Sekolah Injil Liburan, Alangkah Menyenangkan …

IMG_2811[1]

Salah satu kegiatan besar selain Pesta Parheheon bagi Seksi Sekolah Minggu di jemaat kami adalah apa yang dinamakan sebagai Sekolah Injil Liburan. Meski aku baru saja – kurang dari satu tahun – bergaul dengan Sekolah Minggu, namun istilah tersebut sudah akrab di telingaku. SIL, demikian yang sering dipakai untuk mempersingkatnya, sebagaimana juga pernah aku tahu manakala Sekolah Minggu di salah satu sinode di Cimahi pernah memintaku berpartisipasi beberapa tahun yang lalu saat kami masih tinggal di Bandung karena penempatan tugas dari perusahaan tempatku bekerja sampai saat ini.

IMG_2739[1]

Tahun ini diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu, 06-07 Juli 2013 kemarin di CICO yang berlokasi di Jl. Tumenggung Wiradireja, Cimahpar, Bogor tempat konservasi yang asri, dan sejuk alamnya. “Bah, sudah kurang yang kita bayar kalau begini tempat acaranya ini”, kataku pertama kali tiba di lokasi parkirnya. Kamar cottage-nya yang kami sewa (bayar pribadi, lho …) dilengkapi AC, sedangkan “asrama” yang terdiri dari kamar-kamar dengan tempat tidur bertingkat tempat peserta menginap (satu kamar dengan empat tempat tidur) tidak dilengkapi dengan pendingin. “Kamar kami agak panas …”, kata beberapa orang anak pada pagi harinya ketika aku tanyakan kabar masing-masing anak saat sarapan pagi dengan mendatangi setiap meja sekaligus menanyakan makanan yang dihidangkan. Ini aku lakukan juga untuk memastikan bahwa anak-anak peserta SIL benar-benar menikmati kegiatan ini dengan sukacita.

Sabtu pagi jam 9 rombongan berangkat dari komplek gereja setelah diantarkan dengan doa yang dipimpin pendeta resort. Naik bis wisata milik Arion (punya orang Batak bermarga Hutagalung), dan anak-anak bergembira dengan bis yang bagus dan leluasa karena ‘nggak semua bangkunya terisi (hanya 38 anak yang ikut dari 70 yang ditargetkan …). Anakku si Auli memilih ikut bis daripada menumpang di mobil kami (dan ini sangat aku dukung agar dia benar-benar menikmati kebersamaan dengan anak-anak lainnya …). Beberapa orangtua yang ikut, berangkat mengiringi dengan mobil pribadi.

Menjelang jam 12, rombongan tiba di lokasi acara. Setelah berkumpul di aula kecil untuk persiapan kegiatan (pembagian buku panduan acara, pembagian kamar tidur, dan latihan lagu-lagu), dan doa pembukaan yang dipimpin sintua yang adalah Ketua Dewan Koinona, semua peserta pun bersantap siang dengan lahap. Usai makan siang, semua peserta berkumpul di aula besar untuk pembagian grup dan persiapan talent show. Setelah itu, masing-masing grup mengambil tempat masing-masing untuk bekerja dalam grup untuk kembali ke aula jam empat sore. Saat itu aku usulkan supaya jangan terlalu dihabiskan waktu untuk berdiskusi karena anak-anak masih capek dari perjalanan sehingga perlu istirahat untuk sore nanti siap memulai kegiatan dengan segar.

Rencananya, acara dimulai dengan materi pembekalan Grow with Jesus yang dipimpin oleh Pdt. Ruth Caroline boru Nababan, pendeta diperbantukan di HKBP Jatiwaringin, untuk urusan pembinaan Sekolah Minggu, namun karena di Puncak (tempat beliau dijemput dari acara oleh jemaat lainnya) sedang macet karena ada acara di Istana Presiden di Cipanas yang berakibat terlambatnya tiba di acara SIL, maka dilakukan modifikasi dengan mendahulukan talent show. Inisiatif yang bagus yang aku lihat dari guru Sekolah Minggu (GSM) sebagai panitia acara daripada sekadar menunggu sampai kedatangan pembicara yang jelas-jelas terlambat kedatangannya. Acara talent show yang melibatkan semua anak-anak yang berperan sesuai tokoh di masing-masing perikop yang dibagikan membuatku terharu. Terlepas dari kualitas penampilan mereka yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun, tapi kesungguhan anak-anak dan GSM patut aku acungin jempol …

IMG_2744[1]

IMG_2758[1]

Acara pembekalan yang dipimpin inang pandita berlangsung setelah acara makan malam. Lumayan bagus, dengan tampilan PowerPoint menampilkan anak-anak dari berbagai bangsa dengan mengatakan: “Ini anak sekolah Minggu HKBP Jatiwaringin dari pagaran California”, atau pagaran Afrika Selatan, atau negara-negara lain yang menurutku kurang pas juga kalau harus berdusta walau sekadar untuk membuat lelucon … Pesan yang mau disampaikan melalui presentasi tersebut: agar anak-anak berbuah, maka harus rajin berdoa. 

Menjelang tengah malam, ada renungan dengan kalimat-kalimat menggugah yang mengharukan tentang orangtua yang membuat anak-anak menangis. Bahkan ada yang tersedu-sedu. Semula aku melihatnya sebagai hal yang positif (yang belum tentu aku mampu melakukan hal yang sama, walau belum tentu pula aku mau melakukannya karena ‘nggak sesuai dengan prinsip yang aku anut, hehehe …), namun karena waktunya terlalu lama, aku kemudian menjadi kurang merasakan sebagai hal yang bermanfa’at (karena membuat seseorang menangis tersedu-sedu dalam waktu yang lama bukanlah hal yang baik juga, ‘kan?). Aku kemudian keluar ruangan, dan bertemu dengan mak Auli, lalu kami ‘ngobrol berdua di halaman.

Lewat jam sembilan acara dilanjutkan dengan api unggun yang utamanya adalah membakar kertas yang mencantumkan “dosa” yang harus ditinggalkan dan ditanggalkan. Masing-masing anak datang ke api unggun, melemparkan kertas supaya terbakar habis. Kayu yang tidak kering dan bukan kayu yang pas untuk api unggun, tong yang tidak dilengkapi dengan lubang di bagian samping bawahnya, dengan jelas menunjukkan bahwa petugas dari CICO tidak benar-benar siap untuk acara ini. Minyak tanah yang disiramkan hanya bertahan sebentar, lalu api pun mengecil. Sebelum benar-benar padam, kami penatua pun sibuk meminta tambahan minyak ke beberapa orang petugas CICO yang direspon tidak sebagaimana mestinya. Insiatif yang timbul kemudian adalah menjadikan kardus-kardus bekas tempat air minum sebagai “bahan bakar” sambil menunggu tambahan minyak tanah yang lama kemudian akhirnya datang juga. Itulah salah satu yang membuat acara ini jauh dari khidmat, padahal kekhidmatan sangat dibutuhkan agar benar-benar berkesan. Aku pesankan ke panitia agar jangan terlalu lama. Selain di alam terbuka dengan udara malam yang ‘nggak sehat, juga anak-anak perlu istirahat karena besok subuh mereka sudah ada kegiatan lagi dengan do’a pagi dan senam pagi.

Sebelum meninggalkan anak-anak untuk tidur, aku sempatkan memeriksa “bangsal” mereka. Ke tempat anak laki-laki, tentu saja. Aku datangi satu per satu, bertanya kepada mereka apakah merasa nyaman, dan mengingatkan supaya semuanya berdoa sebelum tidur. Sekalian mengingatkan mereka juga untuk buang air kecil, dan kalau mau buang air kecil lagi nanti, datang saja ke GSM yang juga tidur di bangsal tersebut untuk ditemani ke kamar kecil (yang ternyata lumayan jauh karena harus menyusuri tangga kayu sebelum berjalan lagi menuju toilet). Kepada GSM, aku mintakan kesediaan mereka untuk bergantian berjaga dan berpatroli karena ada saja kemungkinan anak-anak kurang nyaman dengan perubahan tempat tidur dan segan minta bantuan ke GSM, jadi diperlukan sikap proaktif GSM (dan benar saja, besok paginya ada saja cerita tentang anak-anak yang gelisah memanggil mamanya dan atau papanya, ada yang meminta agar diantar ke mamanya …). Anakku Auli juga ‘ngomong sama mamanya ketika hendak ditinggal pergi tidur, “Auli ‘gimana bangun besok pagi ya, ma? Biasanya ‘kan ada mama yang ‘bangunin …”. Aku tersenyum saja apalagi bila mengingat kebiasaannya memegang jari mamanya setiap mau tidur malam …

Minggu subuh aku terbangun dengan suara anak-anak berlarian dan GSM yang memberikan instruksi gerakan senam pagi. Bah, hebat juga mereka ini, pikirku. Tadi malam tidurnya larut, pagi-pagi begini malah sudah berkegiatan. Aku pun segera berkemas dengan mak Auli (yang agak memaksakan dirinya karena sebenarnya masih merasa pegal-pegal karena kecapekan), berpakaian olah raga dan sepatu yang memang biasanya kami bawa untuk olah raga pagi. Dan benarlah, semua anak-anak ada di lapangan, dan asyik bermain yang dipandu oleh GSM. Hebat!

IMG_2763[1]

Ibadah Minggu pagi dimulai jam setengah sembilan (melenceng dari rencana semula yang jam delapan). Aku yang maragenda dengan agenda Sekolah Minggu sesuai rencana dari Jakarta. Tanpa jubah pelayan, seperti halnya juga inang pendeta yang berkhotbah. “Aku memang berprinsip bahwa ibadah untuk anak-anak ‘nggak harus berjubah, karena berdasarkan pengalaman itu malah akan menjauhkan mereka dari pelayan karena menganggap pelayan itu sebagai makhluk berpakaian aneh …”, kataku ketika inang pandita bertanya. “Kalau saya memang karena ‘nggak membawanya dari Jakarta, amang. Jubah pendeta angkatan kami adalah yang dibuat dari bahan yang sangat berat, jadi ‘nggak pas dengan tas yang saya bawa selama kegiatan dalam minggu ini …”, demikianlah jawaban inang pandita yang membuatku tersenyum dalam hati.    

Anak-anak dan GSM berpakaian merah. Ada kaos, adapula kemeja. Aku tidak. Selain karena sudah aku pakai Sabtu pagi saat berangkat dari Jakarta (karena mendapat info yang salah dari Auli …), juga karena maragenda dan memang sudah membawa kemeja batik putih untuk aku pakai beribadah Minggu. Sempat ada “kecelakaan” kecil karena buku panduan ibadah yang disiapkan panitia ‘nggak klop dengan Buku Agenda Sekolah Minggu HKBP yang aku pakai …

IMG_2764[1]

IMG_2790[1]

Usai ibadah, saatnya bermain sambil menambah pengetahuan. Semua peserta dibagi empat kelompok untuk mengikuti kegiatan yang dipandu oleh event organizer. Satu kelompok yang aku ikuti bergerak dari kegiatan bercocok tanam cabe, memanen kangkung darat, membuat pupuk kompos, lalu bermain mengandalkan kepemimpinan dan kekompakan tim. Lumayan baguslah …

IMG_2810[1]

Yang paling seru dan membuatku terharu adalah saat lomba menangkap ikan. Melihat lokasinya yang ‘langsung di alam’, aku pesankan ke pengelola dan GSM tentang keamanan lokasi yang berair mengalir dan batu-batu alamiah yang kemungkinan bisa membuat jatuh tergelincir. Seru, karena teriakan peserta yang bersorak-sorak ketika mengejar ikan untuk menangkapnya, ditambah dengan para penonton yang juga ‘nggak kalah gempitanya memberikan semangat. Lalu, ada penilaian per kelompok, yakni menghitung jumlah ikan yang berhasil ditangkap. Sayangnya, penyelenggara tidak memasukkan ikan yang mau ditangkap dalam jumlah yang sama untuk setiap kelompok sehingga ada kelompok yang sudah berhasil menangkap ikannya semua walau waktu 10 menit yang disediakan belum habis. Nah, ini yang membuatku terharu: ada dua orang anak Sekolah Minggu yang menangis ke orangtuanya karena kalah dan ‘nggak bisa menerima kekalahan dari kelompok pemenang yang tidak jujur. “Bagus sekali kita masih punya anak-anak yang menjunjung tinggi kejujuran. Selain memang kita perlu mendorong mereka untuk berusaha menjadi pemenang dengan jujur, perlu jugalah kita mengajarkan kepada mereka untuk menerima kekalahan. Dan juga menyadari bahwa kecurangan masih mungkin terjadi dalam banyak hal, dan mereka juga harus siap menghadapinya tanpa harus jadi ikut tidak jujur …”, demikianlah yang aku sampaikan kepada beberapa orang tua yang hadir dalam menanggapi hal tersebut. Dan mereka menyetujuinya.

Tentu saja semua peserta yang ikut lomba menangkap ikan menjadi basah kuyup, apalagi ada yang main siram-siraman. Setelah diberikan waktu untuk mandi dan berganti pakaian dengan kaos berwarna hijau yang disediakan panitia, tibalah acara terakhir yang dilaksanakan di aula besar. Ada pengumuman pemenang, pembagian hadiah untuk pemenang, dan pemilihan anak-anak sekolah Minggu terbaik, terbersih, dan paling rapi. Juga ada pemilihan GSM terbaik, terlucu, dan terfavorit. Semuanya adalah berdasarkan polling dari anak-anak Sekolah Minggu. Masih ada lagi, yakni king dan queen SIL tahun 2013, yang dipilih oleh GSM berdasarkan keaktifan mereka selama ini. Selain hadiah, kepada mereka juga disematkan selempang dan mahkota.

IMG_2804[1]

Lalu penyerahan bingkisan kepada inang pandita, dan ditutup dengan doa oleh beliau. Lalu, bisa bergerak dengan membawa peserta kembali ke Jakarta. Sampai di komplek gereja menjelang malam, aku pastikan bahwa semua anak-anak sudah terurus dengan baik. Lalu kami – aku, Auli, dan mamaknya – pulang ke rumah kontrakan kami di Bekasi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s