Andaliman-241 Khotbah 04 Agustus 2013 Minggu-X setelah Trinitatis

Berhati Lurus dan Melakukan dengan Tulus. Belajar dari Nazi yang Berakal Bulus?

Evangelium 1 Petrus 3:8-12

Kasih dan damai

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

Epistel Mazmur 34:12-23 (bahasa Batak Psalmen)

34:11 (34-12) Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!

34:12 (34-13) Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

34:13 (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

34:14 (34-15) jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

34:15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:17 (34-18) Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. 34:19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

34:20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

34:21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

34:22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Sermon parhalado Jum’at lalu menjadi seru manakala diskusi perikop ini aku menyampaikan pendapat (yang pertama, seperti biasanya belakangan ini …): “Tidak terlalu susah memahami nas perikop kita ini karena pesannya mudah kita pahami. Yang menjadi tantangannya adalah bagaimana dalam membawakannya sebagai khotbah di partangiangan wejk nanti karena banyak pesannya yang dilanggar dan tidak dilakukan. Aku sendiri, misalnya. Aku tidak bebas dari perbuatan tinggi hati, pendendam, dan yang paling sering adalah pembohong. Sebelum mengkhotbahkan kepada umat, tentunya harus dikhotbahkan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Setelah menyadarinya, barulah bisa berharap bahwa khotbah yang akan disampaikan jadi berkuasa. Kalau orang-orang sudah tahu bahwa pengkhotbah bukanlah pelaku pesan firman yang disampaikannya, apakah kita masih bisa berharap bahwa khotbah tersebut akan menyentuh umat?”. Lalu masing-masing orang berebut menyampaikan pendapatnya. Riuh. Menurutku, inilah diskusi di sermon parhalado kami yang seriuh ini. Dalam pengertian positif, tentunya …

Bisa jadi ini disebabkan oleh suasana emosional jemaat yang belakangan ini semakin sering menerima dan menghadapi perlakuan yang tidak berimbang (maksudnya terjadi senjang antara perilaku yang seharusnya dilakukan dengan perilaku yang actual dilakukan) dalam pelayanan jemaat. Kebohongan, balas dendam, kurang mengasihi, bukan pengampun, tidak rendah hati, memfitnah, tidak suka berdamai, adalah sifat dan sikap yang makin sering dirasakan oleh warga jemaat saat menerima pelayanan jemaat. Artinya, pelayan jemaat melakukan hal-hal yang bertentangan dari apa yang seharusnya dilakukan sebagai hamba Tuhan. Menyedihkan, ya?

Dan itu adalah “agenda tersembunyi” yang sengaja aku lontarkan di forum tersebut agar menjadi oto-kritik kepada semua parhalado, orang-orang yang dikhususkan bagi Tuhan (yang semakin memudar citranya, menurutku …). Bukan sok suci, aku merasakan bahwa semangat pelayanan kami semakin jauh dari yang seharusnya sebagaimana yang kami ikrarkan saat menerima pemberkatan saat ditahbiskan sebagai penatua. Ini seringkali aku pergumulkan dengan merenung menjelang tidur malam (di malam yang sepi di rumah kontrakan, ckckck …). Dan aku sering merasa tertampar setiap kali menyadari kesalahan yang terjadi. Selain mohon ampun kepada Tuhan, aku tidak pernah lupa meminta tambahan kekuatan agar dimampukan dalam menjalankan pelayanan yang aku sudah janjikan sebelumnya.

Kemarin siang, di tengah kemacetan jalanan Kelapa Gading saat menuju rumah sakit untuk perawatan mata yang kemudian berlanjut ke gereja karena aku diminta berkhotbah di punguan lansia dan punguan ina, aku tercerahkan dengan siaran radio swasta nasional yang baru kali itu aku pantau (selain karena sangat jarang mendengar siaran radio di siang hari karena jam kerja, biasanya juga yang aku dengarkan adalah siaran radio rohani Kristen yang jika siang hari semuanya berubah wujud menjadi radio “sekuler” …). Penyiarnya berkata begini: “Ya, saya juga jadi teringat dengan Joseph Goebbels, perwira propaganda Nazi Jerman yang mengatakan bahwa ‘Kebohongan yang dilakukan berulang-ulang, suatu saat akan menjadi kebenaran. Dan kebohongan terbesar adalah pemelintiran sedikit saja dari kebenaran’.”. Benar-benar tercerahkan! Itulah sebabnya ada orang yang sangat “hobby” berbohong. Karena sudah dipardagingkon dan sudah dihangoluhon, jadi kebohongan itu merupakan hal yang biasa. Dan tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang salah. Jangan-jangan aku juga sering melakukannya? Menyedihkan!

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu ini sangat terasa ketersambungan antara nas perikop Ev dan Ep, bahkan terkesan bahwa penulis kitab Petrus mengutip apa yang tertulis pada Mazmur tersebut. Dan kalimat-kalimat yang ditulis dalam kedua nas tersebut tentulah sangat dekat dengan diri kita, dan sering pula menjadi hal yang menantang dalam kehidupan kita. Selain himbauan untuk melakukan hal-hal baik dan menjauhkan hal-hal yang tidak berkenan bagi Tuhan, nas tersebut juga menyampaikan tentang upah yang akan kita terima bilamana menjalankan hal-hal tersebut.

Sadar, lalu berbaliklah dari perbuatan-perbuatan jahat dalam perkataan dan perbuatan yang selama ini kita lakukan. Drastis! Total alias menyeluruh. Namun – kalau ‘nggak sanggup – berangsur-angsur juga boleh, karena kita juga diminta untuk meniru Yesus dan menuju kesempurnaan-Nya dari hari ke hari. Ajakan ini menjanjikan hal-hal sebagai berikut:

(1)     hidup penuh dengan berkat dan perkenan Allah,

(2)     kehadiran Allah yang dekat dengan pertolongan dan kasih karunia-Nya (ayat 1Pet 3:12), dan

(3)     jawaban Allah atas doa kita

Apa lagi yang lebih indah daripada itu?

Bingkai kasih adalah hal yang akan memampukan kita dalam melakukan semua perbuatan yang diminta. Selalulah berbuat dengan dilandasi oleh kasih.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Pernah dengar “basa-basi rohani” dan atau “dosa rohani”? Itu adalah hal-hal yang dilakukan dalam situasi rohani (berdoa, beribadah, menyanyi pujian bagi Tuhan, adalah di antaranya) namun sangat berpotensi menimbulkan dosa. Punya contoh tentang hal ini? Bagaimana tindakan selanjutnya?

(2)     Seringkali kita mendengar orang-orang berdoa: “Ampunilah dosa-dosa kami, baik yang besar maupun yang kecil, yang disengaja maupun yang tidak disengaja”. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan “dosa rohani” tersebut?

(3) Mana yang lebih benar: “Tuhan memperhatikan orang-orang yang benar”, atau “Tuhan memperhatikan orang-orang yang jahat”? Mengapa?

Andaliman-240 Khotbah 28 Juli 2013 Minggu-IX setelah Trinitatis

Mengasihi dengan Melayani sebagai Ibadah, seperti Orang Samaria yang Murah Hati

Evangelium Lukas 10:25-37

Orang Samaria yang murah hati

10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 

10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan> itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”

10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah  demikian!”

Epistel Imamat 19:9-18

19:09 Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.

19:10 Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.

19:11 Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.

19:12 Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.

19:13 Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.

19:14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Betullah Yesus itu luar biasa kreatif (selain luar biasa lainnya, tentunya!). Membaca Injil yang menjadikan-Nya sebagai pusat pemberitaan, aku sering terkagum-kagum dengan cara-Nya menyelesaikan masalah atau tentangan yang seringkali melingkupi-Nya, utamanya manakala berhadapan dengan orang-orang Yahudi. Tak jarang pula terkesan lucu alias humoris (ingat bagaimana Dia menantang orang-orang tua Yahudi yang pengen melempari seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah, lalu dengan diam menulisi sesuatu di tanah sampai semua orang-orang tersebut pergi meninggalkan Yesus dan perempuan itu dengan sangat malu?)

Demikian pulalah yang diceritakan pada perikop yang menjadi nas Ev Minggu ini. Seorang ahli taurat sebenarnya berniat untuk menguji Yesus karena menganggap dirinya sudah benar-benar suci sehingga berani menantang Yesus. Bukan hanya satu kali, bahkan “mengejar” Yesus sambil berharap jawaban Yesus akan menguntungkan bagi dirinya. Ternyata jawaban Yesus sangat jauh berbeda dengan harapannya, bahkan menyindir dia yang berposisi sebagai orang yang paling suci dengan kisah tentang orang Samaria yang murah hati.

Konon, daerah yang dijadikan latar belakang cerita ini adalah tempat yang sangat rawan dari segi keamanannya. Letaknya dan topografinya yang berbukit-bukit sangat memungkinkan dimanfaatkan penjahat untuk melakukan kejahatan dengan semaunya. Dan kejahatan itu menimpa seseorang (kemungkinan orang Yahudi), dirampas, dipukuli sampai nyaris meninggal dunia, lalu ditinggal. Ada dua orang suci yang lewat – yakni imam dan orang Lewi yang seharusnya sangat bisa diharapkan belas kasihannya – namun keduanya menjauh dan tidak memberikan pertolongan (hampir sama seperti kebanyakan kita dengan berbagai alasan juga, ya?) sampai datanglah seorang Samaria yang bermurah hati. Kenapa disebutkan “orang Samaria yang bermurah hati”? Kemungkinan jawabannya adalah karena memang ‘nggak semua orang Samaria adalah orang-orang yang murah hati (sama dengan kita juga, ‘kan?).

Orang Samaria yang dianggap tidak sama tingkatannya dengan orang Yahudi (“bukan bangsa asli dan orang kafir”, demikian kata mereka) ternyata menunjukkan belas kasihannya dengan tuntas. Bahkan bersedia berkorban lebih besar dari yang “wajib” (yakni sekadar memberikan pertolongan pertama) dengan menjanjikan mengganti kerugian jika biaya yang dikeluarkan ternyata lebih besar daripada dua dinar (setara dengan upah dua hari pada umumnya) uang yang diberikannya.

Bagiku, agak mengherankan memang tindakan yang diambil oleh imam dan orang Lewi (suku bangsa Israel yang merupakan “sumber” bagi imam dan orang suci Yahudi lainnya) yang menghindar dari tanggung jawabnya dalam menanggapi peristiwa tersebut. Mereka (aku juga termasuk, sih …) yang setiap hari membaca firman Tuhan dan memberitakannya yang termasuk di dalamnya adalah memberikan pertolongan sebagai refleksi perbuatan kasih, ternyata pada pelaksanaannya tidak terjadi sama sekali. Menyedihkan, bahkan memalukan! Hal yang sama terjadi padaku manakala merenung dengan mengingat betapa banyak orang yang seharusnya bisa aku bantu (dan aku mampu sebenarnya melakukakannya) namun yang aku lakukan sama menyedihkannya dengan yang dilakukan oleh kedua orang seperti yang tercantum dalam nas perikop Ev Minggu ini.

Nas Ep Minggu ini menyuarakan hal yang sama, yaitu berbelas kasihan dengan membantu orang yang kekurangan dengan cara tidak mengambil semua hasil panen dari ladang (walau sebenarnya adalah hak pemilik lading). “Menyisakan” dengan sengaja agar diambil oleh orang-orang yang pantas menerimanya (anak-anak, janda, orangtua uzur, orang miskin) konon merupakan tradisi kuno orang Palestina, yakni sebagai bagian dari persembahan kepada dewa. Konteksnya diubah menjadi persembahan kepada Tuhan dengan pemberian kepada orang-orang miskin. ‘Nggak jauh beda dengan perayaan Natal yang ditetapkan setiap 25 Desember yang sebelumnya adalah tanggal perayaan bagi penyembah berhala, ya?

Selanjutnya adalah mengingatkan kembali tentang hokum taurat, yakni berhubungan dengan manusia, yaitu perintah untuk tidak melakukan kejahatan, misalnya mencuri, menahan upah, menyebar isu, berbuat curang, berdusta, menghina, dan sebagainya. Yang pada akhirnya mengingatkan bahwa perbuatan tersebut semua tidak layak dilakukan oleh siapapun yang sudah mengenal kasih yang seharusnya menerapkan perbuatan kasih dalam hidupnya.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Ma’af, dibandingkan dengan orang Samaria yang bermurah hati itu, di manakah posisi kita? Tidak berbeda jauh, atau malah jauuuh sekali? Ada kecenderungan bahwa dalam melakukan perbuatan kasih (kalau masih bisa digolongkan demikian …) kita masih cenderung menerjemahkan kosa kata “kita” dengan pemahaman yang lebih sesuai dengan kemauan kita. Misalnya, yang dimaksud dengan “kita” adalah sesama orang Kristen, sesama Batak, sesama HKBP, satu jemaat, satu wejk, semarga, sekeluarga, dan lain-lain. Di luar itu adalah orang lain, dengan demikian tidak layak mendapatkan perbuatan kasih dari kita.

“’Nggak usah jauh-jauhlah untuk menunjukkan perbuatan kasih. Dengan cara memberikan bantuan pun sudah menunjukkan kita mengasihi. Dan ‘nggak usah juga jauh-jauh, ke panti asuhan atau rumah yatim piatu, atau ke luar kota, keluarga kita aja masih membutuhkan perhatian dari kita …”, adalah ucapan yang seringkali dijadikan alasan untuk tidak melakukan perbuatan kasih sebagaimana seharusnya. Bahkan ada yang dengan cara mengutip firman Tuhan segala.

Nah, hari ini kita disapa dengan perikop ini. Dengan kisah yang disampaikan Yesus yang mungkin sudah sejak lama kita mendengarnya. Dan besar kemungkinan juga bukanlah yang baru pertama kali ini. Silakan dicerna, dan direnungkan, dan yang paling penting adalah melakukannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjadikann perbuatan mengasihi ini sebagai bagian dari kehidupan kita, menganggapnya sebagai ibadah dan pelayanan. Luar biasa!

Evaluasi Pelayanan Wejk

Sesuai dengan keinginanku untuk membuat pelayanan jemaat semakin baik dari hari ke hari – dan dimulai dengan pelayanan di lingkup wejk sebagai unit persekutuan jemaat terkecil – aku lakukan evaluasi periode April-Juni 2013. Dimulai April, karena sesuai dengan tanggal “kelahiran” wejk kami ini, yakni pada saat partangiangan wejk – dulu namanya wejk Galilea, lalu wejk enam sebagai “nama peralihan” dari Huria dengan adanya restrukturisasi wilayah pelayanan yang semula lima menjadi tujuh wejk – aku mencetuskan namanya Betania, dan langsung disetujui oleh peserta yang hadir pada saat itu. Selain sebagai kota yang sering dikunjungi Yesus dan tempat terjadinya beberapa peristiwa sebagaimana dicantumkan di Alkitab, itu juga bisa merupakan singkatan dari “Bekasi dan Jakarta sekitarnya”. Sedikit “memaksa” juga, sih …

Tadi malam adalah saat yang pas, menurutku. Selain tempatnya di konsistori (yang sangat layak untuk melakukan presentasi dengan menggunakan LCD-projector dibandingkan ruang tamu rumah warga jemaat yang manjabui), yang berkhotbah adalah pendeta resort yang adalah uluan huria. Selain untuk memutakhirkan pemahaman warga jemaat tentang betapa seriusnya kami penatua melayani lebih baik, hal ini juga aku lakukan untuk “menginspirasi” pak pendeta agar juga melakukan evaluasi pelayanan jemaat untuk semester satu tahun 2013 ini (setelah berulangkali aku ingatkan tentang betapa pentingnya evaluasi sambil mengingatkan bahwa Buku Program Pelayanan Jemaat 2013 harus sudah selesai dicetak dan didistribusikan ke para pelayan sebagaimana biasa dilakukan setiap Januari, sermon parhalado Jum’at lalu beliau setuju untuk melakukannya sekaligus bersedia membagikan program pelayanan jemaat walau bukan dalam bentuk buku seperti yang sudah-sudah …).

Sumbernya adalah daftar absensi yang memang aku lakukan setiap partangiangan wejk yang memuat jumlah yang hadir, yang manjabui; dan dilengkapi dengan data yang aku ambil dari warta jemaat untuk kolekte. Aku buat dalam bentuk PowerPoint dengan mencantumkan gambar-gambar untuk membuatnya menarik (satu di antaranya adalah kartun yang aku ambil dari blog kartun batak tentang durung-durung …), dan aku presentasikan setelah selesai ibadah. Jadi setelah selesai menjalankan fungsi sebagai paragenda, maka aku kemudian beralih menjadi presenter. Ketika yang lain menikmati suguhan mi goreng yang disediakan na manjabui (yang datang terlambat karena harus mengikuti ujian tengah semester di kampusnya sebagai mahasiswi, sedangkan suaminya ‘nggak muncul sampai acara partangiangan berakhir …), aku pun berpresentasilah. Dengan suara yang lebih kuat, untuk mengalahkan keriuhan ibu-ibu yang menghidangkan makanan di atas piring keramik.

Berikut ini adalah slaid (slides) yang aku tampilkan:

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15

Di akhir presentasi, pak pendeta resort memberikan komentar: “Contoh yang bagus ini yang sudah dilakukan amang sintua Tobing. Sebaiknya ditampilkan juga nanti di sermon parhalado agar bisa dilihat, dipelajari, dan ditiru oleh sintua lainnya. Bila perlu, dibuat dalam bentuk CD supaya mereka bisa membuat untuk wejk masing-masing. ‘Nggak bisa kita lupakan bahwa sifat orang Batak yang menyukai petisi (mungkin kompetisi, maksud beliau …), bukan perlombaan dulu saya bilang, sehingga sintua lainnya akan mengikuti hal yang sama. Lagi ini ‘kan data dan fakta, bukan katanya-katanya, jadi benar-benar bisa dipertanggungjawabkan …”.

Walau tidak mengharapkan pujian seperti ini, komentar pak pendeta (dan niatnya …) layak jugalah diapresiasi.

Dari Konsistori-14: Ma’af, Bukan Menolak. Bukan ‘Nggak Pintar, tapi Kurang Persiapan …

Bukan menghakimi (karena aku akui bahwa aku ‘nggak berhak untuk itu), tapi beberapa Minggu ini aku merasa para pengkhotbah yang melayani di jemaat kami tidak melakukan pekerjaannya dengan baik. Terlihat sebagai kurang persiapan. Baik pendeta jemaat, maupun pendeta yang “singgah” untuk berkhotbah.

Pendeta jemaat mungkin dihinggapi oleh rasa jenuh karena hampir setiap Minggu dan hampir pula setiap minggu berkhotbah di altar yang sama. Selain fisik langgatan alias mimbar (dengan aroma kayu berpelitur dan anak tangga yang harus ditapaki) yang selalu sama, jemaat yang sama yang selalu dihadapi selama ini, juga berpotensi menimbulkan rasa bosan. Dan warga jemaat yang mendengar khotbahnya juga berpotensi menjadi bosan. Jadi klop-lah, ya …

Beberapa minggu yang lalu pendeta berkhotbah yang aku rasakan malah ‘ngelantur. Bukan dari topik, malah ‘ngelantur dari pesan teologi dari firman yang disampaikannya. ‘Nggak bagus ‘kan kalau sudah sampai begitu? Usai ibadah Minggu itu, aku buru-buru ke konsistori (lebih buru-buru daripada biasanya karena aku hampir selalu mengangkat dan membawa kantung persembahan dari bangunan gereja ke konsistori tanpa harus ikut menyalami pendeta dan penatua liturgis di pintu depan gereja …) untuk bertemu dengan sang pendeta, namun kali itu juga ternyata beliau lebih buru-buru lagi meninggalkan konsistori (setelah selesai bersalaman dengan warga jemaat di pintu depan gereja, dan memimpin doa pelayanan di konsistori) karena kedatangan mertua dari luar Jakarta … Akhirnya, ‘nggak jadilah bertukar pikiran. Dan itu pulalah yang mungkin menjadi jawaban: kurang mempersiapkan khotbah karena kedatangan mertua, hehehe …

Demikian juga pada dua Minggu yang lalu, yakni pendeta yang singgah berkhotbah karena “kebetulan” sedang ada di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan (bulan depan, menurut sang pendeta) ke California di Amerika Serikat sebagai tempat pelayanan yang baru. Topik khotbah Minggu itu adalah tentang kesediaan melayani Tuhan tanpa alasan (yakni kisah Elisa yang menjadi suksesor Elia), tapi pendeta mengkhotbahkan tentang doa dan kebiasaan membaca firman Allah. Kalau mau dipaksakan, masih bisa ‘nyambung juga sih, hehehe …

Semula hal ini aku diamkan (artinya: aku telan sendiri di dalam hati …). Namun, Minggu lalu itu aku terkejut manakala mak Auli berkomentar, di mobil, ketika kami baru meninggalkan komplek halaman gereja:

“Pendeta yang berkhotbah itu melayani di mana, pa?”

“Terakhir, di Kantor Pusat di Tarutung, sekarang sedang menunggu selesai urusan imigrasi karena pindah tugas pelayanan ke California”, jawabku sesuai info yang aku terima ketika ‘ngobrol dengan sang pendeta di konsistori sebelum ibadah Minggu pagi itu.

“Berarti orangnya pintar, dong? Paling ‘nggak, bahasa Inggrisnya bagus harusnya. ‘Gimana dia nanti mau bertugas di sana kalau ‘nggak bisa ‘ngomong Inggris. Dan jemaat di sana ‘kan orang-orang yang pintar yang kebanyakan pasti yang sedang kuliah atau tugas belajar”, lanjut mak Auli yang di dalam hati aku iyakan. “Tapi, khotbahnya koq cuma gitu aja ya?”, lanjutnya lagi. Ini yang membuatku terkejut. Pertama, koq pas dengan yang aku rasakan. Kedua, walau kami sering berdiskusi, termasuk hal-hal yang baru terjadi di gereja ketika baru usai mengikuti ibadah, namun komentarnya yang seperti ini baru kali itu aku rasakan. Apalagi, kami ‘nggak membiasakan untuk menghakimi, apapun itu, termasuk hal khotbah tentunya.

“Memangnya kenapa?”, tanyaku heran.

“Ayatnya ‘kan bagus amat, tapi sampai khotbahnya selesai aku belum mendapatkan apa yang aku cari. Eh, malah khotbahnya tentang yang lain yang ‘nggak ada hubungannya sama sekali dengan topik”.

“Oh, gitu … Aku juga merasakan hal yang sama. Dan menurutku seharusnya pendeta bisa menjelaskan dengan baik pesan dari ayat-ayat tersebut. Waktu sermon parhalado kemarin yang ada amang praeses ada hal yang menurutku masih membutuhkan penjelasan yang aku harapkan pendeta yang berkhotbah tadi akan menjelaskannya. Ternyata sampai khotbahnya selesai, hal itu ‘nggak aku dapatkan. Tadi pun waktu di konsistori setelah selesai ibadah aku ingin mengajaknya berdiskusi, tapi aku lihat dia malah lebih memilih asyik ‘ngobrol dengan pendeta resort di ruang sebelah daripada berkumpul dengan kami para penatua yang sedang menghitung kolekte …”.

Tentang khotbah para pendeta, acapkali aku menerima komentar yang rada miring dari warga jemaat (selain ada juga yang positif, tentunya …). Selama ini aku menanggapinya dengan datar-datar saja. Tapi kali ini aku harus melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu membicarakannya di sermon parhalado, forum resmi yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas pelayanan di jemaat.

Jum’at, 12 Juli 2013 yang lalu maka aku sampaikan tentang hal ini dengan mengatakan: “Tanpa bermaksud menghakimi, karena aku sendiri merasa ‘nggak pantas menghakimi. Dan bukan hakku pula untuk menghakimi. Hal ini aku sampaikan karena aku belakangan ini semakin sering mendengar komentar yang kurang baik dari warga jemaat tentang khotbah dari pendeta-pendeta dari luar yang berkhotbah di ibadah kita. Salah satunya dari mak Auli, isteriku, yang tidak seperti biasanya, mengatakan bahwa khotbah Minggu lalu ‘nggak menjawab apa yang menjadi kerinduannya atas pertanyaan pribadinya karena yang dibahas pendeta menyimpang dari nas khotbah. Bukan ‘nggak pintar, pastilah pak pendeta orang yang pintar sehingga dikirim oleh Kantor Pusat melayani di California, tapi menurutku beliau tidak mempersiapkan khotbahnya dengan baik. Bukan mengkhotbahkan tentang hal yang salah, karena menurutku yang dikhotbahkan tentang doa dan kerajinan membaca Alkitab adalah juga sangat baik. Aku mau berpesan ke amang pandita resort karena amang-lah yang menentukan siapa yang pantas berkhotbah di jemaat kita ini, sebaiknya memberi tahu pendeta dari luar agar tetap mempersiapkan khotbahnya dengan baik. Jangan terkesan asal-asalan, atau sekadar mengisi waktu luangnya karena kebetulan sedang berada di Jakarta ini … Seperti tadi disampaikan, Minggu depan ini yang berkhotbah adalah pendeta dari luar lagi. Malah dua orang pula.”

“Betul, sintuanami, saya juga merasakan hal yang sama. Tapi itulah, kami sesama pendeta ini susah menolak jika ada permintaan sesama pendeta untuk berkhotbah. Yang akan berkhotbah Minggu depan ini juga meminta sama saya karena mereka sedang ada di studi banding di STT di Jakarta ini untuk berkhotbah. Karena sudah diminta, sulit rasanya menolak. Minggu yang akan datang juga ada permintaan pendeta anu untuk berkhotbah di sini. Memang susah bagi saya untuk menolak permintaan seperti ini …”

“Ma’af, amang. Bukan menolak maksudku, karena kita juga perlu variasi, tapi meminta mereka untuk tetap mempersiapkan khotbahnya dengan baik”, ucapku berulang-ulang supaya jangan terjadi kesalahpahaman.  

“Ya, saya mengerti. Dan memang sering terjadi. Kalau tidak dipersiapkan, malah yang dikhotbahkan adalah hal yang menarik baginya saja dan topik yang lebih dikuasainya sehingga tidak sesuai dengan topik khotbah pada Minggu itu. Tapi, terima kasih amang sintuanami untuk mengingatkan karena hal ini memang terus jadi pergumulan saya ketika mengabulkan permintaan kawan-kawan pendeta untuk berkhotbah di jemaat yang saya pimpin.”.

“Memang perlu kita jadikan perhatian tentang hal ini karena (warga) jemaat kita juga mulai banyak yang memperhatikan topik Minggu dan mengomentari khotbah apakah sudah sesuai atau belum”, timpal seorang penatua utusan sinode.

Di luar bilut parhobasan, pada kesempatan berikutnya, seorang penatua senior yang adalah ketua dewan, memberika pendapatnya: “Menurut saya, ada benarnya juga yang disampaikan oleh salah seorang teman kita parhalado. Katanya, ada baiknya juga kalau sering-sering pendeta dari luar yang banyak berkhotbah di gereja kita ini walaupun khotbahnya biasa-biasa saja dan harus dibayar mahal sebagai sipalas roha, karena masih lebih baik itu daripada mendengarkan khotbah dari pendeta yang itu-itu aja. Sudah ‘nggak pintar berkhotbah, malah di altar kerjanya hanya menyindir, marah-marah, dan ‘menembaki’ orang-orang. Bukan mendapatkan sukacita, malah semakin bertambah dosa melihatnya berkhotbah …”

Oh, ya??? Alamak!!!

Andaliman-239 Khotbah 21 Juli 2013 Minggu-VIII setelah Trinitatis

Holong na Marpambuat … Holong Mangalap Holong …

Evangelium Yohanes 15: 9-17

Perintah supaya saling mengasihi

15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” 

Epistel 1 Yohanes 3:19-24

Keyakinan di hadapan Allah

3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,

3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Kasih, itu adalah perkara besar sehubungan dengan iman percaya orang Kristen. Dan salah satu perkara yang menarik untuk dibicarakan. Apalagi bila dihubungkan dengan kehidupan sekarang yang semakin cenderung sekuler, pembicaraan tentang kasih ini seakan tiada habis-habisnya …

Nas perikop Ev Minggu ini dengan tegas memerintahkan betapa hal mengasihi adalah yang utama. Aku mengasihi – sesama manusia dan Tuhan – karena telah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Segala perbuatan baik yang aku lakukan dalam hidup ini seharusnya merupakan aplikasi dan refleksi kasih yang terlebih dahulu sudah aku terima dari Tuhan. Artinya, semua aktivitas dalam hidup ini harusnya dilaksanakan karena didorong oleh kasih. Itulah makanya Ep Minggu ini sebaiknya didahului dengan ayat 18 – Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.- karena dapat dijadikan pedoman, yakni tidak hanya sekadar diucapkan melainkan juga harus dilaksanakan, dan secara sungguh-sungguh di dalam kebenaran.

Memang ada kasih yang ‘nggak sungguh-sungguh? Tentu saja ada. Inilah di antaranya:

–          Melakukan perbuatan kasih untuk diekspos dan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, yakni agar terlihat orang dan menerima pujian. Inilah salah satu yang paling sering menjadi motivasi oleh banyak orang pada zaman sekarang ini. Dalam khotbahnya kemarin malam di partangiangan wejk, pak pendeta berkata: “Lihat saja tahun 2014 yang akan datang, akan banyak orang yang ‘tiba-tiba’ menjadi baik. Caleg (calon legislator, maksudnya …) yang tinggal di Jakarta misalnya yang terdaftar di dapil (daerah pemilihan, maksudnya …) Papua maka harus mulai rajin mendatangi orang-orang di Papua yang mungkin saja selama ini ‘nggak pernah dilakukannya. Berbuat banyak kebaikan di sana”.

–          Melakukan perbuatan kasih karena terpaksa, bisa karena keadaan sekitar bisa juga karena diri sendiri. Misalnya memberikan sumbangan di terminal bis kepada seseorang yang berlagak pengemis namun sebenarnya adalah preman yang mengancam sehingga membuat takut. Ada juga yang memberikan sesuatu kepada atasan karena mengharapkan mendapatkan perhatian khusus, atau sebaliknya kuatir akan dipersulit atasan jika tidak membina hubungan baik dengan cara seperti ini. Termasuk juga dalam hal pengurusan surat izin yang masih terdengar harus memberikan setoran agar tidak dipersulit. Memberikan “uang terima kasih” ke polisi lalu lintas supaya ‘nggak ditilang termasuk kategori ini juga, ‘kan?

Ini semua digolongkan sebagai holong na marpambuat, yakni melakukan suatu perbuatan (seolah-olah) kasih dengan mengharapkan balasan yang akan diterima sebagai kompensasi (bahkan yang lebih besar diterima daripada yang diberikan …). Betul ‘nggak, ya? Jujur aja, aku sedikit ragu tentang hal ini …

Ada lagi holong mangalap holong, yang ketika aku sampaikan ditanggapi negatif oleh pak pendeta dengan mengatakan: “Wah, itu hanya berlaku bagi anak-anak muda. Dengan mengasihi pacarnya dia berharap pacarnya tersebut juga akan mengasihinya …”. Komentar tersebut membuatku tertegun karena mengingat salah satu lagu Batak yang menurutku sangat indah syairnya yang aku kutipkan di bawah ini:

Tanganta marsitogu-toguan, nang rohanta pe marsitomu-tomuan

Tama hita marsielek-elekan, tondinta i ma tutu marsigomgoman

Tabo do angka na martinodohon, molo saroha mangula si ulaon

Holong ma tabahen mangalap holong, marsiurupan di sude na si taonon

Di huta angginta si ampudan, diparmahana anakta panggoaran

Amangta nang inangta tu balian, ibotonta ma paradehon panganan

Tupa ma hita marsitumpolan, molo adong di hita on parsalisian

Holong ma tabahen mangalap holong, sai horas ma jala gabe hita on

 

Tona ni da ompu i, ompunta si jolo-jolo tubu

Somba marhula-hula, sai manat mardongan tubu

Elek ma hita marboru, sai ganup ma tutu marroha

Horas tondi madingin, sai pir tondi matogu

Hita martahi sangkap, sai Tuhanta mamasu-masu 

Sangat indah, bukan? Dan sampai sekarang aku belum melihat kalau liriknya ada yang ‘nggak sejalan dengan firman Tuhan. Bahkan pengajaran yang pernah aku terima dan dengar dari firman Tuhan adalah: “apa yang engkau inginkan orang lain lakukan padamu, lakukanlah itu padanya”. Jadi, kasihilah orang lain bila engkau juga berharap dia mengasihimu. Bukankah itu artinya juga sebagai holong mangalap holong?

Perbuatan kasih yang benar dapat dilakukan jika Yesus ada di dalam diri orang percaya, yakni Roh yang mendorong, mengajari, dan memimpin serta memampukan dalam melakukan segala perbuatan kasih. Dan sekali lagi, ini yang membuatku semakin yakin bahwa orang Kristen sudah punya Roh Kudus di dalam dirinya (jadi, ‘nggak butuh lagi pencurahan Roh Kudus sebagaimana yang sering diajarkan dan dipraktikkan di beberapa gereja kharismatis yang sangat mengandalkan eksistensi Roh Kudus dengan cara “mengundang” kehadiran-Nya dalam setiap ibadah …

Dengan demikian, mampu menjadi sahabat Yesus. Menyenangkan sekali mendengar kesahabatan dengan Yesus ini, yang bagiku berarti Dia adalah tempatku untuk berbagi alias curhat (= curahan hati). Sebagaimana layaknya ‘ngobrol dengan sahabat, demikianlah seharusnya juga ‘ngobrol dengan Yesus. Tak perlu mencari kata-kata puitis, ‘kan? Spontan ajalah, ya … toh Dia juga sudah tahu, bahkan sebelum diucapkan …

Nah, dihubungkan dengan nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, mengasihi dengan kebenaran adalah menjadi syarat dalam mengajukan permohonan agar dikabulkan oleh Tuhan. Jika belum mengasihi dengan benar, maka jangan pula berharap permintaan kepada Tuhan akan dikabulkan-Nya. Jika sekarang ada doa permintaanku yang dikabulkan walaupun aku belum mampu mengasihi semua orang dengan benar, maka dengan hati yang sangat rendah dan kepala tertunduk malu aku harus mengakui bahwa itu semua karena kebaikan dan kasih Allah semata yang masih saja dicurhakan-Nya kepadaku walau aku belum tentu berhak menerimanya.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Apa yang sering menghalangi kita dalam melakukan perbuatan kasih yang benar? Yang benar artinya adalah kebenaran dari Allah, bukan manusia. Selain yang sudah tercantum di atas, sikap kurang bersedia mengampuni adalah salah satu di antaranya. Ampuni dan lupakan (forgive and forget, didok di hata si leban …) adalah istilah yang sangat pas dalam bersikap mengampuni 100% sebagaimana yang dituntut oleh iman kristiani kita. Jadi, jika masih ada yang mengatakan “aku sudah mengampuninya walau pun kami belum saling bersalaman dan saling berbicara serta bertegur sapa” dan “aku sudah mema’afkannya, tapi lebih baik tidak melihatnya lagi sampai kapan pun …”, berarti masih ada yang perlu dibereskan!

Sikap merasa tertuduh, adalah juga salah satu yang sering menghinggapi kita untuk tidak melakukan perbuatan mengasihi. Si bolis itu paling sering menuduh kita bilamana melakukan perbuatan baik, misalnya dengan mengatakan: “Ah, sudahlah … jangan sok-sok baik. Kalaupun kau lakukan perbuatan baik itu, orang-orang tetap saja masih mengingatmu sebagai orang jahat sebagaimana dirimu dulu”. Di sinilah dibutuhkan pertolongan Roh Kudus yang sudah ada di dalam diri kita untuk mengalahkan tuduhan iblis ini dalam keinginan berbuat kasih. Dan juga godaan untuk melakukan perbuatan kasih yang diliputi oleh kebenaran.

Ingat, perbuatan kasih adalah juga merupakan suatu kesaksian iman kita kepada Yesus Kristus.