainnya yang ada. Koq malah aneh ya kita ini? Terus, sejak kapan kita ini menjadi sangat kaku bahwa harus ada pemberitahuan tertulis baru bisa masuk ke tingting?”

Owalah, para pelayan jemaat yang mengaku hamba Tuhan …

Ampunilah aku, ya Tuhan untuk kesalahan yang aku perbuat dalam hal ini!

Masih ada lagi pernyataan dari pandita: “Ada uang pelayanan untuk parhalado yang mendampingi seksi berkegiatan di luar Jakarta yang besarnya dua ratus lima puluh ribu rupiah per hari. Tapi kalau nanti kalian berdua sintua yang akan mendampingi, maka uangnya harus dibagi dua …”. Alamakkk … ‘nggak ‘ngerti aku tendensi perkataan pemimpin pelayan jemaat kami ini. Selama ini pun aku ‘nggak pernah mau menerima “honorarium” tersebut. Pernah “dipaksa” menerima uang hamauliateon akhir tahun, itupun aku “kembalikan” dengan cara meminta kepada Bendahara agar diberikan ke Seksi Sekolah Minggu, sementara ada beberapa kawan penatua menolak mentah-mentah menerimanya.

Mohon ampunilah lagi aku ini, ya Tuhan untuk kesalahan yang aku perbuat dalam hal ini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s