Dari Konsistori-17: Gereja Koq Dibiarkan Mau Ditutup?

Dari yang bisa aku ingat, sermon parhalado Jum’at, 02 Agustus 2013 yang lalu adalah yang paling sedikit jumlah yang hadir. Dua orang sintua mantan ketua dewan sedang liburan ke Beijing, satu inang sintua seminggu ini ke Sumatera Utara untuk urusan keluarga. St. yang mendapat tanggung jawab sebagai penyampai bahan diskusi nas perikop tidak hadir karena urusan kantor ke luar kota dan menitipkan bahan diskusinya ke inang pandita diperbantukan, yang membuatku harus berkata kepada beliau: “Inang, aku ‘nggak suka dengan keadaan ini. Bagaimana sermon kita ini bisa baik, kalau situasinya begini? Sudah jelas sintua yang mendapat tugas menyiapkan bahan ‘nggak datang, tapi seperti ‘nggak ada masalah bagi kita. Seharusnya begitu tahu bahwa seorang sintua ‘nggak bisa hadir mendiskusikan bahannya, langsung saja digantikan dengan sintua yang mendapat giliran bulan berikutnya. Jangan seperti ini. Tadi inang membacakan bahan yang dititipkan, langsung bilang ‘bagaimana mau mendiskusikannya karena yang membuat bahan ini pun tidak bisa datang’. Itu artinya kan supaya kita ‘nggak usah mendiskusikan bahannya ini, ‘kan?”

“Tapi, amang ‘kan ‘nggak semua orang bisa langsung siap karena masing-masing hanya menyiapkan bahan masing-masing untuk dibuat sesuai roster”, jawab inang pandita yang menurutku sepertinya ‘nggak mengetahui situasi yang sebenarnya: mana ada penatua yang membuat bahan sermon satu bulan sebelum jadwalnya? Satu minggu sebelum jadwal baru kasak-kusuk mencari bahan sermon aja sudah bagus …

“Begini aja, inang. Kalau memang begitu alasannya, ‘nggak perlu harus membuat bahan karena menggantikan orang lain. Pakai buku Impola ni Jamita aja, asalkan sintua tersebut sudah mempelajarinya terlebih dahulu sehingga bisa memimpin diskusi. Prinsipnya, jangan seperti ini yang terkesan kita memang ‘nggak merasakan pentingnya mendiskusikan bahan sermon yang adalah khotbah. Apalagi kalau alasannya karena minggu depan ‘nggak ada partangiangan wejk sebagaimana juga semua kegiatan pelayanan diliburkan …”.

Demikianlah sehingga diskusi bahan sermon ditiadakan. Usai dibacakan, lalu ditutup karena ‘nggak ada pertanyaan dengan alasan tadi: yang membuat bahan sermon ‘nggak datang. Alamak!!!

Selanjutnya, pembagian tugas pelayanan ibadah Minggu. ‘Nggak tanggung-tanggung, untuk tiga Minggu sekaligus, karena ‘nggak ada sermon parhalado sementara ini (Jum’at, 09 Agustus karena Lebaran, dan 16 Agustus karena perayaan ulang tahun gereja). Lalu pak pendeta resort angkat bicara, dan ini yang membuat situasinya menjadi tegang.

“Saya perlu menyampaikan kekecewaan saya. Waktu partangiangan wejk Rabu kemarin di wejk yang berlangsung di ruang Sekolah Minggu di gereja ini ada peristiwa yang sangat mengecewakan saya. Ada ruas yang mempertanyakan tentang yang sudah kita lakukan, dengan melampaui batas. Amang  warga jemaat mengatakan bahwa salah melakukan audit sebelum panitia jubileum dibubarkan, dan mengatakan tidak mengetahui bahwa panitia sudah melaporkan hasil kerjanya kepada pendeta resort dan tidak setuju kalau panitia menitipkan uang untuk biaya pengurusan sertifikat gereja yang belum tuntas kepada huria. Koq bisa begitu, padahal dia ‘kan anggota panitia juga. Lalu ada St. yang sudah pensiun yang mengatakan bahwa uang titipan tidak bisa diapa-apakan selain hanya boleh disimpan. Sebelumnya dia mengatakan: ‘Pak pendeta ‘nggak tahu tentang ini. Duduk di sini supaya saya ajari pak pendeta’. Bahkan ada lagi amang warga jemaat lain yang mengancam akan menutup gereja ini Minggu depan dengan mengerahkan massa mengelilingi gereja ini yang dipimpin menantunya yang beragama Islam sekaligus menutup gereja karena belum punya izin. Kalau bagi saya, kalau sudah sampai ada yang berniat menutup gereja, akan saya lawan. Saya yang akan di depan berhadapan dengan mereka. Dan inilah yang saya sangat sesalkan, dari tiga orang sintua wejk yang hadir saat itu, tidak ada seorang pun yang memarahi ruas yang sudah melampaui batas itu. Sampai saya pergi karena situasinya sudah tidak baik, tak seorang pun sintua yang melarang mereka berbicara seperti itu. Sepertinya kalian membela mereka. Padahal seharusnya kalian sintua itu berdaulat! Tidak boleh ada ruas yang bisa bicara seperti itu!”

Lalu ada jawaban dari amang St.  sebagai salah satu sintua yang dimaksud dan satu-satunya yang hadir ketika sermon hari itu. Terjadilah debat dengan pendapat masing-masing. Lalu ada St. kawanku satu wejk yang mengatakan bahwa beliau juga punya massa yang siap diturunkan untuk mempertahankan gereja: “Saya bisa turunkan kapanpun (sambil menyebut salah satu organisasi non Kristen jika diperlukan untuk mempertahankan gereja ini dari serangan mereka.”. Ini semua membuatku mengernyitkan dahi, karena tidak mengesankan sedang berada di konsistori yang adalah bagian dari rumah Tuhan dan yang berbicara adalah para pelayan Tuhan, sehingga ketika tiba giliranku (terakhir, itupun karena diminta oleh pendeta) aku sampaikan:

“Menurutku, ini hanyalah pemicunya saja. Alasan utamanya sebenarnya sudah lama terjadi di jemaat, yakni kebencian dan dendam yang membuat saling mengintip kesalahan. Mendengar apa yang disampaikan pak pendeta dan alasan yang dikemukakan, menurutku semua ‘nggak logis. Dan ancaman penutupan gereja dari ruas tadi itupun belum tentu sungguh-sungguh, besar kemungkinan adalah sekadar ucapan orang yang sedang tersinggung berat dan marah. Ke depannya, mulailah kita berkomunikasi dengan baik dan benar, karena banyak hal yang tersumbat antara kita parhalado dengan warga jemaat. Kita harus menyikapi ini dengan kerendahan hati.”

Masih ada debat lagi … dan komentar lagi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s