Andaliman-235 Khotbah 23 Juni 2013 Minggu-IV setelah Trinitatis

Roh Kudus yang Menguatkan untuk Kita Bersaksi. Jadilah seperti Ular dan Merpati, bukan: seperti Ular atau Merpati!

Evangelium Matius 10:16-22

Penganiayaan yang akan datang dan pengakuan akan Yesus

10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti  merpati.

10:17 Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.

10:18 Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.

10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.

10:20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

10:21 Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.

10:22 Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Epistel Galatia 4:4-9

4:4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

4:5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.

4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

4:7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

4:8 Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah.

4:9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada  roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?

Sekilas, khotbah Minggu ini persis dengan khotbah pada Minggu Pentakosta yang lalu, utamanya perikop yang membahas tentang pengakuan “ya Abba, ya Bapa”. Aku juga – sebagai penatua pemimpin sermon – sempat “terjebak” dengan pemahaman seperti itu. Puji Tuhan, ada saja kesadaran yang datang kemudian yang mengubah orientasiku sehingga ‘nggak benar-benar terpengaruh dengan pesan pada Minggu yang lalu itu. Karena topik pada Minggu ini menekankan pada keyakinan bahwa Roh Kudus membantu untuk bersaksi.

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini menguatkan bahwa semua orang percaya adalah anak yang berhak mendapatkan warisan dari Bapa, yakni kasih karunia dan anugerah yang memang telah disiapkan oleh Bapa untuk anak-anak-Nya, yakni yang setia sampai akhir hidupnya.

Ep ini menjelaskan bahwa Yesus yang adalah Tuhan, punya pengalaman yang sama dialami oleh manusia pada umumnya, yakni dikandung dan dilahirkan oleh manusia biasa, dan juga menjalani kehidupan sebagaimana manusia pada zaman itu. Termasuk di dalamnya adalah menjalani ritual sebagaimana yang diaturkan dalam hukum Yahudi, yakni Taurat. Jadi, semua urutan tradisi Yahudi diikuti oleh Yesus – disunat, diserahkan kepada imam, memberikan persembahan ke rumah ibadah, merayakan Sabat dan Paskah – sampai kemudian Dia menggenapi hukum Taurat dengan pengorbanan-Nya di kayu salib.

Kematian-Nya di kayu salib –lalu bangkit pada hari yang ketiga – itulah sebagai penebus umat manusia dari kutukan dosa dan hukum taurat, yakni sebagai cara untuk menebus umat manusia yang pada masa itu masih takluk di bawah kuasa Taurat. Selanjutnya – setelah Dia naik ke surga – maka Dia mengutus Roh Kudus sebagai pengganti kehadiran-Nya dalam kehidupan manusia. Roh Kudus itulah yang selanjutnya mendampingi, mengarahkan, menyertai, membimbing, mengajar, memberikan pengertian dan hal-hal lainnya yang sangat dibutuhkan umat percaya dalam menjalani kehidupan sebagai orang percaya yang tidak luput dari tantangan, cobaan, derita, siksaan, dan kepahitan lainnya sebagai konsekuensi sebagai pengikut Tuhan. Bahkan di nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini dengan jelas disampaikan bahwa para penguasa, raja-raja, pemimpin jemaat (bahkan!), dan saudara-saudara sendiri (bahkan lagi!), dan orangtua (lagi-lagi bahkan!) adalah oknum-oknum yang berpotensi melakukan kejahatan terhadap orang percaya. Mengerikan!

Namun, jangan salah, tidak semua pihak-pihak yang disebutkab di atas akan “otomatis” menjadi pelaku kejahatan dan pembuat derita bagi orang percaya. Bukan! Itulah makanya aku menyebutkan bahwa mereka “berpotensi”, artinya besar kemungkinan akan terjadi, utamanya kalau mereka bukan berjalan di jalan Tuhan. Dengan kata lain, diperlukan kewaspadaan terhadap semua orang yang mungkin saja akan menjadi pelaku kejahatan bagi orang percaya dalam mempertahankan iman percayanya.

Untuk itu, dipesankan agar menjadi seperti ular dengan kecerdikannya dan seperti burung merpati dengan ketulusannya. Ingat ya, ini harus dijalankan bersamaan. Jadi, ‘nggak boleh jadi seperti ular saja (nanti bisa jadi “manguloki” …) atau seperti merpati saja (nanti malah jadi kebodohan total sebagaimana dimaksud dalam ungkapan Batak: “mardongan do haotoon tu haburjuon” …), melainkan harus serentak keduanya.

Dan ‘nggak perlu juga kuatir tentang “apa yang harus dijawab” dalam menghadapi itu semua, karena Tuhan sudah menyiapkan Roh Kudus yang selalu siap sedia menyiapkan tanggapan atas semua situasi sulit yang harus dihadapi (aku jadi teringat pada snapshot ketika Yesus diperhadapkan pada Pilatus dan Herodes dengan sikap-Nya yang tenang dan tidak menjawab semua pertanyaan, selain hanya yang benar-benar perlu dijawab saja).        

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Seringkali aku mendengar ajaran tentang kasih karunia yang diajarkan (dan dipahami oleh sebagian besar orang-orang) di gereja “lain-lain” sebagai lawan atas hukum taurat, dengan mengatakan bahwa sekarang kita tidak lagi hidup di bawah kuasa hukum Taurat karena Taurat sudah tidak berlaku lagi dengan kedatangan Yesus. Hal ini patut kita waspadai – dan aku pun hampir sepuluh tahun yang lalu sempat terlena dengan ajaran ini – karena bukan demikian yang disampaikan oleh Yesus, sebab Dia datang bukanlah untuk menghapuskan hukum Taurat, dan tidak boleh satu titik atau satu iota pun dari hukum tersebut yang bisa dihilangkan. Yang perlu kita pahami adalah bahwa Taurat hanyalah “sekadar” menyampaikan rambu-rambu larangan untuk menjauhkan kita dari hukuman, namun tidak memberitahukan apa yang harus dilakukan supaya kita selamat. Jadi, Taurat tidak menyelamatkan. Hanya kasih karunialah yang menyelamatkan kita sebagai orang percaya.

Kita yang sekarang sudah menjadi anak – yang tentunya sangat jauh berbeda statusnya dengan anak pada zaman kitab itu ditulis yang lebih mendekati status hamba – diingatkan agar jangan lagi mau kembali ke status hamba dan hidup dalam perhambaan. Untuk apa lagi, ya? Bukankah jauh lebih enak menjadi anak (berhak atas warisan, bersahabat dan dekat dengan Bapa, mengetahui masa depan yang penuh harapan, dan lain-lain) daripada sekadar hamba? Tapi itulah, ada saja orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk bersedia kembali ke kehidupan lamanya, yakni menjadi hamba.

Sudah mengenal Allah, bahkan sudah dikenal Allah jauh-jauh hari sebelumnya (alangkah menyukacitakannya …), koq masih “mau-maunya” memperhambakan diri pada allah-allah pra-Yesus yang lemah dan miskin itu. Kasihan banget …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s