Dari Konsistori-16: Audit atau Verifikasi?

Seperti biasa manakala selesai diskusi tentang perikop khotbah dan pembagian tugas pelayanan, di sermon parhalado kami berdiskusi tentang hal-hal lain yang terjadi di jemaat. Demikian jugalah yang terjadi pada Jum’at, 26 Juli 2013 yang lalu. Salah satu topiknya adalah pemeriksaan laporan keuangan Panitia Jubileum 25 Tahun Jemaat kami. Perayaan ulang tahunnya sendiri sudah dilakukan pada 16 Agustus tahun lalu, dan laporan hasil kerja panitia sudah disampaikan ke Tim Verifikasi beberapa bulan yang lalu yang sekaligus meminta kepada pendeta resort untuk membubarkan Panitia karena sudah selesai pekerjaannya. Saat itu ketika menyerahkan laporan pertanggungjawaban oleh Bendahara – selaku Sekretaris Panitia – aku mintakan ke pendeta resort untuk memberikan batas waktu pemeriksaan, “Agar kami Panitia tahu kapan harus membubarkan diri. Lagian, yang namanya pekerjaan tetaplah harus punya batasan waktu, termasuk pemeriksaan seperti ini.”, yang lalu dijawab oleh pak pendeta, “Belum bisa dan ‘nggak bisa ditentukan seperti itu, sintuanami karena saya juga belum tahu bagaimana situasinya. Apalagi ‘kan bukan saya pendeta resort yang menetapkan Panitia ini, saya ‘kan hanya yang menerima laporan pertanggungjawabannya. Harus sampai tuntaslah …”.

Jawaban yang membuatku geli. Karena terbiasa dengan tenggat alias deadline, aku jadi merasa aneh kalau masih ada yang bekerja tanpa batasan waktu. Hampir dua bulan sudah berlalu sejak penyerahan laporan dan titipan uang (untuk keperluan sertifikasi gereja) dari Panitia ke pendeta resort, namun hasil pemeriksaan final belum juga disampaikan. Itulah sebabnya, ketika sermon Jum’at malam yang lalu, salah seorang penatua yang adalah juga panitia mempertanyakannya sehingga terjadi tanya jawab yang lumayan panjang. Saking panjangnya, aku singkat ajalah di bawah ini dengan tidak mengurangi esensi pembicaraannya.

Pendeta Resort (PR): Itulah, amang sintuanami. Sebenarnya amang St. yang adalah ketua tim sudah pernah melaporkan hasil pemeriksaannya, namun saya belum puas karena masih ada yang perlu saya pertanyakan dan dilengkapi oleh Panitia. Bagaimanapun juga, kalau saya sudah teken, berarti selanjutnya sayalah yang bertanggung jawab kepada jemaat jika ada yang mempertanyakannya. Yang perlu diperjelas adalah status penjualan kaos, uang biaya pembuatan yayasan, dan biaya sertifikasi gereja kita ini. Untuk jelasnya amang St. Ketua Tim Verifikasi bisa menjelaskan.”

Ketua Tim Verifikasi: Iya, saya membutuhkan dokumen kuitansi dan tanda terima tentang hal-hal yang disampaikan oleh amang pandita tadi. Walau sudah berulangkali saya minta kepada Bendahara Panitia, tapi sampai saat ini belum ada hasilnya. Itulah yang membuat hasilnya belum final.”

Lalu terjadi tanya-jawab (persisnya saling melempar tanggung jawab) yang sengit. Di tengah-tengah keaadaan itu, seorang sintua yang adalah Ketua Harian Panitia berujar, “Entah apa lagi yang mesti dicari-cari bukti. Kita semua sama-sama tahu tentang yang ditanyakan itu. Misalnya kaos, itu ‘kan semula untuk dihadiahkan kepada semua ruas, jadi bukan untuk mencari dana, yang ada saja beberapa orang berinisiatif menjadikannya sebagai bagian dari pencarian dana. Demikian juga dana yayasan dan sertifikasi gereja, Panitia perlu mengeluarkan uang karena memberikan kepada petugas yang membantu mengurusnya, yang tidak semuanya bersedia membuatkan kuitansi penerimaan uang. ‘Ngapain lagi diributkan!? Supaya ‘nggak berlarut-larut dan bertele-tele karena kita juga punya pekerjaan lain yang lebih penting, bilang aja berapa uangnya yang ‘nggak jelas. Biar saya saja yang membayarnya secara pribadi!”.

Lalu, berkomentar lagi. Sambung-menyambung dengan masing-masing mempertahankan pendapatnya. Di tengah-tengah situasi ramai itu, Ketua Tim Verifikasi tiba-tiba ‘nyeletuk, “Di antara tim verifikasi ada pula yang kebetulan juga menjadi panitia. Bagaimana tentang hal ini? Saya perlu ada surat pemecatan terhadap mereka agar tidak melanggar peraturan. Saya ‘nggak mau bertanggung jawab sendirian tentang hal ini …”.

Kembali ramai komentar. Karena semakin ‘nggak jelas juntrungannya, aku pun berkata: “Menurutku, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sedang kita bicarakan. Kalau ‘nggak ‘ngerti, akan beginilah terus yang terjadi. Demikian juga dengan ruas, masih banyak yang tidak paham tentang pemeriksaan ini. Amang St. Ketua Tim Verifikasi, tim kalian adalah verifikasi, bukan audit. Beda itu antara verifikasi dan audit. Kalau verifikasi tugasnya adalah hanya mencocokkan antara laporan dengan data pendukungnya. Jika tidak ada data pendukungnya, Tim Verifikasi cukup dengan menjadikannya sebagai temuan dengan mencatatnya dalam laporan pemeriksaan. Itu saja. Tak perlu harus mengejar sampai dapat, dan bertanya ini bagaimana, itu mengapa. Tidak! Yang seperti itu adalah kerjaan auditor. Dan di gereja ‘nggak ada auditor. Lihat itu struktur pelayanan yang ada di papan tulis. Jelas tertulis bahwa tim pemeriksa adalah Tim Verifikasi, bukan Tim Audit, dan gereja memang ‘nggak mengenal audit, hanya verifikasi. Dan garisnya putus-putus ke pendeta resort, yang berarti Tim Verifikasi bukan anak buah pendeta resort alias independen dalam pekerjaan ini. Artinya, lakukan pemeriksaan, dan bagaimana hasilnya, serahkan ke pendeta resort. ‘Nggak perlu ada pemeriksaan ulang yang bertele-tele. Jadi jelas, seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat, bukan seperti ini. Apalagi kalau harus mencari-cari terus, bisa-bisa sampai bertahun-tahun ‘nggak bakalan selesai tugas pemeriksaan ini.”

PR: Betul itu yang disampaikan amang St. Tobing, memang di gereja seharusnya hanya ada verifikasi, bukan audit. Makanya saya heran ketika dilakukan pemeriksaan kepada saya atas keuangan di gereja kita ini awal tahun lalu, yang menemukan ada penyimpangan dan meminta harus dieksekusi dengan memaksa saya membayar uang yang pernah saya terima. Saya waktu itu keberatan, tapi tetap dipaksa oleh tim pemeriksa itu, sehingga saya berprinsip suatu waktu akan saya balas tindakan itu. Itulah sebabnya untuk Panitia Jubileum ini juga saya mengeluarkan surat tugas sebagai auditor, bukan verifikasi supaya yang dulu mengeksekusi saya itu merasakan akibatnya bagaimana kalau tindakan yang sama dilakukan pada dirinya …

Bah, ada urusan balas dendam rupanya, pikirku. Lalu aka katakan: “Sudahlah, amang pandita. ‘Nggak ada gunanya membalas dendam. Yang salah di masa lalu, janganlah pula dilakukan lagi sekarang. Berdamai-damailah kita mengurus pelayanan jemaat ini. Yang baik-baik sajalah yang kita lakukan …”

PR: Saya tidak ada berniat membuat hal ini menjadi sangat lambat. Dibikin sajalah penjelasan yang diminta oleh tim pemeriksa, supaya semua menjadi jelas.

‘Nyeletuk lagi St. satunya lagi, penatua yang adalah juga bagian dari Panitia: “Kalau begitu, bikinlah surat amang Ketua Tim Verifikasi ke amang Tobing yang Sekretaris Panitia. Jelaskan di situ apa saja yang dibutuhkan, supaya kami buatkan jawabannya untuk melengkapi. Tentang anggota Tim Verifikasi yang adalah juga anggota Panitia, sudah jelaslah harusnya jangan dilibatkan dalam pemeriksaan ini karena dia juga terperiksa. Nanti di laporan pemeriksaan, dia ‘nggak usah ikut menandatangani.”.

Karena kalimat tersebut diarahkan juga padaku, maka aku jawab, “Kita sederhanakan sajalah. ‘Nggak usah lagi menunggu surat dari Tim Verifikasi, makin lama itu nanti. Begini aja. Nanti selesai sermon ini diktekan saja ke aku apa yang perlu dicantumkan di surat jawaban Panitia, baru aku buatkan suratnya. Hari Minggu nanti aku pastikan sudah siap, tinggal ditandatangani saja oleh Ketua Panitia. Kita tadi sudah dengar komitmen pendeta resort tentang tidak adanya keinginan beliau membuat ini berlarut-larut, oleh sebab itu, mari kita buat ini tuntas dengan segera. Begitu aja, ya?”.

Setuju. Diskusi pun ditutup.

Di luar konsistori aku berjalan menuju mobilku di parkiran untuk segera pulang karena sudah lewat tengah malam. Di mobil aku lihat anakku si Auli sudah tertidur dengan ditemani oleh mamaknya (Jum’at malam adalah jadwal latihan koor anak-anak Sekolah Minggu yang diikuti oleh Auli sejak tiga bulan yang lalu sehingga kami selalu pulang bersamaan ke rumah …). Masih dicegat St. yang adalah Ketua Harian Panitia Jubileum dengan mengatakan: “Tak usahlah dibuat lae surat untuk Tim Verifikasi itu. Tadi kami bicara lagi dengan pendeta resort dan ketua Tim Verifikasi, dan disepakati bahwa pendeta hanya menunggu surat dari Tim Verifikasi sebagai kelengkapan laporan pemeriksaan yang mencantumkan adanya dokumen yang ‘nggak bisa dilengkapi oleh Panitia”.    

Oh, ya? Koq jadi begitu lagi? Ya, sudahlah …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s