Pertunjukan Seni RNHKBP: Kita Harus Punya Visi, Amang! Kasus Pendepositoan Mengajari Tentang Pentingnya Komunikasi yang Baik …

Gambar

“Sabtu, tanggal 27 bulan 7 jam 7 malam jangan lupa datang ke gereja ini untuk menyaksikan penampilan yang luar biasa dari anak-anak kita Sekolah Minggu dan Remaja Naposo. Yang barusan ini masih belum apa-apa dibandingkan yang akan ditampilkan malam itu nanti …”, demikianlah yang aku sampaikan “berpromosi” pada ibadah Minggu pagi, 21 Juli 2013 yang lalu ketika melayani ibadah sebagai liturgis, mengantarkan anak-anak Sekolah Minggu dan RNHKBP usai mempersembahkan lagu pujian sebagai “pemanasan” untuk Malam Seni RNHKBP dimaksud. Kepada warga jemaat di wejk yang menjadi tanggung jawab pelayananku juga aku kirim pesan-pendek alias SMS pengingat agar semua datang ke acara tersebut, setelah Rabu malam sebelumnya mengimbau di partangiangan wejk. Juga di sermon parhalado Jum’at malam sebelumnya untuk mengingatkan kawan-kawan parhalado agar hadir mengingat selama ini tingkat kehadiran kami sangat memprihantinkan walaupun semua sadar bahwa kami seharusnya hadir pada setiap kegiatan pelayanan jemaat, “Aku sudah minta kepada panitia agar disediakan bangku paling depan untuk kita parhalado. Jadi, sebaiknya kita hadir supaya jangan malu kalau kursi paling depan tersebut sampai kosong …”. Acara yang langka, apalagi mengingat track record RNHKBP jemaat kami yang statusnya seakan-akan “mati segan, hidup pun tak mau” selama ini …  

Acara tersebut memang berjalan dengan baik dengan mendapat pujian dari warga jemaat yang hadir pada malam itu. Banyak yang ‘nggak menyangka ternyata pertunjukan – ada paduan suara (Sekolah Minggu dan RNHKBP), duet (seorang anggota punguan ama dan seorang remaja), pembacaan puisi dan drama (dibawakan oleh dua orang anggota punguan ama) – sebaik itu bisa ditampilkan. “Bah,tadi malam itu sudah layak direkam sebenarnya”, puji seorang bapak yang keluarganya aktif dalam pelayanan jemaat (yang juga tampil pada malam itu …) yang walau ‘nggak begitu jelas namun aku mengerti maksudnya. Dan itu membesarkan hati hampir semua orang-orang yang terlibat di dalamnya, bahkan cenderung berlebihan menurutku melihat sikap beberapa orang (tua) yang merasa paling berperan dalam kegiatan tersebut.

“Betul memang bagus pertunjukan tadi malam seperti yang tadi disampaikan oleh amang ketua Dewan Koinonia bahwa nilanya 95, tapi ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kelanjutannya. Apa yang akan dilakukan RNHKBP kemudian. Apakah kembali memble seperti semula? Apalagi setelah kembali dari perjalanan ke Sumatera Utara yang menghabiskan banyak biaya, jangan pula habis itu tidak terdengar lagi kabarnya dalam pelayanan jemaat. Aku sudah sampaikan usulan kegiatan yang bisa dilakukan RNHKBP yang sangat berhubungan dengan jemaat, yakni melakukan pembuatan biopori di gereja dan di rumah-rumah warga jemaat, misalnya. Bukan tidak menghargai apa yang sudah dilakukan belakangan ini dan keberhasilan acara tadi malam, tapi menurutku pujian yang diterima kebanyakan adalah karena faktor psikologis, yakni unsur keterkejutan dari yang selama ini dianggap under-dog ternyata bisa tampil bagus. Dan yang lebih penting adalah, penampilan tadi malam dijadikan benchmark bagi jemaaat untuk RNHKBP. Artinya, jemaat sekarang menuntut hasil yang lebih baik, atau minimal sama dengan yang sudah ditampilkan tadi malam …”, kataku ketika Minggu usai ibadah pagi kami rapat panitia ulang tahun gereja ke-26 yang tahun ini diserahkan tanggungjawabnya kepada Dewan Koinonia sebagai pelaksana. Sebelum memulai – karena masih terpengaruh “euforia” pertunjukan tadi malam – kami membahas RNHKBP yang adalah kategorial bagian daripada Dewan Koinonia.

Pada malam pertunjukan itu, tanpa dirancang sebelumnya, aku duduk di sebelah pendeta resort beserta keluarga. Sesuai komitmen, aku datang paling awal, lalu meletakkan buku bacaanku beserta lembar acara dan amplop persembahan di bangku paling depan, sebelum memeriksa persiapan dan menyapa orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan malam itu. Ada beberapa kawan penatua sudah duduk di bangku paling depan tersebut. Ketika pendeta beserta keluarga datang, ternyata kawan-kawan penatua “menyingkir” untuk duduk di bangku belakangnya, yakni barisan kedua, sehingga tinggallah bukuku yang membuatku harus duduk di bangku barisan paling depan tersebut. Artinya, duduk di sebelah kanan pak pendeta resort.

Nah, duduk di sebelah pak pendeta berarti juga harus bersiap mengobrol dengan beliau panjang-lebar. Mungkin sudah jadi karakter, dan ini bukan pengalamanku yang pertama. Pertama sekali adalah saat partumpolon salah seorang warga jemaat wejk kami di gereja tetangga yang saat itu aku menjadi saksi dari keluarga pihak perempuan. Walau di tengah acara ibadah tersebut, beliau masih saja terus mengajak ‘ngobrol … Sampai ketika aku dipanggil ke depan untuk menandatangani dokumen partumpolon barulah obrolan sempat terhenti.

Demikian juga malam itu. Semula aku ‘nggak merasa terganggu (baca: terganggu sedikit) selama acara belum dimulai, tapi ternyata berlanjut terus. Aku ‘nggak merasa nyaman (karena aku selalu bersikap tertib, apalagi kalau di gereja), utamanya karena kami duduk di barisan paling depan. Beberapa kali beliau mengajakku melanjutkan obrolan setelah mencolek pahaku. Ya sudah, sekalian ajalah aku mengambil manfa’atnya dan berikut adalah sebagian intisari obrolan pada malam itu:

“Lihatlah amang sintua, bisanya bagus RNHKBP kita ini. Ke mana mereka selama ini sehingga ‘nggak pernah tampil dalam pelayanan ibadah?”

“Menurutku amang, semuanya tergantung pada kita parhalado juga. Mereka membutuhkan parhalado yang bisa selalu hadir bersama mereka berkegiatan. Itulah sebabnya, seperti pernah aku sampaikan sebelumnya bahwa yang menjadi paniroi dari masing-masing seksi haruslah orang yang punya minat dan bakat terhadap seksi pelayanan tersebut.”

“Iya, saya sangat setuju tentang itu. Di gereja kami sebelumnya pun seperti itu yang kami lakukan. Di gereja kita ini saja yang aneh saya lihat, sepertinya asal-asalan dibikin orang-orang yang menjadi pengurusnya.”

“Dan lagi, RNHKBP mengganggap parhalado itu sebagai penghalang mereka dalam berkegiatan. Ini yang aku tangkap saat berdiskusi dengan mereka. Ini menjadi tantangan bagi kita bagaimana bisa mengubah pandangan tersebut. Di Sekolah Minggu aku sudah berulangkali sampaikan dan aku buktikan bahwa parhalado yang sekarang bukanlah seperti itu lagi.”

“Begitulah warga jemaat kita di sini yang menurut saya sangat aneh. Contohnya mengenai deposito yang kita buat sekarang, saya mendengar banyak yang protes karena menganggap itu bukan kemauan panitia yang menyerahkan uang itu ke huria. Padahal ‘kan ‘nggak ada yang salah dengan itu. Jumlahnya ‘nggak berkurang, malah bertambah dengan bunga yang kita dapatkan. Daripada uangnya disimpan di brankas, bahkan kalau dimasukkan ke tabungan, tetap lebih menguntungkan kalau dibuat deposito. Toh kalau kapan uangnya dibutuhkan untuk mengurus sertifikat gereja, depositonya bisa langsung dicairkan. Saya sudah minta ke Bendahara untuk memasukkan ke tingting berapa jumlah bunga deposito yang kita terima setiap bulannya, dan rencana saya uang yang kita dapatkan itu akan kita pakai untuk membuat hadiah Natal dan Tahun Baru yang akan kita bagikan kepada semua warga jemaat saat ibadah tahun baru yang akan datang.”  

“Itulah amang salah satu kekurangan kita sekarang ini. Walaupun bagus tapi kalau ‘nggak dikomunikasikan dengan benar, mungkin saja hasilnya tidak bagus. Tentang deposito, menurutku ‘nggak cukup kalau sekadar dimasukkan ke tingting karena ‘nggak semua warga jemaat kita suka membaca sehingga kurang memberikan perhatian tentang hal tersebut. Sebaiknya dijelaskan saat ibadah Minggu supaya semua orang melihat dan mendengarkan. Demikian juga tentang program pelayanan kita, sangat perlu dikomunikasikan dengan benar dan layak. Baguslah amang sudah menjadwalkan rapat jemaat untuk program pelayanan tahun 2014 yang akan datang dilakukan satu hari penuh dan di bulan November tahun 2013 ini supaya kita punya waktu yang cukup dalam merancangnya yang lebih baik. Menurutku, amang juga sebiiknya memanfa’atkan momen itu dengan mempresentasikan visi dan misi pelayanan kita, mau dibawa ke mana gereja kita ini selama amang menjadi uluan huria di gereja ini sehingga orang-orang menjadi jelas dan ‘nggak menduga-duga lagi tentang apa yang dikerjakan.”

“Boleh, sintuanami. Kita lakukan seperti itu nanti …”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s