Andaliman-236 Khotbah 30 Juni 2013 Minggu-V setelah Trinitatis

Ikut Yesus Tanpa Alasan Menunda, Itu Harus!

 

Evangelium Matius 8:18-22

Hal mengikut Yesus

8:18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang.

8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

8:20 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat  untuk meletakkan kepala-Nya.”

8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”

8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Epistel 1 Raja-raja 19:19-21

Elisa terpanggil

19:19 Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.

19:20 Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.”

19:21 Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti  Elia dan menjadi pelayannya.

Apa yang dibutuhkan seseorang untuk mengikut Tuhan? Komitmen dan tindakan segera! Itulah yang ditunjukkan oleh nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu ini, yang keduanya juga menunjukkan konsekuensi yang tidak ringan.

Pada Ev, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mengikutnya harus siap meninggalkan semua kemewahan hidup (jawaban untuk ahli taurat) dengan mengatakan bahwa “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (ayat 20) dan tidak bisa menunda (jawaban untuk orang yang mohon pamit menguburkan orangtuanya (ayat 21-22) bahkan dengan jawaban yang terasa kasar bagi kalangan Yahudi (juga “bangsa” Batak) yang sangat menghormati orangtua …

Demikian juga halnya pada Ep yang mengisahkan regenerasi pelayan dari Elia kepada Elisa. Elisa sudah mantap bahwa Tuhan menunjukkan Elisa sebagai penggantinya dengan cara melemparkan jubahnya (yang diyakini mempunyai kesaktian itu …) kepada Elisa, yang lebih muda dan berlatar belakang petani dan peternak. Bedanya, jika Yesus tidak mengizinkan calon pengikutnya untuk menguburkan ayahnya, tapi Elia memberikan izin kepada Elisa untuk pamit kepada orangtuanya (bahkan melakukan pesta dengan menyembelih lembu yang tentunya tidak habis dimakan hanya dalam hitungan jam. Apa yang membedakannya?

Menurutku: karena Yesus adalah Tuhan, sedangkan Elia hanyalah “sekadar” nabi. Lho? Memangnya kenapa?

Sebagai Tuhan, Yesus tahu isi hati dari setiap orang, termasuk ahli taurat (yang tentunya hidupnya bukanlah orang melarat karena sebagai orang berpendidikan pastilah berasal dari kalangan orang kaya) dan orang yang memohon izin menguburkan orangtuanya terlebih dahulu sebelum benar-benar bersedia mengikut Yesus. Untuk ahli taurat, Yesus tahu bahwa dia bermotivasi untuk mendapatkan kehormatan tapi tidak bersedia menderita. Untuk orang yang “yatim”, Yesus tahu bahwa dia tidak bersungguh-sungguh karena belum tentu bahwa ayahnya memang benar-benar sudah meninggal (tradisi Yahudi menganut pengebumian orang mati sesegera mungkin, jadi kalaupun benar mati, tentunya upacara pengebumiannya sudah selesai …). Dan mungkin juga bahwa itu hanyalah sekadar alasan baginya untuk tidak mengikut Yesus karena dia sebenarnya masih ingin mengasuh ayahnya yang masih hidup dengan menjadikan alasan kematian untuk menguatkan argumentasinya kepada Yesus. Lagian, Yesus bukanlah makhluk asosial dan atau anti sosial, melainkan karena tahu apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi sehingga tidak mengizinkannya.

Ucapan Yesus sebagai jawaban atas permohonan izin menguburkan mayat terlebih dahulu dengan mengatakan “… biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (ayat-22) harus dipahami sebagai “… biarlah orang-orang mati (secara rohani) menguburkan orang-orang mati (secara jasmani) mereka” sebagaimana orang-orang Yahudi dengan iman kepercayaannya saat itu yang masih jauh dari menerima Yesus sebagai mesias.

Pada sisi lainnya, Elia yang dengan pertolongan dan petunjuk Tuhan sangat meyakini keseriusan Elisa sebagai nabi pengganti dirinya (apa lagi yang harus membuat ragu kalau Tuhan sudah berkehendak, ‘kan?) dengan tidak ragu mengizinkan Elisa berpamitan. Bahkan berpesta dengan cara menyembelih lembunya dan menjadikan bajaknya sebagai bahan bakar pengganti kayu bakar, yang ini juga menunjukkan keseriusan Elisa meninggalkan masa lalunya dan apa yang dimilikinya untuk menerima tugas yang baru sebagai pelayan Tuhan. Luar biasa!

Dan hal ini mengingatkanku pada beberapa orang luar biasa yang meninggalkan kehidupannya yang sudah mapan secara duniawi, lalu mengikut Yesus sebagai hamba Tuhan sepenuhnya. Pernah dengar juga, ‘kan? Ada yang sudah menjabat eksekutif tertinggi di perusahaan, eh … “tiba-tiba” berhenti, lalu jadi pendeta dan berkhotbah serta menginjili ke mana-mana. Meninggalkan kenyamanan hidup yang sudah lama diidam-idamkan dan diusahakan, “mendadak” bersedia menjadi “orang susah” karena meyakini bahwa panggilan hidupnya bukanlah di dunia sekuler.

Juga saat aku masih kuliah di Medan, ada beberapa kawanku yang sangat berprestasi secara akademik, lalu kuliah di perguruan tinggi ternama, eh … beberapa tahun kemudian meninggalkan bangku kuliah karena “kepincut” pada pelayanan yang pada masa itu sedang semangat-semangatnya mencari “hidup baru”. Misterius bagiku saat itu, apalagi mengetahui bahwa orangtuanya menjadi sangat sedih karena memberangkatkan anaknya kuliah jauh dari dirinya karena berharap akan meraih gelar sarjana dan mendapatkan penghidupan yang layak, namun yang didapat adalah sangat jauh dari bayangannya ketika berlinang air mata melambaikan tangan mengiringi berangkatnya kapal laut dari pelabuhan Belawan. Lalu do’a-do’a yang didaraskan setiap hari untuk kebaikan dan keberhasilan anaknya menimba ilmu di tempat yang jauh …

Saat ini tidak lagi, setelah mengetahui firman Tuhan dan jalan Tuhan.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Secara garis besar, perikop ini memesankan tentang mengikut Tuhan. Yang satu, berlaku universal, yakni bagi semua warga jemaat yang mengingatkan bahwa mengikut Tuhan haruslah dengan penuh kesungguhan dan komitmen yang benar-benar harus dinyatakan dan dilaksanakan dengan segala konsekuensinya. Yang kedua, tentang panggilan pelayanan, baik yang belum jadi pelayan, maupun yang sudah “terlanjur” jadi pelayan.

Bagi yang belum jadi pelayan, pertimbangkanlah terlebih dahulu, masak-masak, bukan sekadar keinginan semata. Gumulkan dalam do’a, itu sudah pasti. Pada sisi yang berbeda, jika sudah ada panggilan, janganlah pula mudah menolak dengan berbagai alasan (ini seringkali terjadi manakala jemaat sedang mencari penatua, dan orang yang sebenarnya dianggap layak, malah menolak dengan alasan “tidak cocok”, “tidak mampu”, “masih muda”, “tidak punya waktu”, dan lain-lain sebagainya).

Dan bagi yang sudah jadi pelayan, janganlah pernah ragu untuk menjalani hidup sebagai pelayan Tuhan. Walau secara pribadi aku meyakini bahwa untuk menjadi pelayan yang efektif haruslah datang dengan bekal yang memadai – yang sering aku sampaikan dengan istilah “jangan jadi pelayan dengan tangan kosong”, atau “masak mau jadi pelayan Tuhan tapi ‘nggak bisa berdoa?” – yang paling utama adalah kerendahan hati dan kesediaan dipakai Tuhan sebagai bagian dari persembahan hidupnya karena Tuhan akan melengkapi orang-orang yang mau melayani-Nya dengan sungguh-sungguh. Itu pasti!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s