Menikah di Sinode yang Bukan Anggota PGI, Tidak Perlu Dijalankan Siasat Gereja?

Daftar 99 Sinode Anggota PGI (040713)

Sermon parhalado Jum’at, 28 Juni 2013 yang lalu aku ‘nggak hadir. Walau sudah merancang jadual sedemikian rupa agar tidak terlambat datang dari Bandung – mendadak mengambil cuti untuk memenuhi permintaan Auli berlibur di Bandung (sekalian mengurus perpanjangan STNK sepeda motor yang kami beli dua tahun lalu waktu masih bertugas di sana – faktanya kemacetan luar biasa di jalan tol Padaleunyi karena ada ruas jalan yang ambruk sehingga kami tiba di Jakarta sudah jam sembilan malam, memaksaku untuk rela ‘nggak ikut sermon malam itu. Eh, ternyata kami semua sintua wejk Betania (ada tiga orang) seakan “kompak” untuk tidak hadir … Artinya, kami bertiga secara fisik tidak ikut dalam mengambil keputusan saat sermon parhalado Jum’at yang lalu tersebut.

Minggu, 28 Juni 2013 aku terkejut manakala melihat lembaran tingting, ketika baru tiba di bilut parhobasan. Walau sudah menjelang setengah sembilan pagi (jadual ibadah Minggu setelah subuh jam enam), baru aku sendiri yang datang, jadi benar-benar fokus melihat lembaran demi lembaran kertas warta jemaat tersebut. Dan di halaman awalnya aku melihat warta telah menerima pembekatan nikah, dan yang membuatnya “istimewa” adalah satu pasangan yang diberkati di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI).

Keterkejutanku itu juga didasari oleh pembicaraan di dua sermon parhalado sebelumnya – berturut-turut sebagaimana yang aku tulis pada Dari Konsistori-10: Hati-hati, pak Pendeta! – tentang saran kehati-hatian karena gereja tersebut bukanlah mitra HKBP. Dan menurut pemahamanku, terdapat perbedaan pemahaman teologis antara mereka dengan HKBP. Dan saat itu pendeta resort sudah memahami tentang hal ini, dan kesan yang aku tangkap adalah bahwa pemberkatan perkawinan dengan jemaat GPdi tersebut tidak akan direstui Huria.  

“Memang begitulah pendeta resort yang sekarang ini. Mau-maunya dia sendiri, dan ‘nggak sama antara ucapan dengan tindakan. Walau sudah dibicarakan pun berulang-ulang, bisa saja keputusannya berubah dengan cepat sesuai keinginannya sendiri”, kata seorang sintua mengomentari kemudian sambil melihat daftar sinode jemaat yang masuk dalam daftar anggota Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Ketika memastikan bahwa GPdI tidak tercantum di dalamnya, beliau pun melanjutkan, “Menurut prosedur yang saya tahu, seharusnya bukan diwartakan dalam ibadah Minggu untuk merestui pemberkatan nikah ini, malah harus dijalankan hukum siasat gereja …”. Sebagai pendeta yang sudah belasan tahun mengabdi di HKBP, seharusnya pendeta resort sudah sangat paham akan hal ini, bukan?

Atau bukan?

Iklan

One comment on “Menikah di Sinode yang Bukan Anggota PGI, Tidak Perlu Dijalankan Siasat Gereja?

  1. Tambah pengetahuan dan wawasan mengenai musik gospel dengan belajar Arransemen Gospel Orkestra (www.arransemen-musik.com)
    hubungi kami Telp./WA 0896-55-900900 pin 2af29cd5

    Karena aransemen orkestra adalah yang paling kompleks.
    Bila kita sudah menguasai aransemen orkestra, maka sangat mudah
    membuat aransemen band, kuartet, trio, paduan suara, dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s