Dari Konsistori-15: Simpang Siur!

Dalam rangkaian Pesta Parheheon, Remaja Naposobulung Huria Kristen Batak Protestan (RNHKBP, selanjutnya disingkat saja dengan RN) di jemaat kami, RN mengadakan berbagai kegiatan yang bermuara pada kunjungan kasih ke Panti Asuhan Elim dan Panti Karya Hephata dan Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung yang semuanya berada di Sumatera Utara. Selaku anggota Dewan Koinonia dan pemerhati aktivitas pelayanan jemaat (ehem …!), aku aktif pula mengikuti kegiatan mereka dalam usaha mewujudkan kerinduan mereka melakukan kegiatan besar ini.

Tahun lalu dan sampai awal tahun 2013 ini ketika membahas rencana pelayanan di Rapat Jemaat, aku punya tanggung jawab moral (ehem lagi …!) terhadap RN ini. Kenapa? Awalnya, ketika pembicaraan mula-mula di level parhalado aku memahami bahwa sebagai sintua kami dipersilakan menggali sedalam-dalamnya dan membuka seluas-luasnya setiap kategorial dalam merancang kegiatan pelayanan satu tahun. Artinya, jangan dibatasi dulu dengan anggaran. Dengan semangat, masing-masing kategorial/seksi mengajukan rencana kegiatan pelayanan yang sanggup mereka jalankan. Eh, ternyata sikap pimpinan jemaat berubah: dengan alasan anggaran yang sangat sangat sangat terbatas (yang menurutku sebenarnya karena bersikap pesimistis …) maka hampir semua usulan kegiatan dicoret. Bahasa halusnya: tetap muncul di program pelayanan, tapi ‘nggak ada anggarannya alias nol! Malah makin buat hati kesal, ya? Meskipun berulang kali aku sampaikan di berbagai rapat agar tetap saja dimunculkan sebagai program, lengkap dengan anggarannya, namun dengan catatan khusus bahwa dana akan dikucurkan jika gereja memiliki dana untuk itu di kemudian hari. Tetap ‘nggak digubris, maka aku pun membesarkan hati mereka dengan mengatakan akan sama-sama berupaya agar rencana pelayanan tersebut dapat terwujud (dengan swadaya …).

Untungnya, untuk kategorial Sekolah Minggu tidak mengalami perubahan yang berarti, bahkan nyaris 100% sesuai usulan. Sebagai “pendamping” (ini nama yang baru kami temukan sebagai pengganti istilah paniroi yang sudah hilang dari kosakata gereja beberapa tahun belakangan ini …) Sekolah Minggu, layaklah aku bersyukur untuk hal itu. Dan terbukti memang, hal ini menambah semangat orang-orang yang terlibat dalam pelayanan Sekolah Minggu. Puji Tuhan!

Begitulah, sejak Mei 2013 RN mulai kasak-kusuk tentang rencana mereka yang akan ke Sumatera Utara ini. Secara formal, parhalado nyaris sama sekali tidak mendukung hal itu pada mulanya dengan alasan: “Untuk apa jauh-jauh menghabiskan uang sebanyak itu? Lagian, RN kita ini ‘nggak pernah kelihatan partisipasinya dalam pelayanan!”. Menurutku, ucapan ini ‘nggak pantas dilontarkan karena tidak membesarkan hati, malah membuat rasa tidak senang. Berbagai kegiatan yang diperkirakan menghasilkan uang dilakukan oleh RN, antara lain menjual makanan kepada donatur di setiap Minggu (yang aku pesankan ke mak Auli, isteriku, untuk selalu membeli makanan, dan aku motivasi RN untuk menjajakan makanan jika masih ada yang belum laku ke konsistori agar dibeli oleh para penatua yang sayangnya responnya ‘nggak begitu memuaskan …).

Oh ya, pada suatu hari RN datang ke bilut parhobasan meminta tolong agar dibuatkan surat pengantar ke Elim, Hephata, dan Kantor Pusat oleh pak pendeta resort. Sekalian aja kami (segelintir penatua yang masih memberikan perhatian kepada RN …) manfa’atkan untuk membicarakan dukungan dari huria. Puji Tuhan, saat itu pak pendeta menyatakan bersedia menyediakan dana untuk kegiatan ini walau tidak menyebutkan jumlahnya berapa dan kapan uangnya bisa diambil (“Nanti saja kalau kalian sudah berusaha keras mencari sumbangan dari ruas, barulah datang sama saya untuk saya kasih uangnya …”, demikian jawab pak pendeta pada malam itu).

Sejak awal, kami sudah bersepakat untuk mengutus Sintua yang adalah Ketua Dewan Koinonia yang akan berangkat mendampingi rombongan RN ke Sumatera Utara (setelah pendamping RN, dan pak pendeta resort menyatakan ketidakbisaannya), walaupun hanya beberapa hari alias tidak penuh, karena beliau ada urusan yang mengharuskannya kembali ke Jakarta sebelum seluruh rangkaian acara berakhir.

Sermon parhalado Jum’at, 19 Juli 2013 aku kaget ketika mendadak pendeta resort berkata: “Karena ada permintaan dari RN agar saya mendampingi mereka yang akan berangkat ke Medan dan Tapanuli, maka menurut saya sebaiknya saya saja yang berangkat mendampingi mereka, apalagi amang ketua dewan koinonia ‘kan ‘nggak bisa mendampingi rombongan sampai selesai. Juga kawan-kawan saya pendeta di Kantor Pusat sempat mempertanyakan waktu saya bilang bukan saya yang mendampingi rombongan, sehingga mendesak harus saya yang ikut karena sayalah pimpinan jemaatnya …”.

Dan amang Ketua Dewan Koinonia dengan tulus menjawab, “Kalau memang sudah begitu keputusannya dan ada permintaan seperti itu, ya saya pun harus mematuhinya. Kita bicarakanlah dengan RN karena yang saya tahu tiket pesawat saya sudah dipesan oleh mereka.”

Usai ibadah, setelah para penatua meninggalkan konsistori, masih berlanjut dengan diskusi bersama RN yang sekaligus menjadi panitia keberangkatan. Hal tersebut kembali disampaikan oleh pendeta dan lama membicarakan tentang tiket yang sudah dipesan dengan nama masing-masing, termasuk untuk amang ketua Dewan Koinonia. Saat itu, aku bilang: “Coba ajalah diusahakan supaya tiket yang sudah dipesan untuk amang ketua Dewan Koinonia bisa digantikan untuk tiket pak pendeta. Kalau memang sudah ‘nggak bisa, menurutku tetap sajalah amang ketua Dewan Koinonia berangkat …”, yang sebenarnya aku mau mengatakan bahwa janganlah dibatalkan keikutsertaan amang Ketua Dewan Koinonia yang pastilah sudah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama rombongan ...

“Tak apa-apa, amang sintuanami. Nanti tetap saja saya yang memakai tiket amang itu, kalau takut pada pemeriksaan. Paling-paling saya pakai KTP-nya, dan KTP saya sementara saya berikan ke dia supaya pernah dia memakai KTP pendeta …”, sambar pak pendeta resort yang membuatku mengernyitkan dahi.

“Tak perlu harus begitu, amang pandita. Kurang elok kalau nanti diperiksa di bandara dan ketahuan bahwa KTP-nya tidak sesuai dengan orangnya, Malulah kita, pak pendeta. Masa’ pendeta berbohong, apa kata dunia …”, jawabku lagi yang disambut dengan tawa yang lainnya.

Sejam kemudian, setelah selesai berdiskusi dengan pak pendeta tentang kegiatan Sekolah Minggu yang akan mengikuti festival paduan suara, aku pun keluar dari konsistori untuk siap-siap pulang ke rumah. Di pelataran parkir aku melihat sudah ada dua penatua, dan seorang warga jemaat, salah seorang tua yang aktif membantu RN belakangan ini. Mereka berdiri di depan mobil yang sedang terparkir, lalu mengajak aku ‘ngobrol. Ternyata mereka sedang membicarakan pergantian pendamping rombongan RN ke Sumatera Utara. “Enggak bisa gitu, dong pak pendeta itu. Selama ini dia ‘nggak terlibat membantu dan ‘nggak setuju dengan kegiatan RN ini. Sekarang karena semua sudah tersedia, enak aja bilang harus dia yang mendampingi. Mana ada RN yang memintanya ikut, malahan mereka lebih suka kalau dia ‘nggak ikut. Alasan yang dibuat-buatnya aja itu semua. Memang ada peraturan HKBP yang mengatakan bahwa rombongan harus mengikutkan pendeta resort seperti yang dibilangnya itu? Dasar tukang bohong dia itu! ‘Nggak usah dipatuhi! Aku tahu maksudnya, dia pingin namanya jadi baik di mata par-kantor pusat.Dia mau menunjukkan bahwa semua laporan keburukannya yang sudah dilaporkan ke Kantor Pusat selama ini adalah ‘nggak benar.”

Setelah bertanya beberapa hal kepada masing-masing, aku pun beranjak pulang. Malam sudah semakin larut, perjalanan pulang ke rumah masih lumayan panjang. Mulai terasa capek, badan dan pikiran. Mendinganlah aku pulang, dan mengadu kepada orang yang paling ‘kupercaya selama ini yang pasti tidak pernah berdusta dan ‘nggak bakalan kehabisan kasih yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang saat ini. Dia-lah Sang Kepala Gereja …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s