Dari Konsistori-14: Ma’af, Bukan Menolak. Bukan ‘Nggak Pintar, tapi Kurang Persiapan …

Bukan menghakimi (karena aku akui bahwa aku ‘nggak berhak untuk itu), tapi beberapa Minggu ini aku merasa para pengkhotbah yang melayani di jemaat kami tidak melakukan pekerjaannya dengan baik. Terlihat sebagai kurang persiapan. Baik pendeta jemaat, maupun pendeta yang “singgah” untuk berkhotbah.

Pendeta jemaat mungkin dihinggapi oleh rasa jenuh karena hampir setiap Minggu dan hampir pula setiap minggu berkhotbah di altar yang sama. Selain fisik langgatan alias mimbar (dengan aroma kayu berpelitur dan anak tangga yang harus ditapaki) yang selalu sama, jemaat yang sama yang selalu dihadapi selama ini, juga berpotensi menimbulkan rasa bosan. Dan warga jemaat yang mendengar khotbahnya juga berpotensi menjadi bosan. Jadi klop-lah, ya …

Beberapa minggu yang lalu pendeta berkhotbah yang aku rasakan malah ‘ngelantur. Bukan dari topik, malah ‘ngelantur dari pesan teologi dari firman yang disampaikannya. ‘Nggak bagus ‘kan kalau sudah sampai begitu? Usai ibadah Minggu itu, aku buru-buru ke konsistori (lebih buru-buru daripada biasanya karena aku hampir selalu mengangkat dan membawa kantung persembahan dari bangunan gereja ke konsistori tanpa harus ikut menyalami pendeta dan penatua liturgis di pintu depan gereja …) untuk bertemu dengan sang pendeta, namun kali itu juga ternyata beliau lebih buru-buru lagi meninggalkan konsistori (setelah selesai bersalaman dengan warga jemaat di pintu depan gereja, dan memimpin doa pelayanan di konsistori) karena kedatangan mertua dari luar Jakarta … Akhirnya, ‘nggak jadilah bertukar pikiran. Dan itu pulalah yang mungkin menjadi jawaban: kurang mempersiapkan khotbah karena kedatangan mertua, hehehe …

Demikian juga pada dua Minggu yang lalu, yakni pendeta yang singgah berkhotbah karena “kebetulan” sedang ada di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan (bulan depan, menurut sang pendeta) ke California di Amerika Serikat sebagai tempat pelayanan yang baru. Topik khotbah Minggu itu adalah tentang kesediaan melayani Tuhan tanpa alasan (yakni kisah Elisa yang menjadi suksesor Elia), tapi pendeta mengkhotbahkan tentang doa dan kebiasaan membaca firman Allah. Kalau mau dipaksakan, masih bisa ‘nyambung juga sih, hehehe …

Semula hal ini aku diamkan (artinya: aku telan sendiri di dalam hati …). Namun, Minggu lalu itu aku terkejut manakala mak Auli berkomentar, di mobil, ketika kami baru meninggalkan komplek halaman gereja:

“Pendeta yang berkhotbah itu melayani di mana, pa?”

“Terakhir, di Kantor Pusat di Tarutung, sekarang sedang menunggu selesai urusan imigrasi karena pindah tugas pelayanan ke California”, jawabku sesuai info yang aku terima ketika ‘ngobrol dengan sang pendeta di konsistori sebelum ibadah Minggu pagi itu.

“Berarti orangnya pintar, dong? Paling ‘nggak, bahasa Inggrisnya bagus harusnya. ‘Gimana dia nanti mau bertugas di sana kalau ‘nggak bisa ‘ngomong Inggris. Dan jemaat di sana ‘kan orang-orang yang pintar yang kebanyakan pasti yang sedang kuliah atau tugas belajar”, lanjut mak Auli yang di dalam hati aku iyakan. “Tapi, khotbahnya koq cuma gitu aja ya?”, lanjutnya lagi. Ini yang membuatku terkejut. Pertama, koq pas dengan yang aku rasakan. Kedua, walau kami sering berdiskusi, termasuk hal-hal yang baru terjadi di gereja ketika baru usai mengikuti ibadah, namun komentarnya yang seperti ini baru kali itu aku rasakan. Apalagi, kami ‘nggak membiasakan untuk menghakimi, apapun itu, termasuk hal khotbah tentunya.

“Memangnya kenapa?”, tanyaku heran.

“Ayatnya ‘kan bagus amat, tapi sampai khotbahnya selesai aku belum mendapatkan apa yang aku cari. Eh, malah khotbahnya tentang yang lain yang ‘nggak ada hubungannya sama sekali dengan topik”.

“Oh, gitu … Aku juga merasakan hal yang sama. Dan menurutku seharusnya pendeta bisa menjelaskan dengan baik pesan dari ayat-ayat tersebut. Waktu sermon parhalado kemarin yang ada amang praeses ada hal yang menurutku masih membutuhkan penjelasan yang aku harapkan pendeta yang berkhotbah tadi akan menjelaskannya. Ternyata sampai khotbahnya selesai, hal itu ‘nggak aku dapatkan. Tadi pun waktu di konsistori setelah selesai ibadah aku ingin mengajaknya berdiskusi, tapi aku lihat dia malah lebih memilih asyik ‘ngobrol dengan pendeta resort di ruang sebelah daripada berkumpul dengan kami para penatua yang sedang menghitung kolekte …”.

Tentang khotbah para pendeta, acapkali aku menerima komentar yang rada miring dari warga jemaat (selain ada juga yang positif, tentunya …). Selama ini aku menanggapinya dengan datar-datar saja. Tapi kali ini aku harus melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu membicarakannya di sermon parhalado, forum resmi yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas pelayanan di jemaat.

Jum’at, 12 Juli 2013 yang lalu maka aku sampaikan tentang hal ini dengan mengatakan: “Tanpa bermaksud menghakimi, karena aku sendiri merasa ‘nggak pantas menghakimi. Dan bukan hakku pula untuk menghakimi. Hal ini aku sampaikan karena aku belakangan ini semakin sering mendengar komentar yang kurang baik dari warga jemaat tentang khotbah dari pendeta-pendeta dari luar yang berkhotbah di ibadah kita. Salah satunya dari mak Auli, isteriku, yang tidak seperti biasanya, mengatakan bahwa khotbah Minggu lalu ‘nggak menjawab apa yang menjadi kerinduannya atas pertanyaan pribadinya karena yang dibahas pendeta menyimpang dari nas khotbah. Bukan ‘nggak pintar, pastilah pak pendeta orang yang pintar sehingga dikirim oleh Kantor Pusat melayani di California, tapi menurutku beliau tidak mempersiapkan khotbahnya dengan baik. Bukan mengkhotbahkan tentang hal yang salah, karena menurutku yang dikhotbahkan tentang doa dan kerajinan membaca Alkitab adalah juga sangat baik. Aku mau berpesan ke amang pandita resort karena amang-lah yang menentukan siapa yang pantas berkhotbah di jemaat kita ini, sebaiknya memberi tahu pendeta dari luar agar tetap mempersiapkan khotbahnya dengan baik. Jangan terkesan asal-asalan, atau sekadar mengisi waktu luangnya karena kebetulan sedang berada di Jakarta ini … Seperti tadi disampaikan, Minggu depan ini yang berkhotbah adalah pendeta dari luar lagi. Malah dua orang pula.”

“Betul, sintuanami, saya juga merasakan hal yang sama. Tapi itulah, kami sesama pendeta ini susah menolak jika ada permintaan sesama pendeta untuk berkhotbah. Yang akan berkhotbah Minggu depan ini juga meminta sama saya karena mereka sedang ada di studi banding di STT di Jakarta ini untuk berkhotbah. Karena sudah diminta, sulit rasanya menolak. Minggu yang akan datang juga ada permintaan pendeta anu untuk berkhotbah di sini. Memang susah bagi saya untuk menolak permintaan seperti ini …”

“Ma’af, amang. Bukan menolak maksudku, karena kita juga perlu variasi, tapi meminta mereka untuk tetap mempersiapkan khotbahnya dengan baik”, ucapku berulang-ulang supaya jangan terjadi kesalahpahaman.  

“Ya, saya mengerti. Dan memang sering terjadi. Kalau tidak dipersiapkan, malah yang dikhotbahkan adalah hal yang menarik baginya saja dan topik yang lebih dikuasainya sehingga tidak sesuai dengan topik khotbah pada Minggu itu. Tapi, terima kasih amang sintuanami untuk mengingatkan karena hal ini memang terus jadi pergumulan saya ketika mengabulkan permintaan kawan-kawan pendeta untuk berkhotbah di jemaat yang saya pimpin.”.

“Memang perlu kita jadikan perhatian tentang hal ini karena (warga) jemaat kita juga mulai banyak yang memperhatikan topik Minggu dan mengomentari khotbah apakah sudah sesuai atau belum”, timpal seorang penatua utusan sinode.

Di luar bilut parhobasan, pada kesempatan berikutnya, seorang penatua senior yang adalah ketua dewan, memberika pendapatnya: “Menurut saya, ada benarnya juga yang disampaikan oleh salah seorang teman kita parhalado. Katanya, ada baiknya juga kalau sering-sering pendeta dari luar yang banyak berkhotbah di gereja kita ini walaupun khotbahnya biasa-biasa saja dan harus dibayar mahal sebagai sipalas roha, karena masih lebih baik itu daripada mendengarkan khotbah dari pendeta yang itu-itu aja. Sudah ‘nggak pintar berkhotbah, malah di altar kerjanya hanya menyindir, marah-marah, dan ‘menembaki’ orang-orang. Bukan mendapatkan sukacita, malah semakin bertambah dosa melihatnya berkhotbah …”

Oh, ya??? Alamak!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s