Dari Konsistori-13: “Rimpas” dan “Ripas”

Rimpas Ripas (080713)Di depanku, persisnya di seberang mejaku, duduk seorang sintua kawanku sa-wejk. Sudah senior dari sisi usia, karena beliau juga sudah pensiun beberapa tahun ini sebagai pegawai Kantor Pajak. Di sebelahnya duduk seorang sintua kawannya sama-sama learning sintua zaman dulu. Dan juga sudah pensiun dari pekerjaannya. Keduanya seringkali terlibat “percakapan sangat serius”, bahkan bisa dianggap sebagai “pertengkaran”. Demikian juga ketika sermon parhalado malam itu. Aku melihat keduanya saling bersoal jawab ketika sermon belum dimulai dengan diskusi bahan khotbah partangiangan wejk yang adalah nas Epistel untuk Minggu depannya, sehingga menarik perhatianku.

“Ai aha do lapatan ni rimpas?”, katanya ke sintua yang duduk di sebelah kanannya, dongan satobang.

“’Ndang huboto, bah! Tu aha pola sungkun-sungkunonmu i, na hurang ma karejom!”, jawab yang ditanya dengan nada yang biasa dipakainya.

“Na adong do hubereng di Bibel on”, jawab si penatua sambil mengalihkan ke penatua lain yang duduk di sebelahnya, “Diboto hamu do aha lapatan ni rimpas?”. Karena tidak ada yang menjawab, maka pertanyaan tersebut pun “menjalar” ke orang-orang lain dan membuat sedikit “kegaduhan”. Aku pun jadi melibatkan diri.

“Aha do i, amang sintua?”, tanyaku dengan sikap hormat walaupun secara partuturan beliau adalah anakku.

“Rimpas, amang. Diboto amang do aha lapatanna?”tanya beliau padaku.

“Madabu, amang. Songon on …”, jawabku sambil memperagakan tangan kananku yang aku gerakkan sikunya ke arah bagian atas meja. Ini sesuai dengan pemahamanku yang pernah mendengar ucapan: “Bah, so tung dirimpashon Debata muse ibana maon!”. Jawabanku kelihatannya tidak memuaskan baginya, sehingga pada saatnya beliau bertanya kepada amang pandita resort, yang dijawab: “Rimpas i molo di hata Indonesia didok ‘sempurna, matang, sudah tepat’ songon na tarsurat di turpukta sibahasonta di tingki on i ma sian 1 Korintus 2:6-16”.  

Mengejutkan bagiku jawaban tersebut. Selain karena berbeda dengan yang aku pahami, juga ternyata ada jawabannya di Alkitab, “Kenapa ‘nggak dibaca beliau aja Alkitab tentang perikop itu, ya. Koq mesti pakai bertanya ke orang-orang, bahkan ke amang pandita segala?” Lalu aku pun bertanya ke amang pandita: “I do lapatanna, ate? Alai boasa do adong hata na mandok ‘so tung dirimpashon Debata’, amang?”

“O, anggo i, ndang ‘rimpas’, sintuanami. Alai ‘ripas” do. Ndang mar-em”

“Boha do pandokna, amang? Rap ‘rippas’ do, ‘kan?”

“Hira songon i, alai na tutuna ndang dos panjahana. ‘Rippas’ tu ‘rimpas’, ‘ripas’ tu ‘ripas’ na somal didokhon halak laho mamburai”

“Aha do lapatan ni i, amang?”, tanyaku masih penasaran.

“’Ndang adong, holan hata bura sambing do”, pungkas pak pendeta.

Aku tetap belum merasa puas. Sayangnya, iPhone yang sedari tadi kupakai untuk mencari kamus Bahasa Batak ternyata ‘nggak kuat sampai mendapatkan arti dari perkataan tersebut. Setelah menemukan website-nya, ternyata dibutuhkan waktu bermenit-menit untuk mengunduh sampai ketemu kata ripas tersebut. Sampai akhirnya batere iPhone-ku habis, entri perkataan tersebut belum berhasil ditampilkan. Apa boleh buat …

Siang tadi aku sempatkan untuk melihat kamus Bahasa Batak online yang ada aplikasinya di notebook yang disediakan perusahaan tempatku bekerja bagiku. Dan ternyata kata ripas tersebut bukan hanya sekadar ucapan saat seseorang menyumpahi atau mengutuki seseorang sebagaimana dijelaskan oleh pak pendeta, melainkan memiliki arti “punah, binasa, hancur, musnah”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s