Andaliman-245 Khotbah 01 September 2013 Minggu-XIV setelah Trinitatis

Sembah Tuhan Saja, Jangan yang Lain! Tuhan yang Mana?

Evangelium Daniel 3:13-18

3:13 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja,

3:14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?

3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”

3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.

3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;

3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Epistel Kisah 17:22-28

17:22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: “Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.

17:23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.

17:24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,

17:25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.

17:26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,

17:27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.

17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Membaca dan mencari keterhubungan antara nas perikop Ev dan Ep Minggu ini, aku menemukan dua hal yang menarik. Yang pertama, sesembahan yang diperdebatkan oleh dua pihak yang bertentangan (Sadrakh, Mesakh, dan Abednego – selanjutnya akan disingkat dengan “SMA”- berhadapan dengan raja Nebukadnezar yang memercayai dewa-dewa, dan rasul Paulus yang berhadapan dengan penduduk Athena yang juga sangat mengakui eksistensi dewa-dewi dalam kehidupannya). Jika mau disederhanakan, terjadi dialog dari kubu yang sangat berbeda, yakni anak-anak Tuhan sebagai orang yang percaya Tuhan; dan orang-orang yang bukan orang-orang percaya kepada Tuhan.

Yang kedua adalah, cara berkomunikasi yang layak untuk ditiru. Pada Ev yang adalah bagian dari Perjanjian Lama diceritakan bagaimana SMA berdialog dalam mempersaksikan iman mereka kepada raja Nebukadnezar yang sangat mendewakan patung emas yang baru dibuatnya, sedangkan pada Ep yang adalah Perjanjian Baru diceritakan bagaimana Paulus juga mempersaksikan iman percayanya kepada Tuhan di hadapan orang-orang Athena yang sangat memahamu seni dan filsafat (yang seringkali dijadikan dasar bagi mereka untuk menganggap dirinya lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang-orang dari bangsa-bangsa lain). Nah, ini yang menarik.

Grup SMA dengan tegas menyatakan bahwa hanya Allah sajalah yang layak untuk disembah. Yang lain? Tidak sama sekali! Yang membuatku terharu adalah pada ayat-17 dan ayat-18 yang sangat memuliakan Tuhan yang jika disederhanakan akan berbunyi demikian: “Kami hanya mau menyembah Allah yang akan menolong kami membebaskan dari perapian ini. Namun, kalaupun kami tidak dibebaskan-Nya, tidak akan mengurangi iman percaya kami kepada-Nya.”. Hebat, ‘kan? Aku sudah ‘nggak ingat lagi kapan terakhir kali aku pernah menyatakan kesaksian iman yang seperti itu. “Aku berdoa kepada Tuhan yang akan mengabulkan permohonanku. Tapi, kalaupun tidak dikabulkan, aku tetap percaya dan mengandalkan Tuhan dalam hidupku …”. Alangkah indahnya kalau bisa menyikapi hidup dengan iman dan kepercayaan seperti ini, ya …   

Dengan penyampaian yang elegan, Nebukadnezar ‘nggak terkesan tersinggung, karena SMA menyampaikan pesannya dengan “apa adanya” (lugas, tidak dibungkus oleh apapun …). Walau tidak membatalkan niatnya untuk membakar hangus para pejuang iman tersebut, faktanya Tuhan kemudian mengirim malaikat untuk menyelamatkan mereka bertiga. Dan hal itu terlihat jelas oleh Nebukadnezar dengan pengakuan bahwa dia melihat ada orang ke-empat dalam luapan api yang menyala-nyala tersebut. Dan mereka berempat sama sekali ‘nggak terbakar yang kemudian membuat Nebukadnezar terheran-heran …

Hal yang mirip terjadi juga dengan Paulus dalam perjalanannya ke Athena, kota yang sangat maju pada zamannya dengan masyarakatnya yang sangat mengagungkan ciptaan berupa karya seni yang digunakan sebagai alat dalam memuja dewa-dewi yang mereka yakini eksistensinya dalam kehidupan mereka yang sejahtera. Di mana-mana terdapat patung dewa-dewi yang agung, yang dalam “keterpencilan” dirinya malah Paulus menemukan suatu jalan untuk menyampaikan ajaran tentang Tuhan: mezbah Aeropagus yang bertulisan ‘Kepada Allah yang tidak dikenal’. Inilah hebatnya Tuhan, selalu memunculkan jalan dalam segala keadaan, termasuk saat kesesakan.

Paulus tidak menyalahkan dan menghinakan pemujaan dewa-dewi (siapa yang berani jadi orang minoritas melawan kekuatan mayoritas, ya?), namun menggunakan hal tersebut sebagai jalan dalam penyampaian maksudnya. Paulus mengakui kehebatan mereka, yang mengakui juga bahwa ada sebenarnya Oknum yang mereka hormati walau tidak mereka kenal. Mudah dipahami, bahwa dalam kemajuan seni dan pengetahuan bangsa Yunani saat itu, mereka “mentok” pada satu titik yang tidak menemukan jawaban yang pas, yang kemudian membawa mereka pada suatu pemikiran bahwa ada Sesuatu atau Seseorang yang maha dahsyat yang kemampuannya jauh di atas kemampuan mereka, bahkan dewa-dewi yang mereka sembah selama ini. Walau mereka ‘nggak tahu persisnya, tapi mereka mengakui keberadaannya. Penyebab utamanya kemungkinannya adalah tidak adanya jalan bagi mereka untuk menemukan dan mengenal Allah yang mereka maksudkan tersebut.

Ini mengusikku. Aku sudah tahu dan sudah kenal Allah (yang ini memosisikan diriku sendiri berada di atas pengetahuan orang Yunani tersebut …), tapi pertanyaannya adalah: Allah yang bagaimanakah yang aku kenal selama ini? Sudah benarkah Allah yang aku kenal tersebut, dan benar-benar sudah kenalkah dengan Beliau?

Ini membawaku pada suatu pengalaman seseorang yang sangat susah mengenal Allah karena dikenalkan pertama kali konsepsi ke-Tuhan-an dengan Tuhan yang adalah Allah Bapa. Hal ini menggiringnya kepada pengalaman buruknya hubungannya dengan bapaknya sendiri. Ternyata dia mengalami pahit dengan hubungannya terhadap bapaknya sehingga membentuk pemahaman dalam dirinya bahwa Allah Bapa adalah orang yang kejam, tidak mengasihi, suka menyakiti karena bapaknya pergi meninggalkan dia dan ibunya pada saat sangat dibutuhkan keberadaannya di tengah-tengah keluarga. Sebelum pergi meninggalkan mereka – entah ke mana – ayahnya adalah seorang yang seringkali memukulnya dan ibunya. Dengan pengalaman hidupnya kemudian dan bimbingan yang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif lama, akhirnya dia bisa menerima konsep ke-Tuhan-an tentang Allah Bapa yang mengasihi dan selalu berlaku adil serta pema’af.

Demikian pulalah yang dilakukan oleh Paulus yang menggunakan konsepsi kedewaan, filsafat, kesusasteraan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh orang Yunani, menggiring mereka untuk mengenal dan memahami Tuhan. Tuhan yang tidak dibuat oleh tangan manusia (seperti patung-patung), yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (hanya berada di kuil-kuil dan ditentukan pengaruhnya berdasarkan kekunoannya), dan yang menjadikan langit dan bumi, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Kita adalah penyembah Tuhan. Sudah pastilah ‘nggak ada seorang pun yang mau dianggap sebagai orang yang tidak beragama. Apalagi yang tidak ber-Tuhan, ya? Tapi, Tuhan yang bagaimanakah yang kita sudah (anggap) kenal selama ini? Dari sejak lahir sampai detik ini? Banyak orang yang mengatakan dirinya mengenal Tuhan dan sangat dekat dengan Tuhan, namun tidak yakin apakah Tuhan yang disembah tersebut adalah Tuhan yang benar.

Lihat saja kekacauan yang banyak terjadi di republik ini. Korupsi, manipulasi, pembunuhan, pemerkosaan, apakah semuanya bukan dilakukan oleh orang beragama yang mengenal Tuhan? Bahkan seringkali pelakunya adalah orang-orang yang (terkesan, mengesankan, dikesankan) sangat mengenal Tuhan, bahkan ada pula yang mengklaim dirinya sebagai “pembela” Tuhan. Bagaimana mungkin seorang yang dekat dengan Tuhan namun melakukan tindakan yang tidak disukai Tuhan? Kembali ke pertanyaannya: Tuhan yang mana, dan Tuhan yang bagaimanakah yang mereka kenal?

Pengenalan dan pemahaman akan Tuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman akan Tuhan. Oleh sebab itu, alamilah Tuhan dalam kehidupan. Caranya adalah dengan mengenal-Nya melalui firman-Nya, dan melakukan firman tersebut untuk mendapatkan pengalaman bersama-Nya dalam kehidupan. Dengan mengenal-Nya melalui firman-Nya, kita akan bertemu dengan Tuhan yang sesungguhnya.

Jangan lupa juga, ada kalanya hal-hal yang sekilas seakan menjauhkan kita dari Tuhan – misalnya Paulus yang dikelilingi oleh dewa-dewi orang Yunani, dan SMA yang dikelilingi oleh orang-orang yang percaya dewa seperti Nebukadnezar dan punggawa-punggawanya – namun ternyata malah bisa membawa kita mendekat kepada Tuhan seperti yang juga dilakukan dan dialami oleh Paulus dan SMA sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop Ev dan Ep Minggu ini. Caranya adalah dengan berhikmat atas apa yang sedang dihadapi tersebut. Dengan hikmat yang datangnya dari Tuhan kita akan dimampukan untuk melihat peluang (sekecil apapun itu!) yang kemudian menghasilkan hal-hal yang besar.

Sebaliknya, dari hal-hal yang mengesankan dekat kepada Tuhan – misalnya kehidupan pelayanan kita di gereja yang sangat aktif dan intensif, para pelayan yang sangat mendedikasikan hidupnya bagi gereja – malah kemudian menjauhkan kita dari pada-Nya. Untuk ini, kita harus waspada karena iblis ‘nggak pernah mau berhenti menggoda orang-orang percaya dengan berbagai cara yang semakin sulit dibedakan, karena dia punya kemampuan berkamuflase sehingga “menyerupai malaikat terang”.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Semua orang mengakui bahwa semua agama mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Namun, mengapa masih terjadi kejahatan yang dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya beragama dan mengenal Tuhan dengan baik?

(2)     Bukan hanya antar-agama, kejahatan juga dapat terjadi oleh umat dari agama yang sama. Perselisihan dapat terjadi oleh sesama orang Kristen, bahkan dari orang yang berasal dari jemaat. Bukan hanya itu, terjadinya di gereja, dan “disebabkan” oleh hal-hal yang memang adanya di gereja, misalnya perselisihan yang disebabkan oleh pelayanan jemaat. Mengapa hal ini masih bisa terjadi?

(3)     Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (SMA) dan rasul Paulus menyikapi situasi sulit yang sedang mereka hadapi dengan hikmat yang datangnya dari Tuhan. Bagaimana caranya mendapatkan hikmat dari Tuhan, dan bagaimana pula membedakannya dengan hikmat lainnya?

Bahan Penelaahan Alkitab Punguan Ama, 23 Agustus 2013

Penelaahan Alkitab Punguan Ama; Jum’at malam, 23 Agustus 2013

Nas Alkitab — Kisah Para Rasul 9:32-42 (TB)

Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas

9:32 Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.

9:33 Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh.

9:34 Kata Petrus kepadanya: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangunlah orang itu.

9:35 Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita — dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.

9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.

9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.”

9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.

9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.

9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

Nama Orang dan Nama Tempat:

· Dorkas a Christian woman who was restored to life at Joppa

· Eneas a paralyzed man that Peter healed at Lydda

· Lida a Benjaminite town near the Plain of Sharon 15 km SE of Joppa

· Petrus a man who was a leader among the twelve apostles and wrote the two epistles of Peter

· Saron a region of large coastal plain in northern Palestine,rich coastal plain in North Palestine (IBD),the unsettled plains country (IBD)

· Tabita a Christian woman who lived in Joppa and whom Peter raised from the dead

· Yope a seaport town on the Mediterranean coast about 35 miles northwest of Jerusalem,a town and seaport 55 km NW of Jerusalem & 85 km south of Mt. Carmel

Tafsiran/Catatan

Wycliffe: Kis 9:35 35. Kisah penyembuhan Eneas menyebar ke seluruh kota Lida dan ke seluruh dataran Saron, yang berbatasan dengan pantai taut. dan menghasilkan pertobata…

35. Kisah penyembuhan Eneas menyebar ke seluruh kota Lida dan ke seluruh dataran Saron, yang berbatasan dengan pantai taut. dan menghasilkan pertobatan banyak orang. Wilayah ini sebagian ditinggali oleh orang-orang bukan Yahudi; Lukas sedang menelusuri perluasan gereja dari masyarakat Yahudi di Yerusalem ke orang-orang bertobat yang bukan Yahudi.

Wycliffe: Kis 9:36 36. Yope. Sebuah kota di tepi taut, sekitar sepuluh mil di sebelah barat laut Lida. Tabita. Sebuah kata Aram yang artinya sejenis rusa. Dorkas. Kata Y…

36. Yope. Sebuah kota di tepi taut, sekitar sepuluh mil di sebelah barat laut Lida. Tabita. Sebuah kata Aram yang artinya sejenis rusa. Dorkas. Kata Yunani untuk nama tersebut. Dia sangat disayangi oleh orang-orang Kristen karena perbuatan-perbuatannya yang baik dan tindakan-tindakan kebajikannya.

Wycliffe: Kis 9:37

37. Hukum-hukum penyucian menurut aturan agama Yahudi mengharuskan mayat-mayat dimandikan. Mayat itu kemudian ditempatkan di sebuah ruangan atas untuk menunggu dikuburkan.

Ende: Kis 9:38

Sebenarnya 20 km.

Wycliffe: Kis 9:39 39. Semua janda, yang termasuk golongan yang paling kekurangan di dunia kuno, merupakan sasaran khusus dari kebaikan hati Tabita. Mereka mungkin memak…

39. Semua janda, yang termasuk golongan yang paling kekurangan di dunia kuno, merupakan sasaran khusus dari kebaikan hati Tabita. Mereka mungkin memakai pakaian yang dijahitkan Dorkas untuk mereka.

Pertanyaan untuk Didiskusikan

(1)   Selain Petrus, Yesus juga melakukan mukjizat penyembuhan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Apakah perbedaannya?

(2)   Mengapa Petrus menyembuhkan Eneas dan membangkitkan Dorkas?

(3)   Apa yang membedakan kebangkitan Dorkas, Lazarus, anak janda di Nain, dan lain-lain dengan kebangkitan Yesus dari kematian?

Refleksi

(1)   Pelayanan jemaat sebaiknya dilakukan dengan aktif, yakni mengunjungi warga jemaat untuk dilayani dengan baik. Jarak juga jangan dijadikan penghalang, melainkan sebagai penghubung.

(2)   Bagi Tuhan, tidak ada waktu yang terlalu pendek, ataupun terlalu panjang. Bagi-Nya, semua indah pada waktunya.

(3)   Tidak hanya satu, Tuhan punya berbagai macam cara dalam menyatakan kehendak-Nya, termasuk menyembuhkan dari penyakit. Tinggal bagaimana kita meyakini bahwa proses yang dikerjakan Tuhan adalah sedang berjalan, dan menuruti jalan-Nya.

(4)   Apa yang kita lakukan hendaknya menyatakan kemuliaan bagi Tuhan, bukan diri sendiri.

(5)   Bukan karena apa yang ada pada kita – kekayaan, kebaikan, sumbangan, kepintaran, kekuasaan, dan lain-lain – sehingga membuat Tuhan berbelas kasihan dan mengabulkan permintaan kita, melainkan motivasi yang mendasari itu semualah yang menentukan!

Jakarta, 22 Agustus 2013

Sebagian besar bahan ini diunduh dari dari http://www.sabda.net.id dengan perubahan minor di beberapa bagian. 

Andaliman-244 Khotbah 25 Agustus 2013 Minggu-XIII setelah Trinitatis

Kuk (190213)

Lepaskan Kuk yang Ada Padamu, dan, Pada Orang Lain Juga!

Evangelium Yesaya 58:9b-14

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Menghormati hari Sabat

58:13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,

58:14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Epistel Lukas 13:10-17

Menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat

13:10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.

13:11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.

13:12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” 13:13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.

13:14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”

13:15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?

13:16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”

13:17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “kuk” berarti “kayu lengkung yg dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dsb)”; Secara harafiah, tentulah tidak ada seorang pun yang menggunakan kuk yang tentunya sangat menyiksa dan membelenggu ini. Menginginkannya pun, pastilah tidak! Jangan sampailah, ya.

Nas perikop yang menjadi Ev yang diambil dari Perjanjian Lama sangat ‘nyambung dengan nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Masih dalam semangat merayakan kemerdekaan, keduanya berbicara tentang kebebasan. Bukan penjajahan oleh suatu bangsa, namun oleh derita yang tiada tara.

Sebagaimana Yesaya yang banyak mencantumkan nubuatan dalam kitabnya (dan banyak yang kemudian menjadi kenyataan), utamanya yang mengarah kepada Yesus, pada perikop ini juga bercerita tentang hal yang sama, yakni apa yang akan terjadi kemudian. Disebutkan bahwa Tuhan akan memberkati orang-orang dengan banyak hal (seruannya didengarkan Tuhan, menjadi terang dan gelapnya segera tergantikan, dituntun senantiasa dan dipuaskan hatinya, dibaharui kekuatannya, dijadikan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan, dimampukan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad – ini agaknya mengacu kepada pengalaman bangsa Israel dengan bait sucinya – sebagaimana juga memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Selain itu, ada lagi yang agaknya melakukan hal yang supranatural: “memperbaiki tembok yang tembus, dan membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. Bagiku, semua hal itu sudah sangat lebih dari cukup. Bahkan “berlebihan”. Serius! Lebih dari apa yang sebenarnya aku butuhkan. Coba lihat, mendapatkan hanya salah satu dari yang banyak itu saja pun pasti sudah sangat memadai bagi kehidupan. Apalagi kalau mendapatkan lebih dari itu, ya?

Syaratnya adalah: tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama manusia dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari (‘Nggak sopan banget, ya? Ini berarti melecehkan, merendahkan, atau bersikap kurang ajar) dan memfitnah, mengenyangkan orang lapar dan memuaskan hati orang yang tertindas. Aku melihat ada beberapa yang sudah aku tinggalkan sebagaimana juga masih ada (untungnya “cuma” sedikit …) yang masih aku “pegang dengan teguh” sehingga harus segera dilepaskan. Oh ya, masih ada satu syarat lagi: menghormati dan menguduskan hari Sabat yang sekarang kita akui sebagai hari Minggu.

Secara spesifik pada nas perikop Ep Yesus melakukan tindakan pembebasan yang lain. Masih berhubungan erat dengan Sabat – yang sangat ketat secara legalistik dan sangat kuat dianut oleh orang Yahudi secara fanatik – yaitu menyembuhkan orang sakit. Bukan “sekadar” menyembuhkan, melainkan Yesus melakukan hal baik tersebut pada hari Sabat, hal yang sangat dilarang oleh agama Yahudi (dan pelanggarnya bisa dihukum sangat berat, bahkan berpotensi mendapat ganjaran hukuman mati manakala dituduh sebagai pelecehan agama dan Tuhan).

Yesus mematahkan dua kuk sekaligus. Satu dari diri perempuan yang sudah delapan belas tahun mengidap penyakit yang parah tersebut, dan satunya lagi kuk yang sengaja diciptakan oleh kaum Yahudi tentang pengudusan Sabat. Saking kudusnya Sabat, sampai-sampai melakukan hal yang baik pun dilarang. Luar biasa!

Luar biasanya lagi Yesus – memang Dia sungguh luar biasa – dalam memberikan argumentasi, Dia menggunakan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi (melepaskan ternak peliharaan mereka untuk minum pada hari Sabat) sehingga terlihat betapa munafiknya mereka dengan tradisi dan agama yang dianut sehingga memosisikan ternak mereka lebih tinggi derajatnya daripada seorang manusia yang sudah menderita sakit dalam waktu yang sangat lama. Menjijikkan! Dan yang membuat kisah ini menjadi lebih terang untuk direnungkan, mereka bahkan memprotes Yesus – dengan pura-pura berkata kepada umat lain di bait Allah – yang sepertinya ‘nggak punya hari lain untuk menyembuhkan. Padahal faktanya, sudah belasan tahun perempuan tersebut selalu berada di bait Allah memohon kesembuhan namu ‘nggak kunjung mendapatkannya; sedangkan Yesus yang baru kali itu bertemu dengannya langsung bisa menyembuhkannya. Sumber penyakitnya? Iblis. Dan kembali cerita ini menegaskan bahwa Yahudi tidak punya kuasa mengalahkan iblis.    

Masih ada satu lagi teladan yang dilakukan Yesus yang bisa aku pelajari dari nas perikop ini, yaitu melakukan hal yang baik untuk mengalahkan orang-orang yang membenci. Pernah tahu ungkapan “bagai meletakkan bara api ke atas kepala orang yang jahat” bila tetap melakukan hal yang baik terhadap dirinya, ‘kan?

Tantangan/Bekal Bagi (Warga) Jemaat/Referensi

Kuk apa yang ada pada kita saat ini. Sudah tentulah bukan kuk secara fisik, karena ‘nggak mungkin ada lagi di antara kita yang pergi ke mana-mana dengan membawa kayu berat yang membebani bahu kita. Bisa dibayangkan kalau ada orang berjalan-jalan di mal atau supermarket sambil menggelantungkan kuk tersebut …

Tapi kita punya “kuk” yang lain. Bisa saja itu berupa penyakit menahun (layaknya perempuan dalam perikop tadi), ambisi yang belum kesampaian (mau meraih pangkat yang tinggi, kekayaan yang semakin berlimpah, kerinduan yang belum terwujud yang terasa semakin lama semakin “menyiksa” (punya pasangan, anak, menantu, atau cucu), dan hal-hal lain yang semakin akrab dengan kehidupan modern ini (stres, depresi). Semua hal yang menjauhkan diri kita kepada Tuhan – sehingga bisa dikategorikan sebagai kuk – inilah saatnya untuk dilepaskan.

Lakukan sendiri, atau memohon bantuan orang lain yang kompeten. Tentunya dengan mengharap campur tangan Yesus dalam setiap prosesnya, karena hanya Dia-lah yang paling mampu melakukannya untuk kita sebagaimana Dia juga sudah melakukannya lebih seratus tahun lalu kepada seorang peremuan yang mengidap penyakit belasan tahun di bait suci. Oh ya, meski dalam hal ini Yesus menegaskan bahwa perempuan tersebut sakit disebabkan oleh kerasukan roh (bisa dipahami sebagai perlakuan iblis), namun perlu kita pahami bahwa tidak semua penyakit disebabkan oleh iblis, ya …

Jika kuk-kuk tersebut pada kenyataannya sebagai manifestasi keberadaan iblis dalam kehidupan kita, maka saatnyalah sekarang untuk mengajak Yesus untuk membebaskan kita dari kuk-kuk tersebut. Sekalian juga kita membebaskan kuk yang sudah pernah kita perbuat kepada orang-orang yang selama ini mungkin kita “terlupa” bahwa penderitaan yang ditimbulkan oleh kuk yang kita rasakan adalah sama dengan penderitaan yang dialami oleh orang lain juga yang sudah kita biarkan berlangsung tahun demi tahun.

Pertanyaan untuk Diskusi:

(1)     Perikop ini menjanjikan berkat dan kebaikan bagi orang yang melepaskan kuk yang dilakukannya kepada orang lain. Tentunya orang tersebut juga mempunyai kuk yang juga harus dilepaskan. Yang mana lebih dulu: melepaskan kuk orang lain, atau melepaskan kuk dari diri sendiri?

(2)     Perempuan yang mengidap penyakit selama delapan belas tahun tersebut adalah disebabkan oleh kuasa iblis yang kemudian dibebaskan oleh Yesus. Itu artinya, ada juga penyakit yang bukan disebabkan oleh iblis, alias bukan karena dosa yang telah dilakukan oleh orang sakit tersebut. Bagaimana membedakan antara penyakit yang disebabkan oleh dosa dan bukan?

(3)     Prinsip mengalahkan kejahatan dengan kebaikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus ini terbukti efektif. Apa syaratnya, dan bagaimana melakukannya dalam kehidupan saat ini?

Slaid (Slides) Partangiangan Wejk Rabu Malam, 14 Agustus 2013

Tadi malam kami kembali melaksanakan partangiangan wejk setelah Rabu minggu lalu mansohot sebagaimana juga kegiatan pelayanan jemaat lainnya (termasuk sermon parhalado yang menurutku rada aneh juga …) sehubungan dengan liburan Lebaran yang cuti massal dari pemerintah adalah seminggu penuh. Lebarannya sendiri adalah Kamis, 08 Agustus 2013 (dan baru kali ini tercapai kesepakatan antara Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama setelah bertahun-tahun ‘nggak pernah akur tentang jatuhnya hari Lebaran).

Jadwal partangiangan sebenarnya jam 20.00 WIB, namun sampai jam 20.30 WIB cuma kami berdua (aku dan sintua paragenda) yang datang. Sintua satunya lagi sedang marulaon adat di Tebing Tinggi, dan satu sintua emeritus baru saja membalas pesan-pendekku mengabarkan sedang sakit. Yang manjabui kali ini adalah keluarga muda yang beristerikan dokter yang sedang proses pengurusan untuk mengikuti seleksi dokter spesialis di Universitas Diponegoro, Semarang. Mereka tinggal di Cipinang (kalau ‘nggak salah …) dan sangat jarang beribadah di jemaat kami (itulah sebabnya sejak awal tahun ini aku himbau untuk pindah jemaat saja, ‘nggak usah “menumpang” lagi sama orangtua mereka). Mungkin itu jugalah salah satu sebabnya kenapa warga jemaat nyaris ‘nggak ada yang datang saat mereka manjabui di rumah orangtua mereka ini, karena pastilah sangat sedikit interaksi mereka dengan warga jemaat yang lain. Selain mereka, orangtua mereka yang empunya rumah, dan adiknya yang baru menikah beberapa bulan lalu, kami dua orang sintua, dan seorang warga jemaat yang paling rajin (yang datang kemudian, dan hampir selalu datang terlambat sehingga aku memberikan “izin khusus” untuk boleh datang terlambat kalau memang karena kesibukan yang ‘nggak bisa ditinggalkan …) itulah yang ada sampai partangiangan berakhir malam itu.

“Jangan kecil hati, ya amang inang karena sedikit yang datang malam ini. Aku sarankan untuk rajinlah datang ke partangiangan, ‘nggak bisa tiap minggu, ya dua kali sebulan, atau sekali sebulan kalau memang karena kesibukan yang ‘nggak bisa ditinggalkan”, demikianlah yang aku sampaikan manakala mandok hata mauliate sekalian mengajak untuk datang ke partangiangan minggu depan bagi yang hadir malam itu, selain menghimbau agar datang pada perayaan ulang tahun gereja yang ke-26 pada Jum’at malam besok.

Ada kekecewaanku melihat sangat sedikitnya umat yang hadir. Aku sudah merencanakan mempresentasikan-ulang evaluasi semester satu perjalanan wejk sebagai bekal dalam diskusi untuk bahan yang akan disampaikan saat Rapot Huria tengah tahun yang akan dilaksanakan Sabtu, 31 Agustus 2013 pagi yang akan datang.  Karena telat mulainya – dan tentu juga telat selesainya – akhirnya hanya satu topik dari bahan yang aku sudah siapkan yang sempat didiskusikan pada malam itu (yaitu usulan perubahan jam ibadah Minggu agar dikembalikan ke semula …) karena sudah lewat tengah malam. Bahkan presentasi evaluasi wejk juga urung aku sampaikan. Mudah-mudahan minggu depan bisa …

Bukan itu saja, nas khotbah malam itu sangat pas dengan situasi psikologis di jemaat kami yang sedang terjadi konflik yang serius (sangat serius bahkan!) yakni tentang konflik dan pertengkaran yang terjadi di jemaat Galatia. Pesan supaya jangan saling membinasakan walaupun saling menelan tentunya pas dengan situasi jemaat manapun yang sedang terlibat konflik.

Berikut ini adalah slaid yang aku tampilkan tadi malam …

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Gereja Mau Ditutup Massa! Gereja Mau Ditutup? Ah, Minggu yang Memprihatinkan …

Minggu, 04 Agustus 2013 itu aku bertugas sebagai kordinator ibadah yang merangkap sebagai partingting di ibadah subuh karena dongan parhalado ‘nggak bisa hadir, yakni ibadah yang masuk jam 06.00 WIB. Baru kali ini aku bertugas pada ibadah subuh (entah mengapa, di kalangan jemaat berdasarkan pernyataan pendeta disebutkan sebagai “ibadah pagi”, lalu yang masuk jam 08.30 WIB disebutkan sebagai “ibadah siang” …) sejak diberlakukan awal tahun 2013 ini sebagai pengganti ibadah jam 18.00 WIB yang katanya sangat sedikit yang hadir (padahal menurut pengamatanku, masih lebih banyak yang datang di ibadah sore dulu daripada ibadah subuh yang sekarang ini …).

Memang merepotkan kalau bertugas subuh ini. Jam empat aku sudah terbangun dan bersiap-siap untuk berangkat paling lambat jam 5 karena memperhitungkan jarak antara Bekasi ke Kelapa Gading. Di rumah sudah ‘nggak ada pula pembantu kami yang paling baik selama ini karena sudah kami antarkan berlebaran Sabtu kemarinnya ke terminal Kampung Rambutan untuk mudik ke Cilacap. Jadilah aku mempersiapkan segala sesuatunya sendirian layaknya waktu masih kelas tiga Sekolah Dasar puluhan tahun yang lalu di Medan. Auli dan mamaknya ‘nggak ikut beribadah denganku – “Capek banget badanku karena acara arisan di Jonggol kemarin. Kami bergereja di Bekasi ini ajalah nanti sore …” –  jadi aku berusaha untuk tidak mengganggu mereka yang masih terlelap di subuh Minggu itu.

Sudah jam 6 dan kami (aku, St. yang paragenda, dan amang pendeta resort yang parjamita) sudah berkumpul di konsistori dan siap melayankan ibadah. Guru Sekolah Minggu yang bertugas mengumpulkan durung-durung sudah aku telpon dan aku kirimi pesan-pendek, namun belum berjawab (belakangan ternyata mereka sudah ada di dalam gereja, satu bertugas sebagai penata sound system dan satunya lagi mengurusi persiapan mengajar di Sekolah Minggu untuk jam delapan pagi …). “Baru dua orang yang datang yang tadi saya lihat. Kita tunggu sajalah dulu, amang. Kurang pas perasaanku kalau cuma segitu aja orang yang datang …”, kata paragenda menjawab pertanyaanku untuk memulai persiapan berangkat ke bangunan gereja seakan mengonfirmasi apa yang sepuluh menit yang lalu aku saksikan ketika pertama kali tiba di gereja. Lalu kami ‘ngobrol tentang perlunya dievaluasi pelaksanaan ibadah subuh ini karena umat yang hadir masih memprihatinkan jumlahnya. Pak pendeta yang aku tahu adalah inisiator ibadah subuh ini melunak setelah aku sampaikan, “Di partangiangan wejk kami juga sudah ada masukan tentang ditiadakan aja ibadah subuh ini dan kembali aja ke ibadah sore karena jumlah yang hadir, tapi aku bilang supaya sabar menunggu evaluasi yang akan aku lakukan. Mohon izin pak pendeta untuk meminjamkan data tingting untuk aku buatkan evaluasinya, dan aku akan presentasikan di rapat evaluasi parhalado yang akan datang. Sebaiknya ada data pendukung daripada hanya berdasarkan perasaan.

Tak lama kemudian, pak pendeta berkata: “Kita mulai ajalah ibadah kita walau berapapun yang hadir. Nanti bertambahnya itu karena kebiasaan orang kita yang seperti itu, sering terlambat. Karena kalau mundur lagi, nanti berpengaruh ke ibadah siang.”. Kami pun sepakat. Lalu aku pimpin ibadah singkat di bilut parhobasan dengan bernyanyi satu ayat lalu berdoa.

Usai ibadah subuh, aku tidak langsung pulang ke rumah, malah ikut ibadah pagi yang dimulai jam 08.30 WIB karena mak Auli memintaku menemani mereka ke ibadah sore di GKI yang di dekat rumah (tempat kami dulu sering beribadah waktu aku belum menjadi sintua dan kalau di HKBP ibadahnya berbahasa Indonesia karena aku berprinsip: “Kalau berbahasa Indonesia, lebih pas kalau di GKI daripada di HKBP. Dan HKBP itu pasnya kalau berbahasa Batak, itulah nilai tambahnya.”). Sebelum masuk, di depan pintu gereja aku sapa pak pendeta resort yang subuh tadi sudah berkhotbah, “Ikut ibadah lagi, amang?”, yang dijawab, “Ah, ‘nggak lagilah, sintuanami. Saya di luar sajalah”.

Jumlah umat yang mengikuti ibadah Minggu itu terlihat jauh lebih sedikit daripada biasanya, sehingga membawa pikiranku kepada pembicaraan di sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya (lihat Dari Konsistori-17: Gereja Koq Dibiarkan Mau Ditutup?) yakni adanya ancaman yang disampaikan saat partangiangan wejk ketika bertengkar sengit dengan pendeta resort Rabu sebelumnya oleh salah seorang ruas yang akan mengerahkan massa yang dipimpin oleh menantunya yang muslim untuk mengelilingi gereja dan menutup gereja karena tidak bersertifikat. Patut aja beberapa orang yang termasuk geng pendeta terlihat kasak-kusuk tadi di undung-undung yang terletak di sebelah kiri rumah pendeta, mungkin mengantisipasi serangan tersebut yang ternyata tidak terbukti sama sekali …

Usai ibadah pagi itu, St. yang di sermon parhalado Jum’at malam menyatakan siap menurunkan massa dari salah satu organisasi non Kristen jika memang dibutuhkan untuk mempertahankan gereja dari serangan massa sesuai ancaman ruas tersebut mendatangi dengan setengah berbisik. Ada apa?

Lae, ada mendapat SMS pagi ini?”, tanyanya masih berbisik seakan takut terdengar oleh orang lain.

“Enggak tahu, lae. Aku belum buka hape lagi sejak ibadah subuh tadi. Kenapa, lae?”

“Ini, bacalah. Masak ada SMS gelap seperti ini yang mengajak jemaat untuk datang ke gereja menyaksikan penutupan gereja kita dengan mencantumkan nama-nama sintua dan ruas yang katanya akan menutup gereja. Betul-betul keterlaluan yang mengirimi SMS ini! Apa lagi maksudnya kalau bukan untuk menjatuhkan nama-nama ini? Padahal malam setelah sermon parhalado Jum’at itu aku sudah langsung bicara dengan amang yang mengancam membawa massanya menutup gereja, dan dia bilang ‘nggak ada itu karena ancamannya itu hanyalah ucapan spontan karena marah dengan sikap pendeta yang ‘nggak simpatik. Dia malah sekarang ke Puncak, jalan-jalan.”

“Yah, begitulah situasi jemaat kita saat ini yang sangat menyedihkan dan memalukan menurutku. Sintua yang disebutkan di SMS itu tadi sama-samanya kami melayani di ibadah subuh. ‘Nggak ada masalah, koq. Hati-hati ajalah kita, lae. Kalau melihat isi SMS itu, pasti yang membuatnya salah seorang yang mendapat info dari yang ada di bilut parhobasan waktu sermon parhalado kita Jum’at malam yang lalu karena isinya sangat detil.”

Lalu pembicaraan berlanjut. Ada lagi yang nimbrung. Salah seorang suami sintua ikut memberikan komentar dengan sangat emosional, “Kalau memang benar preman mereka itu, jangan seperti ini, beraninya di gereja. Ke si anu (sambil menyebut nama salah seorang warga jemaat) pun pernah aku bilang, ‘Bencongnya kau kalau beraninya hanya membuat ribut di gereja!’.”. Makin banyak yang ‘ngobrol, berkelompok-kelompok. Sekilas aku dengar semuanya menceritakan kehebatannya masing-masing. Keberaniannya menghadapi preman dan kekerasan dan mengesankan siap mati untuk membela gereja, ucapan-ucapan yang dulu aku dengar ketika terjadi pergolakan di HKBP, namun tak kelihatan ketika kehadirannya dibutuhkan …

Aku pun hanya tersenyum sedih di dalam hati karena aku tahu riwayat berjemaat mereka selama ini. Dan prihatin, koq kayaknya ‘nggak ada lagi yang tersadar bahwa gereja adalah milik Tuhan dan ‘nggak pantas terjadi premanisme di gereja. Dan sebaliknya juga, kenapa ‘nggak terdengar ucapan-ucapan lemah lembut yang menyuarakan perdamaian dan kasih yang rasanya hampir setiap hari diperdengarkan oleh hamba-hamba Tuhan dalam suasana yang “damai”?

Sampai di rumah, aku membuka hp-ku dan membaca pesan-pendek dari seorang sintua emeritus yang sangat terlibat dalam konflik di gereja belakangan ini yang dikirim beberapa jam sebelumnya: “SAYA KIRIM SMS GELAP YG BEREDAR KPD JEMAAT: Hai saudara2KU, mari kita menyaksikan “PENUTUPAN” GEREJA HKBP” Immanuel Kelapa Gading pagi ini Minggu, 4 Agst’13 oleh laskar2 dr Wil NAZARET yg disponsori St X, Y, St Z dng algojonya ABc sesuai pernyataan mrk pd Part WEK Rabu Mlm,31 Jul’13 di lt I Gdg S M.”

Sampai hari ini pun aku ‘nggak menerima pesan-pendek yang langsung dari penyebar teror dan penghasut serta pemecah belah tersebut. Aku tak tahu kenapa. Tidak diperhitungkan? Atau ‘nggak bakalan terpengaruh? Entahlah, dan aku pun ‘nggak mau menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan hal-hal seperti ini …